Makanan Daur Ulang


Hari hampir malam di Pondok Kelapa ketika melewati TPU aku terkejut tiba-tiba, diantara remang-remang, saya melihat gerai kecil Nasi Kucing.

Sebuah situs citizen journalisme pernah mengangkat topik “nasi kucing” – dan berakhir dengan mereka berbondong menikmati hidangan super duper murah tersebut.

Wah kebetulan kepingin membuat tulisan masalah Nasi Kucing versiku maka saya beli penganannya termasuk beberapa tusuk sate ayam, usus, paru.

Pikir -pikir untuk teman sahur pasti sip makgklesip.

Betul saja, jam 03:30 sambil kriyepan karena mengantuk saya mencoba membangunkan nafsu makan.

Setusuk ampela ayam saya makan rasanya agak aneh seperti mulai berlendir plus bau. Tapi dasar nggeragas bin cluthak alias kemproh, dan ini memang mahzab saya yaitu makanan yang masuk tidak boleh dikembalikan.

Tusukan sate kedua saya mulai curiga berat. Dan eng..eng..eng ketika saya amati teramat amat. Ternyata penganan ini sudah berjamur. Sayang saya tidak perlu penisilin untuk penampilan bakteri ini.

Tak heran, diantara remang-remang cuaca, sosok sate dipiring makin mempersona berhiaskan jamur tetapi mematikan. Bagaimana mungkin jarak antara jam 09:00 menjadi 03:30 seonggok daging goreng sudah berjamur semua. Tololnya saya tidak memeriksa dengan seksama dan main percaya.

Langsung sahur saya tutup dengan obat anti sakit perut yang diiklankan oleh bekas artis yang sekarang memakai kacamata dan berpenampilan sangat sopan, kecuali anda nonton kembali filem Warkop.

Ternyata bangsaku memang tergolong jenius memanfaatkan istilah Daur ulang. Baru-baru ini biskuit jamuran, berulat, diolah kembali menjadi makanan bodong dan dijual ke sekolah-sekolah. Belum lagi kasus minyak goreng dicampuri plastik agar hasil masakan terasa renyah dimulut, indah dimata.

Sekarang mbah Darmo (50), warga Jakarta Barat, tepatnya jalan Peternakan Raya I, Kapuk ketahuan mendaur ulang sampah makanan hotel. Jalanini dulu bernama Pejagalan (babi), mungkin Darmo dan istrinya, Yatmi melakukan inovasi dengan mengubah makanan untuk babi berganti jalur menjadi makanan manusia.

Padahal sehari sebelumnya ia sudah didatangi petugas, Yatmi istrinya malah lantang dan tanpa rasa bersalah menjelaskan bahwa profesi “daur ulang sampah hotel” sudah dilakoninya selama lima tahun. Lantaran ketagihan, maka keesokan harinya , Yatmi dan Darmo lagi-lagi menjual hasil olahannya.

Lalu para penggemar “karupuik jangek” alias kerupuk krecek (jw) alias kerupuk jangat yang biasa dimakan bersama Soto Surabaya, Rujak Cingur dan Gudeg, ternyata sebagian ada disusupi limbah pabrik penyamak kulit.  Konon yang perlu dimasukkan dalam pelajaran ilmu bumi baru adalah “dimana daerah yang menghasilkan krecek hasil samping penyamak kulit” – maka jawabnya bisa di Bantul dan Pasar Beringharjo Yogya.

Ada yang membuat uji melalui penciuman kucing. Bilamana kucing anda menolak kikil, ataupun kerupuk kulit yang anda berikan. Boleh jadi makanan anda berasal dari sisa limbah.  Biasanya kerupuk kulit hasil limbah tidak mekar, sedangkan kikil (tunjang, padang) umumnya lebih lembut dan tidak amis.

Yang luar biasa adalah pihak Dinas Kesehatan masih adem ayem dengan mengatakan bahwa “sampai saat ini belum ada laporan penyakit akibat mengonsumsi makanan ini.” – Bahkan ada yang berani memberikan pernyataan bahwa daerahnya mungkin belum kesusupan kulit limbah karena masih menunggu hasil laboratorium. Tsk tsk tsk.

Advertisements

3 thoughts on “Makanan Daur Ulang

  1. kenapa ndak kepikiran mendaur ulang sesuatu yang bermanfaat misalnya sampah organik dijadiin pupuk, terud hasilnya dijual sama petani biar padinya lancar jaya .. jadi kita ndak perlu beli padi thailand punya

    Like

  2. Kadang gurauan diantara kita adalah kenapa Nabi diturunkan bukan di Jawa, lantaran di negara macam Israel dan Arab orangnya lebih jahat ketimbang wong jowo. Pendapat tersebut sekalipun cuma gurauan mulai saya pertanyakan, mana ada suku bangsa yangt memasak dagingbusuk, menjual daging gelo9nggongan, meramu tahu pakai formalin, kalau bukan kita.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s