Potongan Kepala baru dikembalikan 164tahun kemudian


Bagaimana hati kepala suku Aborijin seperti Midgegooroo dan anaknya Yagan tidak gundah. Tanah ulayat yang selama ini dikuasainya turun temurun tiba-tiba dipatok para koloni baru dari Inggris.  Mereka menjadi orang asing di tanah kelahirannya sendiri. Apalagi cara  berpakaian, bertingkah, pendeknya gaya hidup Eropa yang masuk ke tanah mereka sungguh berbeda. Dewa mana yang berani memberi ijin kepada mereka untuk datang dan mengklaim tanah adat semena-mena tanpa pernah memandang mata kepada pemilik aselinya.

Maka untuk menunjukkan keberadaannya pada April 1833 – dengan bersenjatakan tombak pusaka yang dianggap Penjelmaan Dewa Ular, jauh 30 ribu tahun lalu sebelum Musa mengklaim mampu mengubah kebalikannya yaitu Ular menjadi tongkat, maka Yagan bersaudara menyerang sebuah Toko yang dibangun diatas tanah miliknya.

Namun diluar dugaan, tombak mereka kalah perkasa dengan tombak bangsa kulit putih yang mampu mengeluarkan lidah api dan “menombak” dalam jarak yang lebih jauh serta mematikan. Perlindungan jimat kekebalan “ora mempan tapak palune pande” – tidak mempan sabetan benda tajam buatan pandai besi, memang mampu menghindari luka dari sabetan pedang atau tusukan tombak selama ini namun toh gagal menghadapi tombak petir bangsa kulit putih.

Dalam pertempuran tak seimbang, pejuang-pejuang aborijin banyak yang bertumbangan tak ketinggalan saudara Yagan.  Gagal dalam perang perdananya, Yagan, ayahnya dan 40 orang serdadunya menyerang kereta suplai yang menuju Fremantle.

Perbuatan ini menambah berang pemerintah kolonial Inggris yang merasa kenyamanan hidupnya diteror oleh “orang aseli.” Maka pemerintah Kolonial mengumumkan bahwa Ayah dan anak adalah “outlaw” – boleh dihabisi oleh siapa sama halnya dengan orang menepuk nyamuk. Tanpa hukum

Sebulan lamanya diintai dan diburu oleh pemburu bayaran dan pasukan resmi Inggris maka Midgegooroo tua akhirnya tertangkap dan dieksekusi didepan regu tembak. Putranya Yagan yang berhasil meloloskan diri dari setiap sergapan akhirnya tertangkap dikawasan Guildford pada bulan Juli 1833.

Kepalanya dipenggal dan dibawa ke Inggris. Potongan kepala ini kembali ke tanah tumpah darahnya  pada 1997 berarti 164 tahun lamanya kepala ini dipertontonkan di Inggris.

Lima belas bulan setelah pembunuhan terhadap Yagan, sejumlah aborijin dihabisi di kawasan Pinjarra. Alasannya penduduk asli yang menempati kawasan sungai Murray tersebut sering mencuri milik mereka.

Sejarah mencatat perlawanan-perlawanan suku Aborijin selanjutnya tidak berarti sebab selain kalah dalam persenjataan jumlah mereka menyusut habis lantaran angka kematian anak-anak dalam suku ini tergolong tinggi.

Peristiwa bentrok antar pendatang baru dengan penghuni lama, tidak pernah tertulis dalam sejarah kecuali sebuah harian angkat cetak mulai April 1833, yaitu The Perth Gazette. Koran ini kelak berganti nama menjadi The West Australian yang dikenal sekarang ini.  Sebuah perjuangan yang tidak mudah untuk bisa bertahan.  Kadang karena ketiadaan kertas koran dicetak diatas kertas kopi. Penduduk Eropa hanya sekitar 1500 orang dan kesukaran lain adalah banyaknya para pelanggan yang ngemplang bayar namun mudah menuntut ganti rugi kepada koran yang dianggap mencemarkan nama baiknya.

Tetapi tanpa keberadaan koran tersebut, mungkin cerita Yagan dan ayahnya hanya disampaikan dari mulut kemulut untuk akhirnya dilupakan orang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s