Teluk Betung dan aneka rupa oleh-oleh


Kopi Bubuk Lampung sudah tinggal sisa kejayaannya
Kopi Bubuk Lampung sudah tinggal sisa kejayaannya

Mendekati akhir bulan Agustus (23-24/8/08) saya kembali berada di kota Bandar Lampung. Ketika keluarga asyik berbelanja oleh-oleh, ingatan saya tertumbuk pada plang nama sebuah usaha kopi yang tiga puluh tahun lalu peminumnya akan betul-betul melek sepanjang malam.

Kopi ini sering disebut kopi Klenteng karena memang diseberangnya ada sebuah wihara besar Thay Him Bio.

Vihara Lampung
Vihara Lampung

KERIPIK PISANG SUSENO

Bergeser sedikit anda dari Wihara, sekitar 20 meter akan ditemui OutLet Keripik Pisang Lampung yang terkenal Suseno.

Namun setelah beberapa puluh tahun malang melintang, pemasaran Suseno (satu panda) mulai diganggu oleh para pemalsu merek dengan menambahkan seekor panda, sampai dua ekor panda. Perlahan kepercayaan konsumen turun.

Dulu pernah malang melintang di dunia keripik pisang lampung
Dulu pernah malang melintang di dunia keripik pisang lampung

Seperti nampak pada gambar yang saya jepret, jarang pembeli keluar masuk outlet tersebut.

Kejadian ini mirip dengan salak Merak yang dulu dijajakan orang disekitar pelabuhan penyeberangan yang dijamin selalu “sepet” – karena yang manis hanya salak untuk contohnya, sementara yang disembunyikan adalah buah salah kualitas buruk yang masih muda sehingga rasanya pahit, sepet.

Pemenang dalam persaingan dagang saat ini - Toko Yenyen
Pemenang dalam persaingan dagang saat ini - Toko Yenyen

Dan inilah bintang oleh-oleh yang saya saksikan pada Sabtu 23 Agustus 2008, toko manisan Yenyen. Tak putus-putusnya pembeli datang dan pergi. Belakangan saya juga baru tahu bahwa produk keripik pisang yang mereka tawarkan dengan merek dagang ANEKA sekarang sudah menjagoi dunia persilat lidahan.

Lantas bagaimana dengan anda yang keburu kesemsem dengan manisan Yenyen, Pisang Keripik Coklat, Nangka Oven padahal tidak memiliki waktu untuk ke Bandar Lampung a.k.a Jalan Kakap Teluk Betung? – seperti sudah mengerti apa yang dipikir pelanggan, mereka cukup ditilpun, “sepuluh kilo pertama, dua belas ribu rupiah, sehari sampai..

Mudah-mudahan anda sependapat dengan saya bukan Gunung Kawi, Gunung Tibet yang membuat mereka ramai melainkan kerja keras. Pasalnya setiap kali saya bercerita sebuah toko yangmaju pesat, selalu saja komentarnya adalah “dunia perewangan” – akibatnya alih-alih kita belajar bagaimana orang berbisnis kita sudah menuduh “suudzon” toko menggunakan “khadam, jin, tuyul dan sejenisnya (kalau ada jenisnya) – alkhasil, tidak pernah belajar kecuali membenci.

Seperti langit dan bumi antara Yenyen dengan toko sebelah
Seperti langit dan bumi antara Yenyen dengan toko sebelah
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s