Kita! – eluh aja guwe nggak!


Sebelum majelis agama kita yang terhormat mensomasi acara tayangan TV yang menggunakan manusia setengah mateng, kemayu dan dituduh harus homosexual maka saya mencatat beberapa hal.

Seorang juru komentar yang digelari paman JC seorang Amerika , secara tidak langsung mengetok kepala saya dengan gurauannya sekaligus pembelajarannya. JC yang mahir berbahasa Indonesia tentunya kedodoran mengikuti gaya bahasa dari rekan sesamanya yang penuh slank dan dilakukan dalam tempo secepat jambret mendapatkan buruannya. Sekali tempo dia dikerjain oleh teman-temannya lantaran mencoba berbahasa Indonesia dengan mengandalkan kamus murahan. Kamus murahan atau bukan, jelas keteter mengikuti perkembangan bahasa kita. Apalagi gaya bahasa wong kemayu yang selalu update setiap saat.

Tetapi paman JC tidak menyerah, buktinya dalam beberapa kesempatan ia sudah mengkompilasi sebuah catatan dengan judul “Bahasa Rubens” – Ruben Onsu adalah seorang presenter yang kemayu dan biasanya dia mengganggu ketidak pahaman JC akan bahasa Indonesia.

Sekali waktu mejanya diobrak abrik EkoPatrio dan Ruben. Sementara penonton bersorak riang, saya tercekat melihat kenyataan bahwa begitu ia menemui kesukaran mengekspresikan gaya ngocol yang dicetuskan oleh Ruben: “Kita! – eluh ajah guwe nggak..” – tentu dengan lenggak-lenggok pemuda kenes. JC menulis kata-kata ini di meja tidak cukup sekali. Ia menempelkannya berupa potongan kertas, dan lihalah bagaimana usahanya melempangkan lidah agar bisa mengucapkan “nggak“. Inilah cara bule belajar bahasa. Kapan saja, dimana saja.

JC mengajarkan kepada kita. Mempelajari bahasa apalagi untuk mencari nafkah dinegeri orang, bukanlah perkara sambil lalu. Bahasa harus diperjuangkan secara berdarah-darah.

Sementara saya, melihat kamuspun belum tentu sebulan sekali. Ada kata tak saya mengerti, cara pengucapan (lafal) yang benar dari kamus, jarang sekali saya lakukan. Designer Ivan Gunawan mengobral ilmu memilih warna pakaian, sepatu, tips mengatasi kaki bengkok, badan pendek, tubuh kurus. Orang harus merogoh kocek jutaan untuk mendapatkan ilmu semacam itu. Soal olah Vokal kita semua tahu orang sekaliber Emilia dan Hetty Koes Endang yang memang macan panggung.

Acara menjadi sungguh membosankan ketika diganti oleh pakar yang mencoba serius dan cenderung ketus menyerang sesama teman presenter.

Pembelajaran dari tayangan begitu menarik, sebentar lagi akan ditarik. Mungkin sepatutnya para majelis agama yang maha suci lebih peka terhadap kasus tragedi Makassar saat perempuan kelaparan bernama Basse,37tahun, menemui sang khalik dalam kelaparan diikuti oleh anak dalam janin dan anaknya. Ketimbang mengurusi soal penampilan presenter.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s