Jurus Jemput Bola


Jurus Jemput Bola

Jumat, 31-08-2007 12:28:29 oleh: Mimbar Saputro Kanal: Gaya Hidup

Bagi Andri, pemilik sebuah gerai optik di kawasan Grogol, pengunjung yang sepi bukanlah alasan baginya untuk berkeluh kesah. Tempat usahanya terletak di jalan yang tumplek blek akan kucuran sumber kemacetan. Dari barat sampai ke timur berjajar Universitas Tarumanagara, Trisakti, Pasar Grogol, RS Sumberwaras, perlintasan kereta api yang tak pernah sepi barang dua atau tiga jam sekali, Roxy Square, Roxy Mas, Carrefoure Harmoni.
Ia pun sadar lokasi yang dipilihnya pernah terbakar dalam kerusuhan 14 Mei sepuluh tahun lalu. Bagi sementara orang, lokasi niaga demikian sudah kehilangan daya pancarnya. Andai dibangun kembali, dewa keberuntungan sudah kepanasan, dan merat dari sana.

Daripada ikutan menyalahkan sebab akibat kejadian masa lampau, ia “cancut taliwanda” – menggulung lengan bajunya. Depot bril yang sepi ditunggui oleh asistennya yang rata-rata berkulit gelap, sementara Andri melakukan gerakan yang ia sebut “jurus menjemput bola”
Kepada pelanggan yang tidak sempat berkunjung ke gardunya lantaran malas untuk datang kawasan tempatnya berniaga sedang diaduk-aduk oleh proyek pekerjaan jalan layang yang terbatuk-batuk jalannya, Andri tak segan mendatangi kediaman mereka. Dengan sabar mendengarkan keluhan pelanggan sambil tersenyum, lalu menawarkan pengukuran kemampuan penglihatan. Semua dilakukan di rumah pelanggan.

Dalam tiga hari, kacamata sudah dibawa oleh para asistennya ke alamat pemesan.

“Kalau tidak begini, saya sudah bangkrut pak. Pesaing ramai, pengunjung sepi,” katanya sambil corat coret ukuran plus 2.50 dan minus 3.25 pada dua mata saya yang kiri dan kanan. Satu lagi, “minus mata keranjang,” kata saya bergurau.

Senyampang transaksi selesai bisa dipastikan sebuah pesan singkat mampir di HP anda sebagai ucapan terima kasih, “Terimakasih telah mempercayai kami, masih ingat kepada kami, semoga Tuhan memberkati bapak/ibu sekeluarga besar..”

Sebuah pesan singkat, murah, tepat guna. Tak heran usaha Andri tidak ikutan gulung tikar seperti teman-teman lainnya.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 – TEXT PLEASE

Advertisements

Gajahmada


GajahMada
Jumat, 31-08-2007 09:23:57 oleh: Mimbar Saputro Kanal: Gaya Hidup

Sebuah lintang kemukus (komet) dengan ekor panjang dan terang nampak menyeruak dikedinginan malam di langit Majapahit. Malam itu embun tebal luar biasa menyelimuti Majapahit. Teriakan burung gagak yang menclok di wuwungan istana di malam hari bukan peristiwa biasa. Lampu minyak, obor yang menerangi pelataran kerajaan seperti “mendrip-mendrip” kalah perkasa.

Ki Dipo Rumi dan Wongso Banar, peronda kebetulan menguasai dalam “ilmu titen” – kemampuan menandai suatu peristiwa dilihat dari kejadian-kejaidan sebelumnya. Mulai gelisah dan bertanya-tanya. Pertanda apalagi akan menimpa Majapahit. Dengan usianya ia mengalami peristiwa saat Tumapel, di bawah kendali operasi Ken Arok menggempur Kediri, atau saat Singasari dilibas pasukan Jayakatwang sehingga berakibat Kertanegara pralaya.

Ini tahun 1319.

Sementara Gajahmada yang kala itu masih “krocuk” berpangkat bekel, di bawah wringin kurung (beringin), mendapat bisikan dari sosok misterius bertopeng mengaku “manjer kawuryan” -artinya bulan bercahaya terang , bahwa beberapa “resimen” pasukan melakukan latihan “baris pendhem”, menyusun gerakan dari “sapit urang”, “dirada metha” atau “cakrabyuha” – kelihatannya latihan biasa, namun keseriusan dan kerahasiaannya perlu dipertanyakan.

Ada tiga resimen di Majapahit. Jalapati dibawah Tumenggung Rakrian BanyakSora, lalu Jalayuda di bawah Tumenggung Panji Watang dan terakhir Jalarananggana di bawah komando Temenggung Pujut Lontar.

Teka-teki, misteri tokoh dijalin mulai dari halaman pertama menjebak rasa penasaran. Sama misterinya ketika lintang kemukus menyeruak di tengah keganjilan embun yang seperti uleng-ulengan -bergelut dengan awan.

Satu-satunya pemimpin yang sama gelisahnya adalah Mahapatih Majapahit Arya Tadah – namun mahapatih ini sudah uzur, batuk “kemekel” mulai menghiasi napasnya.
Gajahmada ditugaskan mencari anasir makar. Sekalipun kadang secara pribadi ia sering berseberangan dengan kebijakan Kala Gemet nama kecil Prabu Jayanegara yang oleh sementara pihak dinilai cuma sosok gemar bersolek, “thuk-mis” dengan perempuan cantik, di samping kegemarannya mengadu macan dengan orang. Namun tugas menepis kekacauan adalah lebih utama dari pamrih pribadi.

Konflik mulai terjalin dan mencuat ketika para Temenggung menganggap remeh laporan Gajahmada, atau malahan sebagian diantara mereka sengaja mengacaukan laporannya. Apalagi di antara pasukan telik sandinya Bhayangkara, terdapat orang “minger keblat” alih-alih jadi pagar malahan menjadi predator tanaman.

Lalu seperti mengajak pembaca mengingat bagaimana ketika pasukan pemberontak Rakian Kuti mampu mendesak Jayanegara sampai terbirit-birit diselamatkan oleh seorang prajurit rendahan berpangkat bekel Gajahmada, sehingga negara praktis tanpa penjaga, terjadilah ontran-ontran. Penjarahan, perkosaan, pembakaran toko-toko, dan kediaman milik orang kaya atau sekadar pelampiasan dendam.

Ternyata cerita Nagasasra dan Sabukinten, Api di Bukit Menoreh, Pelangi di Singasari, Bayang-bayang suram, sudah membuahkan inspirasi menulis novel yang berselanjar di situs sejarah.
Penulis Langit Kresna Hariadi mampu mengajak pembacanya membuka lembar demi lembar kisah GajahMada dengan pasukan elitnya yang kecil namun cupat trengginas dan nggegirisi kemampuannya.

Apalagi semacam jendral Lintang Waluyo dan Wijoyo Suyono ikut menyarankan kita membaca sejarah tanpa belajar menghapal sejarah.

Saya sengaja mempopulasikan beberapa istilah “era-majapahit” dalam buku tersebut. Buku yang susah diletakkan setelah mulai membacanya.

Judul Buku GAJAH MADA Penulis: LK Hariadi
****
Tulisan ini hasil cuci gudang di blogger saya.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 – TEXT PLEASE

Mendadak digempur Martware


Bermula dari kebiasaan para tetangga menitipkan tabung elpiji kosong kepada kami untuk diisikan saat mobil gas milik Jaya Gas datang lalu timbul niatan para pimpinan kabinet KTKW (Kanca Tidur Kanca Wingking) untuk menjadi penyalur gas.

Ini peluang, seperti halnya Aqua, yang dulu minum air mentah dianggap kampungan sekarang gedongan dan seminaran, maka memasak dengan gas adalah era wolak waliking jaman, siapa cepat menangkap peluang itu yang berhasil. Jangan jadi pak-turut tetapi menjadi trend setter- yang diikuti orang lain,” katanya meyakinkanku dipaksa sebagai pemilik modal.

Waktu itu hanya satu perusahaan penyalur gas masih terbilang separuh tangan. Yang bonafid yaitu Jaya Gas milik group Ciputra sang pengembang property. Jaya Gas dipilih karena saat itu dia tidak pernah berselingkuh dalam soal isi tabung. Sementara yang lain ada yang tega mengisi dengan air, mirip dengan kasus AVTUR campur air penerbangan Batavia Air di Kalimantan.

Persoalannya untuk menjadi penyalur Gas di Grogol membutuhkan ketekunan, diplomasi. Kadang bertemu staf bertingkah sok preman. Yang harusnya menerapkan falsafah “what can I do for you” sudah tergelincir menjadi “what you can do for me.”  Seharusnya kata sambutan adalah “ada yang bisa saya bantu,” menjadi “anda ada bisa menjadi pembantu saya.”

Orang-orang itu seperti mendapatkan “powergasme” – manakala  melihat orang lain membutuhkan bantuan sampai rela bersimpuh dihadapannnya.

Singkat cerita kami berhasil menjadi agen gas . Minggu pertama laku 10 tabung elpiji itupun dengan bonus mulut sampai kebas (baal) bin meniran lantaran promosi ke mana-mana. Lama-kelamaan 50 tabung bisa laku dalam sehari, belum lagi usaha sampingan menservis kecil-kecilan kompor gas rusak yang sebetulnya cuma selang gas mampat oleh kotoran.

JADI PENYALUR AQUA
Eh kok kebetulan para snobis Grogol mulai “titip” lagi tabung AQUA untuk diisikan manakala mobil AQUA lewat. Kesempatan inipun kami genjot menjadi penyalur AQUA, sampai-sampai saya dipiknikin ke Gunung Salak dan fasilitas penyimpanan AQUA.

Maaf, tolong ya, bayangkan beberapa tahun ke belakang saat cara para bala-Indonesia umumnya berpikir “cuma air mentah saja kok mahal” – ke menjadi ketergantungan ARRRQUA (ini kata orang Madura), memerlukan usaha lama lho. Hebatnya para tukang batu pun hanya bisa minum “Arqua” lantaran kalau isi ulang sering berulang-ulang ke kakus alias kacepirit.

Dulu ada pemeo “cuma orang kurang satu strip yang mau minum air bening, tidak direbus, mahal pula” . Belakangan orang kelebihan strip justru harus ber Arqua baru merasa naik gengsinya.

Belakangan para salesman yang memang tajam pengendusan bisnisnya, dari satu orang akhirnya sampai berjamaah menawarkan jasa seperti Kacang 2K (ini bukan versi window), kwaci, es krim, anggur cap orang tua, sampai akhirnya toko berubah menjadi mini market.

Sejak itu kaos saya selalu “BERMEREK”, maksudnya merek Kacang Garing, Kacang Pilus, kacang kutub, Es Krim. Sekali cuci langsung tumbuh bulu pada kaos murahan tersebut.

Lalu perusahaan besar semacam susu, mi instan, coklan, kacang ikut masuk memasok dagangan dengan harga “konsinyasi” – alias kalau laku dibayar, kalau rusak akibat ngengat atau tikus langsung diganti, kalau barang kadaluarsa bisa ditukar. Semua datang mengetuk di depan pintu. Apa tidak hidup serasa di Surga.

SANG PENYELIA CANCUT TALIWANDA
Lalu para supervisor turun tangan membantu kami, mengasuh pengusaha kecil agar bisa bertahan maju diderasnya persaingan. Betah “sejem dua jem” ikut menyusun display barang dagangan kami masih diiming-imingi penampilan terbaik mendapat hadiah menarik (kalau masih ada stok).

Belakangan, sang supervisor yang mukanya mirip pelatih nasional kita “bola tepok” dengan mobil Katana Putih (ini tahun 1985-1990-an bung), sudah tak nampak lagi, padahal biasanya dua hari sekali usai pulang kantor ia rajin menyambangi kami.

Ternyata sebagai gantinya, ia sudah memarkirkan Katananya di lokasi lain, bukan sebagai Supervisor melainkan “owner”. Mereka mendirikan IndoMart, CeriaMart, hantublauMart yang kemudian diikuti oleh para clowner lainnya.

Jelas kami usus-buntu ditandingkan dengan predator model Indomart lengkap dengan ruang berpendingin udara, dan ajaib harga dipatok lebih miring dari sekedar “jigo, gocap,cepek” – tak ayal pelanggan berpaling.

Apalagi kompetor lain Grogol juga “berselancar” buka agen gas, agen Aqua, bahkan sekarang air isi ulang. Akibatnya usaha dipangkas tinggal Elpiji dan Aqua, mengingat pelanggan memang masih belum berpaling. Percaya tidak percaya, kalau ada yang pesan gas melalui tilpun. Tidak berapa lama pesan tadi sudah sampai ke “toko gas” yang lain.  Ketahuannya saat ada komplin, kami datangi ternyata mereka tidak bisa menunjukkan kwitansi pembelian dari kami, bahwa cuma secarik kertas dari toko lain.  Rupanya ada spy bermuka dua diperusahaan kami.

Apa nggak boleh dibilang  Skandal Watergate ternyata kalah seru dengan LPG-gate.

Kalau di dunia mayapada kita kenal Spyware, AdWare. Praktek di marcapada mengenal MartWare, yaitu orang yang “baik, ramah, sempurna, tanpa pamrih” datang membantu kita padahal sejatinya adalah “spy” para Mart atau SuperMart yang mengawasi gerak-laku, taktik-bisnis pesaing, untuk dilaporkan ke perusahaan induknya.

Persaingan dagang biasanya berakhir dengan bertekuk lututnya sang pemilik modal pas-pasan akibat bujuk rayu ala “anak asuh “Threre is no free lunch in the real world.

Yang saru dibicarakan -saru bhs jawa Kasar dan Keliru alias tidak baik diketahui umum adalah “lipatan dan kuncian dari pihak keluarga” – semula hanya membantu menerima tilpun, membantu keperluan kecil lainnya, lama kelamaan dengan didukung keluarga lain, bisnis kami mulai diaquisisi tanpa ganti rugi sama sekali. Dan jeleknya orang Jawa macam kami, kalau ada pihak keluarga yang lebih garang, lebih bernafsu terhadap harta kami, perlahan kami berikan. Rejeki tidak kemana.

Jadi mengkeret hendak berbisnis ? sudah siap diakali teman atau bahkan keluarga ?  Jangan kuatir, besok anda bangun pagi, semua sudah lupa kok.

Menjadi “dokter” lumpur tanpa melalui fakultas kedokteran


Di rig pengeboran, kerap kali terdengar panggilan melalui pengeras suara “Mud Doctor da fa tu” –  ini gaya orang sana memanggil spesialis lumpur agar menghubungi (da=dial), nomor five (fa), dan dua (two). Maksudnya agar spesialis lumpur menilpun nomor 52 (gudang). Jadi sekalipun anda mendapat Toefl test dengan skor diatas 600 sekalipun dijamin bengong mendengar panggilan ini.

Tentu yang saya maksudkan adalah lumpur pengeboran minyak. Tempat saya mengais rejeki selama ini. Kalau anda mengamati pengeboran sumur air tanah sistem hidrolik, maka akan nampak segebok pipa berongga yang kalau sambung menyambung menjadi panjang dengan ujungnya yang tajam (mata bor). Lalu tiga buah tiang penyangga tempat meletakkan mesin bor yang berputar diatas pipa. Dan yang penting adalah mereka memasukkan air kedalam lubang dengan harapan bercampur dengan tanah liat dan terbentuk lumpur. Sistem pengeboran minyak, adalah evolusi dari sistem pengeboran air sehingga prinsipnya mirip.

Blender LumpurDalam pengeboran lepas pantai maupun maupun darat fungsi lumpur pengeboran persis sama dengan darah pada tubuh manusia. Lumpur harus bersih, sehat sehingga perlu dilakukan terapi terus menerus.

Lalu kepikiran, apakah lumpur yang dimaksud serupa dengan di TV saat mobil mahal dan bagus diadu dengan licinnya tanah liat bercampur air. Ya nggaklah. Lumpur yang menempel diban kendaraan anda kalau dijadikan lumpur pengeboran tidak bisa bertahan lama sebab cenderung mengendap. Padahal lumpur pengeboran harus bersifat seperti agar-agar namun pada saat tertentu harus mampu menjadi liquid kembali.

Pada saat pengeboran berlangsung. Lumpur harus dipompakan terus menerus tanpa henti. Namun saat tertentu pemboran terhenti. Maka sifat lumpur yang dibutuhkan adalah mampu menahan pecahan batuan hasil gerusan mata bor atau “tahi gergaji pengeboran” yang sudah sempat hampir kepermukaan agar tidak mengendap menumpuk didasar lubang.

Anda yang pernah menggunakan bor tangan mengebor sekeping papan paham betul ada “tahi bor” atau cutting yang biasanya harus ditiup agar tidak menutupi lubang kayu. Kegunaan lumpur untuk membilas kotoran tadi agar tidak menutup lubang yang sudah dibuat. Lalu coba pegang mata bor tangan anda. Hati-hati panasnya luar biasa, dan tugas lumpur pengeboran adalah melumasi dan mendinginkan mata bor yang bergesek dengan batuan keras. Masih banyak fungsi lumpur pengeboran, namun kita bicarakan dilain kesempatan.

Lumpur ini aselinya dibuat dari bongkahan bentonit yang setelah dicampur air menjadi lumpur. Jadi kandungan lempung dirumah kita asal mengandung “bentonit” bisa dijual mahal-mahal, masukkan kedalam karung, tawarkan kepada perusahaan pengeboran terdekat. Masalahnya, mampu tidak kita memberikan pasokan dalam julan ratusan sampai ribuan sak, selama 24jam, tidak rusak kena air sebab bahan lumpur yang sudah terkena air bakalan menggumpal dan tidak bisa dipakai lagi.

Seperti orang memasak, lumpurpun kadang ada bumbu-bumbu lainnya. Blender lumpur disini dinamakan hopper. Dalam gambar seperti corong abu-abu ditengah-tengah dua motor (biru). Kadang lumpur dicampur dengan sedikit garam, minyak, tepung kanji, soda api dan astaga ini dia, dicampur dengan bahan pengawet mayat. Tanpa bantuan bumbu dan pengawet tadi, dalam seminggu lumpur sudah membusuk, keluar gas sulfur dan bahayanya gas yang bersifat asal tadi berniat jahat terhadap besi-besi dan pipa pengeboran karena sifat korosif yang ditimbulkannya.

Namun ada campuran yang membuat lumpur bertambah berat. Yang populer adalah bahan kimia bernama “barit” – dilapangan bahan tambang ini sudah berupa bubuk diadon dengan mixer besar namanya “agitator” dengan panci yang dinamakan tangki lumpur yang isinya bisa 600 barrel.

Untuk gampangnya, bayangkan 600 tong lumpur masuk kedalam panci baja bermixer ini. Kalau agitator kewalahan memutar lumpur yang makin berat, lumpur tadi disedot pakai pompa lalu disirkulasikan kembali dengan tekanan tinggi seperti pompa pedagang ikan mas “running” – jangan sampai ketembak oleh tekanan mirip brandwir ini, bisa sesak atau patah tulang rusuk.

Pernah sekali saya melihat lumpur seberat 2 sg (specific gravity) maksudnya 1 liter lumpur beratnya setara dengan dua liter air tawar, sedang diaduk disebuah tangki. Untuk gambaran maka ujung kanan pipa bertuliskan “mud return line” adalah tangki lumpur.

Perlahan-lahan tangki “mlendung” lantaran dinding besi tangki tidak kuat menahan berat lumpur. Pembuatan lumpur terpaksa ditunda, lumpur dibuang, dan tangki ditambahi kerangka baja sana sini untuk memperkuatnya.

Lumpur ini kelak disedot oleh pompa lumpur milik Rig. Dialirkan melalui pipa permukaan, masuk turun kedalam perut pipa, melewati nozzle pahat nun dibawah sana, keluar keatas diantara sela-sela lubang bor sambil membawa kotoran berupa tahi bor, gas-gas yang terjebak dalam batuan, diayak dan dibersihkan dipermukaan, masuk kedlam tangki dan kembali ke pipa bor. Siklus ini dinamakan satu sirkulasi lumpur.

Namun mengingat panjangnya rute yang harus dilalui, misalnya 3000 meter, dengan lumpur yang berat maka dbutuhkan minimal tiga pompa lumpur yang khusus dengan tenaga kuda yang besar. Satu pompa lumpur digerakkan oleh 1500 kuda. Jadi kalau tiga pompa, jaman dulu orang harus menyediakan 4500 ekor hanya untuk urusan memompakan lumpur. Itulah sebabnya jaman dulu (jaman mesin uap) orang hanya berani mengebor di darat dan dikedalaman yang relatif dangkal.

Lalu siapa ahli-ahli lumpur yang disebut “dokter lumpur” ini. Rekan saya Herman Lantang, sekarang jajaran eksekutip perusahaan lumpur berasal dari fakultas Sastra(?). Seperti diketahui rekan ini yang mendampingi Soe Hok Gie saat kritis keracunan gas dalam sebuah pendakian gunung.

Anda dari jurusan mana saja, bisa menjadi dokter lumpur tanpa perlu stetoskop. Keren juga kok sebutan ini. Apalagi penghasilannya.

http://www.osha.gov/SLTC/etools/oilandgas/drilling/drilling_ahead.html

Terpaksa Hampir Malam di Bali


Yang membuat hati mongkok (menggelembung) ketika pesawat dari Perth bersiap mendarat ke Bali, adalah wajah para turis Australia semangkin (ng) cerah, Bali..Bali, Indonesia kata mereka. Saya membayangkan mereka pulang membawa kenang-kenangan kaos Bir Bintang. Ketika mereka sibuk menurunkan papan selancar dari tempat pengambilan bagasi, saya ngelonyor ke loket keberangkatan dalam negeri. Maklum masih menggembol tiket cadangan ke Jakarta.

Melihat panjangnya daftar penumpang cadangan GA 727, Denpassar – Jakarta. Harapan saya seperti melaporkan kehilangan HP ke kantor polisi. Kemungkinan berhasil keangkut cuma tersisa setipis pisau cukur. Untunglah petugas menerbitkan harapan “bapak sendirian?, tidak bawa bagasi?

Kontan saya jawab “Yes”, mau rasanya menyodokkan siku saya kebawah seperti yang diperlihatkan di filem olah raga. Paling korban sebuah pemotong kuku dibuang agar tidak mengalami hambatan di pemeriksaan barang kabin nantinya. Biar lebih “yes” lebih menggigit, saya keluarkan kartu Frequent Flyer.

Tapi peraturan yang berlaku, harus menunggu setengah jam sebelum waktu terbang tiba. Padahal itu berarti masih dua jam lagi.

Maka sasaran saya pertama adalah Kedai, nama sebuah restoran Indonesia dengan logo mirip rumah makan Padang Simpang Ampat.

Saya memesan Soto Betawi yang dihidangkan dengan piring melamin kotak, mirip gaya kedai masakan Jepang. Ruangan ber AC, dipenuhi para anak-anak muda dan orang tidak muda yang memiliki kesamaan yaitu Merdeka untuk Merokok ditempat tertutup. Merdeka untuk tidak perduli banyak anak-anak kecil dalam ruangan tersebut. Uhuk, saya terbatuk batuk [habis esmosi (s)]

Rasa masakan biasa-biasa saja. Wes Pokoke, Caputauw – lumayan, apalagi perut memang sudah lapar lagi. Lalu didepan saya ada loket penjual es. Saya pesan es Kacang Merah, rasanya lebih kacau beliung sebab kacang merah bantat yang terhidang.

Waktu mulai dipangkas dengan duduk manis membaca novel Messiah sampai selesai. Lalu saya tarik majalah. Ada artikel Kelapa Bakar membuat “greng”, sayang saya sudah kehilangan “krentek” untuk membacanya sebab ditengah semilir angin pantai dan seliwerannya para pelancong di Denpassar, saya sempat tertidur di kursi dan terbangun saat mencium harumnya kapucino. Lalu disebuah kafe, saya memesan minuman ini, yang dilayani oleh seorang mbak yang entah kenapa kalau berbicara desibel suara “cempreng” yang dihasilkan selalu mengingatkan pemain sinetron perempuan pesolek di Office Boy atau si kembar dalam Cinderella.

Tigapuluh menit menjelang keberangkatan pesawat saya temui petugas, bahu langsung terkulai dan kepala tertunduk, tempat penuh pak. Lalu saya mengotak atik maksud pertanyaan petugas “ bapak sendirian, tidak bawa bagasi,” mungkin maksudnya, ngapain eluh buru-buru pulang ke Jakarta. Sial bener.

Dan ini liburan panjang sehingga praktis penginapan papan atas, tengah, bawah di Bali ini penuh semua. Lalu saya lancarkan, rencana “B” – namun keponakan yang saya hubungi hanya menjawab “maaf pakde saya sedang jadi kumendan (u) pedang pora teman menikah, baru bebas jam 8 malam nanti.”

Terpaksa menunggu Hampir Malam di Bali…

Gulai Petai di Perth, Nyasar di toko Pinky


Selasa, 21-08-2007 14:43:31 oleh: Mimbar Saputro

Kadang rindu juga akan masakan Indonesia. Maka TKP di jalan Barrack, Perth menjadi sasaran utama. Dengan tajuk Indonesia Indah, House of Rendang, maka jangan buru-buru memerintahkan enzym dalam perut bahwa anda akan menemukan cita rasa bak Sari Bundo, Simpang Raya atau Sederhana, sebab bagaimanapun pemilik kedai harus menurunkan standar bumbu agar tidak terlalu “merendang banget” sehingga bisa dinikmati perut “Mat Sale” alias bule.Ketika arloji menunjukkan pukul sembilan belas malam, saya sudah berada di mulut pintu masuk. Karena letaknya di lantai dasar, diperlukan tangga untuk menuruninya.

Di ujung anak tangga terakhir, sensor elektronik meraba tubuh saya dan langsung berteriak nyaring sehingga seorang anak muda keluar dari dapur. Sambil celingukan. Lalu ia masuk kembali kembali bergumam “kok orangnya tidak ada?,” Padahal sosok setinggi 163cm bobot 82 kilo sudah berdiri “ngejogrok” didepan bufet masakan. Mengingat saya belum mendalami ilmu panghalimunan (menghilang), anak tangga saya lewati sekali lagi untuk membangunkan alarm, kali ini berhasil soalnya saya teriak dalam bahasa negeri “beliii ..”

Beberapa jenis masakan kelihatannya ludes, termasuk rendang. Yang tersisa adalah gulai daun singkong bertaburkan petai, capcai kampung, gulai otak kambing dan ayam pop. Saya pilih semuanya terutama daun singkong, lalu anak muda ini menawarkan “ada ati dan ampela ayam pak,” yang tentu saja tidak saya tolak kesempatan emas ini. Sebab di resto MatSaleh, mana ada ati ampela dan otak diperdagangkan untuk manusia.Maka sambil duduk dibawah songsong gaya Bali pandangan menebar suasana resto yang didekor oleh pajangan wayang kulit, wayang golek, lukisan gunung Merapi yang memang diusahakan mirip dengan suasana Indonesia. Saat itu saya satu-satunya pengunjung direstoran tersebut. Lalu dibelakang, terdengar CD diputar “Bersama Bintang,” mendayu-dayu dari Drive. Lho kok yang terbayang adalah Sinetron Cindy. Tontonan prioritas utama Sinetron yang para Kitchen Kabinet, nun 1600mil jauhnya.

Tiba-tiba saya seperti terlempar dalam kesendirian, sementara diluar sana kafe-kafe memperdengarkan kesibukan dan keriuhan seperti anak sekolah ditinggal guru rapat ke ruang kepsek.

Mohon maaf, kepingin melankolis.

Kedai ini letaknya di bawah jalan Barrack. Uniknya lantai pertama diisi oleh toko orang dewasa yang menjual pernik uborampe urusan selang [bla bla bla]. Dengan dekorasi bernuansa pink, ada logo hati, kadang siluet kepala bertanduk dan berbuntut tombak, maka kerapkali habis makan kuterus nyasar ke toko selang [bla..bla..bla] ini.

Kadung mengaku sering kesasar, harga sekeping cakram DVD minimal 60 dollar (hampir setengah juta rupiah). Tapi pesan sekarang, seminggu baru tersedia. Jadi sistem penjualannya mirip inden punya.

Ini kesasar atau kesasar?

Dessertarian


Pradep sehari-hari berprofesi sebagai “dokter lumpur” pada rig pengeboran ini termasuk pemangsa sayuran sedari kecil. Maklum didesa asalnya di Bombay mereka dilarang menyantap daging mahluk hidup. Namun susu dan telur diijinkan sebagai pengganti pasokan protein. Yang tidak nahanin, kadang dia kecomelan, “protein bisa diperoleh tanpa daging” – yang biasanya saya jawab enteng kalau makan protein dari tumbuhan saya cepat lapar. sementara susu kurang hopeng dengan perut saya.

Tanpa disangka di bawah tenda pada ketinggian 2600 meter di hutan liwang-liwung, Papua Niugini, dengan angin dan halimun dingin mengiris tulang, saya malahan di bombardir debat beliung soal pro dan kontra vegetarian.

Kecomelan yang lain dia heran melihat saya sehari-hari memakan talas, seperti cara makan sebagian orang Papua Niugini. “Heran kamu tidak makan nasi atau roti kalau sarapan.” Komentarnya.

Teman dari India memang sangat taat kalau sudah bicara mengenai makanan. Morali, misalnya, dengan lawe (benang) putih menyilang dari pundak kanan ke pinggang kiri. Setiap jam makan, dia hanya muncul sejenak di kantin. Wajahnya kusut seperti drill kurang dibesut. Kalau sudah begitu ia menuju tempat penyimpanan es krim sebab jenis itulah yang disantapnya sehari-hari dengan kacang-kacangan.

Sekali tempo saya tanya bukankan tersedia banyak sayuran yang bisa dimakan tanpa takut ada berbau daging. Alasan Morali sederhana. Ia kurang suka sayuran Australia alasannya tidak se nikmat sayur dari Bombay. Mungkin ia kangen negerinya atau sekedar menunjukkan kepatriotannya.

Akhirnya pemuda santun ini saya panggil “Icecreamtarian” pasalnya menjelang tidur, ia menggembol eskrim dalam gelas styrofom.

Ada lagi, Sandip. Dengan garpunya, ia cungkili setiap satu mili persegi piring mencari daging tersembunyi diantara sayuran.

Maka setiap makan selalu ada sisa cungkilan daging atau sayur yang tertuduh sebagai daging, berserakan dipiringnya. Kalau saja di sekitarnya tersedia suryokonto (kaca pembesar), dia tak akan segan mencari biang kerok bernama daging.

Namun dengan garam dapur, dia malahan terlalu intim. Bayangkan teh hangat, alih-alih diberi gula, ia malahan menuangkan garam. Tidak terkecuali makan daun salada, tomat, kubis, wortel. Sarapan paginya, yoghurt masam juga tak luput dari kecrotan garam. Maka Sandip saya panggil Saltarian.

Rupanya dia menunggu saat untuk membalas. Saat makan malam saya hanya mengambil Kue Pie, langsung dia menyerbu “dessertarian..” – padahal rencanaku setelah melahap kue lezat ini baru menyendok nasi dan daging.