Buku Harian (bekas) Peternak Gurami – Ikan Mas


Judulnya ikan Gurami mengapa yang diceritakan ikan mas. Menurut para penasihat dadakan, ikan gurami membutuhkan masa pelihara lebih panjang ketimbang ikan mas (tombro), jadi saat menunggu gurami besar dan siap panen, kami sudah bisa memanen ikan mas empat kali. Dari buku para ahli ikan mas, disebutkan bahwa dalam waktu 3 bulan ikan mas yang dipelihara secara intensive akan siap dipanen dan dijual ke pasaran. Lalu pendapat ini saya uji silang kepada teman-teman dikantor yang terlebih dahulu bergerak secara kelompok membesarkan ikan di di karamba (jaring terapung) di danau. Sambil memperlihatkan wajah penuh optimis mereka menambahkan “pokoknya tidak akan rugi, ikan berapa ton akan dilahap pasar..” – coba siapa yang tidak menabuh semangat empat lima kalau sudah begini.

Maka pulang kantor saya banyak berendam di kolam TKP Citayam. Membeli berkarung-karung pakan pabrik berupa butiran (pelet) di Parung, Bogor dan kolam ikan mas mulai dibombardir dengan pakan bermutu tinggi dengan harapan tiga bulan kemudian sudah bisa dipanen. Maksud bermutu tinggi didalam pakan paling tidak ada separuh kandungan protein untuk tumbuh kembang sang ikan.

Bulan pertama, catatan pengeluaran pembelian pakan, gaji pegawai, uang preman, uang pembangunan jalan, listrik jalana, masjid sudah mulai membengkak. Bulan kedua saya mulai memonitoring kartu tumbuh kembang para ikan. Maksudnya mengambil beberapa contoh secara acak lalu diukur panjang badan dari ujung kepala sampai ujungkaki. Darah mulai mengalir deras ke otak, sesuatu terjadi diluar rencana. Saya saksikan kecuali napsu makan yang tetap semangat, ikan tetap tidak banyak berubah.

Bulan ketiga kesabaran mencapai strip terendah. Kolam kami keringkan dan dihitung. Ternyata sinyalemen penduduk benar, selain ikan tetap kontet, jumlahnya tidak berbeda banyak dengan saat membeli kloter pertama. Jadi kemana jumlah ikan yang dimasukkan pada kloter kedua?.

Lalu saya panggil sang penasihat merangkap pemasok ikan yang nakal. Mereka berkelit, “dimangsa burung Pak,” seberapa banyak burung sampai ratusan ekor hilang. Ah, dia tidak kalah lidah “namanya ikan di air, nasibnya siapa tahu?.

Wah repot juga memiliki partner kalau sekedar mau mendapat keuntungan dengan sistem pukul sesaat begini. Apa mereka tidak memikirkan berbisnis lebih panjang lagi?. Karena jengkel ikan -ikan pygmi ini akhirnya saya berikan kepada teman yang hanya sekedar hobbi memelihara ikan untuk hobbi. Dua tahun kemudian saya berkunjung ke kolamnya, ternyata yang saya temui adalah ikan fitness saking langsingnya.

Pelajaran yang saya dapat adalah mendapatkan bibit ikan harus dari pemasok yang terpecaya sekalipun harganya sedikit mahal namun mutu terjamin. Kemudian, jangan membeli pakan pabrik di penjual sembarangan sebab anda akan mendapatkan kualitas pakan nomor dua yang rendah proteinnya dan berakibat ikan lambat tumbuh kembangnya. Saya juga baru tahu bahwa pakan palsu beredar dimana-mana.

Namun ada kejadian diluar “script.”

Pemasok yang nakal tadi tiba-tiba sakit konon sampai kesurupan. Ia mengoceh bahwa saat berdiri dikolam melihat orang berpakaian hitam-hitam pangsi Betawi yang menyuruhnya pergi. Sejak kejadian tersebut badannya meriang. Paranormal lokal yang mengobatinya menyarakan sisakit untuk menyembelih kambing dan membuat selamatan. Tetapi si sakit mencoba menimpakan problemnya ke pundakku. Saya hanya bilang, biar saja yang berpakaian hitam-hitam menemui saya, bisa lewat mimpi atau apa saja, nanti kami berdialog. (padahal merinding juga Bleh). Jangan-jangan si sakit merasa bersalah lalu stress.

Teror lain, Rocky sakit, katanya sekali lagi ada penunggu pohon karet dan minta korban. Ketika teror mistik belum berhasil, datang seorang aparat desa. Hobinya berbaju ala militer. Selalu mengaku dengan nama ala saudara kita di Sumatera Utara.

Dia memasuki pekarangan saya, lalu menebang pisang karena katanya dulu dia pernah menanam pisang disana, sebelum tanah tersebut kami miliki. Lalu saya tegur. Harusnya saya yang minta pajak kepada bapak, karena menanam pisang ditempat saya. Sehari-hari memang pekerjaannya menjadi timer di stasiun Citayam. Dia, sebut saja Tagor, tidak pernah muncul lagi namun pisang selalu lenyap pada malam harinya.

Merasa dipermainkan, akhirnya seluruh pohon pisang saya perintahkan untuk dibabat habis sampai ke akar-akarnya. Ternyata ketika kita menggeram dia keder juga. “Wah bapak tanpa kompromi, rupanya..

Kadang saya berfikir untuk apa semua yang saya lakukan ini. Tetapi ketika melihat ada beberapa keluarga menggantungkan hidup sekedar numpang makan kepada kami maka niat mundur dari usaha beternak saya tunda. Apalagi ini proses awal. Ibarat pertandingan bola baru babak penyisihan. Karyawan dan pemasok yang nakal satu persatu akan tersingkir nantinya. Semoga.

Advertisements

Helm


Tahun 1975-an saat mendapat kesempatan kerja praktek di Pertamina Wilayah Jawabarat, Cirebon saya berkesempatan menyaksikan sebuah operasi yang dinamakan penyemenan. Yang kira-kira mirip mengelem pipa besi dengan lubang bor yang tanah agar kedudukan casing tidak mudah goyah dan bocor. Semen yang dipakai disini agak khusus karena harus mampu bertahan pada temperatur bumi yang panas. Yang dipompakan hanyalah campuran semen air dan beberapa bahan kimia dan tidak ada campuran pasirnya sehingga asli bubur semen encer berwarna keabu-abuan. Dengan campuran bahan kimia, semen bisa mengeras setelah tiga jam
Truk-truk bercat jingga, berupa mesin pengaduk semen beserta pompa pendorong bubur semen bertekanan tinggi sudah siaga dengan pipa-pipa panjang berdiameter tiga inci melintang disana sini bak tentakel raksasa.

Pekerjaan ini beresiko, sebab kalau terjadi gangguan operasi, bisa-bisa semen mengeras didalam pipa-pipa saluran dan biaya operasi akan membengkak.

Hari masih belum beranjak dari pukul sembilan pagi saat operator Cement berdiri dengan seragam jingga dan menggunakan baju kerja coverall serta topi proyek yang terbuat dari aluminium berkilat diterpa sinar pagi. Hari itu ia menjadi selebriti sesaat di panggung kecil lokasi pengeboran. Semua mata bergantung pada keahliannya.

Saat mesin sudah meraung, perseneling masuk untuk melakukan persiapan menyemen yang disebut uji tekanan (pressure test), biasanya dipompakan air terlebih dahulu dengan tekanan tinggi untuk barang seperempat jam lalu mesin dimatikan dan tekanan tetap dipertahankan sambil dimonitoring dari waktu ke waktu. Saat pipa bergetar lantaran menahan tekanan tinggi mulai terdengar nyanyian khas pengeboran. Pipa-pipa ini saling bersenandung mirip suara ring seker motor yang oversize. Namun kami harus menjauhi tempat tersebut sebab senandung tersebut tidak jarang berakibat maut bila ada salah satu sambungan pecah ataupun putus.

Tetapi nampaknya operasi tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Beberapa kali “uji tekan” dilakukan dengan tekanan 1500 psi (10atmosfir), pipa masih bocor dan celakanya lokasi kebocoran sulit diatasi sehingga operasi penyemenan belum bisa dilakukan.

Saat itu pak Isak seperti kesurupan jin iprit dari pohon aren dibelakang truk. Diatas panggung truk, ia menyumpah-nyumpah dalam bahasa Inggris yang belum saya mengerti maksudnya saat itu. Klimaknya helm aluminium dibantingnya keras-keras lalu helm menggelinding dari ketinggian satu meter lalu jatuh tertelentang tak berdaya. Jelas helm malang ini makin bertambah penyoknya. Pak Isak lalu turun dari truk dan mengenakan helm kembali. Ajaib ia nampaknya mengalami helmgasmic, terbukti wajahnya cerah kembali setelah meluapkan kejengkelannya entah pada siapa.

Saya melihat episode singkat dari kejauhan, sempat sekok (shock), maklum seumur-umur belum pernah melihat kejadian banting helm. Akibatnya suara aluminium beradu dengan besi baja, dan kilatan balik pak Isak mengamuk masih segar dalam ingatan saya. sampai sekarang, sepertinya kok gagah betul..

Saat itu pemakaian topi pengaman berupa aluminium masih dibenarkan. Celakanya para mandor pengeboran berlomba-lomba membawa helm mereka ke Tjokrosuharto – Yogyakarta untuk diukir oleh para pande perak disana, padahal memodifikasi peralatan keselamatan hukumnya haram.

Namun setelah beberapa kecelakaan akibat listrik yang menjalar melalui helm baja, pemakaian tersebut dihentikan. Jadi saya agak heran ketika bapak Presiden kita masih sambil tertawa mencoba menggunakan helm logam pada sebuah peresmian proyek. Dan ini disorot kamera dunia. Duh…

Ternyata helm yang terbuat dari plastik memiliki masa pakai. Biasanya hanya 3 tahun setelah masa produksi (tertera pada sertifikat atau label), maka helm dan jaring didalamnya wajib diganti. Apalagi kalau helm mengalami modifikasi seperti di cat, diukir, dilubangi. Praktis kekuatannya berkurang. Menurut para ahli, ada retakan mikro dalam helm plastik yang menyebabkan mampu menghantarkan listrik. Lagian helm kalau sudah lebih 3 tahun wajahnya sudah babak bundas (babak belur).

Pertanyaannya mengapa dunia pertambangan termasuk perminyakan sangat ketat diberlakukan peraturan keselamatan. Faktanya kecelakaan fatal terjadi hampir lima kali lipat dibanding kecelakaan lalu lintas di Australia. Selama ini orang berpendapat bahwa kecelakaan lalu lintas memegang porsi terbanyak dalam mencabut nyawa manusia, ternyata masih belum seperlimanya dibanding kejadian di industri perminyakan.

Lalu iseng saya melihat helm saya yang dulu di toko khusus hardware Jakarta. Jenis TuffMaster III buatan Australia ini dibuat pada 1995 padahal saya beli pada tahun 2004. Kalau terjadi kecelakaan berkaitan dengan helm, bisa saja pihak asuransi berkelit tidak membayar santunan dengan alasan helm saya tidak laik pakai lagi.

Jadi bukan susu kemasan saja yang memiliki tanggal kadaluwarsa.

Menjual EsKrim kepada Eskimo


Niat ingsun, dalam hati bergabung dengan Jurnalistik Publik di Wikimu.Com adalah untuk meluruskan teknik menulis agar tidak mencang mencong seperti yang saya alami selama ini.

Maka terasa aneh ketika pengurus Wikimu meminta saya menjadi pembicara untuk berkisah mengenai bagaimana saya menulis di Wikimu selama ini. Padahal anggota wikimu yang aktip umumnya profesional yang memang pekerjaannya tidak jauh dari kegiatan menulis. Sebut saja wartawan TV, Tabloid, Koran, Majalah Otomotif yang notabene dari merekalah saya menggali atau istilahnya meniru, mengklipping penggalan kalimat yang mereka gunakan untuk menjadi perbendaharaan saya sendiri.

Tapi mungkin unik, kalau seseorang awam, yang sehari berkecimpung dalam dalam dunia industri pengeboran minyak lalu berbicara soal olah menulis mirip halnya dengan mendongeng dinginnya eskrim didepan orang Eskimo. Inilah sejarah hidup seseorang, kadang kita tidak bisa meramal apa yang akan terjadi. Maka, serentak mendapat order mendongeng, saya mempercepat perjalanan saya dari Jakarta ke Yogyakarta dan kembali sehari sebelum hari “h” yang dinantikan. Lantas saya membayangkan puluhan tahun lalu bagaimana antusiasnya saya mendengar ceramah dari Ashadi Siregar, atau Wonohito dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogya yang selalu menggunakan samaran Tjiptoning. Setiap kalimat Ashadi dan Wonohito seperti selalu terngiang ditelinga. Ashadi menyebut penulis harus menyetel rasa pekanya lebih tajam, Wonohito menyebut kalau mengerti tulisanmu, artinya tulisan tersebut sudah siap terbit.

Sebagai persiapan saya menulis makalah singkat terutama bagaimana saya selama ini menulis, maklum kalau sudah bicara saya cenderung keluar garis patok. Lantas saya cari cara yang tidak umum. Misalnya selalu orang berpendapat bahwa menulis selembar memerlukan bahwa membaca paling tidak sepuluh lembar. Saya akan menyebut, itu tidak perlu. Cukup dengarkan “buser,” sinetron, dan baca Poskota sudah cukup menulis sebuah artikel.

Hari yang dinanti datang. Giliran saya menjadi pembicara pertama. Lalu saya menjelaskan bahwa dalam usia sudah diatas setengah baya ini seseorang harus melatih otaknya. Misalnya berbahasa asing, yang sepatah katapun tidak tahu artinya atau cara mengucapkannya. Namun saya melatih mengingat masa lalu, melatih menulis buku harian secara berlaku mundur, dan menuangkannya dalam tulisan di blogger atau Wikimu. Yang saya tidak sangka, beberapa diantaranya menggemari tulisan saya yang jauh dari kesan serius.

Lalu bagaimana dengan mengolah kata, sampai kadang ada kata-kata yang baru tercipta. Padahal kata-kata ini sudah saya dapatkan dari majalah misalnya Tempo, Gatra, Kontan yang memang piawai memilin sebuah kalimat. Lalu saya menyebut bahwa ketika menulis, tidak pernah terlintas mau diapakan tulisan ini. Pokok menulis. Untuk mendasarkan kekuatan menulis saya ambil Ade Rai yang saat ia berlatih angkat beban, tidak pernah terpikirkan olehnya akan dijadikan apa bentuk tubuhnya kelak. Kadang Adepun bosan dengan repetisi angkat beban yang itu-itu saja, selain menyakitkan tentunya. Seperti kita ketahui, sekarang, Ade Rai terkenal karena berubah menjadi pria yang tubuhnya dipuja banyak orang.

Tapi. Kalau mengingat bahwa didepan saya berbicara adalah para wartawan muda yang penuh semangat, cerdas dan lebih berpendidikan, kadang saya geli sendiri. Seperti menjual eskrim kepada orang Eskimo. Jadi harus pandai-pandainya kita menguntai pembicaraan. Tepat seperti slogan Wikimu, yang penting bisa-bisanya kita….

Memindahkan Taman Sriwedari


Beberapa hari ini putri Citradewi sang pengantin baru sering nampak murung di istana Maespati. Para dayang dan emban menjadi berduka lantaran nasi liwet Solo dengan areh ayam tidak disenggolnya. Dipesankan Wedang Ronde dengan butiran beras ketan isi kacang ijo, juga ditampiknya. Mau dibilang hamil, lha wong baru kawin belum genap sebulan, emangnya selebrities kita , yang berani sumpah tetapi ditanggung hamil duluan. Apalagi tadi pagi mbok emban masih menemukan potongan plester Body Charm dalam keranjang sampah tuan puterinya.

Selidik punya usut rupanya Citradewi kangen dengan keadaan Taman Sriwedari di kerajaan Magada tumpah darahnya. Padahal gazebo taman sering bau pesing lantaran orang istana lebih suka menuruti guru “animal instinct” kencing berdiri “kealingan” dibalik tembok atau dibawah pohon rindang, ketimbang mendatangi toilet yang sudah dijaga para janitor sambil mengharap “uang kecil”. Masih bagus kencing tidak sampai menekuk lutut dan mengangkat sebelah kaki. Konon hanya berseni dengan cara demikian mereka mendapatkan sensasi “merinding” usai berhajat “hiiih”.

Begitu kerasnya rasa rindu Citrawati, sampai rela berdesakan pakai minibis tanpa AC tidak mengapa, yang baku bisa mudik. Apalagi sang istri mulai mengisi kopor dengan pakaian, sepatu, dan tas bekas. Untuk oleh-oleh paklik, buklik, pakde, bude, di kampung, demikian alasannya.

Ternyata alasan mudik belum harga mati, Citrawati setuju untuk tetap tinggal di Maespati dengan syarat taman Sriwedari dari tanah leluhurnya Magada harus dipindahkan ke Maespati, termasuk media tanaman pot Adenium yang barusan diganti “cocopeat“nya sebulan lalu.

Begitu sabda pandita ratu di dengungkan, apapun yang terjadi perintah raja harus dilakukan dan yang ketiban pulung berupa SPK alias Surat Perintah Kerja adalah Bambang Sumantri.

Sumantri, sekalipun sakti, namun kalau soal “jebol taman” terang dia bakalan jeblok. Seumur-umur, memelihara tanaman pot saja ia bermodalkan jari tangannya alias cuma tunjuk sana sini. Soal mengelap dedaunan pakai minyak ikan, mencari kutu daun, mengganti media tanaman, semua “pasrah bongkok” diserahkan kepada pak Bon.

Karena sudah judeg alias bingung mencari kontraktor pindahan yang ternyata tak seorangpun sanggup mengerjakan “bestek” lelang yang diminta, maka pulanglah ia ke pertapaannya. Inilah asal usul mengapa sebagian penduduk pulau Jawa diberi nama dengan Bambang, konon sebagai jati diri berasal dari pertapaan di lembah gunung a.k.a cara urbanisasi model wayang.

Saat duduk di teras depan sambil memegang dengkul merenung rupanya tingkah lakunya diamati sang adik, Sukrasana. Bila ada istilah pinang dibelah dua, maka Sukrasana kebagian pinang diinjak gajah. Wajahnya raksasa, namun badannya kerdil, jadi kurang “match”. Iapun agak “ahterlek”sehingga oleh resi Bragawa karena karena begitu kasihnya Sukrasanapun diberi kesaktian yang tidak dimiliki oleh Sumantri kakaknya maksudnya sebagai bekal hidupnya kelak.

Ternyata dewa penyelamat masih dipihak Sumantri. Sukrasana menyatakan memiliki kemampuan memindahkan taman, asalkan bisa ikutan menjadi Yuppi di kota. Perjalanan memindahkan Taman sebetulnya tergolong cepat, hanya dalam perjalanan menemui hambatan beberapa warga nelayan memiliki karakter menngebutkan serok (jala kecil) untuk menangkap ikan di tengah jalan raya beraspal dengan menaruh tong-tong dan barikade lainnya yang memaksa kendaraan harus ganti perseneling rendah (sambil mengumpat). Sulitnya karena terbiasa diberi ikan bukannya kail, maka jumlah nelayan kian hari makin membengkak.

Citrawati bersorak dengan gembira melihat tanaman kesayangannya bisa berada didekatnya kembali. Namun saat ia menikmati keindahan tersebut, tiba-tiba ia menjerit “sekuriti sekuriti,” lantaran didalam taman ditemukan raksasa kerdil, ya Sukrasana, tadi. Namun satpam istana bahkan para bala tentara bukan tandingan Sukrasana yang memiliki kulit “ora tedas tapak palune pande” alias tidak mempan senjata buatan para pande besi.

Sumantri langsung membujuk adiknya untuk segera meninggalkan taman. Namun Sukrasana adalah manusia lugu. Ia hanya berpegang kepada janji kakaknya bahwa bila tugasnya berhasil akan diajak melihat istana Maespati ketika kakaknya mengingkari janji, ia “mbegegek” mogok ngegelosor di tanah sambil menangis gegaokan.

Aku bukan mau bikin isu separatisme kakang, cuma sekedar menagih janji, setelah semua pengorbanan yang aku berikan,” kata Sukrasana.

Sumantri ingat, masa kecil dulu, kalau Sukrasana nakal, lantas ditakut-takuti akan disunat dengan ujung panah yang lancip, biasanya ia akan ketakutan. Bahkan dengan isyarat menengadahkan tangan kiri keatas lalu menggesekkan sisi tangan kanan berulang-ulang diatas telapak tangan kiri, Sukrasana sudah lari pontang panting.

Lantas resep lama dicobakannya, dengan menarik anak panahnya. Sayang takdir berkata lain “ada setan liwat” panahpun melesat menancap di jantung Sukrasana. Ini anak panah jenis bor beton, begitu masuk ke dada belum berhenti menusuk sampai tembus ke belakang.

Sebelum menemui ajal, Sukrasana sempat berpesan bahwa kelak, kematian Sumantri akan ditunggui oleh Sukrasana di alam sana. Juga dia berpesan bahwa nama Sriwedari, kalau digunakan sebagai nama taman oleh kerajaan Antah Berantah dikemudian hari, bakalan tidak terurus dan tempat judi dan mesum lainnya.

Gara-gara Meremehkan Catatan


Padahal saya selalu mengatakan kepada diri sendiri dan kerabat bahwa “fardhu” hukumnya untuk mencatat lokasi, lantai tempat kita meninggalkan kendaraan yang diparkir. Cukup dengan menulis dibelakang karcis parkir, beres. Tetapi lama kelamaan ada suara kecil yang bernegosiasi, kira-kira bunyinya demikian “apa susahnya mencari mobil kijang warnanya perak?, pakai repot mencatat, apalagi ada alarm untuk mencari kendaraan. Tinggal dipencet, Kijang langsung berteriak.” Ditambah lagi, karcis parkir yang saya peroleh kali ini berupa kartu berlaminasi plastik tebal tak mungkin untuk ditulisi maka lengkap alasan untuk melanggar pakem.

Gangguan ingatan mulai terasa ketika menanyakan kepada pihak sekurity mengenai kegiatan dari Wikimu.com di Kolam Renang Apartemen Pavilion, mereka langsung mahfum dengan mengatakan “betul, ada acara ulang tahun disana, sudah diset untuk jam 15:00.” – msempat terbersit, lho kok acara ulang tahun?.

Lalu setelah mendapatkan ruang parkir dengan pikiran sedikit senewen sampai juga saya di kolam renang dan tiba-tiba saja sudah bergabung dengan ibu-ibu yang rata-rata berhijab. Saat menanyakan soal Wikimu, sorot mata menerpa bak melihat mahluk luar angkasa mengenakan sarung.

Seperti tak perlu menjawab, seorang ibu melontarkan pandangan ke aula, yang diisi oleh puluhan balon dan anak-anak kecil. Jelas bukan acara Wikimu.com.

Ya sudah, langsung lokasi parkir yang saya ingat sebagai “LG9” yang tadinya dihapal sebagai merek TV dengan nomor Hoki (9), meloncat secara acak menjadi “UG12” dan sederet kemungkinan lokasi parkir lainnya.

Kegalauan lokasi parkir sempat terhapus sejenak setelah bersama para pengurus Wikimu.com repot memindahkan lokasi berkumpul sebab menurut sumber dipercaya, ada empat event “tumplek-blek” di tempat yang sama. Kalau pembuat warta, hal ini menjadi bahan cerita tersendiri yang jangan dilewatkan.

Begitu acara pertemuan Wikimu.com selesai, setelah pamitan kepada pengurus, diluar ruangan saya mulai menerapkan aji-aji “merpati putih mencari sarang..” – apalagi merasa “ada darah Geologi” – soal peta-memeta sih kecil (sambil menunjukkan jari kelingking.)

Kenyataan, berbunyi lain.

Saat mendatangi lokasi berdasarkan “perasaan tadi diparkir disini” yang ternyata sudah diisi mobil “magrong-magrong” besar berwarna hitam dan mewah. Suara kecil malahan ikut menyalahkan “lho kok bisa? coba tadi dicatat di HP, kan tidak berabe seperti sekarang? Beygon luh!”

Dan… eng..eng..eng genderang irama panik mulai ditabuh mengiringi langkah SAR.

Satu pelataran saya putari (perasaan), ketemu pak Gani sang CEO Wikimu, dan beberapa militan Wikimu. Saya mulai curiga, jangan-jangan ada Sukrasana si raksasa buruk rupa tapi baik hati yang atas permintaan kakaknya mampu memindahkan Taman Maerakaca dalam kedipan mata. Celakanya sudah berkedip berkali-kali, mobil masih belum ketemu.

Lalu mulailah episode full keringat, berjalan kesana kemari pindah ke lantai lain sambil tak lupa klik klik alarm. Untung saya jauh dari jaman Nabi Ibrahim (Abraham), untuk mengingat bagaimana penderitaan istri Ibrahim mencari air di padang pasir.

Sampai akhirnya datang dewa penolong Umar dari Tabloid Kontan yang menawarkan diri dengan Bebek mengejar Kijang. Rupanya serombongan sekuriti menjadi curiga dan menyetop motor. Saya pikir setelah di beritahu persoalannya mereka akan ikutan membantu. Namun sepertinya saya menscanning hurup EGP dalam balon yang keluar diatas ubun-ubunnya. Emang Gue Pikirin.

Akhirnya memang kami menemukan lokasi blank spot. Terang saja sekalipun kunci alarm dicetat cetet sampai ambeyen bakalan “mejen” sebab memang lokasi ini agak tersembunyi.
Sekali lagi saya menghaturkan terimakasih kepada mas Umar yang sempat menilpun rekanitanya untuk menunggu menonton di Senayan. Dan sori berat kepada mbak Astuti juga dari Kontan yang terpaksa pulang sendirian.

Kali ini Tambur ditabuh riang … iramanya eng ing eng…

Seperti diketahui wikimu.com adalah kelompok penulis amatir dan profesional atau peminat dunia tulis menulis untuk “arisan” tulisan disini. Secara berkala kami berkumpul, sharing pengalaman, tukar menukar ilmu menulis dan semua itu tanpa biaya.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 – TEXT PLEASE

Catatan mbak UkirSari wartawati Otomotif ttg saya?


Gathering Wikimu: Perkenalken …. ini Pak Mimbar

Senin, 16-07-2007 16:55:25 oleh: ukirsari Kanal: Opini

Jreng! Akhirnya kesampaian juga niatan saya untuk bisa hadir dalam gathering Wikimu yang ‘iming-imingnya’ adalah menampilkan Pak Mimbar Saputro sebagai salah satu pembicara. Jujur saja, beliau adalah penulis favorit saya dalam komunitas citizen journalism yang berbasis di Jakarta ini.

Setelah hampir seharian sibuk melakukan fitting bersama rekan tersayang Nawita -sebuah ‘kemewahan’ bagi saya pribadi, karena akhir pekan biasanya tak banyak beda dengan hari-hari kerja saya: memanggul kamera video sekitar 2,5 kg dan mengantongi handy-talkie serta mondar-mandir di lokasi shooting mulai pukul 09.00 – 16.00 wib- toh tampilan akhirnya jatuh ke situ-situ juga. Celana cargo, tee-shirt, sepatu keds dan tas cangklong. Nawita kurang lebih senada, cuma pastinya lebih chic 😉

Dan oh la la … di medan pertemuan yang berlokasi di lobby Apartment Pavillion, pandangan kami langsung tertuju pada sosok mantap punya. Ibarat robot di film-film, mata kami yang berubah jadi mata kamera langsung ‘wuuuut …. wuuuuut’ menangkap objek ini. Bapak Mimbar Saputro tampil dengan kemeja batik hitam berornamen burung merak keemasan, dipadu celana pantalon hitam dan sneakers hitam pula. Sebuah padu padan yang mengundang kami ber tsk … tsk sampai 8 kali! Dilanjutkan saling berkomentar, “Waduh, lain kali kalau fitting kita mesti serius, nih! Ternyata kita kurang rapi-jali.”

Tapi sebuah sumber terpercaya membesarkan hati. Katanya, “Pak Mimbar tadinya juga mau tampil non formal. Namun karena kapasitasnya sebagai salah satu pembicara, maka istri tercintanya mengangsurkan baju batik itu!” Sementara yang bersangkutan sendiri saat menjabat tangan kami dengan ramah, sempat berceletuk, “Tadi saya sempat nyasar masuk ke acara ulang tahun orang yang berlangsung di gedung ini, lho!” Belum sempat dijelaskan, apakah nyasarnya beliau diakibatkan karena penampilannya itu hingga resepsionis gedung menunjukkan arah yang salah.

Patut diacungi jempol adalah saat pria yang berprofesi sebagai ‘tukang bor’ ini tampil sebagai pembicara: bagaimana cara menulis dan mengendapkan ide agar menjadi tulisan semakin bermutu -bukan menjadi tape seperti candaan Pak Bertold. Suasana makin gayeng, saat topik sampai pada ‘kekayaan’ beliau dalam menampilkan kosakata yang unik dan [sekalipun] saru jadi lucu seperti NgNgtR alias ngeres-ngeres tapi resep, dengus asmarawati atau olah asmara.

Pemicunya bisa didapat dari kliping. Cerita Pak Mimbar, setiap kali mendapatkan kosakata unik dari suratkabar, artikelnya akan digunting dan dijadikan kliping.

Masih menurut beliau, menulis sesuatu yang serius bukan berarti harus membuat kening si pembaca berkerut lalu berkomentar, ‘Iki opo tho karepe?’ [bigimane sih maksutnye?]. Namun membuat sajian [tulisan] enak dinikmati dan mudah diikuti lebih penting. Contohnya menggabungkan gaya berkisah bak program televisi Silet campur Buser. Juga tidak tertutup kemungkinan menulis dengan menggunakan logika terbalik.

Selain berbagi pengalaman seputar dunia tulis-menulis yang dilakukan beberapa rekan, di pertengahan acara Gathering Wikimu, redaksi http://www.wikimu.com/ juga membagikan kenang-kenangan kepada para anggota favorit. Yang perhitungannya dilakukan per bulan.
Bisa ditebak, ‘Bapak Favorit’ saya yang punya banyak pengalaman menulis di berbagai media cetak Tanah Air serta lingkup kantornya itu mendapatkan bingkisan paling banyak.

Mulai kado dimensi besar sampai kecil berhasil disabet Pak Mimbar. Frekuensi maju ke depannya pun otomatis paling banyak. Saat saya berkomentar, “Aduh Pak, bagaimana membawa kadonya nanti?!”

Dengan sigap Pak Mimbar menjawab, “Jangan kuatir, saya sudah merasa [bakal dapat banyak. Ceileeee ….]. Karena itu saya sengaja bawa ransel dari rumah!”

Nah, backpack merah inilah, jadi satu-satunya barang di tubuh Pak Mimbar yang tidak matching dengan properti baju batik dan aksesoris lainnya. Tapi tentunya sangat berdayaguna lho!

Seluruh peserta pun ‘larut’ dalam kebersamaan makan bersama, diseling ngobrol sana-sini, sampai tiba saatnya beberapa saling berpamitan. Baru dilanjutkan dengan acara foto bersama minta bantuan Hoshino Keciichiro, jurnalis asal Jepang dari Jakarta Shimbun yang kabarnya akan mewartakan gathering ini.

Sayangnya, Pak Mimbar tidak sempat berpartisipasi dalam acara pamungkas jeprat-jepret itu. Pasalnya beliau sudah pamit duluan dan ke tempat parkir di basement. Lagi-lagi sebuah sumber terpercaya memberi info, “Padahal, kalau kalian mau mencari beliau ke tempat parkir, pasti ketemu! Pasalnya, kami tadi jumpa beliau sibuk memencet-mencet kunci untuk mendeteksi mobilnya parkir di mana!”

Lha, rak tenan tho …. siang ini saya sudah menjumpai komentar Pak Mimbar sendiri ihwal ‘petualangan’ nya di area par kir. Dikutip langsung di bawah komentar Beranda foto saudara Bajoe: Aku memerlukan waktu 60 menit mencari dimana kendaraan di parkir. Tidak mencatat posisi parkir (padahal kalau di mall selalu menulis posisi di belakang kertas parkir), padahal baru pertama kali ke apartemen Pavillion.

Untung ada wartawan KONTAN yang memboncengkan saya meneliti satu persatu mobil warna Silver. Akhirnya ketemu.

Wheladalah!

catatan: foto-foto sumbangan dari mas administrator. matur nuwun!

Kutipan dari Kumpul Jurnalis Citizen


Seru! (Gathering Wikimu Jakarta)
Senin, 16-07-2007 17:58:53 oleh: bajoe Kanal: Peristiwa

Gathering wikimu di Jakarta kemarin Sabtu 14 Juli, sangat seru! Buat yang tidak bisa hadir, ini sekelumit kisahnya :

Pukul 14.45 WIB, aku dan Melani sampai di Apartemen Pavilion. Sudah nampak Pak Mimbar dan Retty di situ. Aduh, panitianya ketinggalan ;). Memang Pak Mimbar ini terkenal tepat waktu. Sejak berangkat dari rumah, selalu diperhitungkan soal waktu tempuh dan kemacetan, supaya tidak terlambat di acara.

Tempat gathering mesti berpindah dari pool side ke ruang tamu di tower 3. Pindahnya lokasi ini, karena ada kekeliruan administrasi dari pihak pengelola. Ok deh, yang penting gathering ini jalan terus.

Satu per satu anggota wikimu datang. Mulai dari Pak Mimbar, Pak Berthold, Retty, Melani, Gus Wai, Suri, Ukirsari, Nawita, Pak Andreas, Pak Adri, Umar, Dian Astuti lalu ada Raymond dan Hoshino Keciichiro dari Jakarta Shimbun yang pengen nulis soal wikimu. Acara pun dimulai pukul 16.00 WIB (terlambat satu jam. Semoga berikutnya tidak terlambat ya). Di tengah sessi, menyusul kloter berikutnya yaitu Riswanti, Deriz,Wisnu dan Norman. Kloter paling akhir yang datang adalah Ruth (Uthe), Dina dan Eryawan.

Bincang-bicang dimulai oleh Pak Mimbar. Waduh, ternyata Pakde satu ini tidak sesangar penampilannya 🙂 Ceritanya sangat inspiratif dan penuh dengan kekocakan. Beliau ini rajin menulis karena terinspirasi oleh banyak tokoh. Mulai dari Putu Wijaya yang penyair, Ashadi Siregar yang dosen komunikasi di UGM, Pramoedya sastrawan kondang itu sampai kisah si Ade Rai, binaragawan Indonesia.

Aku cuplikan satu kisah Ade Rai yang menginspirasi Pak Mimbar. Ade Rai itu dulunya pegawai (bank – kalau tidak salah) yang kerjaannya tukang angkat-angkat. Karena saban hari angkat-angkat barang, maka tubuhnya pun berotot. Baru kemudian dia berpikir untuk menjadi binaragawan. Dari kisah ini, Pak Mimbar belajar bahwa menulis adalah kegiatan yang mesti terus menerus diupayakan.

Pak Mimbar sendiri mengaku adalah seorang kolektor kata-kata. Dia sering menggunting koran, majalah atau media lain, terutama bila ada kata-kata menarik.

Dalam menemukan ide tulisan, menurutnya mengalir saja. Mulai dari yang dilihat, didengar, dirasakan. Misalnya sedang di jalan tol dan menemukan ide, maka buru-buru ide itu dia tuliskan di belakang karcis tol. Mungkin hanya satu dua kata saja, kata kunci. Nanti di rumah dipindahkan dalam komputer.

Kadang sebuah ide tidak selalu mesti jadi tulisan. Pak Mimbar selalu menyimpan ide-ide itu walau hanya satu dua kalimat. Suri bertanya,” Pak, kalau disimpan begitu, nanti kalau pas buka lagi, apa tidak lupa lagi ide awalnya?” . Dan Pak Mimbar menjawab,”Tidak apa-apa. Itu kayak fermentasi, makin lama jadi anggur.” Menurutnya, sebuah ide kalau dibuka kembali, maka kita akan teringat kembali. Meskipun nanti bisa tambah banyak idenya. “Pokoknya tulis aja semua,”resep jitu dari Pak Mimbar. Baru setelah semua habis ditulis, nanti baru diedit kembali.

Pengalaman Retty lain lagi. Sejak kecil dia senang menulis. Beberapa kali menulis cerita maupun artikel , namun ditolak di banyak media. Dia sempat frustasi sehingga berhenti menulis.
Namun karena pertemuan dan motivasi beberapa teman, maka dia menulis kembali. Awalnya di wikimu.com. Setelah aktif menulis di wikimu, dia mencoba lagi mengirim artikel ke beberapa media. Memang sempat ditolak-tolak juga oleh beberapa media. Namun akhirnya dia berhasil juga memasukkan artikel di Point, Kompas, Jakarta Post.

Menurut Pak Berthold yang berpengalaman menjadi redaktur opini di Suara Pembaruan, ada tipnya bila mengirim artikel ke media cetak. Umumnya redaktur menyeleksi sebuah artikel, dengan pengamatan cepat, yaitu melihat pada judul, paragraf pertama dan paragraf terakhir. Kalau paragraf pertama saja sudah tidak “nendang”, maka alamat masuk folder trash di komputer redaktur media umum.

Sebenarnya ini mirip juga di wikimu. Tentu jarang sekali sebuah artikel ditolak oleh editor. Tetapi kalau kita menuliskan judul dengan menarik, lalu paragraf pertama atau ringkasan dengan aduhai, maka pasti akan banyak yang membaca.

Ukirsari punya motivasi lain saat menulis di wikimu. Sehari-hari dunia kerja beliau ini (biar agak tersanjung – dipanggil beliau) adalah dunia jurnalistik otomotif. Karirnya adalah wartawan cetak dan sekarang menjadi wartawan televisi. Tulisannya tidak jauh-jauh dari ban, oli, shockbekker, mobil, dll.

“Saya kemudian memutuskan di luar waktu kerja, saya melakukan traveling,”kata perempuan aseli Suroboyo ini. Perjalanannya traveling dengan ransel (backpacker) inilah kemudian dia tuliskan di banyak media, salah satunya di wikimu. Dia senang membagikan pengalaman, agar orang bisa saja melakukan traveling backpacker dan mendapat pengalaman lebih.

Beberapa rekan lain juga ikutan nimbrung berbagi pengalaman dalam menulis. Motivasinya macam-macam, mulai soal honor sampai ingin mengasah kemampuan bahasa Inggris. Apapun motivasi seseorang, yang penting jangan sampai niat kita menulis terhenti karena apapun.

Semangat yang ditularkan Pak Mimbar, Ukirsari, Retty, lalu juga di gathering ini ada Pak Berthold yang konsisten selalu menulis tentang pramuka dan filateli, Wisnu yang banyak mengangkat soal konsumen, Suri yang mengangkat masalah rakyat kecil, Ruth (Uthe) yang jadi pengamat perempuan dan sinetron, Teguh yang hobi nulis sepakbola dan rekan-rekan lain yang terlalu panjang kalau disebutkan , sangat membantu – paling tidak diriku – untuk terus menulis.
Seperti kata Pramoedya yang diangkat Pak Mimbar, yang kira-kira demikian : “Orang pandai bila tidak menulis maka akan percuma, karena kepandaiannya akan ikut dibawa mati.” Lalu kalimatnya aku teruskan begini : “Lha aku saja tidak pandai, kalau tidak terus menulis dari sekarang, apa lagi yang bisa kutinggalkan?” 🙂