Tabrakan Beruntun di Singapura


Pemerintah Singapura melancarkan aturan baru di bidang lalu lintas. Bilamana terjadi tabrakan beruntun, maka pihak yang menabrak dari belakang diwajibkan mengganti kerugian pihak didepannya. Alhasil, kalau sampai ada empat kendaraan saling tabrakan (beruntun), maka kendaraan ke-empat yang paling sial lantaran dia tidak akan mendapatkan ganti rugi sama sekali. Rupanya disana sudah mulai ketularan penyakit mengendarai dengan gaya “bumper to bumper” alias membuntuti kendaraan didepannya dengan jarak terlalu dekat satu sama lain.  Dengan aturan baru ini diharapkan cara mengemudi “mepet dan mengekor” – bisa dikurangi. 

Mungkin kita sering naik kendaraan yang diberi alat monitor kecepatan. Terutama kendaraan perusahaan. Lantas bilamana pak Supir ketahuan ngebut diluar yang ditentukan, misalnya melaju dengan kecepatan 100km/jam selain monitor akan memperdengarkan suara berisik sebagai peringatan, maka kecepatan dan waktu kejadian akan direkam. Sebulan sekali data ini dipresentasikan.  Pengendara yang memiliki sifat kurang sabar akan mendapat peringatan.

Ternyata suatu saat kendaraan kami terpaksa harus mengerem mendadak. Kali ini monitor memperdengarkan suara yang berbeda. Menurut supir kantor, data mengerem mendadakpun akan dicatat sehingga bisa jadi kalau kerapkali dilakukan, masa depan anak dan mungkin cucunya terancam di PHK.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s