Kalau bapak utangnya banyak saya nggak punya talangan


Sudah lama saya tidak berlangganan koran secara tetap. Lagian apa yang ada di koran sudah bisa didengar di TV, dan internet bahkan jauh lebih update. Namun tetap saja kalau tidak pegang kertasnya, lalu berbunyi kresek-kresek kalau dibuka atau dilipat, rasanya kurang sreg. Belum lagi bau tinta dan kertas sepertinya sudah kebutuhan kalau di warung harus pesan kopi tubruk.
 
Akhirnya diputuskan beli koran saja berdasarkan azas “sak-sire” alias kalau lagi kepingin – demikian juga dengan majalah, di kios terdekat. Inipun kadang sering menjengkelkan. Misalnya, kalau kepagian datang maka tukang koran seringkali belum nongol, namun kalau ke siangan datang, mereka sudah pada kukut-kukut alias tutup.
 
Lho kok seperti “kaya boleh diatur” – belakangan ini diujung gang rumah saya ada seorang anak muda buka kios koran. Setiap jam 7 pagi saya sudah melihatnya memajang koran.
Karena kios koran berada diseberang jalan, mau tidak mau saya harus mengklaksonnya agar ia menoleh dan memberikan koran yang saya inginkan.
 
Agar supaya tidak terlalu lama memberhentikan kendaraan dan mengganggu arus lalu lintas, mengingat jalanan kami yang sempit hanya bisa dilalui 2 kendaraan maka saya selalu menyediakan uang pas.  Namun seperti tokok Asrul sang monster membaca dalam PPT 2 (Para Pencari Tuhan Jilid 2) nya Dedi Mizwar di SCTV, tukang koran ini dalam keseharian lebih asik menjelajahi halaman demi halaman koran dan majalah sehingga suara klakson saya kadang “nggak ngaruh.”
 
Justru tukang ojek sekitarnya yang lebih awas mendengarkan klakson saya tanda minta dilayani koran. Jadi boro-boro mengharapkan ia mendatangi rumah, lalu menawarkan berlangganan koran.
 
Sampailah suatu saat saya melihat pemuda loper naik sepeda. Saya stop ia di jalan lalu terjadilah transaksi bahwa setiap pagi akan membawakan saya koran, namun setelah seminggu harus dibayar.
 
“Kalau bapak utangnya kebanyakan saya nggak punya duit..” – mungkin orang lain akan gusar mendengar redaksi bahasanya, tetapi melihat cara bicara yang gugup, terkadang diulang-ulang, saya langsung jatuh hati. Setelah beberapa minggu berjalan tanpa “banyak hutang” – maka pelan-pelan APBN diperbesar, ada tambahan pemesanan Nova, Cek dan Ricek.
 
Lalu sekarang saya minta bawakan majalah “TEMPO” – langsung dia komentar “wah itu uangnya gede pak, bapak harus beli kontan, jangan hutang…” – Padahal jumlahnya tak lebih dari uang Zakat Bias Gender Jutawan Pasuruan yang diperebutkan 5000 orang sehingga matematika berbunyi 30ribu dibagi lima ribu sama dengan 21 orang khusus wanita tewas.
 
Mak Kasih pembantu saya sudah sampai batas mau mendampratnya, tetapi saya melihatnya justru inilah “ujut malaekat” versi saya. Sebab versi sekarang, malaikat adalah orang yang sepaham dengan kita saja. Manakala berseberangan, maka jatuh fatwa “halal darah dan dagingnya…”
 
Akhirnya – diapun sudah seperti salah satu keluarga kami. Kadang sekedar makan dan minum disedekahkan oleh mak Kasih. Kalau sudah begitu terimakasihnya panjang dan berulang-ulang.
 
Banyak episode memperlihatkan bahwa persaingan kadang muncul justru karena kita yang menciptakannya. Coba kalau pemuda bertopi biru tadi mau “niteni” – mengamati jam berapa saya selalu membeli korannya, dan tidak asik menjelajah barang dagangannya, maka bisa jadi saya tidak pernah kenal dengan pemuda “takut diutangi..”
 
Atau karena pemuda bertopi sudah memiliki “honda bebek” maka daya saingnya kalah terhadap sang “takut diutangi,”  yang hanya naik sepeda butut?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s