Penghargaan itu bernama Wira Karya


wira-karya1.jpg

Kotak beludru merah darah seukuran passport ini menarik perhatian saya. Pertama ada logo Garuda dengan aksara Republik Indonesia terbuat dari benang sulaman emas.

Tetapi mengapa digeletakkan dimeja baca diantara novel-novel kesukaannya. Atas persetujuan pemiliknya perempuan tercantik dan tejangkung dikeluarga sekalipun terkadang “judes” maka isi kotak diperlihatkan. Saya yang kaget lebih kaget lagi isinya dua buah lencana perunggu bertuliskan Wira Karya yang diberikan oleh Presiden RI – Susilo Bambang Yudhoyono atas jasanya sebagai pendukung Kerukunan Umat Beragama. Lalu terlintas pemandangan dimana para aparat seperti mengamuk membakari kelompok instalasi milik Ahmadiyah.

Lalu saya merenung, di usia segini saya belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke Istana Negara apalagi mendapat penghargaan . Sementara kerabat ini usianya belum 40tahun. Kadang ia meminjam putra bungsu saya, keponakannya untuk sekadar gandengan ke Istana Negara, tentu dengan resiko tudingan pelahap brondong. “Cuekin aja..” – komentar pemilik dengan status perkawinan “Its Complicated” – menurut Friendster.

wira-karya11.jpg

Lalu saya tanya, mana surat keputusan dari Presiden mengenai penghargaan ini, dia nampak mencari-cari diantara tumpukan berkas. Karena belum ketemu juga lantas saya ngedumel. Orang lain, salaman dengan Menteri sudah sibuk membuat foto besar dan dipajang di ruang tamu kamu seperti tidak perduli.

Belum sempat memasang figura, Mas..” katanya manja. Terpaksa dengan HP seadanya lencana Wira Karya ini saya abadikan, kuatir hilang atau keburu kesambar banjir. Sementara trophy penghargaan lainnnya saya lihat sudah pada buntung dan berdebu teronggok di gudang.

Ayah saya pernah berjuang Timor Timur (versi RI temasuk Ernesto Gutieres) pernah membawahi satu batalion Pelopor satuan elit Brimob dalam operasi dengan nama sandi Seroja. Bertahun-tahun, dengan membawa segepok dokumentasi ia harus bolak balik ke Mabes Polri, lalu menyurati pimpinan terkait agar mendapat penghargaan Bintang Seroja. Itupun pernah nyaris gagal, karena masa operasinya dianggap kurang matang. Padahal peluru tidak pernah melihat apakah seseorang bertugas tiga tahun, atau tiga bulang di medan operasi.

Saya lihat ayah nampak kecewa terhadap pihak yang mengurus surat tersebut. Namun anehnya ia marah kalau saya mengkritik oknum pemerintah tersebut.  Lalu untuk menurunkan tempo kekecewaannya saya pernah bercerita tentang Sri Sultan Hamengkubuwono IX – yang sampai sekarang tidak pernah dibahas sebagai pelaku sejarah dan tidak pernah meminta pemerintah untuk mengingatnya.

Bapak saya menjawab galak “aku bukan Sultan, beliaukan kaya raya, punya kraton, aku hanya bisa meninggalkan lencana Operasi Serodja kepada anak cucuku sebagai warisan.” – Bapak seorang penerjun payung walaupun sejatinya beliau takut ketinggian. Penembak jitu sekalipun menyembelih ayam saya dia menyerahkannya kepada saya.,

Lencana penghargaan nampaknya seperti peruntungan. Dikejar dia lari, dibiarkan dia menghampiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s