Hukuman Pancung di Batavia


Saya menonton TV mengenai perdebatan apakah hukuman mati bagi Amrozi dkk dalam kasus Bom Bali sebaiknya di hukum tembak dengan tiga peluru tajam merobek jantung atau dihukum Qisas (pancung) seperti yang diinginkan oleh Team Pembela Amrozi.   Alasan tim pembela “apa jaminannya sang terpidana “thek sek” langsung sekalipun 3 peluru menembus jantungnya.

Di lain pihak, kelompok dari Bali sudah geram sekali melihat permainan mulur mungkret soal pelaksanaan eksekusi ini. “Membunuh ratusan orang yang tidak tahu apa-apa soal politik seperti menghabisi nyawa ayam kurus berpenyakit Flu Burung, sekarang teriak bilang melanggar kemanusiaan.” Belum lagi perdebatan dari kalangan pihak berwajib. Ada yang bilang sebelum puasa, ada yang membantah, “masak puasa kok membunuh..” 

Pemerintah perlu mengganti proses hukuman tembak menjadi hukuman pancung dalam proses eksekusi agar tidak menimbulkan rasa sakit yang terlalu lama bagi seorang terpidana mati.”  Pendapat tersebut disampaikan Presiden Perjuangan Hukum dan Politik (PHP),HMK.Aldian Pinem,SH, MH di Medan, Selasa. Menurut dia, hukuman pancung sangat efektif dalam menghilangkan nyawa seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. Dalam prosesi pemancungan tersebut, fungsi syaraf dan jantung langsung terhenti karena organ tubuh yang terpisah.
Singkat kata, menurut tim pembela, hukum pancung lebih tidak lancung, tebas, terpercaya tanpa keraguan sedikitpun didalamnya.

Mungkin kita sering melihat di flem-filem Jepang, pedang Samurai yang dimainkan oleh pendekar pedang macam Mushashi, Zato Ichi begitu bereaksi lawan langsung “terkulai” lehernya. Atau dikomik Ganes TH, sampai pendekar kita menyarungkan pedangnya sang musuh masih berdiri dan tidak sadar kepala sudah talak dengan badannya. Di alam nyata, saya baru baca dari buku berjudul Sang Penjegal pendiri dinasti Kerajaan Saudi Arabia (King Abdul Aziz) yang mampu menetak lawannya sampai dikatakan satu kali ayunan badan terbelah, dada menganga memperlihatkan jantung yang masih berdetak.

Keruan saja pihak yang anti penggal akan mengatakan bahwa Hukum Pancung tak dikenal di Indonesia.

Tapi eit nanti dulu….

Tercatat ada dua pedang dulu berlumuran darah sekarang bermandikan karatan tergantung di lantai dua Museum Sejarah DKI alias Fatahilah. Pedang ini panjangnya 1,20m dulu dipakai untuk menebas batang leher sang pesakitan menjadi saksi sejarah repotnya hukuman pancung di negeri ini.

Menjelang upacara pancung dilaksanakana ditandai dengan pemukulan kentongan biasanya mrupakan undangan bagi rakyat untuk berbondong-bondong menyaksikan eksekusi spektakuler. Persis kampanye Saiful Jamil mantan suami Dewi Persik kepingin jadi Caleg.

Konyolnya menurut Dr. F de Haan dalam buku Oud Batavia, pelaksanaan hukum tebas persis bendo kethul dipakai untuk menebang batang pisang tanduk. Sekali bacok, belum tentu batang pisang putus apalagi leher manusia. Mana lebih sadis melihat leher di gorok, di “otot-otot” untuk meyakinkan korbannya “duut”.

Jadi sekalipun ditebas belum tentu lebih ampuh ketimbang di tembak lho..

Tapi itulah para pakar pembela malahan lebih suka hukum pancung disebarkan dimuka publik seperti jaman Wolanda, “jadi tidak perlu ditutup-tutupi..

Advertisements

3 thoughts on “Hukuman Pancung di Batavia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s