Setelah dia pergi…


setelah_dia_pergi.jpg

“Setelah dia pergi”
“Baru kini kutau”
“Ku telah jatuh cinta kepadanya”
“Oh aku rindu… katakan padanya aku rindu”

Sepenggal lagu peninggalan alm Farid Hardja yang juga lagunya “Ayam” diprotes Malaysia sebagai lagu mereka bercerita tetang seseorang yang pergi lalu kita (terlambat) sadar bahwa kita mencintainya.

Judul Lagu “Ini Rindu” diambil oleh majalah Tempo sebagai judul sampul edisi khusus Soeharto. Sementara Kendra Paramita memplesetkan lukisan Leonardo da Vinci yang dipercaya sebagai lukisan Yesus dengan ke12 muridnya, menjadi Pak Harto dengan ke enam anaknya. Di meja tak hanya nampak piring gelas kosong seakan mengatakan “saya dan anak-anak tidak memiliki harta di bank sekalipun sakNdil (satu sen)” – Benny Murdani dalam memoirnya mencacat bahwa pak Harto sangat sensitif apabila anak-anaknya diusik.

Kover majalah kemudian mengundang protes dari umat Nasrani, sudah barang tentu, tidak sampai berdemo dengan label “halal darahnya” – tapi. Apalagi membawa PemRed ke balik terali besi.

Redaksi mengaku mereka sudah berdoa dengan jantung berdebar agar kolom Soeharto Mangkat bisa “direalisasikan” – sejak 2001. Sekalipun berulang kali masuk keluar rumah sakit pak Harto masih nampak “Die Hard” bahkan sang nara sumber keburu ditarik dari peredaran seperti Pramoedya Ananta Toer dan Prof Sadli. Bahkan Pemred sempat beralih dari Bambang Harymukti ke Toriq hadad.

Januari 2008, barulah majalah dengan ketebalan 208 halaman dari rencana 100 halaman ini berhasil diluluskan doanya. Agar tak terkesan mendahului yang Gaib, tentu ada tambahan keterangan bahwa “Keseriusan Penggarapan Edisi ini lantaran Soeharto adalah tokoh teramat penting untuk dilewatkan..

Teman saya membawa Edisi Khusus ini ke Amerika. Dia mewakili tokoh yang berpijak dari pulau “Suharto selalu salah, Militer selalu jahat, Intel selalu kejam., Amerika adalah Dewa Pelindung sejati.” – sementara saya hampir berseberangan. Tapi kami kawan teramat akrab. Di kedinginan minus 10 derajat seperti yang ia SMS-kan kepada saya sekalian mengucapkan ultah ke 55 (masih belum bosan saya menulis Jarig) ternyata majalahnya diminati di Amerika, lalu ia sumbangkan. Mengingat harga majalah di tanah air hanya 25 ribu per exemplar, dia kirim SMS ke tanah air agar supaya membeli lagi beberapa exemplar majalah yang sama.

Orang ini tidak sadar bahwa peristiwa meninggalnya pak Harto sudah berlalu lebih dari 40hari, terang saja majalah yang dimaksud sukar didapat sebab cerita yang beredar di Jakarta bahwa Mantu tak diundang di Purwokerto sudah menjadi orang nomor dua terkaya.

Kecuali… anda mau pergi ke kawasan perkotaan. Disebuah setopan lampu merah, sekalipun sadar majalah bajakan, tak urung pemuda pengasong dipanggil. Enteng dia menyebut angka 35.

Pembaca kalau harga ez disebut 25 ribu lantas dia menjual dengan 35 (ribu) sekalipun beda ceban, masih masuk akal. Namun yang mengagetkan pengasong tadi menyebut angka Fantastis – yakni Tiga Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah.

Eh kamu dilaporkan polisi bisa masuk penjara. Ini edisi bajakan tahu..” – pengasong coba digertak..

Kalau tidak mau beli ya sudah, jangan marah-marah, yang cari masih banyak kok..” – pengasong ngeloyor pergi.

Setelah dia pergi, sampai majalahnyapun dicetak bajakan ulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s