Melihat Bonsai Monas


Gabriel sedang mengajar MudLogging
Gabriel sedang mengajar MudLogging

Gabriel teman seusia saya – posisinya di Kolumbia sana sudah menjadi manajer. Namun ketika kegiatan pengeboran di negeri ini dalam keadaan tiarap, orang Amerika Latin ini rela menjadi instruktur mudlogging.

Perusahaan saya memanggilnya ke Indonesia dengan biaya semula 5000 dollar untuk sekali jalan menjadi 2500 dollar untuk pergi dan pulang. Gabriel akan berada di Jakarta selama 3 minggu.

Karena hari Sabtu dan Minggu adalah liburan, maka ia gunakan melihat-lihat pemandangan yang ada.

Kali ini tujuannya dalah MONAS – karena di majalah turis dikatakan bahwa monas dengan ketinggian diatas 100meter merupakan kebanggaan Indonesia yang harus dikunjungi.

Sekalipun ia tinggal disebuah hotel di kawasan elit Pondok Indah, entoh, pak Taxi mampu mencari jalan tikus untuk mencapai Monas van Indonesia.

Keesokan harinya, saya tanya kesannya Monas, apakah ia sempat naik ke puncak hasil karya Bung Karno ini yang dibangun nyaris mangkrak pada 1961, dan baru diselesaikan kemudian oleh pak Harto. Aku berharap cemas atas komentarnya

Mimbar, why Monas only 1,2 meter height? I was told the height is 457ft or 137m” – lalu tangannya kedepan sambil membuat telapak tangan telungkup seakan memperkirakan tinggi sebuah benda sebatas matanya.  Nyata-nyata ia dibawa ke Taman Mini Indonesia Indah oleh supir taxinya. Boleh jadi ia di kadali.  Tidak heran tugu monas dibonsai.

Seperti masih belum cukup pengalamannya, ia bilang bahwa jarak Monas Bonsai dengan Hotel kan sama dengan Hotel ke Monas Bonsai, tetapi waktu ia pulang ia membayar biaya taxi lebih kecil ketimbang berangkat.

Gabriel, mungkin taxi yang mengantarmu mencarikan jalan khusus, sementara taxi yang lain cukup jalan protokol..

Hari lain, didepan hotelnya yang masih di kawasan Jakara Selatan – ia kunjungi sebuah supermarket yang sedang melorot bintangnya. “Dua belas telur ayam, tiga busuk, baunya lekat di kamar hotel saya..” – Seperti belum kapok, ia beli roti pada malam hari untuk sarapan paginya, ternyata makanan inipun sudah sebahagian hijau royo-royo berjamur. Terakhir ia beli susu, baru diudek-udek, hidungnya mencium bau tak sedap. Susu inipun kadaluarsa. Lengkap sudah pengalaman “three in one” – di sebuah mall yang dulu pernah kondang dan kini nyaris mangkrak.

Lha mau bilang apa lagi kecuali “Visit Indonesia Year 2008..

Lantas untuk mengobati pengalaman kurang menyenangkannya, ia saya beri Hem Batik lengan pendek. Keesokan harinya, baju tersebut langsung dipakai dan agak kekecilan. Ternyata saya malahan menambahkan siksaan padanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s