Dapur Betawi


Dapur Betawi masakan Batavia minus Gabus Pucung
Dapur Betawi masakan Batavia minus Gabus Pucung

Lokasinya di Jalan Raya Jati Asih.  Cukup strategi sebab ada Mini Mart dan ATM dalam komplek tersebut.

Dapur Betawi dalam artian harfiah menurut para ahli mengenai Betawi adalah dapur yang langsung connect dengan teras di belakang rumah. Akibatnya banyak orang Betawi kongko-kongko justru di dapur, bukan di ruang tamu.

Menjelang hari H-3 kami mulai kesepian dan kerepotan lantaran ditinggal para asisten selama bersama kami. Rasanya pas juga berbuka puasa sambil mencobai “mudik” di kedai-kedai yang selama ini cuma dilewati saja.

Diiringi lagu TapianUli (?) yang cukup keras menyetelnya maka mengalirlah menu berupa Gurami Goreng, Tahu Sapo, Cah Kangkung, Sambal Gowang (serba mentah).

Waktu menunjukkan mendekati pukul 19:00 – lalu saya pesan Es Kelapa muda, ternyata sudah tandas dipesan pengunjung lain. Terakhir saya minta tambahan es teh tawar, itupun diberi jawaban “maaf pak Es batu sudah habis..

Jadi kalau anda kepingin mencoba masakan di Dapur Betawi yang mirip masakan sunda ketimbang Betawi ini, jangan terlalu malam. Bisa bisa sudah kehabisan.

Dan satu lagi, jangan pesan Nasi Goreng, terlalu biasa-biasa saja masakannya (salahnya saya sering coba sana sini).

Nomor tilpun dapur betawi di Jalan Raya JatiaAsih
Nomor tilpun dapur betawi di Jalan Raya JatiaAsih

Saat keluar saya amati seorang bapak kurus berpeci dengan memelas menjajakan buku dan peralatan ibadah. Mulai menginjakkan kaki ke Kedai ini sampai hampoir keluar tidak satupun pengunjung mendekatinya sebab buku jenis yang biasa dijajakan di Bus-bus AKAP. Menjilidnyapun kadang terbolak dan terbalik. Saya pernah beli buku berjudul atraktip, Harry Mukti menjadi Dai, begitu saya buka isinya dua lembar adalah klipping soal Harry Mukti yang kita sudah sering dengar. Sisanya copy dan paste ceramah entah dari mana tidak jelas.

Alhasil saya lebih berminat melihatnya termenung, kadang menyeruput kopi tubruk, temannya berbuka. Bisa dibayangkan betapa ia harus menceritakan kepada keluarga yang menyambutnya di rumah “dagangan sepi, mana ada orang mau baca buku agama…”

Sebuah tasbih yang katanya “anu iye lima rebu rupiah” – kira-kira begitu dalam bahasa Sunda, langsung saya ambil satu, sementara lembaran hijau yang baru saya ambil dari ATM sebelah saya berikan sembari mengatakan, “sisanya bapak ambil ya..”

Hidup diatas usia 55tahun, saya masih melihat kerabat, sohib saya lebih pandai memberikan sumbang berupa “komentar dan saran” – namun kalau urusan lebih fisik, ada saja dalih untuk ngeles.

Bahkan beberapa tahun lalu saya pernah memberikan dana kedalam kotak amal (besek bambu) dalam sebuah upacara besar Idhul Fitri. Langsung uang saya disambar oleh “seseorang” disamping saya, dan ditukar uang pecahan yang lebih kecil lagi. Orang ini dimana-mana saja menyampaikan dakwah walau satu ayat, tetapi soal pergaulan kesamping, nilainya buruk sekali.

Dalih-dalil “ria” atau sombong, “mengajari mereka tambah malas”dan sebagainya deras mengalir sehingga ujung-ujungnya, supaya jangan riya, mending tidak bersedekah sama sekali.

Jadi ingat tayangan PPT-2 (Para Pencari Tuhan jilid 2) – digambarkan juragan Kosasih yang kaya raya selalu saja berdalih “di musyawarahkan” – setiap kali ada permintaan sumbangan. Kendati sumbangan untuk wuwungan sekolah yang tinggal menghitung jam untuk roboh.

Mudah-mudahan “maafkan kalau terkesan sok” – setelah perut kenyang, pikiran untuk berbagi dengan sesama lebih mudah terbuka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s