Batu “Jejak ” Purnawarman raja Tarumanagara


Batu "prasasti" di depan kampur Tarumanagara III, Ragunan
Batu replika prasasti Ciaruteun

Suatu hari seorang dosen perguruan tinggi negeri berdiri didekat bekas prasasti Batu Tapak (purnawarman) ditemukan.  Bisa jadi gara-gara udara Bogor yang dingin, ditingkahi suara gemercik aliran sungai mendadak ia kebelet buang air kecil yang secara praktis pragmatis bisa dilakukan sambil berdiri. Cuur.

Yang tidak disangka, sebelum ritual akhir seperti “mengangukkan kepala sambil menggigil kegelian,” mendadak ia merasa ada yang mengangkatnya atau tepatnya mendorongnya masuk sungai.

Dan beliau baru sadar setelah supirnya yang datang hendak menjemputnya keheranan melihat sang tuan basah kuyup dalam air.

Cerita ini bisa saja di bantah dengan alasan terpeleset lantaran pinggiran memang sungai bekas Batu yang ambles dijejak Raja Purnawarman sampai meninggalkan bekas telapak kaki memang licin.
Naskah pada Prasasati Batutulis
Naskah pada Prasasati Batutulis

Yang jelas pak Dosen sekarang selalu mengucapkan salam atau ijin terutama apabila beliau akan kencing di bawah pohon atau bebatuan yang dirasanya menimbulkan rasa dingin pada bulu kuduknya.

Foto replika batu ini ini saya ambil menjelang salat Jumat di kampus Tarumanagara III – Cilandak. Saya salut kepada pihak kampus yang memberi warna “purbakala” dengan membuat replika yang ada hubungannya dengan nama yang disandang sehingga nyambung.
Sayang sekali kampus yang nampak megah sekalipun terkesan sepi ketika saya masuk kedalam  wc-nya sangat berbau bangkai mungkin ada tikus mati didalam salah satu WC yang cukup banyak disana. 
Akibatnya para jamaah terpaksa berwudhu di kakus, atau pemandangan yang kurang tepat mengangkat kaki ke atas wastafel yang seharusnya untuk cuci tangan.
Di kampus ini pada hari tertentu seperti Jumat Gedung Olah Raga dan Seni disulap sementara menjadi tempat salat. Sesuatu yang sangat dipujikan.
Advertisements

Kupat Tahu Magelang


Kupat Tahu Magelang di Arteri Jatiwarna
Kupat Tahu Magelang di Arteri Jatiwarna

Kawasan Jatiwarna – Pondok Gede mendapatkan tambahan bangunan berupa kedai kupat tahu Magelang.

Dengan warna cat kekuningan, pakai embel-embel cabang dari sebuah gerai Bona Indah membuat saya kepingin mencoba rasanya.  Magelang dan Munthilan  selalu menorehkan kenangan bagi saya yang semasa kecil pernah dititipkan kepada Bude.

Kebetulan masih sekitar jam 10:30 pagi. Terlalu pagi untuk disebut makan siang. Namun saya memberanikan diri memasuki warung yang dulunya pernah berdiri pencucian mobil namun tiarap di jalan akibat persaingan dan rendahnya animo. Warungnya bersih, pelayannya juga berpakaian rapi membuat rasa nyaman untuk mendatanginya.  Berbeda dengan warung sate kambing tak jauh dari sana saya melihat sang penjual hanya bercelana panjang telanjang dada. Mengganggu rasa nyaman.

Ternyata ramuannya mirip dengan masakan Ketoprak yang saya kenal, ada k(et)upat, taoge, taofu (tahu), dengan kuah beraroma kacang tanah. Bedanya adalah tambahan bakwan, kubis dan telur bebek dadar.  Dan tak lupa kerupuk sagu yang warnanya merah muda tetapi pucat. Alias merah tidak putih bukan.

Kupat Tahu MagelangSeporsi masakan ini cukup “nendang” – namun tidak menyiksa perut. Kata orang Betawi “kenyang tapi dingin di perut.” – maksudnya tentu ada kesan berbeda dengan misalnya kenyang di resto Padang yang berani bumbu rempah. Dan masakan ini boleh jadi bisa dibilang Vegetarian Tradisional.

Cuma nasihat saya, usai makan masakan ini mending sikat gigi, kumur listerin, minum kopi, atawa merokok sebelum bersanding dengan kekasih. Pasalnya bau bawang putih yang cukup merasuk jalan darah, jangan-jangan anda dikira keturunan pemburu Vampir atau Werewolf.

Selain kupat tahu disediakan brondong jagung bergula yang mirip “bwipang.” Makanan yang mulai jarang ditemui lantaran kalah dengan produk pabrikan seperti coklat wafer, chiki dan penganan lain.

Pangeran Naga berbulu Merak


Bagus, paling kanan berkaus kutang. Daya matematisnya luar biasa tetapi kalau soal hapalan mendekati "idiot"
Bagus, paling kanan berkaus kutang. Daya matematisnya luar biasa tetapi kalau soal hapalan payah abiz

Hampir bisa dipastikan manakala saya kedatangan keponakan pertama-tama yang saya tanyakan kepada ibunya adalah “apa cerita lucu keponakanku..” – ini bukan tanpa sebab. Pasalnya orang-orang sebelum saya (paman, pakde bahkan orang tua) – cenderung menanyakan kabar keluarga dengan cara seringkali keadaan dengan cara kurang seksama dan bijaksana seperti “masih nakal ya anakmu” – Dan tanpa disadari beberapa anak lantas “luka batin” dan menarik diri dari pergaulan.  Salah satu adalah Asraf, yang kebingungan ketika mengisi pertanyaan sederhana “Kalau di Mesjid, apa yang harus dilakukan? (a) mengerjakan salat (b) tertib dan tidak berisik dan seterusnya. Rupanya setahun di Indonesia, Asraf masih belum fasih juga sehingga dia memilih jawaban yang paling spektakuler yaitu (c) – Dan ini menyebabkan ibundanya dipanggil oleh gurunya. Pasalnya jawaban (c) adalah “MEMBUAT ONAR DI DALAM MASJID” – Asraf tidak jelas apa makna onar sehingga panggilan nuraninya memilih jawaban yang aneh.

Keponakan yang lain namanya BAGUS sekalipun satu kendaraan dengan bapak dan ibunya, dia selalu saja maunya duduk disamping pak kusir (saya). Sia-sia aku peringatkan bahwa peraturan keselamatan perjalanan mengharuskan siapa saja dalam kendaraan untuk duduk manis-manis dan menggunakan sabuk keselamatan. Apalagi bapak dan ibunya yang gelar sarjana berteret-teretpun seperti mengamini panjang perilaku anaknya yang kurang safety awareness. 

Bagus sekali waktu matanya melihat Odometer, lalu tangan kecil anak kelas dua ini minta agar meteran (trip mode)  mobil di nolkan.  Sampai ditempat tujuan (Sate Kambing Tanpa Lemak Jalan Hankam) yang tidak begitu jauh dari ruamh kami ia melirik bahwa angka menunjukkan 4,7 kilometer.

Zonder ditanya ia langsung bergumam “Pakde jadi kalau kita pulang nanti, angka di meteran menunjukkan 9,4 ya?” – ini hasil pemikiran anak kelas 2 SD. (Sekarang kelas 3)

Saya malahan menggodanya :”kenapa nggak 200 ribu, biar banyak?, apa alasanmu mengatakan bahwa sampai rumah angkanya segitu..? ” – maka bocah yang kalau makan sulit luar biasa ini memilih diam. “Otak matematisnya bekerja, namun otak presentasinya masih sekelas anak seusianya..

Kakaknya murid kelas empat, sekali tempo ditanya oleh ibunya “Ada lampu merah menyala lima menit sekali, lampu merah yang lain 7 menit sekali, dan lampu merah berikutnya 10 menit sekali.” – ketika melihat kakaknya “blenk” mayti langkah, tanpa ditanya, dan hanya memerlukan diam sejenak maka pekerjaan rumah kakaknya sudah digarap oleh anak bershio Naga ini “Tujuh Puluh Menit.” – tetapi sekali lagi jangan tanya bagaimana dia mendapatkan logika matematika tersebut. Dia sulit sekali menjelaskannya.

Pernah ibunya curiga melihat sang kakak dapat ponten bagus dalam mengerjakan pengetahuan membaca Jam. Ternyata diam-diam ia minta tolong adiknya.

Sehari-hari ia pendiam. Lebih banyak berinteraksi dengan game-game komputer sebab dari permainan itu otaknya terasah mencari  “problem solving.” – Saya meledeknya sebagai “Persahabatan dengan Bagus bukan sebuah Kepompong.” – Tetapi herannya kalau bahasa Inggris dia nyerocos lancar. Alasannya belajar dari Game Komputer.

Sekali tempo ia dihadapkan asesmen yang paling dibencinya “bercerita di depan kelas..” – hanya karena diledek akhirnya muncul keberanian Bagus. Belum disuruh guru ia sudah angkat tangan, “bu guru aku mau bercerita..”

Keruan saja seisi kelas merasa mendapat surprise. Apalagi dengan tenang Bagus maju dan membuka narasi “teman-teman, saya punya cerita mengenai Burung Merak. Mudah-mudahan teman-teman suka mendengarkan cerita ini..”

“Makan apa Bagus tadi pagi mendadak lincah berbicara,” pikir Angga seorang sohib Bagus. Belakangan Angga menceritakan apa yang terjadi kepada kami.

Namun ditunggu punya ditunggu, lanjutan cerita tidak pernah muncul. Sampai ia disuruh duduk kembali oleh gurunya. Alasannya “ngeblenk” – alias “lupa mau bicara apa..”

Belakangan ini Bagus kembali disiksa mata pelajaran hapalan. Dia hanya menghapal Nama Suku, lalu lagu daerahnya. Ternyata sekali lagi dia “ngeblenk” – menghapal Suku Sunda lagu daerahnya Bubui Bulan.

Sehingga saya kadang mengganggunya dengan mengatakan Suku Jawa lagu daerahnya Suku-Suku Batak, Batake ela alo.

Sekali waktu ada semacam pelajaran Budi Pekerti (Jadul) – dia ditanya oleh ibunya, “Kalau ada temanmu yang tertimpa kesusahan atau sakit, apa perasaanmu?” – enteng Dito alias Bagus menjawab “biasa-biasa saja..” – terang saja jawaban tanpa expressi membuat mamanya jejingkrakan mencubit lengan kecilnya. 

Rupanya dia menangkap isyarat marah dari mata mamanya yang memang tajam. Pertanyaan berikutnya “Kalau ada orang berbuat kejahatan, apa tindakanmu?” – sekarang Bagus menjadi lebih tahu diri, dengan ragu-ragu dia menjawab sambil memandang wajah ibunya “dinasehati baik-baik ma!.” – Langsung jawaban ini dislantap mamanya “kebagusan amat, orang jahat dinasehatin, emang eluh siapa?.”

Anak yang lebih akrab dengan Game komputer dan Matematika memang cenderung menyendiri dan egois.

Untung pertanyaan ini tidak berlanjut sebab ada tamu ingin bertemu mamanya.

Jeda ini tak disia-siakan oleh bagus sambil menggaruk kepala dia bilang “lumayan deh bebas sebentar dari soal mama, dari tadi kok jawabanku salah melulu..”

Taman Anggrek Jakarta Selatan


Tadi pagi aku lihat di Tipi ada sentra anggrek yang terletak disekitar kita. Kalau tidak salah di kawasan Jakarta Selatan. Kata salah satu keluarga saya. “STOP” jantung saya seakan menekan rem mendadak. Pasalnya mereka mengarahkan hidung ke hidung saya seakan menyalahkan “mengapa tidak pernah mewartakan berita baik ini?”
Jalan berbeton cor membuat tamasya belanja lebih menyenangkan
Jalan berbeton cor membuat tamasya belanja lebih menyenangkan
Salah satu isi perut Taman Anggrek adalah Anggrek Bulan
Salah satu isi perut Taman Anggrek adalah Anggrek Bulan
Sepuasnya memandang keidahan bunga angrek mulai mekar
Sepuasnya memandang keidahan bunga angrek mulai mekar
Pelbagai pupuk, obatan, pot ada disini
Pelbagai pupuk, obatan, pot ada disini

Lahan Tidur dan Opportunistik


Lahan tidur di kawasan kami, menggoda beberapa pihak untuk memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi
Lahan tidur di kawasan kami, menggoda beberapa pihak untuk memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi

Semula bertahun-tahun  penduduk sini boleh berjalan ke utara ke selatan, belok ke tenggara. Suka-suka. Namun belakangan datang warga baru yang masih membawa peradatan dari asalnya. Misalnya diam-diam tanah yang menganggur hendak dibangun “semi permanen” – alasannya “daripada lahan menganggur”. Namun sejarah mencatat, dari mula-mula sekedar numpang buka tambal ban, buka toko oli, tidak jarang mereka berubah galak mengaku menjadi pemilik lahan.

 

Disaksikan para aparat desa tanah diukur dan dipatok kembali, sekaligus peringatan agar jangan ada warga yang pura-pura lupa batas rumah dan melebar kemana-mana
Disaksikan para aparat desa tanah diukur dan dipatok kembali, sekaligus peringatan agar jangan ada warga yang pura-pura lupa batas rumah dan melebar kemana-mana

Akibatnya disatu sore para warga berkumpul menyaksikan ukur dan patok tanah (yang sebagian banyak yang hilang). Agar tidak semena-mena diduduki oleh pihak yang tidak berhak.

Bayar Yach


Yang saya tahu di sekitar poster peringatan ini ada kopi, teh, gula, susu gratis. Bahkan dalam lemari pendingin ada teh botol dan pelbagai minuman dingin yang gratis. Seorang penjual kue menitipkan dagangannya dan menaruh kotak untuk "ganti rugi." Namun nyatanya banyak juga yang ngemplang padahal belum konglomerat.
Yang saya tahu di sekitar poster peringatan ini ada kopi, teh, gula, susu gratis. Bahkan dalam lemari pendingin ada teh botol dan pelbagai minuman dingin yang gratis. Seorang penjual kue menitipkan dagangannya dan menaruh kotak untuk ganti rugi, ternyata ada yang tega mengemplang makanan.

Kantornya kantor perminyakan, konon para buruh disana dibayar melebihi rata-rata pendapatan buruh lain. Bahkan yang saya tahu di kantor tersebut mulai dari teh botol, minuman dingin macam coca cola, kopi, teh, susu disediakan secara gratis. Kecuali kue yang menjadi sumber isu.

Ternyata peminat kue sering kebablasan dan menganggap bahwa makanan yang disediadakan disana seharga 1500/buah adalah prodeo pula sehingga menimbulkan kejengkelan para pemilik modal UKK (Usaha Kecil Kecilan).

Cucu Titipan


Cucu ini sejatinya tinggal di rumah tetangga. Namun hampir setiap hari kami bawa kerumah sebagai teman bermain yang menggemaskan.
Cucu ini sejatinya tinggal di rumah tetangga. Namun hampir setiap hari kami bawa kerumah sebagai teman bermain yang menggemaskan.

Ternyata ketika berpisah dengan bocah lelaki ini, bukan nenek kandungnya saja yang sedih. Saya sekeluarga bisa merasakan kesedihannya. Orang tua bocah ini bekerja di luar kota, layaknya keluarga muda yang sedang membangun rumah tangga sang nenek kuatir cucunya terbengkelai. Namun belum lama berada di tangan kami, sang cucu keburu diserobot oleh neneknya yang berada di Jawa Barat. Detik-detik perpisahan dia saya tidurkan diatas sarung saya, sambil bilang “katanya kamu mau tinggal di kebun singkong, menjadi anak singkong. Ternyata sekarang kamu jadi anak kotaan ya…