Duo Tukang Batu Kami


Dua pria asal Demak ini menjadi orang kepercayaan kami dalam hal tukang batu dan sedikit menjadi tukang kayu. Sudah hampir dua minggu mereka bekerja dan menginap di kediaman kami.

Musim hujan sudah memperlihatkan jejaknya ketika langit-langit eternit garasi melukis peta-peta kekuningan pertanda ada kebocoran.

Ketika mas Paidi kanan berkaos hitam naik ke bumbungan garasi, ternyata bukan hanya genteng bocor melainkan tulang selangka, belikat dan tulang rusuk bangunan terancam kanker. Padahal rumah ini baru kami tempati 3tahun.

Lalu Paidi mencari asistennya pria asal Demak yang sehari-hari menarik bajaj. Keduanya bekerja tanpa banyak bicara. Paidi misalnya biasa baginya bekerja mulai jam 6pagi (tukang lain jam delapan baru beres-beres), dan tanpa memperhitungkan waktu ia bekerja kalau memang belum beres sampai jam 18pun dilakukan tanpa ada biaya tambahan. Kami biasanya memperhitungkan sendiri lembur tersebut.

Paidi menyelamatkan saya dari kerugian puluhan juta rupiah ketika bulan Desember 2007, saat perhelatan menikahkan Lia, instinknya mengatakan ada yang tidak beres dengan sistem jaringan listrik kami. Ia lalu berinisiatip dengan mencabuti semua alat listrik yang terhubung dijaringan.

Nampaknya semua berjalan normal, namun kalau anda perhatikan kedua pria ini tuna rungu. Paidi masih boleh dibilang tuna rungu derajat 30% artinya selama kita bicara cukup keras dan banyak menggunakan catatan, maka komunikasi berjalan baik. Namun temannya, masa Adib, derajat ketulian stadium hampir akhir.

Apalagi sehari hari mas Adib (bukan nama sebenarnya) ini kerusakan gendang telinganya diperparah dengan suara rentetan dan deraman mesin bajaj yang dikemudikannya.

Kulo pun budeg, nanging rencang kulo luwih parah malih,” kata mas Paidi berkaos hitam bangga atas kebudekannya. Oh ya terjemahan tadi adalah “saya sudah tuli, tapi teman saya ini stadiumnya lebih parah..” – Mas Paidi juga pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa karena stress. Tapi temannya tidak.

Tapi ada ajaibnya. Saat mengantar penumpang, diantara deru mesin bajajnya, ternyata Adib Tepung bisa mengerti arah yang dimaui sang calon penampang dan tawar menawar berjalan lancar tanpa pertolongan bahasa tulis.

Kebetulan saat bekerja dan menginap di rumah di Eropa sana orang sedang demam Sepak Bola Piala Eropa 2008. Sementara di Indonesia kita menggulirkan pada jago-jago komentar bola yang seakan-akan dengan keahliannya mengomentari dan berstrategi maka PSSI seharusnya sudah puluhan tahun menjadi juara Dunia piala bola apa saja. Tak ketinggalan mas Paidi dan mas Adib.

Herannya ketika remote control diserahkan kepada mereka, maka volume TV malahan diturunkan sampai pada suara bisik-bisik.

Duh Gusti Pangera, ternyata kami sulit mengerti rencanamu.

Advertisements

One thought on “Duo Tukang Batu Kami

Comments are closed.