Menonton Laskar Pelangi


Bagi saya yang pernah tinggal di pulau Sumatra pada masa kecilku menonton Laskar Pelangi dengan dialog-dialog ala sedikit Melayu menimbulkan nostalgia. Bagaimana anak-anak belajar disekolah SD Muhammadiah yang bobrok sehingga harus ditopang batang kayu agar tidak roboh, dinding papan menyerupai kandang kambing yuang digambarkan bahwa kambingpun merasa bahwa kelas anak Laskar adalah rumah mereka. 

Sayapun pernah mengantarkan kedua adikku (semua almarhum) bersekolah di Muhamadiah, bedanya kami menggunakan bagian panggung rumah yang kalau di Palembang orang selalu membuat rumah dengan panggung yang tinggi. Saya pernah mirip Lintang yang dicegat oleh Buaya ketika berangkat sekolah, ada sepasukan kera diperbukitan yang kadang memenuhi jalan setapak yang biasa kami lewati. Kera yang biasa bersahabat entah mengapa hari itu seperti tidak punya maksud menepi memberikan jalan kepada kami.

Lalu ketika salah satu anak yang lebih berfikir bahwa menonjolkan otot adalah impian wanita, sayapun pernah dibisiki teman-teman bahwa mengurut salah satu otot dengan minyak kelapa bisa membesarkan otot tertentu disamping menimbulkan sensasi luar biasa. Tapi itulah anak pantai Sungai Musi (di Palembang, sungai dibilang laut), kadang pelajaran sex datang dari bisik-bisik.

Dalam salah satu adegan menunggu murid ke sepuluh nampak Ikal duduk disamping ayahnya. Disisi lain datang Lintang sebagai murid pertama yang datang, padahal ia harus bersepeda puluhan kilometer dari pesisir “untuk mengejar mimpi” bisa dibayangkan wajahnya terbakar matahari dan berpeluh seluruh tubuhnya. Padahal sebelum meninggalkan rumah ia harus membantu ayahnya yang nelayan miskin ditinggal istri. Ikal dengan enak berbisik kepada ayahnya “bau angus” – saya tergelak, sudah lama tidak mendengar celetukan seperti ini.

Menonton filem ini seperti diingatkan akan pelajaran budi pekerti, saat pak Bahar mengatakan bahwa “disekolah ini prestasi tidak diukur dari kepandaian menghitung, namun budi pekerti dan belajar apa saja dari hati nurani.” Apalagi beberapa mutiara muncul seperti “kami diajarkan banyak memberi, bukan banyak meminta…

Dedikasi ibu Mus, juga termasuk barang langka sebab pengalaman saya membesarkan anak dan mengamati keponakan, para guru sekarang umumnya lebih memilih anak yang pandai, kaya dan pendiam ketimbang murid macam Harun. Apalagi boro-boro membuatkan rapot khusus.

Rasanya saya melihat oase dimana para orang tua saat ini berebut menyekolahkan anak di sekolah yang favorit, disekolah yang hanya anak orang kaya mampu membayarnya.

Namun disarankan anda harus membaca ulang novel Laskar Pelangi kalau tidak akan kebingungan dengan cerita yang meloncat-loncat. Juga karena filem ini ditonton oleh segala umur, tak heran disela kegelapan malam anda akan melihat cahaya kunang-kunang dari pesawat genggam ditangan-tangan cilik yang menerima dan mengirimkan pesan ditengah filem berlangsung.

Keluar dari SInema21, disepanjang jalan saya dicegat oleh anak-anak muda mengenakan rompi bak jingga sambil menenteng sapu lidi. Namun alih-alih menyapu jalanan – mereka mencegat dan mengetuk pintu kaca kendaraan sambil mengasongkan tangan “minta-minta.”

PIM malam takbiran 30Sep2008

Artikel yang berhubungan

Membaca Laskar Pelangi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s