May Day-nya Singapura


Hari Buruh sedunia yang dikenal sebagai May Day belum lama berlalu. Koran-koran asing mencatat bahwa protes ketidakpuasan buruh Indonesia berlagsung diseantero kota besar.

Di Singapura, kaum buruh lokal Singapura memprotes banyaknya tenaga asing yang mencari nafkah di Singapura. Seperti halnya Qin gadis BarBir (bukan tukang cukur, melainkan bekerja di Bar menjual Bir), maka Gloria yang bukan Macapagal yang berrpotongan rambut macam Jatu Parmawati, bertubuh kecil namun sintal dan kulitnya bak marmer Itali KW satu ini sudah terpoles.Sebut saja Nona Tian Qin, gadis ini berasal dari Shangdong China dan mencari nafkah sebagai Gadis pelayan Bir di Bar Lorong 23 Geylang.

Qin yang hanya bisa berbahasa Mandarin dan belajar sedikit bahasa Inggris – tahu persis bahwa tenaga lokal Singapura dibayar lebih mahal, gampang menuntut “over time” namun mereka kondang macam selebrities -judes terhadap pelanggan.

Tak heran ia bersikap lebih “user friendly” ketimbang orang Singpura. misalnya Gadis berbadan sintal dengan potongan rambut macam penyanyi Jatu Parmawati – ini penyanyi Yogya 80-an. lalu mengenakan seragam tanktop hijau bermerek perusahaan bir sponsor, mempertontonkan pusarnya, selalu ramah menyapa pengunjung.

Padahal, sepulang kerja dia langsung ambruk di tempat tidur sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi saat tidur. Pegalnya bukan main, katanya dalam sebuah wawancara di koran The New Paper.

Gadis usia 22 tahun ini semula penari trapeze yang lalu mencari kehidupan di Singapura lima bulan lalu. Saat melamar pekerjaan penuang bir, ia mengaku menjalani tes wawancara panjang berupa cara melayani tamu. Ketika diterima kerja, ibunya harus jungkir balik mengumpulkan uang sebesar 7400 dollar sebagai ongkos ke Singapura. Soal cinta lokasi dia mengakui banyak pria tua yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun setelah mengenal lebih lanjut biasanya mereka saling menghargai. Cici QIn juga bukan tidak sering mendengar ‘suara-suara” miring atas perempuan Cina daratan ini. Bahkan istri managernya sendiri sempat gojak-gajek ingin mempekerjakan Qin. “Untunglah semua yang saya kuatirkan tidak terjadi,” komentarnya.

Lho kok ibu manager sampai bisa “suudzon” begitu, rupanya dari banyak contoh sebut saja Gloria, jelas bukan nama dia di lahirkan di Hainan sana. Bekerja sebagai penjaga toko garmen, dia langsung mepet kepada managernya. Sang istri manager yang sudah terbiasa hidup senang, menjadi gendut tidak sadar bahwa etape cinta mulai dipegang Gloria. Istri tua akhirnya tersingkir, kendati saat menikah dulu mulut berbusa mencaci poligami, apalagi bercerai.

Lho kok, datang manager muda lagi yang lebih “prospek” – sekarang Gloria sibuk mengoles lipstik didekat manajer yang muda dan yang berkeluarga.

Perdana Menteri Singapura menjawab kerisauan pekerja dalam negeri dengan mengatakan “mereka datang bukan untuk merampas periuk nasi anda, melainkan membantu kebesaran Singapura..” – apalagi karena mereka mampu bekerja lebih lama (dan lebih murah).

Kalau gara-gara gadis bir di bar membuat sebuah bar yang semula sepi pengunjung menjadi ramai sekitar 50%, bukankah membantu lowongan pekerjaan di Singapura? – ini semua gara-gara nona Qin bukan Parmawati.

Para buruh terang menolak alasan Perdana Menterinya. “Bukan lebih baik tetapi lebih murah,” gerutu mereka diam-diam. Pasalnya banyak keluhan terutama para pelancong Eropa sering terjadi salah paham, salah order gara-gara pekerja yang tak pandai cakap Inggris. Kalau di Singapura anda melihat para gadis cantik dan cantik sekali mengenakan kalung lawe merah sebagai jimat. Isinya kertas rajahan berjampi dan darah mereka sendiri. Itulah pendatang baru dari PRC yang ancamannya sama kerasnya dengan DVD player mereka medesak Toshiba, Sony, Phillips.

Lalu saya kepingin membuktikan alasan PM Lee. Di jalan Orchard Road, didepan gedung NG Gee City yang masih satu komplek dengan Takashimaya jam telah menunjukkan pukul 12:00 kurang beberapa menit. Kesibukan makan siang terjadi dimana-mana.

Namun herannya pekerja dari PRC (RRT) seperti tidak mengenal waktu. Di bawah terik matahari yang menyengat mereka tetap bekerja menyelesaikan pemasangan tendanya.

Kalaupun saya sedikit sayangkan adalah pekerja ini kurang memperhatikan keselamatan kerja. Diketinggian diatas 6 meter, nampak mereka bekerja tanpa alat “fall protection” bahkan seperti mengerti ditonton orang, mereka melakukan pertunjukan seperti berjalan hilir mudik di atas tenda.

Maka menjadi amat mengherankan hal ini terjadi di jantung kota Singapura.

Tapi di Indonesia kan pemandangan biasa. Kalau jatuhpun cukup ditiupkan mantra, namanya musibah bisa terjadi di mana-mana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s