Ada anak ngrasani orang tuanya.


Berita tersebut saya dengar melalui menantuku, “Papah Utiku (eyang putri) sakit keras di Bandung, tapi hari ini keadaan membaik, padahal saya sudah hampir ke Bandung menengoknya…” – Dasar mulut anak sekolah nggak pernah tuntas, mengalir saja informasi dari mulut tanpa diduga “Sebaiknya kamu menyiapkan hati untuk keadaan tak terduga. Banyak kejadian pasien kelihatan bugar, keluarga senang beberapa hari kemudian melorot sampai menutup mata…“.

Betul saja, beberapa jam setelah pembicaraan tilpun, ada gmail masuk. “Papah Utiku meninggal dunia…doakan ya agar arwahnya diterima oleh Yang Maha Kuasa. Tapi karena papa sudah bilang sebelumnya maka Seno tidak terlalu kaget.”Sebetulnya yang saya ceritakan bukanlah karena saya punya ilmu gaib, melainkan ilmu titen. Mulai dari almarhum ibuku sendiri yang baru mencium cucunya, tersenyum tiba-tiba tiba-tiba mak sek. Atau almarhum adik bapak yang dirumah sakit minum teh manis panas ;” seger eh” lantas tek sek, menghadap sang khalik. Dan banyak lagi…

Akhirnya Maret 2008 anakku Lia dan Seno suaminya memutuskan berkunjung singkat langsung ke Bandung untuk takziah (mendatangi) keluarga sungkawa semalam. Dan ke Jakarta pada keesokan harinya untuk selanjutnya ke Singapura melalui Batam.

Malam saat mereka saya tahu ada di Bandung saya tilpun keluarga yang kesripahan (berduka cita). Maksudnya mengucapkan ikut berduka cita, sekalian memonitoring keadaan anakku. Maklum rasanya dimata saya, dia adalah bocah gemuk baru berjalan berjalan terjatuh-jatuh sehingga saya harus menjaganya hati-hati, sampai sudah menikahpun perasaan dia adalah anak kecil belum bisa saya enyahkan.

Saya pikir akan suasana penuh haru. Tak dinyana besan bercerita bahwa saat dipemakaman Lia menceritakan kekonyolan bapaknya ya saya ini pak Mimbar.

Katanya saat mengantarkan jenasah ke pemakaman di kawasan Karet Jakarta, saya menyempatkan mencari makam kerabat. Baru saja jongkok membaca papan nama dia sudah digruduki pengasong doa yang berjas dan berpayung hitam lalu pencabut rumput yang tanpa dikomando langsung srag-sreg bekerja pada gundukan tanah tersebut.

Saat mereka sibuk saya pindah ke makam lain yang tidak saya kenal dan lagi-lagi berpura-pura jongkok. Mereka masih belum sadar korban keisengan saya. Pada putaran ketiga mereka sadar pria gemuk botak dan berkacamata tidak serius.

Saat melihat wajah kecewa campur marah. Lalu saya panggil mereka sambil menunjuk.

Yang ini betul,” mula-mula mereka ragu-ragu, seorang bocah sambil pegang sapu lidi malahan berbisik kepada temannya “nanti dibooingin lagi..” – namun setelah saya yakinkan maka transaksi doa, cabut rumput berjalan lancar. Sejujurnya mereka tidak tahu bahwa makam itupun bukan kerabat saya.

Ternyata dari Jakarta anakku berdua kepentok montor mabur model “mabur-maburan” dan tertunda 4 jam sampai tiba di Batam sudah kemalaman dan Ferry ke Sinagpura sudah lama tutup. Ibarat dari niat irit terbitlah kacepirit.

Masih naskah lho

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s