Teaching by doing


Sebagaimana layaknya orang tua sibungsu Satrio tentunya saya inginkan menjadi anak yang kuat, pintar dan gemar berolah raga.

Tetapi bagaimana dia akan berolah raga kalau orang tuanya tidak memberi contoh. Banyak orang tua yang olahragawanpun sering kecewa anaknya memilih bermain Nintendo, Komputer ketimbang angkat beban.

Masa kecil saya membekas ketika sebuah barbel yang mungkin terbuat dari bekas lori(?) sering diangkat oleh bapak. Lalu jaman dulu di depan rumah, dibawah pohon biasa kita melihat gelang besi ring untuk olah raga senam adalah pemandangan biasa.

Saya banyak melihat keluarga yang lebih cenderung berniat belanja alat olah raga ketimbang makna olah raga itu sendiri.   Mereka membeli, misalnya  threadmill, stationary bike dan peralatan mahal lainnya untuk ditumpuk atau menjadi pajangan belaka.

Saat memutuskan beli alat olah raga yang murah, saat Satrio masih kecil. Saya pilih alat angkat beban sebab selain harganya miring juga awet usianya tidak perlu membeli suku cadang segala. Pasalnya serba elektronik begini, kita sering tergoda beli barang yang serba otomatis dan dibelakang hari ketika peralatan tersebut rusak,,, baru sadar bahwa janji sang penjual sudah berganti “ngeles” dengan alasan spare part tersebut sudah tidak diproduksi dan ditawarkan penggantinya yang konon lebih canggih dan seterusnya.

Setelah dumbel maka berangsur saya membeli bench press-nya.

Ternyata pancingan ini berhasil, Satrio mulai tertarik olah raga. Tidak lama kemudian dia masuk sebuah perguruan bela diri sehingga dalam latihan perkelahian ototnya harus kuat.

Kali ini bapaknya harus membelikan Punching Box untuk ia berlatih. Resikonya sang bapakpun harus ikutan nggebuki sandbags ini yang ternyata memang tidak mudah. Sekalipun tangan sudah dibalut kain, tak urung lecet dan luka-luka. Maka bisa dibayangkan petinju yang bertarung sampai 10ronde, saya pikir mereka kelas mereka sudah super human.

Tak lama kemudian sang karung kulitpun ikutan kalah lalu robek. Terpaksa kami jahit di tukang sol sepatu yang ngampung dan luka bekas operasi ditutup pakai plastik.

Tapi demi sebuah kesehatan, tak mengapalah. Yang masih sulit diperangi adalah bagian perut yang tetap subur.

Ekses lain kalau boleh dibilang demikian adalah melatih anak-anak tidak mudah kedodoran mentalnya misalnya suatu saat mereka terpukul atau dipukuli. Paling tidak dalam tubuhnya sudah muncul percaya diri bahwa mereka sudah cukup terlatih raganya.

Saya banyak menyaksikan teman yang kalau “menggertak” seperti harimau India galaknya, namun manakala lawan mendahului memukulnya mereka langsung terkesiap jatuh mental. Para preman jalanan memanfaatkan psikologi ini, misalnya dengan menggertak lebih dahulu, meludahi atau memukul musuhnya agar kehilangan kontrol

 

Advertisements

One thought on “Teaching by doing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s