Pisah Ranjang


Jam 12 tengah malam seorang kerabat menilpun, menangis sesenggukan sudah pasti. “Mas, Aku sudah mencoba hidup bertahun-tahun, tapi pasanganku tidak mau mengerti aku. HP-nya gonta ganti.Saya putuskan untuk bercerai. Kami akan pakai pengacara…

Dari kecil saya  sudah khatam mendengar kata-kata ini. Mulai dari ibunda yang kadang “ngenes” akan kelakuan suaminya (ya bapak saya sendiri) dan menumpahkan cerita kepada anak sulungnya, saya yang masih terlalu belia 5-6tahun mendengar cerita demikian, lalu setelah mau liang lahatpun cerita serupa masih sering kami dengar. 

Saya masih ingat ibu sudah mengacungkan Colt38 diarahkan ke belakang tengkorak kepala bapak. Hanya kali itu bapak masih hutang  nyawa kepada saya sebab melihat saya jongkok menemani ayah memperhatikan semut yang merambat di anakan pohon peaya, ibu langsung ganti target, menembak ke udara. Perempuan kalau sudah marah “nggegirisi..”

Sekalipun demikian tak urung tercekat juga kerongkongan mengingat selama ini karier pasangannya sudah melesat bak meteor. Dia sudah membidik karier menjadi Dirjen, Bupati bahkan Menteri. Cuma bisa jadi setelah menyimpan uang di bank sana sini, akhirnya muncul iseng punya Simpedes non BRI yang bisa kentut.

Saya harus berhati-hati mengomentari masalah “internal keluarga” – sebab masing-masing pihak akan merasa paling betul. Yang perempuan akan merasa pasangannya sudah mulai SMS diam-diam dengan bahasa Darling, Babe, Honey – sementara pihak yang diserang akan menepis dengan “cemburu buta, mengganggu privasi, sudah lama kawin masih cemburuan…

Singkat cerita mereka minta saya “menasehati” pasangannya. Ini repotnya sebab saya yang kondang banyak omongpun kalau ketemu “beliau” – langsung patah lidah. Pertama dia terbiasa dikelilingi teman yang selalu bilang “Yes dan Gimana Bos”-akibatnya salah satu saraf mendengar (bukan pendengaran) sudah kaku dan tidak lentur. Apalagi, dalam setiap percakapan bila sudah mulai tersodok akan mulai keluar angka-angka kesuksesan a.k.a kekayaan. Kesukaran lain, kedua orang tuanya menganggap anak ini hatinya sudah pernah di “betheti” alias dikeluarkan dan disepuh emas. Dia anak tak pernah salah. Yang salah adalah orang lain. Ini memang warisan bangsa, selalu mengambing hitamkan orang lain. Apalagi sang anak kesayangan juga pemain watak suratak (watak banget). Didepan orangtuanya manakala dia melihat perempuan ganjen atau berpakaian membuat perut semriwing, lagaknya seperti monyet mencium terasi. Tetapi di luar itu berakrobat dengan mahluk yang “dibencinya”

Tapi ini salah satu kelemahan ibu-ibu rumah tangga.

Bilamana kedapatan sang suami usrek dengan perempuan lain, alih-alih mawas diri, ujungnya membunuh karakter pesaing dengan kata “lacur, perempuan nggak bener..” – atau kadang masih ada ego “beningan aku dari dia..” – padahal kalau mau sedikit berkaca terhadap “saingannya” – maka siapa tahu bisa belajar ilmunya.

Apalagi lelaki dengan “jam terbang layang” diatas ranjang yang tinggi, terkadang tahu persis mana wanita yang mampu meladeni dengan mantap surantap. Dan fatal ketika sang istri merasa “lebih cantik, lebih modern” ketimbang pesaingnya.

Saya hanya berdoa, mudah-mudahan setelah melepaskan segala unek-uneknya kepada saya hatinya menjadi plong dan urusan talak menalak dilupakan.

Semoga

Advertisements

One thought on “Pisah Ranjang

  1. Urusan ini memang paling memusingkan, hanya terkadang komunikasi mandek…gimana dahulu waktu masih 5-6 tahun, bisa jadi kurir atau jembatan layang nggak pak?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s