Kebaya


Pernikahan biasanya yang ideal adalah satu Iman satu Aqidah, itu kata pak Ustad. Namun belum ada jaminan semua berjalan lancar. Sayapun termasuk yang berada diwilayah abu-abu soal yang satu ini. Diperkuat dengan bukti saat kerabat anak kami Lusi sepakat akan menikah dengan Feri, percampuran antara Luci van Gurun Parang Tritis berkolaborasi dengan Ferry dari Gurun Go Bi Pai, sama-sama pergi ke tempat ibadah yang sama entoh tetap saja gesekan yang terjadi. Gesekan pertama hubungan bak tegangan PLN pada jam 18:30 alaias naik turun. Maklum kita masih berpegang bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa memang nenek moyang, tetapi dalam perjalanan sejarah manusai selalu ada suku tertentu merasa lebih superior dari suku lainnya kendati sama-sama membenci Nazi yang racist, misalnya. Akibatnya hubungan cinta pasangan manusia ini naik turun dlama kurun waktu sepuluh tahun. Sampai akhirnya berkat kegigihan mereka berdua, pihak orang tua mumpung masih utuh di dunia, sepakat merestui pernikahan dengan catatan “resiko ditanggung sendiri..”

Semula ayahanda Lusi kepingin dan mengidamkan bahwa saat pernikahan anak perempuannya kelak mereka akan mengenakan blangkon, surjan, dan isterinya berkebaya dan sanggul di pelaminan. Apalagi setahun lalu saat menikahkan anak saya Lia dan Seno, mereka menyaksikan kami secara full menggunakan busana Jawa. Ada juga sih yang menolak, misalnya ayah saya sendiri yang masih beranggapan bahwa jas adalah segalanya.

Usulan ini di sampaikan dalam rapat kedua keluarga. Tidak dinyana Ratu dari partai Go Bi Pai, langsung ketus menimpali “aiih hayya nggak mau – seperti baju orang miskin..” – sempat terjadi ketegangan antar kedua pihak. Begitulah yang saya dengar.

Sambil pikir, perasaan kebaya bermula dari pakaian para Putri Go Bi Pai mengapa sekarang konotasinya menjadi baju kere? Dan baju orang kaya adalah gaun mengembung, bahu terbuka, pita dibelakang melambai dengan ujung gaun menyapu tanah sehingga kalau hendak berjalan harus ada asisten yang membantu mengangkatkan baju.

Saat undangan pernikahan datang di kawasan Medan Merdeka Selatan, saya teramat ingin melihat apa yang terjadi setelah pasca pibu busana.

KEPALA PIHAK KELUARGA PRIA DIBOTAKI

Ketika saya memasuki ruang pernikahan, langsung saya mengenali pihak pengantin Pria dari Go Bi Pai. Pertama tentu wajahnya dan kulit yang cerah. Lalu mereka mengenakan jas berwarna hitam-hitam potongan yang biasa dipakai Ho Chiu Minh atau Mao Zte Dong dan yang paling nyata benar adalah semua pria membotaki kepalanya sampai plontos. Lantaran orang kaya saya lihat mereka pantas pantas saja berpakaian demikian.

Tepat jam yang dijanjikan, pembawa acara juga bergaun barat mempersilahkan hadirin berdiri mengikuti pengantin masuk ruang resepsi dibarengi oleh kedua orang tuanya. Dan ayahanda Luci nampak pede saat mengenakan Blangkon dan Surjan diantara gerombolan orang ber jasa barat.  Sementara kedua ibu mempelai seperti yang dikatakan didepan mengenakan gaun rancangan dari rumah mode.

Sambutan ketua panitia tidak kalah unik, kedua tangannya keatas sambil berteriak Syaloom, Syaloom berulang-ulang. Kadang mirip lambaian kepada seorang teman lama dalam jarak 100 tampak menapak di tangga pesawat, sementara kita berada di ruang kedatangan. Atau juga bisa jadi mengadaptasi murid-murid di tanah nun jauh disana saat bangsa purba mengelukan kedatangan guru yang berjanji menyelamatkan mereka.

Jadi orang Indonesia saja sudah sulit, kok kepingin jadi bangsa lain. Ini saya yang mengeluh. Saya baru sadar ketika tangan saya digamit untuk dikeataskan. Namun saya memilih memegang tustel.

Sambutan selesai, disertai sedikit insiden berulang kali pidatoawan salah menyebut nama orang tua pihak Puteri. Dan masuklah acara yang dinantikan yaitu “Toast” dengan mencampurkan pelbagai anggur mahal kedalam satu bejana lalu mereka bersulang.

Tahu saya sedikit bingung dan ndeso, tiba-tiba pelayan datang dengan baki berisikan cairan merah, hitam. Yang ini bukan anggur merah yang sangat memabukkan kuanggap, melainkan soft drink.

Gelas diangkat, didekatkan kemulut lalu “seirupan bae” dan diangkat lagi sampai tiga kali. Saya mendadak bingung sebab diminta tepuk tangan padahal tangan memegang gelas berisi minuman separuh kosong. Namun hadirin mampu melakukannya dengan baik.

Acara bersulang selesai. Mak Duerr tiba-tiba terdengar ledakan dari mercon tarik yang dibawa oleh panitia. Kertas bergambar haripun bertaburan. Hadirin bersorak sorai lagi.

Acara selanjutnya adalah tradisi entah jawa entah gurun gobi. Mereka saling bersalaman sambil menikmati hidangan.

Makanan yang namanya aneh segera saya coba “sup bibir ikan.” -sementara Dim Sum, Lontong Cap Gomeh, Mie Shanghai rasanya okey juga sekalipun dilayani oleh pelayan yang penampilannya sangat bersahaja. Kontras nian dengan “gonjang ganjing” pemilihan baju sang penganten.

Advertisements

One thought on “Kebaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s