Memoir Ventje Sumual


Ketika Permesta di proklamirkan pada awal Januari 1958 , usia saya masih lima tahun sehingga gambaran pemberontakan yang gagal tersebut tidak jelas. Namun yang saya herankan sampai ayah saya dan keluarga yang sudah dewasa pada usia tersebut tidak terlalu bersemangat membicarakan pemberontakan tersebut.

Bahkan ketika saya tanya keterlibatan CIA dalam kecamuk tersebut, mereka hanya mengatakan “kurang tahu” – apalagi ketika saya tanyakan seorang pilot bernama Edgar Pope Lawrence CIA/Permesta yang berhasil ditembak jatuh dalam pertempuran udara di Ambon.

Maksud saya sebetulnya ingin mencolok mata kepada kerabat saya yang terlalu mengagungkan dan sangat percaya kepada Amerika Serikat sebagai negara yang Polisi Dunia dan sangat memelihara hak asasi manusia.

Maka betapa saya merasa beruntung membaca sisipan majalah Tempo mengenai memoir Herman Nicolas “Ventje” Sumual seorang tokoh dibalik pemberontakan PRRI/PERMESTA.

Dalam memoirnya Sumual saat itu sebagai Kepala Staf Permesta dan Sumitro Djojohadikusumo bertemu dengan seorang petugas konsulat Amerika di Singapura. Namanya John Foster Collins. Belakangan selain berselubung sebagai staf konsulat Collins sebetulnya Kepala CIA di Singapura. Setelah beberapa kali bertemu dengan orang yang dikatakan tinggi besar dn bersuara pelan maka akhirnya diutarakan maksud membeli dua pesawat pembom B-26 dan dua kargo senjata anti serangan udara.

Pimpinan CIA setuju utnuk mensuplai senjata tersebut, namun yang mengejutkan kedua tokoh adalah saat ditanya “berapa ongkos semua itu?” – pimpinan CIA hanya mengatakan “gratis”

Setelah melalui jalan panjang termasuk bernegosiasi dengan Jendral Vargas dari Filipina akhirnya peralatan militer yang dijanjikan masuk juga diterbangkan dari Clark Base di Filipina. Bahkan pilotnya didatangkan dari Amerika, Filipina, disertai para Marinir Amerika yang melatih tentara Permesta. Soal nama-nama mereka Ventje mangaku tidak hapal. “Toh semua palsu..”

PRRI/Permesta memang berhasil membumi hanguskan sebagian wilayah Indonesia Timur. Namun keadaan berbalik saat sebuah pesawatnya ditembak oleh pesawat Mustang yang diawaki oleh Ignatius Dewanto di pelabuhan Ambon pada 18Mei 1958.

Ventje masih ingat bagaimana hebohnya warga Amerika saat mendengar pesawat mereka jatuh. Mereka menghubungi Ventje untuk mencari agen rahasia yang berada di Ambon agar bisa diperintahkan membungkam (baca membunuh) Allan Pope agar jejak keterlibatan mereka tidak diketahui.

Dengan seijin presiden Soekarno, diam-diam Allan Pope dikirim kembali ke Amerika. Lalu Ventje ingat dua minggu setelah peristiwa Allan Pope, para warga Amerika, serdadu, pilot hengkang dari Indonesia. “Amerika membantu kami (Permesta) karena mendukung kepentingannya. Kalau setelah peristiwa Alan Pope mereka berbalik mendukung Republik Indonesia, itu juga karena ia mendukung kepentingannya.

Seperti ditulis Kenneth Conboy dan James Morrison dalam bukunya Feet to the Fire: CIA Covert Operations in Indonesia 1957-1958, keterlibatan CIA memang terlihat jelas. Ternyata semuanya dimonitor Washington dan Jakarta sehingga dengan cepat mereka berbelok arah jika keadaan berubah.

Sumber: majalah Tempo edisi 16 Maret 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s