Sekali Mbak Irah – pamit, dua keluarga kehilangan pembantu ….


Gonjang ganjing daging sapi hilang dari pasaran, heboh bakteri Enterobacter Sakazakii (ES), Jaksa Ketua yang mencari koruptor tetapi nyambi mencuri dari koruptor belum menggoncangkan keluarga kami. Namun hari Minggu dua maret 2008 orang rumah bisa tertunduk meneteskan air mata.

Pasalnya sang deputy kepercayaannya sejak Februari 2006 tiba-tiba pamit untuk menikah dengan kerabat dekat seperti yang di inginkan oleh sang ayah. Modusnya biasa, keukeuh minta ijin pulang kampung lantaran ditilpun keluarga bahwa sang ayah muntah-muntah. Satu indikasi awal prt kita tak betah jika tilpun selalu berdering dari adik, kakak, keponakan, paklek entah siapa saja. Betul saja, Irah langsung pamit “cuma seminggu” pulang kampung – lantaran bapak sakit.

Beberapa hari lalu ia sempat mencium punggung tanganku pamitan sambil bilang “Irah pulang duluganya bahwa ya Pak..” – biasanya dia pulang membawa oleh-oleh beras tutu (tumbuk) merah kesukaanku. Namun kali ini setelah seminggu ia kirim pesan singkat mengatakan “Maaf Irah tidak boleh bekerja lagi ke Jakarta…

Saya masih ingat baru beberapa minggu bekerja dengan kami, pada bulan Maret 2006 sang ayah datang njujuk (tinggal) disalah satu familinya di bilangan Jakarta Barat. Malam harinya kami ditilpun lantaran diberitakan bahwa Irah sakit muntah-muntah dan tidak mampu untuk berjalan. Lalu kami bergegas menuju ke rumah kontrakannya. Melihat anaknya sakit sang ayah ternyata bergegas pulang “tinggal glanggang colong playu” ke kampung ketimbang mengurusi sakitnya sang puteri. Sementara pihak keluarga yang kuatir ketempuhan seperti mendesak Irah agar “jangan sakit dirumahnya” – tidak seoles balsem sebagai tindakan pertolongan dilakukan disini.

Malam itu juga Irah kami bawa ke rumah sakit. Tidak mudah mendapat ruang di rumah sakit sebab Jakarta sedang dilanda demam berdarah dan tidak sanggup menerima pasien baru. Saya harus minta tolong adik dr. Agus Sudrajat yang saat itu masih di jalan Tol untuk kembali kerumahnya dan membatalkan semua acaranya untuk menolong nyawa Irah.

Kami terlanjur jatuh hati. Tak heran, berpembawaan “merak hati” – membuat orang suka melihatnya, para tamu kami kerap memberinya tips.  Membalas email, membuka attachment, cukup satu kali ia diberi pengarahan, sisanya kita geleng-geleng melihat kecekatannya. Urusan mendaftarkan SIMCARD baru, memecah pulsa, mengisi pulsa, mengecek pulsa dia adalah kamus hidup.
Pakaian yang disandangnya keluaran merek dari luar negeri yang terkadang menimbulkan iri hati ABG “non PRT” se RT kami.

Baru sebentar bekerja di tempat kami Ira sudah memiliki HP, Gelang, Suweng (anting), Jam Tangan, Cincin, Tas, Sepatu sehingga kalau dia tidak mengaku siapa dirinya, orang akan menyangkanya anak SMA, kecuali memang wajahnya yang tertempa pekerjaan saat usia masih teramat belia. Tapi setiap kali ia pulang kampung terseoklah dia kembali menjadi Irah Gundul. Perhiasan dan uangnya ludes.

Ada lagi kebiasaannya sekali tempo ia pamit untu acara mingguan “main” ke rumah teman-temannya seprofesi. Bisa dipastikan penggemar Sinetron Fitri seperti mengalami semacam cuci otak atau “pencerahan” sebab keesokan harinya ia akan pamit dengan alasan menengok ayahnya di kampung.

Sebagai anak yang patuh, ancaman yang disampaikan temannya “bakal masuk neraka tidak mengikuti kata ayah” – sangat mempengaruhi bathin gadis kecil yang kuat salatnnya ini termasuk keputusan sang ayah bahwa Irah harus nikah dengan pemuda pilihan ayahnya.
Efek domino datang, sang Arjuna lain, Imam mendengar Irah menikah maka pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai supir sebuah keluarga langsung pamit keluar kerja dan pulang kampung.

Hati saya gundah gulana,” alasannya. Padahal sebelumnya ia masih tergeletak akibat dugaan serangan thypus. Belakangan saya baru tahu setelah HP berdering. Di ujung telpun suara adik ipar terdengar tak bersemangat “Mas..supirku keluar tadi pagi, padahal semalam suhu badan masih panas..“- WoalahIrah ternyata kamu sudah mampu menaklukkan beberapa keluarga.

Doa kami Irah agar kamu bisa tegak berdiri bersama suamimu. Dan Imam bisa legawa menerima keputusan Irah dan paham bahwa jaman Siti Nurbaya masih ada di era PLN edisi Insentif dan De-insentif.

Advertisements

One thought on “Sekali Mbak Irah – pamit, dua keluarga kehilangan pembantu ….

  1. jujur pak mimbar…
    saya salah satu pengagum berat tulisan2 bapak.
    walau ringan tp nggak berat….hehehehehe
    pengen juga nulis2 kaya gini
    berbobot buat saya….
    tapi kok yaa berat banget yaaah, susah gitu gimana nulisnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s