Suatu Subuh di Bandung


Pagi-pagi kantong kemih sudah terisi penuh sehingga perlu di “afblas” di toilet. Saya buka toilet kamar 130 Hotel “TS” kawasan Junjunan Bandung.Ternyata limbah bekas mandi saya semalam belum juga tuntas terbuang membentuk genangan. Sebutir kelereng bisa menyelam didalamnya.

Inikah yang dimaksud Bong, petugas Biro Perjalanan di Jakarta saat saya membeli Voucher sebuah hotel di Bandung. “Nggak salah memilih Hotel ?

Semalam saya mengecek toilet ini ternyata sebuah handuk basah (berarti bekas pakai) masih tergantung di belakang pintu.

Lalu TV menayangkan ulah anak Krakatau muda yang mulai menunjukkan kenakalannya. Berhubung tidak bawa pakaian olah raga, sepatu fantofel kulit pun saya pakai juga dan mulai keluar hotel.

Saya melewati sekelompok masa. Seorang petugas polantas dari nama yang tersemat didadanya Sumpena nampak sedang mengobrol dengan beberapa pria yang nongkrong di kedai rokok depan BTC, Bandung Trade Centre. Mungkin bicara kecelakaan mobil sebab yang saya tangkap cuma “motorna gedubrak ceunah.” Motornya jatuh tuh.

Memang menakjubkan melihat Bandung setelah semalam disiram hujan lebat. Warga berduyun berolah raga, beberapa diantaranya sudah pulang kerumahnya sambil menenteng tas plastik berisikan makanan. Biasanya membuang 150 kalori dengan olah raga, lantas dicharge dengan 1500 kalori (bubur, sate usus, teh botol, dan penganan manis lainnya). Jelas surplus terus.

Sebuah lapak Brownies saya dekati. Maksudnya beli sebungkus sambil wawancara kecil-kecilan. Rupanya ia merangkap pengecer majalah. Sayang lapak ini tak berpenghuni. Saya celingukan kok tidak takut dicuri seperti di Sinetron Fitri saat Norman meninggalkan warung lantaran diimingi dibelikan sepatu. Dan warung ludes dijarah maling.

Tidak lama kemudian, pemiliknya seorang perempuan, datang tergopoh-gopoh sambil menenteng brownies kukus baru, dan entah apa lagi dikedua tas plastik tersebut.

“Saya kira mbak diculik aliran sesat,” kata saya membuka kata-kata. Ini juga gara-gara baca halaman depan memperlihatkan wajah seseorang hilang yang diduga dari kelompok aliran sesat.

Dia ngakak “punten, bisa saja bapak.” katanya. Hebat, Kartini ini, langsung menangkap humor saya.

Tetapi pengucapan S menjadi Z, menyiratkan ibu muda ini bukan “mojang Priangan” -jika saya berhadapan dengan perempuan subur ini sepuluh tahun lalu. Akibat gelaknya dan berita Krakatau, saya lupa mewawancarai soal Browniesnya. Apalagi awan tebal sudah menggelendot manja diatas sana. Sial bener.

Advertisements

One thought on “Suatu Subuh di Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s