mendadak nara sumber Berkebun di tanah sempit


Saat acara "berkebun itu menyenangkan" di udarakan.
Saat acara

Jam setengah tujuh pagi Senin 27 Oktober 2008 saya sudah beranjak dari rumah di Bekasi mengantisipasi kemacetan lalu lintas. Tol Jatiwarna – masih nampak sunyi senyap, hanya papan pengumuman di pintu masuk bikin “ngeper” – Tol Cawang Padat dan tersendat. Ah saya coba keluar di pintu Cilandak lalu ambil jurusan Warung Buncit yang mudah-mudahan “sepi ing mobil” – dan intuisi indera keenam yang diasah selama ini, masih salah lagi.

Ditengah pergumulan kendaraan, sebuah pesan singkat dari mas Eryawan sang pemrakarsa dari Wikimu bertanya “Sudah ada dimana?” – yang terpaksa belum saya jawab sebab hidung Kopaja seperti kepala pengamen bocah muncul begitu saja dikaca pintu kala menunggu lampu hijau di prapatan jalan.

Antrean mobil membuat saya termehek-mehek tiba di wisma Granadi di bilangan Kuningan Jakarta. Sebetulnya saya merasa “jiper, seharusnya sewaktu mas Eryawan ber SMS “ajakan wikimu mengisi acara TalkShow ” – saya jangan main langkah tegap. Tetapi mau bagaimana lagi, Wikimu selalu membawa daya tarik sendiri bagi saya.

Bersama Awak Radio
Bersama Awak Radio

Saat pintu lift lantai empat terbuka jam menunjukkan seperampat lebih jam sembilan.

Ternyata mas Eryawan, mbak Riri sang penyiar dan petugas pengatur lagu sudah berada di dalam. Wulan Jameela  nampak mendendangkan lagu populer yang katanya bukan terbuat dari besi baja yang tidak bisa menahan rasa sakit asmara..

Sebat ia mengorder kopi susu untuk saya. Lalu disodorkannya lidah kucing yang katanya sisa lebaran. Sementara mas Eryawan “berAqua.”

Tidak lama kemudian, pak Apung datang seorang wikimuer nara sumber.

Kami berkenalan dan ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh, langsung kami masuk dengan acara bertopik “berkebun itu menyenangkan..” – Apung dan saya mempunyai kesamaan, yaitu “sebetulnya yang berkebun seperti pegang tanah dan pupuk itu pembantu di rumah..” – sementara kami adalah “instruktur berkebun,” pasalnya modalnya cuma jari telunjuk.

Pak Apung nampaknya sudah siap sekali dengan script yang akan dibacakan sementara saya lebih banyak “gimana nanti..” – pasalnya pembicaraan kebun kalau dibebani teknis detail cara menyiapkan pupuk, kebun, sebaiknya baca Trubus lebih afdol.

Pertanyaan kepada saya adalah mengapa senang berkebun? – jelas aja sehari-hari saya orang perminyakan, melihat laut, besi baja yang  bernama mesin bor. Maka berkebun adalah cara lain dari keluar dari rutinitas sehari-hari. Lalu berhubung ada penanya yang menanyakan apakah berkebun bisa menjadi tambahan “dapur mengepul” – sementara Apung mengatakan “kami belum pernah jual tanaman” – saya langsung menyabet dengan tanaman pot yang dikenal sebagai Keladi Tikus dan dipercaya untuk mengobati semacam kanker. Tak banyak saya bicara tanaman satu ini. Rahasia perusahaan.  

Tidak terasa enam puluh menit berlalu, setelah merangkum hasil pembicaraan maka kami masih meneruskan berbincang selama hampir setengah jam lebih. Sebuah buku tulisan seorang wikimuer remaja berkacamata,  nampak terpajang di meja studio.

Pasalnya pintu studio macet sehingga perlu di “bandrek” untuk membukanya. Maka hari itu saya melihat juru warta dan juru musik pegang obeng, palu membongkar engsel pintu masuk Gedung Granadhi Lantai 4 – Whoaaa

Mudah-mudahan bukan kualat gara-gara bilang tanam cabai  di rumah no problem, pelihara kamboja, puring kuburan boleh-boleh saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s