Naik-naik Menara Bor


Tiba-tiba Nikolae, cewek operator dari MWD/LWD alias measurement while drilling dan Logging While Drilling menilpun saya di cabin. “Guy, your Rotary Meter showing zero..” – padahal dilayar kaca, pipa bor diputar dengan kecepatan tinggi 120 putaran per menit. Ini sama halnya memacu mobil secepat unta digosok merica, lalu melihat pada panil kendaraan ternyata RPM masih nol puthul.

Nikolae yang kalau manjat-manjat di rig seperti orang dengan kandungan perempuannya sekitar 80% sisanya kelelakian ini terang saja tahu sebab kami mengirimkan data melalui protocol WITS ke kabinnya. Lalu digabung dengan data pengukuran dari sensornya dikirim bersama-sama melalui Internet. Ini pekerjaan tidak perlu repot tetapi ada tambahan untung bagi perusahaan perusahaan 150 dollar perhari. Tapi kalau komputer rusak, susahnya setengah mati untuk minta ganti yang baru.

Dengan otak berada pada suhu kamar, dan tidak perlu membawa ahli matematika penghitung pulsa maka saya tahu bahwa ada yang tidak beres dengan peralatan saya. Bisa jadi sensor kendor atau bergeser dari posisinya. Banyak pekerja mau menjadi mudlogger seperti saya, tetapi hanya sedikit yang mau naik-naik Top Drive untuk memperbaikinya.

Sensor ini dipasang di sebuah alat pemutar pipa bor namanya Top Drive. Repotnya peraturan keselamatan tidak akan mengijinkan alat ini disentuh selama pengeboran berlangsung. Lantas bagaimana saya akan menyajikan data dengan baik.

Teman saya kerja sudah mulai main ilmu Taichi, maksud saya mirip ilmu silat kuno Cina melepaskan diri dari jeratan namanya “tanggung jawab..” – yang katanya takut ketinggian, yang katanya belum lihat alatnya seperti apa? – ini orang bekerja tahunan, tetapi tidak tahu alat vitalnya sendiri.

Ya sayangnya banyak kejadian yang demikian terjadi sebuah ekses boomingnya perminyakan sehingga buru-buru mencari pegawai untuk di karbid. Kelihatan matang, apalagi anak India, Filipina sangat ciamik kalau soal komputer. Namun, giliran ada kerusakan. Orang tua seperti saya yang didorong untuk memperbaikinya.

Kebetulan alat sedang nangkring diketinggian menara bor (monkey board) namanya, sekitar 30 dari lantai bor. Segera saya minta ijin untuk menaiki menara yang kalau jatuh sudah tidak sempat minta air minum lagi seperti di filem-filem kita, melinkan bablas untuk ditutup pintu ibadah didunia.

Sepuluh meter naikpertama, topi harus saya ikat seperti anak memegang balon tinggal empat, celakanya lagi sebuah helikopter datang dan pergi sehingga deru angin ikut menerpa dan mendorong tubuh sehingga saya tetap harus berpegangan pada tangga sekalipun pakai kabel pengaman. Dan jangan coba melihat awan seputih kapas arak berarak, sebab terjadi efek seakan awannya yang diam namun  menara segede dinosaurus menjadi sebatang bambu dan kita mahluk koalanya.

Melangkah ke tangga selanjutnya bobot yang puluhan tahun lalu sudah memang protes. Tiba-tiba “dug” seseorang memukul ulu hati saya. Bukan setan jelasnya, bukan manusia, tetapi memaksa kemampuan fisik diatas paruh umur untuk naik tangga, memang perlu stamina sendiri. Lebih parah lagi, tangan kiri saya memegang beberapa buah kunci pas yang tidak boleh jatuh ataupun terjatuh.

Jadi praktis tangan kiri tidak bisa menggengam tangga dengan baik. Rupanya inilah penyebab uluhati menjadi seperti pegal. Dasar orang tua.

Akhirnya sampai juga saya dipuncak menara. Angin laut Australia yang sembribit terasa benar menampar muka. Puluhan tahun, baru kali ini saya diijinkan naik menara bor. Diatas menara Jarred seorang manusia menara alias derrick man sudah menunggui saya untuk membantu memperbaiki peralatan. Sayapun tidak lama kemudian sudah menyusup kedalam Top Drive.

Saya lihat jubele clamp yang melingkari alat bernama  Saver Sub sedikit kendor sehingga batang magnet yang terpasang pada Jubele sedikit meleset dari penglihatan sensor RPM. Ini teknologi purba yang masih terpakai sampai sekarang. Butuh lima menit peralatan siap dioperasikan kembali. Lalu dari puncak menara, kami “hallo-hallo” kepada driller Ben, untuk mencoba memutar mesin Top Drivenya. Voila, semua berjalan seperti rencana.

Herannya teman yang sebaya dengan Lia anakku kok ya tidak nampak canggung, malu, pekerjaan dan tanggung jawabnya diambil alih oleh orang lain.

Tapi kalau mereka pintar, muda dan berani. lalu saya kebagian apa.  Ini kan semata menuju puncak (menara)  untuk urusan pincuk (piring terbuat dari daun pisang).

Duh Gusti, ternyata sifat cemburupun masih kental pada diriku

Advertisements

One thought on “Naik-naik Menara Bor

  1. wah…bner2…kayak kebawa suasana aja…
    kbtulan saya mahasiswa perminyakan jadi blm mngenal betul dunia pengeboran gmn…
    yah dgn membaca cerita2 gni
    saya jadi tahu sedikit tentang bagian2 pekerjaan di area pengeboran..
    gmn situasinya juga… ^_^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s