Mengantar Orang Lampung ke Tanah Suci (2)


Petugas membagikan passport, tapi ada yang belum ambil juga lantaran asik ngobrol kekiri ke kanan

Menjelang keberangkatan Umrah, bapak tiba-tiba mendekati mantunya sebut saja Hajah Dr. Usmanawati yang biasa kami panggil wong ayu Sala itu sebagai “Iuk”. Ibu saya almarhum mengomentari gerak geriknya sebagai “nginjak kotoranpun tidak gepeng”- perlambang orang yang berjalan bak macan luwe (lapar) banget.

Tangaku gatal, minta Amoxcyclin dong..” kata bapak.

Terang saja sebagai seorang dokter, Iuk akan bengong apa hubungannya antibiotik dengan alergi? tapi saya tanggap isyarat. “Uk, bapak dikasih Feminax saja sembuh kok..” – kata saya.

Sebelum sampeyan buru-buru mengecap saya kurang ajar, maka dari belakang terdengar gemuruh tertawa adik-adik saya. Terutama Hajah Utami. Dia mengiyakan bahwa kalau pusing ayah datang, obat anti hamilpun diminum dan ndilalah pusingnya hilang. Apalagi Utami pernah kehilangan pil KB-nya beberapa butir sehingga kelabakan. Bapak hanya merenges sambil bilang “tak ombe mau isuk” – saya minum tadi pagi.

Dari saya kecil, ingatan saya bapak sering membeli satu kaleng besar pil berwarna putih, kalau dibuka baunya asam. Jaman dulu namanya pil ada yang Nasppro, APC, kalau yang puyer ya Bintang Toejoe. Itulah minuman harian ayah saya disamping “nguntal” telor ayam kampung mentah. Dasar militer, sekali waktu telur ayam yang dipecahnya nampak ada janinnya. Beliau hanya terdiam sedetik lalu tak lama kemudian bayi ayam tadi sudah masuk kedalam tenggorokannya.

Ketika Naspro dan APC sudah awarahum bin almarhum. Kesukaannya akan obatan pindah ke Refagan. Semula kami kuatir akan terjadi gangguan pada hatinya. Tapi alih-alih bapak yang banyak minum obat, ibunda yang jarang sekali minum kecuali terpaksa malahan terkena kanker hati sampai ajal menjemputnya.

PAKAI PEMPERS

Saya pernah bilang bahwa bapakku sehat. Giginya belum ompong, rambutnya kecuali tipis belum sebotak saya, matanya masih tajam, pendengarannya sekalipun sedikit berkurang namun masih belum memerlukan alat bantu.

Tapi pernyataan ini kurang tepat 100% sebab bapak belakangan sering ngompol kecil. Untuk mengatasi gangguan selama penerbangan Jakarta – Jedah, maka oleh Utami dibekali pempers. Sebelumnya uji coba dilakukan kepada suaminya seorang Kombes Polisi yang pekerjaannya dibidang Intel (hallah apa hubungannya dengan kepangkatan?).

Maka betapa terkejutnya Utami ketika saat mencoba dari kamar mandi bapak teriak-teriak pampersnya kekecilan. Terpaksa sebagai tim SAR Utami menengok apa yang terjadi. Rupanya lubang satu kaki oleh bapak diperkosa untuk dua kaki berbarengan.

Aku ndak ndagel lho Ut..,” kata bapak. Sebab biasanya kalau cuaca lagi cerah bapak suka melucu.

Solusinya setiap pampers diberi tulisan Depan, Kaki Kanan, Kaki kiri, dan Belakang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s