Daging Menghilang di Jakarta


Begitulah yang saya baca di sebuah harian langganan keluarga kami. Harga pereksemplar koran sama dengan sekali parkir motor namun tata letak, redaksi yang ditampilkan santun dan informatif. Sudah beberapa tahun ini kami tidak pernah berlangganan koran yang semangkin tebal halamannya semangkin gersang akan berita yang kami butuhkan. Dalam harian diperlihatkan kios pedagang daging yang sepi, lalu diceritakan bahwa pedagang bakso banyak yang menganggur karena kelangkaan daging.

Saya menoleh kepada menko keuangan pada RepVblik Mimbar (begitu teman saya memberi judul). Enakan jaman dulu, nggak ada nih cerita langka ini langka itu (maksudnya selalu jaman penguasa yang dulu). Maka diera sekarang selain menuding rezim yang sudah jatuh sebagai penyebab gonjang-ganjing maka maka kelangkaan daging, kelangkaan minyak tanah memang sebuah prestasi pemerintah kita yang perlu digurat dalam prasasti kegagalan.

Menko langsung mencerocos, tetapi saya tidak boleh memperlihatkan rasa ingin tahu sebab kalau ia sadar dirinya sedang saya jadikan sumber berita, biasanya langsung mogok. Seperti halnya kesulitan menyembunyikan wajahnya untuk sekedar tersenyum saat difoto.

Menurutnya, kalau kita menghadapi kelangkaan daging adalah dengan menyerbu pasar modern, misalnya supermarket Nobita – karena saya tidak boleh menyebut merek – “Harganya lebih murah, kualitas terjamin, timbangan nggak nyolong – maksudnya kalau mengaku satu kilo bukan sebetulnya 8 ons, jauh dari lalat, berpendingin udara.” Pendeknya bisa belanja pakai hak tinggi. Ini istilah Menko saya untuk pasar yang modern.

Daging di pasar, entah daging sapi atau ayam selalu basah. Daging yang kita beli banyak airnya, apalagi daging ayam,” welakadalah belum selesai to mengomelnya. “Kadang supermarket memberikan hadiah, misalnya belanja seratus ribu rupiah kita dapat membeli minyak sayur separuh miring, bukankah itu lumayan?

Lantas bagaimana dengan kebijakan seperti pembatasan pembelian daging hanya tiga kilo gram perkepala?

Mudah saja, bawa anak, keponakan, pembantu, kan bisa beli lebih dari sepuluh kilo kalau mau…

Tapi ada yang terlewatkan, kalau tukang bakso, apakah sempat membaca internet.

Akhir-akhirnya kembali golongan menengah keatas yang memiliki mobilitas dan konektivitas (informasi) yang menikmati gonjang-ganjing daging ini.

Terus bagaimana dengan jenis sayuran tomat gondol, cabe keriting apakah masih miring melirik pasar berhak tinggi? – Nah kalau itu kita harus ke ke pasar pakai boot karet maksudnya tentu rela berbecek dan berprengus ria demi memburu harga sayuran yang murah.

mimbarsaputro.wordpress.com
Artikel #1446
Februari 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s