Ketika pasangan hidup berusia setengah abad


Saudara berdatangan mengucapkan selamat ultah setengah abad
Saudara berdatangan mengucapkan selamat ultah setengah abad

Tentu saja berterimakasih, bersyukur, dan seperti biasa cipika cipiki lalu makan malam bersama. Sepertinya keluarga akur, damai. Tapi saya terpaksa bongkar dapur “demi sebuah pembelajaran” bahwa sekalipun keluarga dari istri nampak akur sebetulnya ada sekam membara.

Daripada  menyalahkan orang lain memang pekerjaan paling gampang. Maka saya lebih baik menanamkan kepada diri sendiri, bahwa pertama “kebenaran akan muncul juga sekalipun kadang terlambat, dan yang kedua jangan menganak emaskan anak kandung sendiri..” – karena saya menulis sejarah hidup, maka sebisanya sisi buram kehidupan kami jangan pula ditutupi.

Keluarga saya memiliki anak (adik) yang selalu benar dimata mereka. Keluarga istri sayapun demikian. Kalau dia memegang becak, dan bersabda “mercedez” maka mati-matian becak butut tadi disebut mobil kinclong. Jangan-jangan sayapun tanpa disadari berperilaku sama. 

Bermula, kami mencoba melepaskan diri dari “menjadi orang gajihan” – lantas berbisnis dan berhasil. Seperti biasa banyak famili menumpangkan hidup  pada kami. Namun Ketika bisnis jeblok kami dijauhi bahkan kalau ada Ryan penjagal nama waktu itu, mungkin kami disewa agar nama kami bisa lenyap dimuka bumi.

Dan saat-saat hidup menjadi teramat sulit, apalagi sepertinya kesulitan datang lapis berlapis, satu lepas dan berhasil diatasi, maka sebatalion datang. Maka saat seperti ini pasangan hidup haruslah tidak saling menyalahkan dan yang lebih penting lagi siap bahu membahu, sebab keluarga dekatpun  kadang tanpa disadari mengadu domba kehidupan berkeluarga.

Apalagi ada yang menarik keuntungan materi dari pertentangan ini. Aneh tapi nyata, mirip serial Oh Mama Oh Papa.

Badai memang menipis, tanpa kami sadari kami sudah naik kelas.

Sekarang kembali normal. Semua persoalan internal keluarga bermuara mengadu dan mengacu kepada kami. Pelajaran yang sudah didapat adalah boleh kita menjadi keranjang sampah menimbun persoalan orang lain, tetapi sebatas menjadi “juru komentar” – bukan “juru laksana.” – singkatnya harus memilah, bahwa itu urusanmu dan ini urusanku. Kalau diumpamakan, jadilah macam Ustad Jefry di Tipi, bukannya Ustad FPI yang manakala ucapannya tidak didengarkan langsung merangsek menyerbu lokasi, sebab akhirnya memang babak belur.

Untuk ungkapan rasa syukur bahwa pasangan hidup saya sudah usia setengah abad. Acara makan di sebuah resto steak berjalan lancar. Resto waralaba ini kami pilih lantaran ada pilihan “salad” dan eskrim yang gratis sehingga para anti daging bisa tetap menikmati hidangan. Cacatnya tidak semua famili bisa hadir karena ada keluarga yang saling menghindar bertemu satu sama lain.

Disela-sela makan, keponakan kecil kami berkeliling resto dan ia melihat bahwa harga air mineral disini jauh lebih mahal ketimbang warung rokok “pak Dodo dan Opik” di seberang rumah mereka.

Lalu saya mencoba menjelaskan sebisanya bahwa sepintas harga minuman nampak mahal tetapi apakah warung seberang menyediakan salad, es krim gratis boleh dimakan sepuasnya? apakah ada pelayan yang siap melayani permintaan kita, apakah di warung “opik” ada air conditioning, toilet yang ber pendingn udara. Sejatinya saya sedang menanamkan “gagasan” mendapatkan suasana nyaman tidak harus gratis.

Bola biliard yang dituju lebih lanjut adalah, kalau kita selalu berkutat mencari barang besar dan kecil dengan selalu berpatokan paling murah, terkadang efek pantulnya adalah memperoleh barang tak bermutu, dan berakhir dengan mengeluarkan biaya jauh lebih besar plus rasa kecewa.

Baru saja adiknya (kelas 2 SD) puas tidak puas dengan jawaban saya yang diluar “habitat” mereka, sang kakak yang lebih “tuwir” cara berfikirnya kendati masih kelas 5SD – berbisik, bahwa ini acara mahal dan terkesan jor-joran.

Lalu tanya jawab berlangsung bahwa pakdenya dapat THR, sementara orang lain mudik, kami tinggal dirumah. Lalu pakde-nya (saya) mencoba memberi jawabab lagi bahwa “ketika seseorang merasa berhasil menyelesaikan sebuah tugas atau masalah, ada baiknya ia mentraktir diri sendiri, pakde mentraktir diri pakde sekalian mengajak kalian sebab pakde mau minta traktir dengan siapa?”

Biasanya keponakan gendut saya ini bisa menyerap semua kata-kata saya sehingga sang ayah sering bilang “pakde banget..” – buktinya ketika steak ibunya tinggal separuh, lalu disambarnya. Dan iga bakar sayapun harus rela “sharing” dengan napsu makannya yang memang luar biasa.

Advertisements

2 thoughts on “Ketika pasangan hidup berusia setengah abad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s