Jalan Kaki – Mainan Orang Berduit


Pagi cerah sekali, matahari sudah tinggi padahal baru jam 06:00 pagi.

Saya memang selalu memilih olah raga berjalan kaki diantara rumah-rumah penduduk, gang-gang sempit sambil kadang berharap “eealah siapa tahu ketemu teman yang biasanya naik sepeda bersama rombongan”.

Disebuah jalan menanjak, dikerimbunan pokok rambutan yang berbuah lebat menguning kuning melambai, sosok tubuh berambut panjang, wajah tirus nampak tersenyum memamerkan gigi bak deretan ciklet. Kebetulan bajunyapun kuning gading bertabur bola-bola mirip rambutan (tapi bukan).

Ketika melewatinya ia senyum sambil menyapa “jalan?” . Ini sebuah pertanyaan tak membutuhkan jawaban, miturut (menurut) pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi kalau di alam nyata, anda harus menjawab pertanyaan berbulu sapaan ketimbang bahasa Indonesia dapat “B” tetapi kesopanan “D”

Maka sayapun menjawab “RAGAK!” – ini singkatan Betawi untuk olah raga dengan penekanan hurup “k” diberlakangnya. Pengucapannya digambarkan seperti simbul kilat PLN, menanjak, turun sedikit lalu menanjak tajam. Kata orang sebuah simbul bahwa sampai kapanpun tarif dasar listrik akan meningkat tajam. Yang tak disangka, dia menggamit lengan saya sambil senyum “napa buru-buru.” – Anda harus membayangan sebuah gang di Tenabang Bongkaran, lalu saat anda melalui kawasan tersebut dari kegelapan muncul perempuan menor dan menggamit anda menawarkan transaksi tertua di dunia. Padahal transaksi di kitab suci katanya “barter panen dengan berkah.”

Saat kita berkeringat “kotos-kotos” alias mengucur deras lantas digamit perempuan muda non muhrim, jelas ada yang tidak beres.

Ketimbang dikampung orang saya digebuki lantaran tuduhan melecehkan perempuan desa, buru-buru saya melepaskan diri dari cekalannya dan mengambil langkah bak hansip kesiangan.

“Perempuan Rambutan Kuning” tadi tertawa – lalu bilang “Bagi Duit Dong!”

Bagi duit dong ini semacam “kembang lambe” alias kata-kata yang meluncur begitu saja tanpa dipikir, manakala saya bertemu dari sebagian kecil masyarakat kita saat jalan pagi. Ada yang mendadak menyalami kita dengan tatapan mata seperti mengharapkan barter sapa dengan rupiah.

Rupanya ada semacam persepsi bahwa orang yang olah raga pagi biasanya “adaan” alias cukup makan minum, cilakanya lagi dianggap mesin ATM sehingga kendati pakai celana kolor, kaos lusuh tetapi dianggap membawa pundi-pundi uang seperti kalau mau ke Super Market.

Tapi sudah didoakan jadi orang kaya, maka saya pulang sambil berucap amin panjang. Mirip masa kanak-kanak ketika imam di surau belum sampai menyelesaikan “walaad dholin” – kami sudah curi start, aamiin dengan intonasi meliuk sebentar lalu meninggi mengikuti pola simbol PLN.

Herannya begitu “bau tanah” – manakala mendengar anak-anak berbuat serupa di surau saya sebel. Rupanya lupa pernah jadi anak kecil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s