Panas Segan Dingin Tak Mau


Heater yang panas segan dingin tak mau
Heater yang panas segan dingin tak mau

Isi rumah kami praktis cuma terdiri seorang aki-aki nini pasangannya, alias pakde dan bude yaitu saya dan teman hidup saya.

Tapi kok seperempat abad kawin lebih dikit, kami mengambil sikap balik kanan untuk sepakat pisah kamar (mandi).

Pasalnya sSaya lebih suka kamar mandi utama yang pakai pancuran tanpa bak. Inipun karena kebiasaan di Rig mandi selalu pakai shower air hangat. Karena sudah beberapa lama tidak mencium bau laut, ada kangen luar biasa sehingga muncul kelakuan yang kalau dipikir-pikir aneh.

Saya kepingin mandi dengan air pancuran kendati untuk urusan satu ini kadang saya yang sudah “kena kasus UU pornografi kalau dilakukan didepan umum,” mendadak lupa menghidupkan mesin pompa tekan sehingga harus keluar kamar mandi berselimut handuk tua lantas berlari “gidhal-gidhul” menghidupkan pompa tekan yang harus dicolokkan secara manual nun jauh di bawah peralatan dapur. Maklum mengandalkan ketinggian toren terkadang airnya “kurang nonjok”.

Soal ketinggian air ini banyak orang berpendapat bahwa setinggi-tinggi toren diangkasa, maka makin kuat pancurannya. Yang kita lupa, saat memasang pipa pralon, entah berapa tikungan tajam, sambungan, sambungan yang membuat kecepatan pancaran air harus “mengerem di tanjakan dan tikungan” dan pada akhirnya air tak muncrat sampai jauh.

Belum lagi kami butuh “air stem” untuk menyiram tanaman, dan ban yang terkena lumpur merah jalan masuk rumah yang masih sekedar jalan setapak raksasa yang belum mengenal peradaban aspal.

Saya pakai bahasa “stem” yang sebetulnya cuma air bertekanan tinggi ala tukang cuci mobil van Rawabogo yang mematok harga cuci mobil untuk kalau roda empat sebesar sepuluh ribu rupiah, akan tetapi angkot dan taksi dikenai lima ribu (sekalipun rodanya empat). Sebuah diskriminasi “nama”.

Sementara pasangan saya lebih suka menggunakan kamar mandi lain yang dibelakang dengan kakus kaki jongkok. Air tinggal cur, ditampung di bak plastik lalu gebyur-gebyur mandi.

Berhubung kamar mandi ini sharing dengan para PRT, maka jelas kegiatan MCK ditampung disini. Puluhan jenis tapal gigi, sampo, sikat gigi ditinggal sang pemakai yang mungkin sudah lama pergi. Dan kamar mandi itulah “domain” – istri yang tak bisa diganggu gugat.

Sejalan dengan usia, apalagi musim hujan begini, air toren mulai terasa begitu bengis menghantam jangat. Saya mulai seperti orang “kuriman” – sakitan setiap mandi pagi minta direbuskan air kepada bibi lalu melihat perempuan muda yang berjuang demi rumah tangga ini tergopoh membawa sepanci air panas berjarak 10 meter, menepis lemari makan bermanuver diantara lemari perabotan dan dispenser air, menanjak 20cm ubin kalau ibu beranak empat selamat tidak terpeleset sampai tujuan, maka saya mandi air panas.

Tapi lama kelamaan melihat ada ancaman bahaya tersiram air panas sehingga saya mulai beranjak mengajukan PO (Purchase Order) agar beli sebuah pemanas air.

Soal PO ini saya melupakan kenyataan bahwa matahari di luar sana panasnya luar biasa menyengat. Bahkan air torenpun tanpa dikomando sudah sering menyulut kulit.

Tender pertama adalah memilih pemanas bertenaga gas. Tetapi mengingat gemuknya sang botol kalau dipasang dikamar mandi seperti meledek pinggang saya yang sudah “ngeban” – maka alternatif lain adalah mencoba pemanas listrik. Ini juga tidak gampang, seantero Singapore, Australia kalau pemanas listrik membutuhkan daya empat sampai lima kali rumah BTN, dan selalu pilihan ini ditepiskan mengingat rakusnya mesin akan listrik.

Dan “eng ing eng” di sebuah Mal di kawasan Pondok Indah – Jakarta yang konon para artis berkumpul, sebuah demo heater irit listrik digelar.

Zonder pikir panjang langsung konter tersebut saya datangi untuk disambut senyum sang SPG sambil tak lupa mengatakan kehebatan alat yang hemat listrik. Lalu saya minta SPG kasih unjuk adegan sera hangat dan panas didepan hidung saya.

Mula-mula sih air memang panas, lalu sehangat kuku Bima, dan sampai pegal tangan tertengadah hangat-hangat cirik (tahi) ayampun tidak saya dapatkan.

Sang mbak menjawab kalau mau panas, suhunya ditambah yang berarti kalau semula janjinya cuma “dibawah 500watt” – akan dinaikkan jatahnya menjadi dua kali lipat dan seterusnya.

Melihat kening saya berkerut, sebentar lagi pakai plaster koyo karena bingung, mbak SPG beringsut meninggalkan konter sementara saya tetap keukeuh mencari kehangatan.

Tapi dasar sudah kesurupan setan belanja, saya masih mengharap mukjizat bahwa dengan 350watt kita bisa mendapatkan air mendidih, seperti halnya pejabat kita mengharap mukjizat teknologi ala beras Super Toy, Energy Biru sejatinya adalah angan-angan ingin “jalan pintas.”

Hari berikutnya tanpa banyak cing cong manuk cingklong, saya order sebuah mesin “hemat energy” dari kawasan Glodok yang hanya melalui pesawat tilpun ber SMS tanda transfer sejumlah harga yang telah disetujui mereka berjanji akan kirim “barang” setelah diambil dari gudang (tetangga).

– Ahli khusus panas-panas kelahiran Rangkas(bitung) yang cadel didatangkan. Tak lama mesin dipasang, 20liter air panas mengalir. Kesempatan saya mengorek sedikit isi perutnya zonder multilasi. Eman, sebut saja begitu mengaku uang makan perhari adalah 25 ribu rupiah, dan menyadari nasib mereka sudah digariskan bahwa kendati piawai dalam bidang teknik tetapi tidak bakalan bisa menyaingi bekas bos yang yang memang dari daratan sana sudah kondang lihay dalam perdagangan.

Sayang begitu spesialist pergi dan saya mencoba sendiri denagn membuka keran air hangat, persis bak di Konter mal, air yang semula panas perlahan menjadi hangat dan akhirnya tak ada kehangatan sama sekali.

Montir yang sudah sampai di Pulogadung terpaksa memutar kembali ke Bekasi. Ia mencoba sebisanya dan akhirnya menyerah dan akan mengganti mesin setelah bosnya yang “kalau sudah main bilyard bakalan sampai pagi.. jadi susah dihubungi.”

hari berikutnya mesin susulanpun didampingi montir senior. Nampaknya mereka tidak berdaya mempertahankan panas setelah 20 liter air panas mengalir. Duh. Tapi ada teori beredar bahwa karena rancangan semula kamar mandi tidak untuk air panas, maka cuma ada pipa tunggal – padahal umumnya perlu pipa ganda untuk air panas dan dingin.

Jalan keluarnya, mandi pakai air hangat yang ditampung dari pemanas “sampai dingin” sehingga menghasilkan air suam-suam.

Malu akan keputusan tak putus dirundung masalah saya berkelit didepan istri bahwa “kepingin buktikan bahwa tidak ada yang gampang dalam hidup ini. Semua kenikmatan ada biayanya” – sebetulnya jawaban asalan.

Ya sudah pisah kamar (mandi) Yes. Paling tidak satu potensial keselamatan kerja saya hindari. Dan kelak kalau anda merancang rumah sebaiknya dipertimbangkan saluran untuk air panas supaya tidak mengalami nasib macam saya.

Advertisements

2 thoughts on “Panas Segan Dingin Tak Mau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s