Pengalaman pertama dengan Kantong Gas


Lalu ingat pengalaman pertama berkenalan dengan “shallow gas” pada tahun 1985-an. Kami mengebor di lapangan ARCO Laut Jawa dengan perabot bor jenis “jackup” bernama B2 (tapi bukan singkatan nama daging) melainkan Brinkerhoff II. Jenis ini menggunakan tiga kaki yang menancap di dasar laut sementara kegiatan operasi penunjang dilakukan dari tongkang.

Pagi itu minggu pertama saya diangkat menjadi supervisor lapangan mengajari para insinyur geologi kita bagaimana teknik yang baik memonitoring sumur.

Operasi pengeboran saat itu baru saja memasang dan menyemen casing diameter 20in alias masih dipermukaan. Lalu setelah selesai menyemen mereka melanjutkan mengebor dengan mata bor yang lebih kecil lagi. Sisa kotoran semen saat itu sedang dibor sehingga kami belum menggunakan lumpur berat melainkan air laut yang memiliki berat jenis sg=1.04.

Rupanya saat penyemenan, casing sudah sedikit berada diatas kantong gas sehingga begitu mata bor nyelonong memasuki kantong gerilya sang gas tak ayal isinya mengalir kepermukaan dengan kecepatan seperti super sonik.

Salah satu anak baru sedang dilatih untuk mengambil contoh batuan alias drill cuttings mengatakan belum ada serbuk bor alias drill cuttings di shale-shaker.

Shale shaker adalah ayakan lumpur yang besar gunanya membersihkan/mengayak lumpur kotor yang berasal dari pengeboran.

Padahal yang ingin saya tunjukkan kepadanya adalah diperlukan waktu cukup lama untuk perjalanan secuil serbuk pengeboran dari bawah lubang mencapai permukaan – alias lag time. Jadi tidak “sakdegsaknyet” – maksudnya tidak begitu batuan dihancurkan oleh pahat, maka langsung muncul kepermukaan melainkan harus ada travel time-nya.

Baru beberapa detik dia mengatakan tidak ada cutting, tiba-tiba saya lihat parit lumpur mbludak diikuti dengan suara semacam ribuan kembang api roket begitu gemuruh lumpur muncrat ke lantai bor.

Pagi yang hening dan senyap seketika berubah panik untuk mengatasi kejadian semburan gas dari laut Jawa. Lantai bor langsung seperti baru kehujanan lumpur sementara werpak para pekerja yang memang sudah kotor makin menjadi-jadi.

Tidak lama juru bor menutup kerangan sumur BOP alias blow out preventer. Suaranya mendesis dan bergemuruh sebab harus adu kekuatan dengan tenaga bawah permukaan yang sedang mendesak keluar. Kalau kerangan BOP berhasil ditutup dan tidak bocor seperti dicerita koran mengawali bencana pengeboran, maka gas yang terperangkap didalam sumur harus secara metodis dan sistematis dikeluarkan.

Caranya dengan memompakan lumpur pembunuh melalui saluran khusus yaitu Kill Line sambil berharap gasnya jangan liar lalu bertamasya dikaki rig seperti yang masih hangat menjadi berita di media kita.

Pasalnya tidak perduli berapa panjang casing dipasang, seringkali gas-gas nakal bergerilya mencari titik lemah seperti rekahan batuan untuk diterobos kepermukaan. Kalau kasus ini terjadi orang menamakannya “underground blowout” atau semnburan gas dibawah permukaan, sekalipun nantinya sampai juga detumannya di telinga kita.

Lalu saya ingat sebuah foto hitam putih menggambarkan semburan kantong gas di Kalimantan. Nampak pada gambar pipa casing yang beratnya ton-tonan melayang seperti kapas (tapi bukan). Sebuah pemandangan dramatis dalam fotografi, namun amit-amit sebaiknya jangan mengalaminya sendiri bisa jantungan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s