Ibunda


Makam IbundaSetahun sebelum ibunda meninggalkan kami (29 Agustus 2001 jam 13:30 di Tanjung Karang, saya sempat memotret beliau di Bekasi.

Herannya tidak ada satu fotopun yang jadi.

Malahan hasilnya seperti negatif filem. Saat itu ibunda divonis sirosis pada hatinya. Setiap memeluknya saya merasa bahwa perpisahan kami semakin dekat.

Lalu dalam satu kesempatan saat bersama ibunda menengok makam nenek (ibu dari Ibunda), ibunda pernah bertanya seperti kepada diri sendiri. Lantas kalau saya mati kelak, apakah anak saya akan menengok saya?

Saya hanya terdiam sebentar lalu menjawab dalam hati “kan ada saya Bu.

Ini adalah pertanyaan menohok sebab sejak adik-adik saya telah memeluk agama yang sama namun dengan ajaran yang lebih militan maka mulai dari cara berpakaian dan sikap mereka berubah menjadi Arab sentris. Sehingga kadang saya olok sebagai “Arab Fetish.”

Maksudnya mengapa semua tindak tanduk yang dilakukan orang Arab 1400 tahun lalu ditelan habis-habis termasuk larangan mengunjungi makam kerabat yang sudah meninggal. Tentu dengan sebuah dalih yang berbunyi “kalau mau ke sorga.

Sebagai kakak tertua amat bahagia melihat adik-adik menjalankan ajaran agamanya dengan konsekwen dan eksklusif apalagi mereka tidak mengganggu atau menyudutkan orang lain.

Sebetulnya saya kurang “sreg” dengan cara mereka mencari pembantu rumah tangga harus dari kelompoknya, menikah sesama kelompok, menolong orang kesusahan hanya kalau mereka mau masuk sorga bersama alirannya. Sekalipun sama mengaku satu nabi dan satu kitab. Alasannya di luar kelompoknya adalah “salah dan sesat.” – tetapi sekte manapun akan bersikap serupa.

Maka saya menjadi satu-satunya anaknya yang setia menyempatkan diri mendatangi makam sekalipun hanya untuk beberapa menit. Kebiasaan saya, kalau mengunjungi makam, saya menorehkan nama dan tanggal kedatangan pada sebuah tanaman kaktus yang tumbuh subur di atas makam nenek saya.

Dulu saat beliau masih bersama kami, adik-adik sering menggoda “ibu lehernya sampai panjang menunggu kedatangan mas Miem. Setiap ada suara mobil mendekat selalu dikita mas Miem datang.”

Bahkan di luar lebaran saya kadang tidak memberitahu rencana kedatangan kami dari Jakarta ke TelukBetung, kuatir beliau terlalu “excited” – lalu sibuk menyiapkan penganan dan hidangan yang kadang berlebihan demi menyenangkan hari saya. Namun kini suasana rumah sudah berubah.

Ayah sudah tergila-gila dengan istri barunya yang membawa lima anak dari perkawinannya terdahulu plus cucu yang harus ditanggungnya sebagai seorang pensiunan.  Celakanya lagi anak-anak sambungannya sudah bisa mempunyai anak namun tidak satupun yang berpenghasilan. Bisa diterka bagaimana ibunya akan dibela-belain kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Salah satu perwujudan yang “tidak kasat mata” adalah “mengojok-ojoki” agar rumah di Lampung dijual, dibelikan rumah yang lebih kecil, sisanya untuk modal. Sebuah solusi yang selalu berakhir tragedi lantaran rumah melayang, kontrakan yang datang.

Untung adik bungsu masih menunggu rumah tersebut dengan anak dan isterinya sehingga kedatangan kami ke Lampung masih dinanti-nanti oleh mereka.

Namun sudah tiga tahun ini saya tidak mengunjungi makam. Baru pada 2 Syawal 1428H (Oktober 2007) saya berkesempatan datang melihat batang kaktus tumbuh mulus pertanda tidak ada kerabat yang mengunjunginya.

Terkadang adik-adik mengaku “didatangi” ibunda dalam mimpi mereka, namun alih-alih menganggap sebagai “permohonan setahun sekali tulang belulang yang pernah menghadirkannya kebumi” – malahan ditafsirkan sebagai setan beralih rupa yang mengajak ke jalan sesat. Lantas saya harus bilang apa. Seperti putus asa dan prihatinnya mereka melihat saya tidak kunjung kembali ke jalan yang benar menurut ajarannya.

Advertisements

3 thoughts on “Ibunda

  1. saya trenyuh membaca postingan bapak soal ibunda dan ziarah ini. papa berpulang belum setahun dan bagi saya, setiap kepulangan ke surabaya paling penting adalah berkunjung ke rumah baru beliau dibanding apapun. dan kemarin di acara ziarah lebaran, saya bikin gegeran sama adik, yang saya minta menyentuh batu nisannya malah menjawab “sudah, kok. aku ‘kan datang duluan”. ya memang sih … saya kan bareng mami, jadi mana tahu aktivitas yang sudah dia lakukan duluan bersama keluarganya. tapi tetap aja, bikin kesal, ‘kan?

    Like

  2. Saya kurang tahu kenapa tulisan Pak Mimbar jarang yang kasih comment. Padahal tulisannya bagus-bagus, saya yakin yang baca banyak.

    Sebetulnya saya pingin komen buat tulisan ini, tapi entah kenapa hilang semua kata-kata. Otak mendadak susah diluruskan untuk menyusun pikiran yang muncul secara sporadis. Yah lain kali saja.

    Yang jelas tulisan Pak Mimbar mengingatkan saya untuk lebih sering “mengingat” dan berbuat untuk Ibu saya. Mumpung beliau masih sehat wal afiat.

    Like

  3. Ass wb..wb

    bpk mimbar yang terhormat. sy banga punya saudara seperti bapak ini selalu mendahulukan orang yang memberi kita segalah, orang tua kita bener bergorban untuk anak apa dia lakukan semua untuk anak jadi ingat kita salula ingat sam orang tua itu sangat wajar. ya saya merasakan sendiri kalau kangen jauh baget di kaltim. tapi saya selalu berdoa untuk orang tua saya walau bapak dan ibu sudah pisah. mumpung dia masih sehat walafiat aminn.

    salam hormat

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s