Memboncengkan Balita Mudik memang berbahaya


Satrio 1988 usia setahun, ngileran dan tangan bapaknya harus selalu siap menangkap manakala ia melakukan gerakan membahayakan
Satrio 1988 usia setahun, ngileran dan tangan bapaknya harus selalu siap menangkap manakala ia melakukan gerakan membahayakan

Satrio bungsu saya tiba-tiba “nembung” alias membuat usulan agar motor bebeknya di jual dan diganti dengan motor setengah balap CBR. Sekalipun semula Ibunya nggak setuju tetapi akhirnya menyerah. Maka jadilah Satrio mendapatkan motor yang ternyata untuk inden-pun minimal dua bulan.

Rupa-rupanya ia kepingin memboncengkan ibunya, tetapi yang belakangan ini selalu menolak. “Bisa kering gigi mama,” katanya bergurau. Tentu maksudnya lantaran ia harus meringis ketakutan sepanjang diboncengkan Satrio. Maklum dengan anak selalu saja ada rasa was-was.

Dan dalam satu kesempatan emas, saya diajaknya berboncengan dari Grogol ke Glodok untuk membeli baterai laptopnya. “Kalau pakai mobil, susah cari parkirnya..Pa” – demikian kilah anak bungsu kami ini.

Baru helm akan saya kenakan, dia sudah mengasongkan masker. Saya pikir helm sudah cukup sebab masa sekolah dulu saya tidak kenal helm apalagi masker. Baru dua tiga kali dia ganti perseneling motor sudah minggir ke SPBU, “isi minyak dulu Pa, Pertamax..” – duh kepajek aku.

Perjalanannya sih awalnya nyaman, suara baju ditiup angin, lalu deru angin ditelinga mengingatkan saya masa mahasiswa dahulu. Namun ketika menunggu dalam barisan kendaraan lain yang menunggu lampu hijau menyala suasana terasa menyiksa.

Saya mulai tersengal akan bau asap dan hawa panas yang dipancarkan oleh knalpot kendaraan. Mungkin juga karena suasana puasa sehingga saya mudah sekali merasa mual.

Cuma sekitar 30menit bokong nangkring diatas sadel yang miring kedepan. Rasanya seperti menunggu tanggal 20, alias gajian.

Tercatat motor sempat “kebuang” kekiri sebab tangan kanan saya ditowel spion Avanza. Lalu di jalanan ada dua kali razia kendaraan bermotor. Ehm harap maklum, mendekati mudik yang harap (bisa juga) dibaca mendekati lebaran biasanya petugas pada beringas.

Tidak lama kemudian terasa mulut saya seperti dileleti cairan asam. Asap knalpot yang menembus sela-sela helm sudah membuat posko di wajah dan bibirku.

Tak heran pengendara motor selalu terkesan buru-buru. Kadang kalau salat bersama mereka, saat jaket dibuka saya bisa mencium bau keringat campur debu dan asap kendaraan.

Kali ini saya tegaskan, pengendar bermotor memang manusia tangguh. Sesampainya dirumah, saya seperti kesetanan mandi sebersih-bersihnya karena rasanya baju, muka, rambut berbau asap.

Itu baru perjalanan 30menit. Bagaimana dengan para pemudik yang sampai 8 jam tempuh. Dari sini saya tidak heran ada balita meninggal dunia dalam mudik berboncengan. Kita yang dewasapun salah salah bisa mabok perjalanan.

Advertisements

2 thoughts on “Memboncengkan Balita Mudik memang berbahaya

  1. saya punya motor hasil nyicil, tapi simbok saya ndak pernah suka meskipun dia ndak perlu mbayari sesen pun. sekali saya bonceng membuat dia trauma seumur hidup, katanya cara nyetirnya ugal2an .. ndak seperti bapak saya .. la iya kalo c70 dibandingin satria .. yoo jauhh

    Like

  2. Aku juga kering gusiku mdigonceng satrio, semua pelajaran bapaknya seperti jangan nyalip dari kiri, jangan menerobos diatara dua kendaraan di terabas semua

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s