Emma Nauli


Emma,6, membantu ibunya berjuang dikerasnya ibukota
Emma,6, membantu ibunya berjuang dikerasnya ibukota

Mudah-mudahan bukan gara-gara Miss Universe 2008 dari Venezuela, Dayana Mendoza dan Putri Indonesia Zivanna Siregar mengunjungi arena tahunan Flona 2008 di lapangan Banteng lho.

Cuma secara kebetulan keesokan harinya, masih Senin pagi 18 Agustus 2008 saya latah mendatangi pameran yang bertemakan Kampanye Selamatkan Bumi. Saya hanya memotret satu tanaman namanya mirip saya yaitu MIMBA (tanpa R). 

Memang menarik berkeliling melihat pameran Taman Vertikal, sebuah cara menanam pot yang unik (vertika), lalu pameran satwa dari Kelinci, Kelelawar, Ular, anjing dsb.

Letih berkeliling waktu masih menunjukkan sekitar jam sepuluh pagi. Udara panas mulai naik ke ubun-ubun. Aroma parutan kelapa dipanggang bersama telur dan ketan dari penjual Kerak Telor Betawi membuat perut saya sudah minta diisi.

Lalu saya berdiri diluar pagar pameran sambil menunggu adik-adik yang seperti histeria melihat anggrek, tanaman obat. 

Didepan saya berdiri dengan pongah Hotel Borobudur. Rasa haus terobati dengan sebotol minuman kemasan dingin yang dilayani oleh anak gadis manis kecil. Belakangan saya tahu namanya Ema,6, murid TK.

Selesai memberikan uang kembalian, gadis manis ini melihat bapaknya dari kejauhan. “pak aku tadi nguli, dapat uang Goceng, nanti dibelikan baju seragam olah raga kalau sudah kumpul ya.” – Rupanya disamping pekerjaannya sekolah, Ema pun membantu orang tuanya dengan lima anak (satu meninggal dunia) membantu mengangkat belanjaan pengunjung pameran Flona 2008.

Ema tidak perduli kalau Puteri Indonesia saat itu masih Halak Hita dengannya. Yang penting kalau tidak ada pameran di lapangan Banteng ia menjadi Joki 3-in-1.

Namun ibunya yang berjualan minuman dingin bercerita bahwa kedatangan kedua Puteri cantik mengakibatkan mobil ramai datang namun suami yang mejabat tukang parkir, sebut saja Nauli, terpaksa minta aliran dana Non BLBI akibat setoran parkir dua kali Rp. 30 000 tidak terpenuhi.

uang z(pakai z) ualan minuman (dingin) diminta suami untuk setor parkir..” -keruan saya garuk-garuk kepala.

Kedatangan dua selebritis dikaitkan dengan banyaknya tamu berdatangan, seharusnya uang kekocek bang Nauli makin banyak. Sayang matematika di alam nyata bicara lain, banyak selebritis datang, banyak pengawal, petugas, apalagi mobil-mobil penyelenggara stand yang berdatangan, namun anda tahu sendiri. Mereka punya kekuasaan untuk tidak bayar parkir.

Kalau hari Libur begini (Senin 18 Agustus dianggap libur), setoran parkir 80 ribu pak. Pagi sampai ditarik 40 ribu, siang ditarik 40 ribu. Kalau hari biasa, dua kali 30ribu alias 60 ribu per hari. Kalau setoran belum dapat rasanya … lalu dia menguncupkan kelima jari tangan kananya, dan dimekar-kuncupkan berkali-kali, isyarat hati berdebar stress.

Saya kadang mengumpulkan plastik minuman. Kalau gelas plastik per kilo 9 ribu rupiah, kalau botol 4 ribu rupiah per kilo. Lumayan pak untuk menambah penghasilan,” katanya sambil memamerkan senyum. Namun guratan persegi pada rahang menunjukkan orang yang ulet berjuang.

Sering juga kami dikasih tanaman sisa pameran. Salah satunya mangga apel. Mau ditanam dimana? kamar kontrakan cuma sepetak. Untungnya ada yang menaksir pot mangga, lumayan kami zual saza..

Tiba-tiba pembicaraan berhenti sebentar, sang suami, sebut saja bang Nauli  seperti nampak ketakutan lalu mendekati istrinya sambil berbisik-bisik.

Istri nampak menolak, tetapi suami memaksa. Di antara deretan mobil yang parkir muncul aparat bertopi hitam, mengenakan sarung tangan hitam, menenteng senapan serbu. Ia lebih pantas menjadi penembak jitu alias “snipper.” Rupanya kehadiran aparan dengan baju seragam deril coklat, penyebab ketakutan Bang Nauli.

Begitu snipper berbalik kearah saya, saya baca namanya mirip potongan nama belakang saya. Namun yang menarik perhatian, rambutnya dicat merah. Saya heran bagaimana bisa sebuah pasukan elit diperkenankan ikutan mode. Gerakan kepalanya mengisyaratkan memanggil bang Nauli.

Sang istri menerangkan, mereka harus menyetor rokok keretek dua bungkus. Kalau tidak akan dibuat “keonaran..” – bahkan sang aparat yang seharusnya pengayom masyarakat mengancam “aku biasa bikin ribut dengan tukang parkir….”

“Zobalah pak, dua bungkus rokok, artinya dua puluh ribu. Anakkupun belum makan kenyang seharian, sekarang aparat yang sebetulnya bertugas di Hotel Borobudur enak saja setiap hari minta jatah rokok, apa dikira kami ini banyak duit…” – anda musti membayangkan tipikal orang Zumatera Utara berbizara tetapi dengan nada mellow.

Kepada Emma cilik yang merebut hati saya, saya potret wajahnya. Sang ibu nampak bersembunyi. Lalu saya serahkan uang sebesar pengganti uang rokok petugas yang sebetulnya sudah digaji negara.

Masih sering sebel kepada tukang parkir yang kadang minta sedikit lebih banyak dari seharusnya? Mungkin saja dia sedang kejar setoran.

Enampuluh tiga tahun merdeka ternyata penghisap darah bangsa kita ya kita sendiri. Tak heran dalam operasi militer – sulit sekali kita mendapat simpati masyarakat.

Advertisements

One thought on “Emma Nauli

  1. “Tak heran dalam operasi militer – sulit sekali kita mendapat simpati masyarakat.”

    Zepakaaattt….!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s