Pandu anak keempat dari (Trio) Kwek Kwek Rawabogo


anak keempat keluarka Azis

Bocah lelaki dalam potret ini namanya Pandu. Anak keempat dari pasangan Asisi dan Kasih. Sang ayah pekerja serabutan, tetapi lebih banyak dirumah. Pernah ditentir menjadi penyalur konversi minyak tanah ke gas LPG yang terjadi dia hanya makan janji belaka.

Pertama kali mengenalnya kami melihat halaman rumahnya riuh suara kwek..kwek..kwek pada bebek manila yang kemudian menjadi nama panggilan mereka. Bebek yang semula jumlahnya puluhan satu persatu hilang kalau tidak mati ya dicuri panca longok.

Lalu saya pernah serahi tugas memberi pakan Ayam Pelung dan beberapa ayam hias saya lainnya. Belum genap bulan ketiga, semua peliharaan saya bisa seragam ditutup buku amalnya didunia. Mencoba berjualan gorengan “Tempe Mendoan asal Banyumas” – hasilnya gulung tikar pailit.

Saat rumah kami diperbaiki, tukang batu saya tawari untuk menggunakan jasa tetangga saya untuk menjadi asisten mereka – para tukang menolak sebab sering “hang” kalau disuruh. “menawi ngaduk semen, sebentar membersihkan baju yang kena semen.”

Maksud pak Tukang ayah anak empat ini takut kotor, namun untuk kerja kantoran keahliannya tak mencukupi. Dilema yang sering saya lihat dinegeri ini, tak mau kerja kasar dan kotor tetapi tak mampu secara profesional, akhirnya menjadi beban keluarga.

Sang Kartini, istrinya adalah sikat kawat rumah. Bangun pagi setiap jam 3 dinihari membuat penganan pokoke wareg (asal kenyang) lalu dititipkan kepada warung terdekat. Siangnya mak Kasih harus mejadi buruh cuci pakaian tetangga. Jika sang majikan pindah rumah sehingga tidak membutuhkan jasanya maka kami melihat wajahnya ditekuk baggai dompet tanggung bulan.

Tiga anaknya masih kecil yang kami beri nama Trio Kwek Kwek. Sudah memasuki tahun kedua ini kami kirim kesekolah. Yang terkecil masuk di TPA (Taman Pengajian AlQuran) – namun dua kali dua belas bulan sekolah, tak sepatah hapalan macam “alif, ba, ta, zsa” dilantunkan.

Menyanyi lagu Balonku tidak pernah mampu rampung-pung. Cuma satu pelajaran yang dikuasai ketiga anak-anaknya “jajan” dari hasil “upah” mereka ke sekolah. Tak heran manakala uang jajan habis, mereka pilih bolos pulang. Putra nomor dua, wajahnya tampan, namun selalu digayuti batuk menahun. Dan kebiasaannya pulang sekolah sambil membawa sekantung es berwarna ungu, jingga, merah, kuning.

Kalau saya tanya belajar apa tadi disekolah matanya hanya memandang sipenanya dan tak sepatahpun ia akan menjawab. Namun serentak melihat layangan putus, mereka akan segera mengejarnya dan mulutnya berceloteh kata-kata normalnya seorang bocah bermain.

Maka kami tetangganya yang rada sekok, “shock” ketika mendengar mak Kasih menangis bahwa diperutnya sudah terisi lagi janin bakalan genap menjadi anak ke-empat. Ia menangis setelah menyadari bahwa membesarkan anak tidak cukup dengan slogan gagah “anak kan titipan Tuhan”, “banyak anak banyak rejeki”, “orang punya suami ya punya anak”

Belakangan ibunda yang sampai sekarang keluarganya belum menyetujui perkawinan mereka kendati telah menghasilkan empat anak, membantu paruh waktu di rumah kami.

Biasanya Pandu dibawa serta sehingga terkadang ia malahan menjadi mainan saya. Gerakan tubuh dan matanya ketika tangan saya ukurkan ecek-ecek hendak meraihnya. Atau terdengar tangisan kecewanya ketika saya mengganggu dengan berpura-pura meninggalkannya. Sungguh merupakan kebahagian bagi saya.

Jujur saja, bayi selucu dia umumnya bau wangi bedak, minyak telon. Tapi Pandu tidak. Selalu tercium bau masam dari tubuhnya. Kadang bau ketiak ibunya, kadang bau bawang merah manakala sang ibunda harus menggendongnya ditengah kesibukan menyiapkan hidangan untuk kami.

Bahkan saat saya gendong riuh gemuruh gangguan pada alat pernafasannya dapat terdengar dengan jelas sebab kakak-kakaknya saling berestafet ria dalam meberdayakan batuk dirumahnya.

Entoh bukan halangan bagi saya untuk menciumnya.

Hanya yang sedikit merisaukan, setiap kali saya membopongnya saya selalu merasa teriris, terbayang Pandu akan bernasib sama dengan kakak-kakaknya. Sekolah tanpa hasil yang jelas. Hanya berfikiran bahwa dengan sekolah mereka mendapatkan uang jajan.

Sebuah berita mengejutkan – bulan Juli 2008 mendatang Pandu akan diserah terimakan kepada bibinya yang juga bukan orang mampu.

Kami tentu tidak akan menghalangi niatnya, namun suami sang bulik hanya pekerja pabrik, sekalipun setelah menikah beberapa lama tidak dikarunia anak. Sayapun merasa kehilangan, biasanya dia tertelungkup memperhatikan ibunya bekerja, lalu senyum melihat saya mengajaknya bercanda. Tapi sekarang hanya foto yang saya miliki.

Pandu semoga saja kehidupan Bibimu menjadi lebih baik setelah kamu berada dirumahnya.

Advertisements

One thought on “Pandu anak keempat dari (Trio) Kwek Kwek Rawabogo

  1. waktu saya kecil, justru sueneng banget kalo waktunya masuk sekolah. Sebab itu berarti saya terbebas dari tugas ngoncek sayuran di dapur atau mbantu mbah kakung di toko.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s