Kalau Lapar datang dari Mata


Bisa dipastikan – kalau keluarga terlibat dalam pembicaraan mengenai kenaikan harga  sembako termasuk hilangnya minyak tanah (kalau belum jadul), atau langkanya distribusi gas botol melon.  Kita seakan berada dipihak rakyat kecil tertindas melarat, lalu menuding kepada “pemerintah tidak becus” mengurus kehidupan rakyatnya.

Yang sering tidak disadari tingkah kita sehari-hari pola hidup sehari-hari kadang bertentangan dengan pura-pura empati terhadap rakyat miskin.

Sejatinya yang ingin saya soroti ya keluarga dan kerabat sendiri. Globalnya komunitas kami. Sebut saja saat menghadiri pernikahan atau pesta apa saja yang biasanya hidangan disajikan secara prasmanan.

Tidak jarang saat mengambil makanan kita menghalalkan saling sodok, saling serobot seakan kuatir persediaan makan sebentar lagi habis.

Celakanya baru soto diambil lantas melihat ada kambing guling didepan serentak soto masih separuh ditinggal dan antri ke pondok kambing guling. Belum tandas piring kambing guling, sudah lari ke tempat dim sum. Sebentar piring sudah penuh dengan salad yang akhirnya perut keburu “luar biasa” kenyang. Makanan lalu dionggrokkan begitu saja. Sementara diluar gedung para tuna wisma mengorek tong sampah sekedar mencari sisa-sia untuk kebutuhan sehari-hari.

Begitu juga dengan minuman, berapa persen dari minuman yang kita ambil hanya menjadi barang mubadzir.

Tengok di resto yang menyajikan masakan “eat all you can” macan Hanamasa, Nanaban tei – atau sarapan pagi ala buffet di hotel. Pengunjung mengambil makanan bukan karena mereka lapar, tetapi karena “kiasu” – istilah orang Singapura menunjuk sikap hidup kurang terpuji.

Dalil “berhenti makan sebelum kenyang” bisa dipelesetkan menjadi “tapi ambil makanan sebanyak-banyaknya mana ada dalilnya.” 

Akhirnya manakala rasa malu terbit lantaran  mengambil makanan namun tidak dihabiskan, maka keluar ilmu seakan-akan berbaik hati mengambilkan “penganan untuk orang lain” – padahal soal makan, setiap orang akan memiliki selera yang satu sama lain berbeda.

Kadang kalau makan bersama kerabat yang berperilaku seperti saya sebutkan, maka perut saya biasanya sudah kenyang terlebih dahulu. Baru merasa lapar manakala tiba di rumah.

Kalau mereka anak-anak mudah saja diberi petuah  “nanti kalau makanan tidak dihabiskan, ayamnya mati.” – namun beberapa diantaranya lebih senior ketimbang saya. Kita jadi kikuk.

Advertisements

Dilarang membawa Mangga Arumanis keluar Indonesia


Mangga Gagal dibawa ke Singapura
Mangga Gagal dibawa ke Singapura

Sewaktu saya di Australia. Ada peraturan pemerintah setempat bahwa membawa hasil produksi peternakan maupun pertanian dari negeri lain masuk Australia adalah perbuatan yang sangat diharamkan. Alasannya jenis virus, binatang mungkin tersembunyi dalam buah-buahan dan menyebar di Australia.

Namun sebaliknya membawa produksi mereka ke negara manapun, sangat diharapkan. Namanya saja komoditas agribisnis.

Sekarang lihat di Jakarta. Minggu 28/12/08 saya mengantarkan anakku Lia dan suaminya Seno yang barusan berlibur kembali ke Singapura.  Selama hampir dua pekan berada di tanah air,  selama itu pula keponakan silih berganti menginap dirumah. Kebetulan hari-hari anak sekolah kendur dari siksaan PR, Les, olah raga, dan eskul yang lain.

Begitu mendengar kabar Lia akan pulang, tantenya yang di Kelapa Gading langsung minta waktu untuk menraktir masakan laut di Sedap Malam  Kelapa Gading, yang kondang dengan masakah Kepiting Saus Padang yang hot, spicy tetapi nyam-nyam. Entoh masih belum puas, Lia dibawakan 10kilogram mangga Arumanis sebuah varietas unggulan Indonesia.

Biasanya mangga inipun dibagikan kepada teman-teman di kantornya di Sigapura. Terbayang wajah riang teman di kantor Lia di Singapura sana yang pengetahuan umumnya rada menghawatirkan, seperti sebagian besar menganggap bahwa Hari Raya Idhul Fitri bukan hari raya Muslim, melainkan hari raya orang Melayu

arumansi_dibuka

TEBAL MANIS TAK BERSERAT

Tebal, tak berserat, manis kadang ada aroma nanas diujung lidah
Tebal, tak berserat, manis kadang ada aroma nanas diujung lidah

Betapa tidak membanggakan buah mangga Arumanis memiliki kulit yang tipis sehingga mudah disayat, daging yang tebal tak berserat sehingga tidak usah cari cungkil gigi atau dental floss usai mengonsumsinya. Soal rasa,  daging mulus kuning ini selain juicy, manis terkadang ada aroma nanas di lidah. Kadang penampilannya nampak masih “mengkel” hijau berbintik hitam sedikit, namun ternyata sudah siap unduh.

Belum lagi penganan lain seperti kue, masakan basah sehingga Lia kadang ngedumel bercanda “kesannya kami kekurangan makan di Singapur ya..” – Kejadian ini memang bermula saat Lia pertama-kali belajar hidup mandiri menjadi anak kos di Singapur. Makan bolak-balik  “mie instan” yang mudah diolah dan murah. Hampir sepuluh tahun berlalu, kesan tersebut membekas  dibenak kerabatnya dan belum juga tanggal.

Pendek kata kalau saja dia punya lapak, Lia bisa jualan penganan dan buah-buahan di Singapura.

Di samping mencium wangi mangga – saya juga mencium problem yang bakal muncul di Airport kelak. Tapi tidak ada salahnya kalau dicoba, apalagi Singapura bukan negeri yang ketat akan peraturan ala Australia.

Begitu memasuki alat scanner, petugas sekurity langsung menolak mangga tersebut, sesuai dengan Juklak dan Juktek yang diterima. Ketika anak saya memilih membatalkan untuk membawa mangga tersebut, yang tidak disangka, petugas menawarkan “tapi bisa kami bantu mbak!” – katanya penuh arti.

Lantaran lama di Singapura, Lia sedikit kaku soal toleransinya terhadap falsafah hidup sebagian petugas, pamong kita yaitu TST  “Tahu Sama Tahu” – ia tidak mengindahkan tawaran manis petugas pintu masuk sekalipun sang petugas sudah semanis mangga ranum arumanis “bener mbak tidak mau dibantu…

Mangga akhirnya “balik ke bandar” –  saya gotong pulang. Bayangkan 15kilogram barang membawanya harus digotong.

Padahal mangga Arumanis (143) dari keluarga anarcadeaceae ini merupakan tanaman Probolinggo yang digadang-gadang Mentri Pertanian sebagai andalah ekspor kita. Cuma sedikit “gelo” alias gusar lantas bagaimana kita akan maju, produksi mangga kita disukai di luar sana sama dengan respek orang luar terhadap Bika Ambon yang dari Medan. Tetapi perlakuan kita terhadap produksi sendiri masih berat sebelah. Lebih mementingkan kocek sendiri daripada skala berfikir yang nasional.

Apa ya yang mau diekspor cuma berita “sepak bola berakhir RICUH”, demo damai berakhir “RICUH”,  pertunjukan kesenian berakhir RICUH, rapat DPR berakhir RICUH lalu bermimpi investor akan datang menanamkan modal kemari?

Soto Kuning-nya pak Mamat di kawasan Bogor


Lokasi di jalan Suryakencana Bogor - Surga Makanan disini
Lokasi di jalan Suryakencana Bogor - Surga Makanan disini

Kebetulan sedang berada di kota hujan (termasuk hujan angkot), Bogor, saya dibisiki bahwa para ibu arisan, BKOW, ibu senam, ibu Bhayangkari – manakala berada di Bogor, bukan hanya membeli talas, mereka juga mengunjungi kedai Soto Bogor nya Pak Mamat yang mangkal di jalan Suryakencana 33. 

Saya mencoba mencari “tetenger” – alias landmark yang mudah dicari apabila kelak harus kembali kemari.

Nampaknya sulit kecuali sebuah pelang yang “tidak nyambung” namun paling lokasinya dekat sana. Suasana jalan Suryakencana, saat foto saya ambil memang hiruk pikuk bukan buatan, maklum jam makan siang.  Mungkin lain kesempatan saya bisa menjelaskan posisinya secara detail.

Langsung saja kami masuk ke lokasi toko nomor “33” – dan memesan “SOTO KUNING” sebab makanan inilah ciri khas pak Mamat yang kondang dimana-mana.

Soto Kuning van Bogor di Suryakencana
Soto Kuning van Bogor di Suryakencana

Penggemar Soto Jakarta mungkin tidak kaget dengan rasa soto berkuah santan, ditaburi bawang goreng, lalu potongan jerohan sapi, kikil bertaburan di mangkuk. Mau afdol peras jeruk limau. Kalau saya setelah diperas jeruknya sekalian dimasukkan kedalam mangkuk.   Ada aroma jeruk, bawang goreng, wangi santan dan tak lupa sedikit getir dari kulit jerus.

Tidak terasa satu porsi sudah ludes.

Tetapi entah mengapa lidah tua saya kadang sudah mulai “membelot” memberontak kepada saya. Saat mengirup kuah Soto Kuning,  rasa asin terlalu menonjol. Jadi ada baiknya kepada anda yang baru coba-coba, dan tak suka rasa asin , segera beri instruksi agas paka Mamat (bertopi haji) tidak mengumbar garam kedalam mangkuk anda.

Mungkin itulah sebabnya saya harus memesan es Cincau “hijau” Bogor yang juga sudah kesohor kekenyalannya. Kebetulan disisi pak Mamat sudah tersedia penjual Cincau dengan gula tak berwarna. Mengiklankan obat “Panas Dalam.” Ini hebat, seandainya bang Cincau membubuhkan warna pada gulanya, mungkin saja saya mengurungkan niat Nampaknya sang penjual membaca pikiran saya, ia sekali lagi memperlihatkan isi perut angkringnya, gerusan es batu, santan putih dan cairan gua bening. Saya lihat banyak pula pengunjung membeli es cincaunya untuk dibawa ke rumah masing-masing.  Lengkap sudah Taoge Goreng ditangan kiriku, Soto Kuning di tangan kananku, Es Cincau didepan mataku.

Kalaupun boleh saya “curiga” sedikit,mengapa masa kecil dulu kalau membuat cincau yang saya dapat hanya cairan kental hijau macam umbelnya SHREK, sementara di Bogor mereka bisa menghasilkan agar sekental Konjaku si agar Jepang.

Mudah-mudahan semua proses dijalankan secara alamiah dan tidak ada campuran kimia berbahaya. 

Taoge di tangan kiriku, Cincau di tangan kananku
Taoge di tangan kiriku, Cincau di tangan kananku

Segelas Cincau, Semangkuk Soto rasanya perut sudah nendang.

Tapi nasi putih pak Mamat saat diolah dalam perut malahan memancarkan signal “pulen” diujung lidah.  Terasa nikmat justru saat satu piring tandas.

Lagi-lagi saya dibisiki bahwa di gerai yang sama “taoge goreng bogornya” juga tidak kalah dahsyat.

Sekalipun menyadari bahaya laten makan campur aduk lantaran bakal sulit membedakan rasa masakan, saya nekad juga memesan Taoge Goreng dengan rasa taoco bogor yang menonjol. 

Hanya saya harus menyisakan dua keping ketupat lantaran perut memang sudah overload. Klop dengan Asinan Bogor maka Taoge Goreng Surya Kencana ini juga makanan tradisional yang tidak boleh dilewatkan. Sayang tak seorangpun berhasil saya ajak omong-omong sebab tidak tega mengganggui mereka diantara kesibukan yang luar biasa melayani pembeli.

Kalaupun ada gangguan “wajar” adalah berkecamuknya para pengamen. 

Saya catat ada tiga kali saya harus merogoh kantung lantaran kedatangan “Satria Pengamen Bergitar” – sementara di Jakarta umumnya ada jeda sampai setengah jam sebelum pengamen lain masuk atau pengunjung berganti.

Untungnya suara mereka memang kategori masuk festival “Karaoke.” – Lagian kalau pemimpin kita yang harusnya mengikuti “rule of the law” saja banyak yang tergelincir, mengapa rakyat kecilnya harus patuh.

Kembali ke Jakarta tentunya anak-anakku Lia, Seno (dan Satrio sang pelawak) membawa kenangan manis berkuliner di Bogor. Mereka tahu di Singapura sana bakalan tidak ketemu masakan macam di jalan Suryakencana. Sebuah kenangan “asin” tahun 2008, maksudnya masakan sotonya agak asin.

Randy van Ciliwung


Gagah betul bocah belasan tahun ini, datang menemui “induk semang” dengan baju lengan panjang, berpenampilan sejuk. Rupanya setelah di PHK dari perusahaannya, ia mencoba menjadi penarik Ojek. Kalah dalam persaingan, kini ia balik ke habitat semula di Bantaran Ciliwung. 

Sebaliknya sang “bapak angkat” di Ciliwung yang ketar-ketir.  Burung kalau masih kecil bolehlah dibawah kepak sayap induknya. Buah kelapa muda masih tergantung ketat pada tandannya. Namun manakala waktunya mereka sudah dewasa, burung harus membuat sarang sendiri, buah kelapa harus terlepas bergulir jauh dari induknya – agar belajar instink dan naluri bertahan hidup.

Kok seperti berjodoh, ada pengacara muda yang baru buka praktek memerlukan tenaga sebagai OB. Randypun langsung ditawari pekerjaan barunya.

Mungkin untuk mengungkapkan rasa terimakasih anak yang besar di bantaran Ciliwung ini langsung bekerja wat-wut alias semangat 45.

Seperti biasa saat sang pengacara ayu bertubuh semampai 172cm ini sibuk dengan pekerjaannya, Randy segera jemput bola. Selain sebagai “OB” ia juga bersedia menjadi pengantar dokumen, atau apa saja. Untungnya biar bekas “preman” dia masih punya SIM ojeknya sehingga mudah untuk dimanfaatkan.

Tiba-tiba seharian Randy tidak muncul di kantor, padahal motor inventaris dibawanya. “Ah – akankah kumat lagi penyakit mencurinya?”- Lagi-lagi sang “ayah angkat” cemas wal sudzon.  Rupanya dicekoki sinetron mirip Fitri yang selalu mendesis dan yang menggambarkan kalau manusia Taqwa dan baik hati harus (selalu) bodoh sehingga gampang ditipu mentah-mentah dengan perut karet hamil boongan (dan percaya) tidak mempan juga.

Pada hari kedua, ternyata Randy pulang dan mengaku salah bahwa ia bertemu dengan temannya mengajak mengobrol sampai ketiduran. 

Sejak peristiwa motor, kerjanya semakin rajin. Dia memiliki daya endus luar biasa, saat teman OB lain belum “ngeh” – Randy sudah keluar pagar menjemput sang Juragan.

Sebuah kejadian rutin, sang Juragan turun dengan tentengan penuh kertas. Maklum pengacara yang sering diledek, satu kalimat saja bisa dibahas sampai menghabiskan pohon satu hektar. Randi langsung membawakan tas dan laptop pengacara, terbungkuk mendahului sang boss memasuki kantor.  Kok kebetulan ada tilpun masuk sehingga sang boss terlibat dalam pembicaraan serius, dan Randy bersama Laptop menyelinap keluar sambil membawa Laptop.

Kalau motor saja sudah bikin hati orang lain dag dig duk, maka laptop gaib beserta Randy pasti bukan ingin dipamerkan kepada temannya. Maka perburuanpun dimulai. Lagi-lagi peristiwa ini tercium Gandoz yang sangat gusar dan berusaha mencari Randy yang dianggap melanggar tata krama dunia mereka.

Nampaknya Randy seperti lenyap ditelan bumi. Terinspirasi oleh gaya  Roy Suryo, pakar telematika kita, sang korban langsung menisik nomor tilpun yang pernah dihubungi oleh Randy. Tabir sedikit terkuak, rupanya dia merayu para pembantu rumah tangga yang mengarah sebuah lokasi di kawasan Sukabumi – karena Arjuna kita mengaku berasal dari sana. 

Tim buser Ciliwung dan ditemani petugas kepolisian, mulai menyisir daerah tersebut. Persembunyiannya diketahui, tapi Arjuna OB – sudah keburu mencelat kabur.

Dari sini didapat sisik melik bahwa Laptop sudah lepas dengan harga cuma dua juta.  Tahun berlangsung sebuah Laptop dihargai 25-27 juta. Kebetulan sang tukang tadah sudah terlacak pula lokasinya. Orang kaya pula.

Dalam dunia nyata, maksud saya bukan dunia para jendral berbicara manis teduh untuk jatah TV dan Koran, maka sekali orang kaya (OK) manakala terlibat dengan urusan kriminal, maka bola mata para aparat mirip Alex dalam kartun Madagaskar melihat pantat Marty.

Artinya tarik penadah jebolskan masuk bui langsung bisa jadi obyek untuk diduitin. Kalangan rakyat jelata mengatakan “obyek” – kalangan jendral di TV mengatakan “tidak ada itu, kalaupun ada laporkan pada saya..”

Namun sang OK memilih jalan sederhana.  Laptop dikembalikan dan langkah selanjutnya Randy dicokok dan dijebloskan ke penjara. Cuma dua hari, induk semangnya tidak tega, Randy dilepaskan.

Dasar muka badak, begitu lepas – Randy mrenges, “pak kok masih punya jaringan ya. Saya sudah sembunyi jauh masih ketangkap juga..” Randy tidak sadar bahwa kalau saja, dia sempat ketangkap Gandoz – bisa jadi harus cium perpisahan dengan tangannya. 

Persis kata yang dipopulerkan oleh bang Napi bahwa kejahatan muncul kalau ada kesempatan disamping niat pelaku.  Sebetulnya sih, Hugeng Imam Santoso eks Kapolri yang pernah menuliskan ucapan tersebut.

Anak Jatoh Dari Langit


Para Tetua Bantaran Ciliwung
Para Tetua Bantaran Ciliwung

Dalam perkenalan singkat dengan komunitas Sanggar Ciliwung a.k.a Bukit Duri dan Kampung Pulo, telinga saya menangkap istilah bromocorah bertubi-tubi sehingga muncul rasa ingin tahu seberapa jauhkan sepak terjang para tatowan-tatowati dari bantaran sungai Ciliwung ini.

Sebut saja Gandoz, pemuda yang kata aparat keamanan sekitar sebagai “jatohan dari langit” – maksudnya lahir tanpa silsilah yang jelas.

Sejak kecil Gandoz dijadikan anak angkat seseorang dan tumbuh serta berkembang diwilayah dimana makan sehari-hari terkadang lebih penting daripada hidup seribu tahun lagi. Gandoz lantas tumbuh sebagai pemuda kurus, mabokan namun diantara teman-temannya dia dikenal punya nyali naga dan naluri berkelahi yang terampil. Satu lagi kesetiakawanan yang kental.

Dengan sepak terjangnya pemuda kerempeng, dingin, kecil ini orang kampung menjadi segan kepadanya. Keamanan kampung terjamin, akibat wibawa Gandoz.

Katam dari pendidikan langsung praktek di “Universitas Perjuangan (agar sekedar) Hidup” dari kampus Ciliwung dia melangkah kedunia kriminal memalak, sampai akhirnya menjadi anggota semacam KAPAK MERAH di kawasan lain. Namun sejalan dengan waktu dan keahlian “tempurnya” bantaran Ciliwung dianggap terlalu kecil untuk mengembangkan bakatnya, apalagi dikalangan preman ada etika tak tertulis untuk tidak membuat daerah mereka menjadi intaian para aparat keamanan. Dan Gandoz serta kawanan hijrah ke tempat perburuan yang lain.

Sepeninggal Gandoz tidak dinyana muncul “bibit terpendam” lainnya sebut saja Gang Five karena mereka biasanya bergerombol sebanyak lima orang. Mereka mulai peran kecil-kecilan seperti menyambar Ayam, Burung, Jemuran, Radio warga entah apa saja yang bisa “diduitin”. Termasuk dalam target operasinya adalah burung dara pengurus/penggagas komunitas Ciliwung.

Gandoz mendengar berita bahwa kampungnya tidak aman datang bak jagoan dan mulai melakukan investigasi. Para korban yang kecurian kawatir Gandoz melakukan “tindakan represif” yang berlebihan.

Selain menghadapi bahaya digusur, juga ada ancaman alam berupa banjir
Selain menghadapi bahaya digusur, juga ada ancaman alam berupa banjir

Lalu para tetua mencoba menasihatinya dengan memberikan nasihat, misalnya, Mencuri Ayam (kampung sendiri) memang dianggap salah namun tidak berarti Gandoz boleh sesuka hati memberlakukan hukum rimba kepada kawanan pelaku curan-yam (pencurian ayam).

Rupanya nurani Gandoz tidak bisa ditaklukkan dengan nasihat lelaki berhati lembek. Ditawarkannya tenaga sukarelanya kepada para hansip, limas bantuan keamanan untuk membereskan kemelut ini.

Sementara para Tetua berusaha “mendinginkan kampung” – para jagabaya malahan mengompori isu bahkan memberikan lampu hijau berupa wewenang “diambil tindakan seperlunya..

Seperti orang mengantuk disorongi bantal, Gandoz  “mengambil” salah satu anggota peresah masyarakat bantaran. Disuatu pojok kampung, korban dihajar habis , sebelum ia pergi, korban diberi peringatan dan diserahkan pos ronda Ciliwung.

LAWAN BALAS DENDAM

Baru saja sang eksekutor sudah kembali ke habitatnya, pada malam berikut pintu posko digedor oleh kawanan begundal yang ingin membalas dendam atas “penculikan” teman mereka. Dengan bau alkohol tercium dari mulut, mereka marah dan menuntut balas. Lalu menantang keberadaan Gandoz. Sebuah kata-kata yang bakalan menuai “badai darah”.

Betul saja kerabat Gandoz menyampaikan tantangan ini melalui tilpun HP dan semua penghuni kampung sudah mencium gelagat bahwa Gandoz akan melayani tantangan tawuran.

Untunglah malam-malam berlalu begitu saja. Nampaknya Gandoz tidak ambiol perduli dengan tantangan tersebut. Pendudukpun lega karena kampungnya tidak perlu dijadikan ajang adu jotos yang tidak perlu.

Saat orang mulai lengah Gandoz dengan teman-temannya datang sambil membawa tombak, golok, sumpit, katapel berpanah dan berkumpul di depan posko yang sering dinamakan Rumah Kayu (bertingkat). Kali ini dalam keadaan mabok dan mengeluarkan kata-kata kasar. Apalagi sang penantang Gang Five tidak dijumpai ditempat.

Untuk melepaskan kekecewaan mereka dijamu makan, rokok, bahkan birpun mengalir untuk mencairkan suasana. Alhamdulilah, ketegangan mereda dan para pelurug bisa beranjak pulang .

PROVOKATOR DATANG
Belum juga napas lega ditarik, sebuah motor menggeram dari kejauhan. Rupanya Gang Five tidak terima dianggap tak bernyali macam tikus got. Mereka mendatangi kawanan yang Ngelurug. Belum juga motor sampai tujuan, beberapa tongkat, kayu sudah berterbangan keudara dan “dhez” tepat mengenai tubuh pengemudi motor dan cerita bisa ditebak.

Kali ini warga tidak tega melihat kawanan Gang Five menjadi bulan-bulanan sehingga pengurus kampungpun babak belur pasang badan untuk menghentikan perkelahian. Suasana masih belum “aman dan terkendali” – kata pak hansip belum kondusif.

Aparat keamanan dimintakan bantuannya malahan enteng menjawab “anak jatuh langit, matipun tidak ada yang menangisi. Apalagi sekedar perkelahian antar Geng.”

Sebelum ada nyawa meregang dan menjadi urusan dan bulan-bulanan polisi – anda yang sudah pernah berkenalan dengan nama Sel atau Ditahan Polsek sudah mahfum kan “biaya yang dikeluarkan”. Entah mendapat kekuatan apa seorang pengurus pasang badan didepan pemimpin tawuran sambil berkata:

“Kalian akan menukar burung Merpati dengan nyawa orang, itu salah besar!,” kata seorang pengurus yang dituakan.

Ajaib teriakan ini berhasil menyadarkan Gandoz dkk yang haus darah. Bahkan alat pentung dan pemukul lainnya dikumpulkan satru persatu lalu mereka ngeloyor meninggalkan bantaran Ciliwung.

Siapa Gandoz ini ? orang akan menyepelekan bentuk fisiknya. Kerempeng, kecuali bola matanya yang dingin.

Ia sendiri naik “tingkat” dikalangan preman gara-gara dalam ketidak tahuannya ia mencelakakan tokoh hitam dalam sebuah perkelahian. Padahal korbannya seorang jagoan disegani yang mungkin sedang apes.

Sejak itu Gandoz naik pangkat dalam lapisan yang lebih tinggi dan perlu ruang jelajah yang lebih luas. Merasa bintangnya “kinclong” – ia sangat berterimakasih kepada “kampus universitas perjuangan hidup” – yang membesarkannya sehingga sangat gusar kalau ada yang membuat desa tercinta menjadi tak aman.

Ketika terjadi gonjang-ganjing pemberantasan preman, beberapa media berniat meliput kehidupannya. Namun gandoz yang sebetulnya berada disekitar peliput memilih untuk sepi dari pemberitaan. Apalagi kadang instingnya memberi lampu merah bahwa sang peliput suatu saat akan menjadi “jalan tol” baginya masuk bui. Sekali waktu tilpun berdering di sebuah Posko Ciliwung. Di ujung tilpun sang istri “Tumirah” – menangis lantaran suaminya sudah beberapa hari tidak kunjung pulang.

“Hapenya nggak diangkat-angkat! pak!”

Anda yang pernah “masuk” kawasan hitam, kalau ada warga beberapa hari tidak pulang, umumnya kawin lagi, atau “dijemput ajal.” – Untunglah kekuatiran tidak terjadi, Gandoz rupanya lupa mengisi batereinya. Ndoz anak istri jadi cemas nih.

Kebaya


Pernikahan biasanya yang ideal adalah satu Iman satu Aqidah, itu kata pak Ustad. Namun belum ada jaminan semua berjalan lancar. Sayapun termasuk yang berada diwilayah abu-abu soal yang satu ini. Diperkuat dengan bukti saat kerabat anak kami Lusi sepakat akan menikah dengan Feri, percampuran antara Luci van Gurun Parang Tritis berkolaborasi dengan Ferry dari Gurun Go Bi Pai, sama-sama pergi ke tempat ibadah yang sama entoh tetap saja gesekan yang terjadi. Gesekan pertama hubungan bak tegangan PLN pada jam 18:30 alaias naik turun. Maklum kita masih berpegang bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa memang nenek moyang, tetapi dalam perjalanan sejarah manusai selalu ada suku tertentu merasa lebih superior dari suku lainnya kendati sama-sama membenci Nazi yang racist, misalnya. Akibatnya hubungan cinta pasangan manusia ini naik turun dlama kurun waktu sepuluh tahun. Sampai akhirnya berkat kegigihan mereka berdua, pihak orang tua mumpung masih utuh di dunia, sepakat merestui pernikahan dengan catatan “resiko ditanggung sendiri..”

Semula ayahanda Lusi kepingin dan mengidamkan bahwa saat pernikahan anak perempuannya kelak mereka akan mengenakan blangkon, surjan, dan isterinya berkebaya dan sanggul di pelaminan. Apalagi setahun lalu saat menikahkan anak saya Lia dan Seno, mereka menyaksikan kami secara full menggunakan busana Jawa. Ada juga sih yang menolak, misalnya ayah saya sendiri yang masih beranggapan bahwa jas adalah segalanya.

Usulan ini di sampaikan dalam rapat kedua keluarga. Tidak dinyana Ratu dari partai Go Bi Pai, langsung ketus menimpali “aiih hayya nggak mau – seperti baju orang miskin..” – sempat terjadi ketegangan antar kedua pihak. Begitulah yang saya dengar.

Sambil pikir, perasaan kebaya bermula dari pakaian para Putri Go Bi Pai mengapa sekarang konotasinya menjadi baju kere? Dan baju orang kaya adalah gaun mengembung, bahu terbuka, pita dibelakang melambai dengan ujung gaun menyapu tanah sehingga kalau hendak berjalan harus ada asisten yang membantu mengangkatkan baju.

Saat undangan pernikahan datang di kawasan Medan Merdeka Selatan, saya teramat ingin melihat apa yang terjadi setelah pasca pibu busana.

KEPALA PIHAK KELUARGA PRIA DIBOTAKI

Ketika saya memasuki ruang pernikahan, langsung saya mengenali pihak pengantin Pria dari Go Bi Pai. Pertama tentu wajahnya dan kulit yang cerah. Lalu mereka mengenakan jas berwarna hitam-hitam potongan yang biasa dipakai Ho Chiu Minh atau Mao Zte Dong dan yang paling nyata benar adalah semua pria membotaki kepalanya sampai plontos. Lantaran orang kaya saya lihat mereka pantas pantas saja berpakaian demikian.

Tepat jam yang dijanjikan, pembawa acara juga bergaun barat mempersilahkan hadirin berdiri mengikuti pengantin masuk ruang resepsi dibarengi oleh kedua orang tuanya. Dan ayahanda Luci nampak pede saat mengenakan Blangkon dan Surjan diantara gerombolan orang ber jasa barat.  Sementara kedua ibu mempelai seperti yang dikatakan didepan mengenakan gaun rancangan dari rumah mode.

Sambutan ketua panitia tidak kalah unik, kedua tangannya keatas sambil berteriak Syaloom, Syaloom berulang-ulang. Kadang mirip lambaian kepada seorang teman lama dalam jarak 100 tampak menapak di tangga pesawat, sementara kita berada di ruang kedatangan. Atau juga bisa jadi mengadaptasi murid-murid di tanah nun jauh disana saat bangsa purba mengelukan kedatangan guru yang berjanji menyelamatkan mereka.

Jadi orang Indonesia saja sudah sulit, kok kepingin jadi bangsa lain. Ini saya yang mengeluh. Saya baru sadar ketika tangan saya digamit untuk dikeataskan. Namun saya memilih memegang tustel.

Sambutan selesai, disertai sedikit insiden berulang kali pidatoawan salah menyebut nama orang tua pihak Puteri. Dan masuklah acara yang dinantikan yaitu “Toast” dengan mencampurkan pelbagai anggur mahal kedalam satu bejana lalu mereka bersulang.

Tahu saya sedikit bingung dan ndeso, tiba-tiba pelayan datang dengan baki berisikan cairan merah, hitam. Yang ini bukan anggur merah yang sangat memabukkan kuanggap, melainkan soft drink.

Gelas diangkat, didekatkan kemulut lalu “seirupan bae” dan diangkat lagi sampai tiga kali. Saya mendadak bingung sebab diminta tepuk tangan padahal tangan memegang gelas berisi minuman separuh kosong. Namun hadirin mampu melakukannya dengan baik.

Acara bersulang selesai. Mak Duerr tiba-tiba terdengar ledakan dari mercon tarik yang dibawa oleh panitia. Kertas bergambar haripun bertaburan. Hadirin bersorak sorai lagi.

Acara selanjutnya adalah tradisi entah jawa entah gurun gobi. Mereka saling bersalaman sambil menikmati hidangan.

Makanan yang namanya aneh segera saya coba “sup bibir ikan.” -sementara Dim Sum, Lontong Cap Gomeh, Mie Shanghai rasanya okey juga sekalipun dilayani oleh pelayan yang penampilannya sangat bersahaja. Kontras nian dengan “gonjang ganjing” pemilihan baju sang penganten.

Tabrakan Beruntun di Singapura


Pemerintah Singapura melancarkan aturan baru di bidang lalu lintas. Bilamana terjadi tabrakan beruntun, maka pihak yang menabrak dari belakang diwajibkan mengganti kerugian pihak didepannya. Alhasil, kalau sampai ada empat kendaraan saling tabrakan (beruntun), maka kendaraan ke-empat yang paling sial lantaran dia tidak akan mendapatkan ganti rugi sama sekali. Rupanya disana sudah mulai ketularan penyakit mengendarai dengan gaya “bumper to bumper” alias membuntuti kendaraan didepannya dengan jarak terlalu dekat satu sama lain.  Dengan aturan baru ini diharapkan cara mengemudi “mepet dan mengekor” – bisa dikurangi. 

Mungkin kita sering naik kendaraan yang diberi alat monitor kecepatan. Terutama kendaraan perusahaan. Lantas bilamana pak Supir ketahuan ngebut diluar yang ditentukan, misalnya melaju dengan kecepatan 100km/jam selain monitor akan memperdengarkan suara berisik sebagai peringatan, maka kecepatan dan waktu kejadian akan direkam. Sebulan sekali data ini dipresentasikan.  Pengendara yang memiliki sifat kurang sabar akan mendapat peringatan.

Ternyata suatu saat kendaraan kami terpaksa harus mengerem mendadak. Kali ini monitor memperdengarkan suara yang berbeda. Menurut supir kantor, data mengerem mendadakpun akan dicatat sehingga bisa jadi kalau kerapkali dilakukan, masa depan anak dan mungkin cucunya terancam di PHK.