Buku Tamu


Buku Tamu di pekuburan Kupang Teluk Betung
Buku Tamu di pekuburan Kupang Teluk Betung

Pasti anda akan kaget membaca judul diatas buku tamu, tetapi foto melukiskan kaktus disebuah pekuburan.

Saya memang memprakarsai penulisan buku tamu diatas sehelai batang kaktus. Biasanya setahun sampai tiga tahun tulisannya masih bisa terbaca, setelah itu mengering dan digantikan batang yang baru.

Seperti kehidupan manusia, muda berjaya, tua lalu harus menyingkir sesuai dengan jaman.

Kaktus ini ditanam diatas pusara nenek saya, lalu ketika ibu menyusul ke alam baka pada 28 Agustus 2001 dan disemayamkan didekat pusara neneknda maka tanpa harus bertanya kepada siapapun para peziarah akan tahu siapa yang pernah datang mengunjungi pusara ini.

Ternyata tidak banyak yang mendatanginya. Adik-adik saya lebih takut kepada ancaman Ustad dan Ustadzahnya akan Azab, akan siksa bilamana mengunjungi makam.

Sementara saya sebagai kakak yang tertua lebih takut kepada hati nurani.

Oleh sebab itu manakala badan masih diberi kekuatan, saya sekeluarga datang ke Lampung untuk sekedar membersihkan pusara di TPU ini. Sampai akhir hayatpun saya belum bisa membalas segala jasanya, lantas kalau hanya membersihkan pusara hanya setahun sekali, rasanya permintaan ini tidak berlebihan.

Dulu masih ingat, ketika masih hidup, ibu sering berkata, manakala hatinya sedang gulana, ia sering melihat sekelebat sosok nenek yang sudah meninggal terlebih dahulu memandang dari kejauhan. 

Wasiat berupa pertanyaan adalah “apakah anak-anakku masih sudi mendatangi kubur ku, atau aku hanya dinilai seperti sapi, kucing, yang setelah tiada bangkainya tidak perlu ditengok..” – pertanyaan ini seperti diulang oleh ibu sambil membersihkan pusara embah dan mengumpulkan ranting kayu.

Mudah-mudahan ibu tersenyum dialam sana membaca tulisan anak lelakinya, tempat ia berbagi rasa ketika kesusahan menderanya.

Advertisements

One thought on “Buku Tamu

  1. saya pernah ‘disambangi’ bapak yang sudah mangkat sejak saya masih smp, pertama kesannya ‘horor’ tapi masa iya bapak mo nakut2i anak sendiri maka ketika bapak ‘sowan’ ke mimpi saya untuk yang kedua kalinya, saya putuskan untuk ‘menengok’ beliau.

    Rak bener toh, ternyata makamnya ambles lantaran musim hujan. Saya langsung bikin laporan sama dalem ibu, yang langsung meresponnya dengan memasang kijing (bener ndak pakde, namanya kijing?)

    Sejak itu bapak ndak pernah lagi ngintip2 dalam mimpi saya

    *tiba2 kangen bapak*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s