Pisang mentah saja bisa masak disini


Saya masih duduk di bangku SLTP ketika ayah dipindah tugaskan dari Bandar Lampung ke Bengkulu. Jaman dulu pesawat sekalipun suaranya memekakkan telinga, keberadaannya sayup-nyaris tak terdengar ditelinga kami. Maklum harga sebuah tiket diluar jangkauan kantung kami.

Liburan kuartalan saya bermaksud ke Bengkulu. Caranya dari Tanjung Karang kami naik kereta menuju Lubuk Linggau, baru meneruskan perjalanan pakai mobil.

Karena liburan maka kereta ekonomi penuh sesak dan setiap kali mampir dipemberhentian penumpang baru naik sampai mereka rela berdiri di kamar peturasan. Seorang bapak sudah sejak dari tadi berkipas-kipas dengan koran, lalu ia membuka bajunya. Sementara kipas angin kereta lebih terdengar cicitannya ketimbang menyampaikan udara segar. Ketika disebuah stasiun, penumpang memaksa diri untuk masuk, rupanya pak kipas tadi hilang kesabarannya ia lalu berteriak entah kepada siapa.

“Woi kereta sudah penuh, pisang mentah saja sudah masak disini…”

Saya yang duduk berseberangan dengan pak Kipas sempat lama mengartikan ungkapannya. Rupanya karena pengapnya udara, panas yang ditimbulkan oleh suhu tubuh membuat pak kipas, yang mungkin petani beranalogi, suhu udara, rapatnya pagar betis, adalah suasana sempurna untuk memeram pisang mentah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s