Persahabatan dengan Bank (dulu) mirip kepompong


 Selamat pagi pak ada yang bisa dibantu. – Gadis ini berdiri, lalu dua petugas loket lainnya ikut berdiri pula menyambut saya. Hal yang biasa dan standar untuk pelayanan bank-bank dimana saja. Tapi pagi ini sekitar jam sembilan saya merasa ada yang ajaiban. Pasalnya petugas cantik berseragam kuning gading pada sebuah Bank Swasta kondang yang amat saya percaya ini, bukan teman saya. 

Semula saya ingin mengatakan: “Terimakasih, saya hanya ingin mencetak buku tabungan saya,” namun kata tersebut saya jepit diantara gigi dan lidah. Alhasil yang keluar tenggorokan adalah: “Nanti dulu, saya belum memperkenalkan diri, mbak sudah menyebut nama saya dengan tepat dari nama pertama dan nama terakhir.” – Gadis tersipu, katanya dia pernah melihat saya kerap mendatangi bank yang kebetulan satu bangunan dengan gedung penyedia jaringan seluler “suka-suka” berlogo merah.

Yang sebetulnya saya ingin menunjukkan kepada teman sekitarnya bahwa inilah contoh pelayanan terbaik. Cukup sekali dua pelanggan datang kesana, mereka sudah berusaha dengan susah payah menghapal nama nasabah. Apalagi berhadapan dengan bank yang kondang sangat profesional tetapi kelemahannya kurang ramah terhadap pelanggan.

Bukan itu saja, HP yang seumur umur tidak pernah dihubungi oleh bank inipun sekarang mulai terisi pesan-pesan bersahabat ala kepompong marketing.

Ini sebuah perubahan, yang biasanya memang dilakukan bank papan dibawahnya.

Padahal saya pernah dua kali mengapply kartu kredit kelas “emas”, dua-duanya ditolak, karena persyaratan belum dirasakan memenuhi quota mereka. Padahal sampai datang ke rumah segala.

Saya tidak merasa terlecehkan. Tetap menjadi fanatikusnya. Tanpa dimintapun saya selama satu dekade selalu mengiklankan bank “biru putih” ini. Tak jemu mengatakan kepada setiap teman minta nasihat bank apa yang sebaiknya dipercaya, saya membutuhkan seper nano detik menjawab “bank Biru Putih” – dengan tambahan “kurang ramah memang tetapi profesional..”

Di Australia, misalnya setiap saat saya bisa mentrasfer uang ke bank tersebut dalam hitungan 2-3 jam, lalu saya bandingkan dengan bank lain, ternyata diatas 3 hari. Hopo Tumon.

Dalam soal Teknologi Informasi, semua sarana yang ditawarkan mampu berfungsi dengan baik, semenara bank pesaing lainnya, payah. Kendati saya sabar bolak dan balik ke bank pesaing ini untuk diberi “pengarahan” sampai akhirnya masuk pada fasa “ya sudah memang kemampuan bank lain hanya sampai segitu saja. Titik.”- Belum lagi manakala hari libur seperti Sabtu atau Minggu bank pesaing langsung jadi “ATM kere” alias “maaf tidak bisa mengambil tunai”

Suka rela saya mengajak teman dan kerabat menggunakan bank yang iuran awalnya lebih tinggi dari yang lain. Lagian saya sudah punya kartu kredit yang menemani saya lebih dari 10tahun.

Kalaupun saya punya kritik, host di tipi yang perempuan “gebyar-gebyar”cantik sering jadi model ramuan kecantikan, sebaiknya diganti. Bahasanya tinggi betul, sampai-sampai pesan yang ingin disampaikan kepada calon pelanggan tidak sampai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s