Sekoci pada Feri Merak – Bakahuni (kabel) yang memprihatinkan


Feri bersandar di Merak
Suasana penyeberangan di Merak

Lebaran 1 Syawal 1428H (2007) saya sempat menikmati kapal Fery penyeberangan Merak- Bakauheni.

Harga Bandrol untuk penyeberangan untuk roda empat adalah 165 ribu rupiah plus plus.  Maksudnya, dari jaman dahulu kala harga tiket pelabuhan penyeberangan Merak termasuk matematika ajaib. Anda gunakan kalkulator yang baterainya baru digantipun bakalan gagal mendapatkan jawaban dari perjumlahan ongkos sesuai yang tertera di papan tulis. Selalu saja ada perhitungan yang tidak sesuai dengan yang tertera pada harga tiket. Mungkin inilah yang dikenal sebagai “invisible toeslag.” Mudah-mudahan biaya extra tersebut untuk menjamin keselamatan para penumpang. Bukankah keselamatan itu perlu biaya juga. Apalagi sekarang usdahada penyempurnaan. Dulu untuk menyeberang selat Sunda, mobil harus dikerek masuk perut kapal dari Pelabuhan Panjang (1970-1980-an)

Sekoci di dek atas FeriSaya mendekati satu dari dua sekoci penolong. Letaknya di dek paling atas, sehingga bilamana terjadi keadaan darurat semua penumpang harus bergegas dan berdesakan melalui tangga kecil untuk menunggu instruksi selanjurnya sambil berdoa “mudah-mudahan” kebagian jaket pelampung.

Sebab saya yakin watak bangsa kita, sekalipun jatahnya satu mereka akan mengambil sebanyak mungkin.

Lantas saya membayangkan bagaimana penumpang yang akan berteriak, lintang pukang sambil mencari sekoci lalu bingung. Pertama bingung mengakses dimana sekoci berada, kedua kacau dengan yang mana  memilih sekoci pertama atau sekoci kedua dan seterusnya.

Tapi hati sedikit lega karena disamping dua sekoci, sejumlah rakit penolong mudah dijumpai di lantai atas ini. Penggunaannya sederhana tinggal melepas kunci dan dilemparkan kelaut.

Sekoci ini digantung pada seutas kabel baja sehingga saat diperlukan kasus sangat gawat serius unutk “abandon ship” atau meninggalkan kapal, maka seluruh penumpang akan memasuki sekoci, dan perlahan pada ketinggian sekitar 10meter, sekoci diturunkan.

Biasanya kapten kapal akan memberikan aba-aba berupa “tinggalkan kapal” tetapi kalau inipun belum jelas, suara ine meraung  terus menerus – pertanda instruksi meninggalkan kapal.

Kabel sekoci yang genting
Kabel yang retas padahal menahan beban berat sekoci.

Namun kalau anda perhatikan pada gambar kiri maka nampak salah satu kabel baja, selain dimakan karat juga terkelupas sehingga bisa dibayangkan kemampuannya menahan perahu sarat akan penumpang yang panik, histeris, dan diencot-encot mereka yang bergerak kesana kemari mencari sanak keluarga, tiba-tiba “thes” kabel putus dan perahu meluncur terjun bebas dari ketinggian 10meter.

Sayangnya hampir semua kabel yang saya lihat berkenan memperlihatkan keadaan mengenaskan yaitu “berkarat dan terkelupas.” Sehingga tanpa alat canggih macam MPI (Magnetic Particle Inspection) orang sudah gampang menduga kekuatannya.

Saya kuatir gara-gara kabel sebuah sekoci bisa berubah menjadi alat pembunuh tambahan

Kalau anda masih belum percaya cerita saya yang horror mungkin ingatan kita masih segar dengan istilah gondola. Di Venesia, jelas perahu ini akan mengajak kita berpetualang menikmati kota air dengan suasana romantis (katanya lho). Tetapi kalau di gedung-gedung tinggiIndonesia , maka nyanyian yang diperdengarkan adalah “lagu Yamadipati” – itu dewa pencabut roh dalam pewayangan.  

Saya kehabisan tempat untuk mengisi kejadian gondola jatuh dan pekerja mati hancur. Namun kecelakaan demi kecelakaan terus saja antri. Kita memang bangsa pelupa dan tidak pernah belajar.

Advertisements

2 thoughts on “Sekoci pada Feri Merak – Bakahuni (kabel) yang memprihatinkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s