Bantal dari Kayu Kapuk


Makam Kiyai Wirojombo Dono Murah Yogyakarta

Adat kebiasaan keluarga (istri) manakala ke Yogya adalah mengunjungi makam lelulur yang kebetulan dimakamkan di komplek makam Suruh, Ganjahan, Sidomulyo, Yogyakarta.

Teladan ini diturunkan dari satu generasi ke generasi sehingga tidaklah lengkap datang ke Yogyakarta tanpa menyambangi “sarean” alias makam.

Saat berada di makam biasanya sesepuh mulai menceritakan perbuatan ahli kubur semasa hayatnya. Saya juga menyaksikan satu persatu tokoh yang biasa bercerita menjadi penghuni makam tersebut.

Masih dalam ring satu dari komplek makam terdapat satu cungkup besar makam Kiyai Wirojombo Dono Murah.

Menurut silsilah yang tertera pada dinding makam sejarah dimulai dari Prabu Brawijaya V di Majapahit yang menurunkan Bondan Gejawan, berikutnya Ki Ageng Getis Sendowo, Ki Ageng Selo, Ki Ageng Nis, Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, prabu Hanyakrawati alias Pangeran Sedakrapyak, Sultan Mangkurat Agung Hanyokrokusumo, Mangkurat Agung I, Pakubuwono (Pangeran Puger), Mangkurat IV sampai Kiyai WIrojombo Dono Murah.

Namun entah mengapa Kiyai Wirojombo sampai dimakamkan diluar wilayah kraton.

Berpuluh tahun saya ke makam ini terkadang malam hari, memang saya lihat banyak orang laku tapa atau tetirah atau tirakat pada makam leluhur Jawa. Para peziarah biasanya melakukan tirakat dengan meletakkan kepalanya pada potongan kayu kapuk ini sambil melantunkan doa dan niat kedatangan mereka bertafakur disana.

Lama-kelamaan kayu kapuk seperti terkikis membentuk lengkung yang pas dengan ukuran kepala manusia.

Setelah menyampaikan doa dan menabur kembang di makam keluarga, kebiasaan istri diam-diam mencari bunga kemboja bertajuk empat atau enam (langka) yang biasanya banyak terdapat sekitar makam Mbah Wirojombo.

Yang tidak disangka-sangka, entah darimana muncul dua lelaki sambil membawakan dua petik bunga kamboja dan mendekati istri “meniko kulo gadah kalih,” – “ini saya dapat dua yang aneh..” – tentunya dengan ditukar sejumlah uang. Padahal mencari bunga seharusnya dilakukan secara diam-diam.

Bisa jadi ketika saya merangkak memotret diantara makam sebetulnya mereka mengetahui perbuatanku – hanya tidak menegur.

Jaman revolusi, kawasan ini dipakai persembunyian para pejuang kita dan konon pasukan Belanda seperti terkena ajian panglimunan, mereka tidak sadar bahwa Gerilyawan republik bersembunyi dalam makam ini.

Sebuah makam lama, sampai dipasang tiang bambu runcing yang terbuat dari potogan pipa dan diujung pipa yang tajam disematkan bendera merah putih berbentuk segitiga terbuat dari plat besi tipis. Pada bagian bendera tertera “Pejuang”.

Hanya – sesuai dengan kemajuan jaman. Suasana hening makam sedikit berkurang sebab tidak jauh dari TKP sekelompok pemancing asyik dengan hobinya sehingga terkadang mereka melepaskan lelah di makam sambil bersenda gurau.

Advertisements

One thought on “Bantal dari Kayu Kapuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s