Bungkus buat kucing di rumah


Orang Palembang umumnya selain pandai berkelakar alias bergurau, juga amat lihai berdiplomasi.

Merasa nafsu makannya kurang “greng” maka CekMat mengunjungi sebuah rumah makan kesayangannya. Namun masakan ikan Pindang Patin van Sekayu kegemarannyapun ternyata tidak berhasil menggugah selera makannya sehingga setelah mencicipi sedikit ia memutuskan membawa pulang makanan yang terlanjur ia pesan.

Agar tidak malu diketahui pengunjung restoran lainnya ia memberi isyarat tangan kepada pelayan untuk mendekat. Persis ke telinga sang pelayan ia berbicara sambil kedua telapak tangannya dikembangkan bak tarsan ingin memanggil temannya atau mirip gerakan di ATM saat kita melindungi nomor pin kita supaya tidak terbaca oleh pihak lain.

Tapi kalau kita dekati, CekMat membisikkan, “bungkus sisa makanan untuk kucing  dirumah.”

Pelayan nampaknya mengerti dan tanpa banyak cingcong ia membawa sisa hidangan di meja CekMat untuk di bungkus.

Nafsu makan yang semula bangkit mendadak tiarap. setelah ia melihat ada potongan tulang ayam didalam sayurnya. Padahal masakan itu tidak terdapat dalam menu pesanannya.

Rupanya “sanepo” bahasa bisik-bisik Cekmat diterjemahkan secara harfiah oleh pelayan baik hati sehingga tanpa ragu, masakan tadi dicampur dengan potongan tulang sisa makanan tamu yang lain…”

Lha kan kucing tidak perduli tulang dari sampah, daur ulang atau segar. Tapi Cekmat belum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s