Rabat


Adik-adik perempuan saya memang pemburu pameran dan diskon, telinga, mata dan tentu saja kaki mereka seperti melayang apabila mendengar kata mujarab “potongan harga,” “kesempatan terbatas,” – menghemat uang tak seberapa, menggenjot waktu berjam-jam bagi mereka adalah hiburan tersendiri. Kadang kami diuntungkan dengan para FBI perdiskonan ini.

Berbeda dengan saya, justru sama sekali kehilangan gairah untuk mendatangi keramaian semacam itu sebab kata-kata keramat “diskon, korting, rabat” yang dimuat dalam koran, atau media elektronik lainnya kenyataannya sering berlawanan saat transaksi benar-benar akan dilakukan.

Masih segar dalam ingatan saat badan masih membujur tidur, saya sudah dikejutkan ledakan suara, ada TV 20 inci dijual cuma 250ribu rupiah. Mumpung hari pertama, mumpung persediaan masih cukup. Pendeknya segala aji mumpung dilantunkan disini.

Akhirnya dengan perasaan malas namun tetap ada setitik harapan, kami menuju Senayan, untuk dikecewakan bahwa lagi-lagi barang tersebut sudah “habis-stok-terbatas.”

Sebagai pengobat rasa kecewa gagal mendapatkan TV 20 inci kami mencoba mengangkut TV yang lebih besar lagi karena cuma itu yang tersisa.

Kali ini saya harus kecewa lagi sebab Kartu Kredit, Kartu Belanja yang saya miliki tidak berlaku. Semua transaksi harus kontan.

Sejak itu, saya deklarasikan “putus-tus” terhadap iming-iming diskonto, rabat, korting, potongan harga. Lebih baik beli sedikit mahal tetapi tidak perlu merasa diakali dengan dalih “barang habis, atau kartu belanja tidak laku.”

Lho kok beberapa hari ini saya diganggu lagi oleh rengekan manja adik minta saya menemaninya “lihat-lihat” pameran Komputer, barangkali ada laptop murah.
Untuk tidak mengecewakannya saya hanya memberikan tips supaya jangan nampak arogan menyebut pengarahan. Laptop yang “normal” harganya paling tidak jumlah kedua jari tangan dan kedua jari kaki. Kalau ada harga laptop hanya satu jari lengan kanan, yang perlu disiapkan secara mental, barang tersebut kemungkinan sudah kurang laku atau ketinggalan model.

Berita baiknya, kata Bertha KDI, kalau laptop hanya difungsikan sebagai alat untuk membaca excel dan word serta internet, batasan tersebut sudah lebih dari cukup.

Arahan lainnya, kalau mau beli komputer secara kreditan, jangan pernah melirik harga kontanan, jelas beda. Tips berikut, tidak ada laptop yang tak retak, selalu saja ada kelemahannya. Dan rasa ini muncul setelah 3 bulan dimiliki, laptop seperti kurang ini dan kurang itu.

Beberapa jam kemudian, tilpun berdering lagi, dia sudah berada di stand penjual laptop lalu menyebut spesifikasi komputer yang bagi saya mulai terasa asing kecuali pengertiannya satu menembak lalat dengan rudal. Lha beli laptop hebat, ujungnya hanya sekedar bermain solitair dan membaca email, tidak perlu software dahsyat dan prosesor sakti.

Rupanya yang membuat harga setengah miring, komputer yang akan dibeli ini hanya diformat pakai DOS sehingga belum bisa difungsikan window dan applikasi Microsoftnya.

Untuk keperluannya, saya berjanji memasangkan Windows aseli yang memang saya punya satu cadangan dan untuk aplikasinya bisa saya ganti dengan OfficeOrg pengganti Microsfoft Office.
Sorenya, suara ibu dua anak berubah lemas. Dari semula setajam pembawa acara “Silet” yang bibirnya didandani menjontor dan sexy, pindah perseneling rendah dengan suara mirip kuis “bisik-bisik,” minus kesan merayu dan membetulkan poni rambut.

“Sial, ternyata komputernya sudah kehabisan stock!” – padahal dia sudah menarik suaminya agar membolos beberapa jam sebelum pukul lima thenk!

Lha rak tenan… Apa ku bilang…

“Tapi mereka Janji besok akan dikirim stok baru kok Mas,” suaranya sedikit bersinar optimis.
Sehari kemudian dia menilpun lagi.

Konon stok harus diambil di satu tempat yang nun jauh beberapa kilometer dari lokasi pameran.

“Sialan nggak tuh!-rasanya pengin ngegamparin SPG nya.”

Lagi-lagi saya mendinginkan hatinya dengan sekali lagi kembali ke aturan main pertama. Mau beli diskon, harus bersedia mengorbankan potongan harga diri kita.

Dan sore harinya, penilpun yang sama berdering menghubungi saya. Rupanya ia sudah sampai di rumah dengan menenteng laptop..

“Menenteng apaan? tepatnya mengusung Laptop?” sergahnya penuh kejengkelan.

“Tas laptop baru ada stok minggu depan..”

Tapi namanya hobbi, saya yakin dalam beberapa hari kedepan dia akan mewartakan kabar diskon gembira yang lainnya.

Mimbar Saputro mimbar dot saputro at gmail dot com

Advertisements

Gelas Anggur Merah Yang Memabukkan


Malam itu cuaca kota Perth masih membangkitkan gairah api ngilu di lutut saya seakan kapsul suplemen Glukosamin seperti sudah tidak mampu menahan dinginnya udara yang menurut siaran radio yang disetel dalam Taxi Swan mencapai 18 derajat selsius. Yang repot, tiupan angin kencang membuat muka seperti dikaploki pasukan Jepang satu peleton. Serius, bibir saya sempat berdarah karena panas dalam.Maka tak heran ketika teman sebangku di pesawat, seorang Akuntan asal Tirtodipuran Yogyakarta, Nona Andrianto, yang datang 1875 mil dari Perth untuk menghadiri pernikahan familinya di Jakarta, meminta segelas Anggur (Merah).

Apalagi ia memilih menu masakan ikan sehingga wajar kalau ditemani segelas Anggur untuk menghilangkan rasa amis pada masakan. Dengan sigap dan profesional sang pramugari menuangkan botol anggur, lalu berlalu melayani penumpang dibelakang kami.

Selesai makan malam, kulirik mbak Andri mengunyah permen karet sambil siap-siap membaca buku saku. Lalu saya iseng bilang, “anda yang minum anggur saya yang mabuk, mbak!” – Belakangan saya tahu bahwa makan ikan dengan teman anggur merah adalah cara memilih menu yang tidak nyambung.

Dia masih bingung menebak kearah mana pembicaraan saya. Waktu saya mengatakan bahwa gelas (tapi plastik) anggur yang dipakainya, sama dengan gelas plastik air es yang saya miliki, ia baru sadar sesuatu terjadi tidak pada tempatnya dan sempat berkomentar “memalukan,” yang diakhiri menahan tawa sehingga terbatuk-batuk. Nampaknya permen karet sempat menyergap anak tenggorokannya.

Sungguh mati saya bukan peminum anggur. Namun membaca sedikit banyak di majalah penerbangan semacam Garuda Indonesia, Qantas, SIA bahwa tahun penyimpanan anggur menentukan bagaimana rasa anggur. Bahkan menyuguhkan anggur harus dengan gelas ramping yang terbuat dari kristal agar hangat suhu tangan tidak mengganggu cita rasa anggur.

Ternyata masih banyak hal-hal kecil terlewatkan oleh maatskapai kesayangan kita untuk mencapai level pelayanan yang setara dengan penerbangan dunia lainnya. Bagaimana mungkin para pramugari kita main hantam kromo tidak bisa membedakan mana gelas untuk anggur dan air putih. Belakangan masalah ini pernah saya ajukan ke pihak Garuda. Jawabnya adalah memang kelas ekonomi cukup diberi gelas plastik.

Mabuk kedua, pramugari kita wangi-wangi. Lho kok mabuk? Lha iya kalau ada lima pramugari menggunakan parfum yang berbeda dan berseliweran sepanjang waktu, maka yang keok adalah sensi penciuman saya.

Saya akan merasa nyaman kalau misalnya para pramugari hanya menggunakan parfum “eau de toilet” keluaran Garuda misalnya sehingga lebih membawa citra perusahaan.

Kan tidak selalu harus terkesan habis shopping di toko parfum Changi.

Detektip Patah Tulang Logam


Seperti ingin mendukung deklarasi sementara orang menyebut negeri sebagai SuperMarket Bencana, maka kecelakaan kereta angkasa yang disebut “Gondola” ikutan menambah daftar panjang kecelakan ini.

Menurut Warta Kota, Jumat 8 Juni 2007, sore sekitar pukul 15, dua petugas pembersih kaca menggunakan kereta awang-awang diketinggian 20meter. Cuma kali ini mas IR dan PN lebih berhati-hati dengan menggunakan sabuk pengaman yang diikatkan pada gondola. Harap maklum, masih segar dalam ingatan mereka sehari sebelumnya pada Kamis 7 Juni 2007, dua nyawa meregang karena jatuh bebas dari steger yang ambruk.

Saat asik bekerja, tiba-tiba kabel Gondola yang yang berada pada lantai empat gedung Pacific Palace di kawasan SCBD Jakarta Selatan tersebut putus pada bagian kabel penggantung sebelah kiri.

Sambil bergelantungan pada sabuk pengaman yang dikenakan. Mereka melepas sepatu boot untuk memecahkan kaca gedung sehingga nyawa mereka berdua terselamatkan.

Lalu muncul semacam spekulasi bahwa tiupan angin kencang yang menyebabkan kabel baja gondola putus.

Sementara bagi orang Perminyakan seperti kami, pertanyaan yang muncul adalah “kapan terakhir kabel dan gondolanya di inspeksi?

Tidak seperti sebagian pendapat masyarakat awam. Sekalipun sebuah kabel baja (sling) nampak sehat walafiat, namun mungkin saja beberapa bagian sudah mengalami keropos mini, atau retakan halus yang hanya bisa dilihat dengan bantuan alat khusus seperti pemeriksaan sifat Magnetic Particlenya. Melalui pemeriksaan inilah informasi keretakan mikroskopis pada sling dapat diketahui sedini sehingga tindakan pengamanan dapat dilakukan untuk menghindarkan kecelakan yang lebih fatal.

Padahal kalau saja detective patah tulang besi yang kami sebut sebagai NDT (Non Destructive Testing) didatangkan, cerita tertiup angin bisa berbalik meniupkan alasan lain yang lebih beliung, misalnya, kelelahan logam.

Sayang, cerita macam begini terlalu sumir dan mudah tertiup angin keras lainnya sehingga tak mengherankan kecelakaan demi kecelakaan masih setia menunggu di depan sana.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 – TEXT PLEASE

STOP!


Menu makanan jangan sayur bekas makan malam yang dihangatkan kembali

Ada orang menuruni tangga tanpa berpegangan

Ada yang mengelas tanpa didampingi seorang pendamping

Saya melihat pekerja menggunakan kursi sebagai pengganti tangga untuk meraih benda dari ketinggian tertentu.”

Kabel sling baja yang dipakai mengikat pipa sudah harus diuji ulang sebulan lagi..

Inilah isi dari surat-surat “Tromol Pos” Rig Pengeboran yang selalu hangat dan terus menerus dibacakan pagi, siang dan malam. Sehari kadang dibacakan sampai limapuluh surat sehingga harus dipilih yang sesuai dengan topik.

“Kotak Pengaduan” yang memang disediakan hampir di setiap Rig Pengeboran. Formulir kecil diberi judul “STOP” ditumpuk ditempat-tempat strategis sehingga setiap saat mudah diraih untuk diisi.

Para pekerja pengeboran dilatih peka terhadap keselamatan kerja. Setiap orang berhak menyetop sebuah proyek atau pekerjaan bilamana dirasakan membahayakan keselamatan dirinya atau teman lain. Bahkan kami wajib menulis pengaduan, minimal satu surat satu hari.

Pengadu terbaik diberi hadiah mulai dari senter sampai Voucher senilai 50 dollar. Kalau bisa mempertahankan karir mengadu selama tiga bulan berturut-turut, anda bisa dapat bonus senilai 500 dollar.

Suatu ketika generator pembangkit listrik di Rig Pengeboran kami mengalami gangguan sehingga asapnya biru memutih tebal, mirip asap tebal puluhan bis kota yang mencoba menanjak Gadok-Puncak Bogor di hari minggu macet ceria.

Karena angin sedang mati, maka asap hanya memeluk erat Rig kami sehingga selain mata mulai terasa pedih, nafaspun terasa agak sesak. Ternyata instrumen Pengendus Asap kami juga aktip dan mendeteksi bahaya asap sehingga secara otomatis sakelar aliran listrik “ngedrop” dan mematikan aliran.

Biasanya kalau sudah terjadi begini, kami segera “menipu” sensor dengan meniupkan udara segar sehingga “oglangan listrik” segera diatasi.

Masalahnya, udara sekitar rig sendiri sudah penuh asap sehingga sekalipun saklar sudah dihidupkan, tetap saja saklar mati kembali karena masih mengendus asap yang dinilainya berbahaya.

Teman saya lalu membuat pengaduan secara lisan lalu didukung dengan mengisi formulir STOP, dengan ancaman akan melakukan mogok kerja jika “suasana keselamatan” tidak diperbaiki.

Dalam waktu kurang satu jam lubang tempat udara segar masuk dipasang cerobong karet lebih tinggi sehingga udara lebih bersih dapat masuk ke dalam kabin dan kami bisa bekerja kembali. Tidak lama kemudian diumumkan bahwa sedang dibuat kontrak oleh perusahaan saringan udara dengan taksiran bahwa satu filter berharga hampir sepuluh ribu dollar.

Formulir rancangan perusahaan DuPont ini berukuran kecil 8×18 cm sehingga muat dalam saku. Orang boleh mengisikan keluhan apa saja sehingga kadang sering sedikit menyimpang.

Misalnya pada kalimat pertama pada artikel ini berupa keluhan pekerja sebab ada kecenderungan pihak catering hanya menghangatkan masakan yang tersisa pada makan sore (18-19) lalu dihidangkan pada malam harinya, sekitar jam (23-01). Kalimat kedua menerangkan bahaya orang yang menuruni tangga besi tanpa berpegangan, sebab bahaya terpeleset dan membentur benda keras sangatlah mungkin.

Ayat ketiga mengingatkan seseorang bekerja mengelas namun tanpa didampingi oleh seseorang yang bersiap dengan racun api, bilamana terjadi kebakaran yang biasanya tidak disadari oleh tukang las saat bekerja. Di Australia, kalau anda melihat juru las melakukan tugas tanpa pendamping, anda mempunyai kewajiban untuk menghentikan pekerjaan.

Kalimat ke-empat memperlihatkan seseorang berkerja pada ketinggian diatas 2 meter tanpa sabuk keselamatan dan zonder menggunakan tangga khusus (logam), satu hal yang teramat biasa kita lakukan sehari-hari seperti menggunakan tangga bambu, tanpa pengaman, misalnya.

Kalimat kelima menyatakan bahwa sekalipun sebuah kabel baja (sling) nampak sehat walafiat, namun mungkin saja beberapa bagian sudah mengalami keropos mini, atau retakan halus yang hanya bisa dilihat dengan pengujian alat khusus seperti pemeriksaan sifat Magnetic Particlenya, sehingga keretakan mikroskopis pada sling dapat diketahui sedini mungkin.

Lalu saya ingat mungkin saja kasus yang terjadi baru-baru ini di Ibukota yaitu sling “gondola” di sebuah bangunan megah terputus dengan alasan tiupan angin keras.

Padahal kalau saja detective patah tulang besi yang kami sebut sebagai NDT (Non Destructive Testing) didatangkan, cerita tertiup angin bisa berbalik meniupkan alasan lain, misalnya, keletihan logam.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 – TEXT PLEASE

Es Potong


Anak saya pada hapal kelakuan bapaknya. Setiap kali kami berada entah di di Orchard Road atau Geylang atau mana saja di Singapura, lalu melintas di depan pedagang es-potong, tak ayal lagi bapaknya akan berhenti, mengeluarkan satu dollar dan berjalan sambil “nyecepi” menyedot es potong yang digencet dengan roti tawar.

Yang mereka tidak mengerti adalah ketika 1981, saat pertama kali dipanggil ke Singapura untuk menjalani pelatihan, belum pernah berbahasa Inggris secara aktip, menjadi kagok ketika harus mendengar dialog Inggris ala Singapura. Dan lebih penting lagi, sekok (shock) budaya dan harga mengingat harga makanan di Singapura kalau di kurs dengan rupiah kita menjadi teramat tidak masuk akal mahalnya. Tatkala perut mulai lapar, sekalipun saat itu mendapat uang saku sebesar 20 dollar perhari, maka dua potong eskrim berlapis roti tawar sudah cukup menangsel perut. Apalagi tujuannya menghemat, agar bisa untuk membeli oleh-oleh untuk anak-anak yang waktu itu masih balita.

Apalagi pengasong es krim yang biasanya dilayani oleh gerobak sepeda oleh empek-empek tua inilah satu-satunya pedagang makanan yang boleh mangkal di pinggir jalan macam Orchard Road. Tentu ada maksudnya sebagai makanan khas Singapura jaman baheula yang sudah mulai sukar ditemukan. Dengan satu dollar anda bisa memperoleh es berbalut wafer atau roti tawar yang empuk.

Biasanya mereka bisa ditemukan di depan Takashimaya, atau dekat Bugis Street.

Sekalipun demikian keunikannya adalah, sang penjual tetap menjaga kebersihan dengan, misalnya, mengenakan kantong plastik di tangannya ketika memotong es dan menerima uang sehingga tidak terjadi kontak antara makanan dengan benda asing. Belum lagi kalau menawarkan dagangannya mereka cuma teriak “Potong! Potong!.”

Yang berubah, mereka sudah mulai melakukan diversifikasi bisnis dengan menjual air kemasan dalam botol.

Seperti ada gugon tuhon – tahayul, kalau tiba-tiba bawah puser berdesir ingin makan es potong sambil duduk disebelah pak Potong yang sedang bekerja (padahal bukan hari Minggu), biasanya ada satu atau dua teman lama melintas disana. Umumnya para pekerja Caltex yang memang kalau berlibur pada lewat pulau Batam dan bebas Visa.

Sejak itu saya seperti menanamkan ritual, belum ke Singapura kalau belum nongkrong “ngelamuti” menikmati es potong. Biasanya saya akan memilih rasa durian, kalau durian tidak tersedia misalnya, saya pindah jalur ke Kacang Merah, atau Pandan, Vanilla. Tapi jujur saja terhadap es potong (es dungdung) saya tidak terlalu fanatik dengan rasa. Pokoknya enak dan (h)uenak.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com

Di Dili berlaku Naik Bayar Turun Gratis


Umumnya kita mengenal slogan di warung rokok seperti “Hari ini bayar, besok boleh hutang,” yang intinya tidak menerima transaksi secara kredit. Namun di Dili, sejak harga BBM dinaikkan menjadi hampir US $1 per liternya, maka para supir Angkot mulai resah dengan kebiasan nakal para penumpang. Padahal tarip Angkot tetap sama yaitu rata-rata pelajar dikenakan 10 sen dan umum dikenai tarif 20sen, tetapi saat turun, penumpang nakal mulai mengeluarkan uang 50 sampai 100 dollar sehingga para “konjak” – kondektur tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak bisa mengembalikan uang sebanyak itu kepada penumpang satu persatu.

Inilah yang membuat direktur transportasi Basilio M. X. Texeira mengubah pola pembayaran menjadi “Naik Harus Bayar, Turun Boleh Gratis..”

Sebelumnya pengguna jasa angkutan umum membayar jasa pelayanannya setelah turun, namun dengan pola baru ini pengguna jasa membayar dulu sebelum naik.

Angkutan umum seperti mikrolet beberapa hari ini mogok untuk menuntut kenaikan tarif angkutan setelah harga BBM naik. Namun pemerintah tetap menerapkan tarif lama, yakni tarif untuk pelajar US $0. 10 cent sedangkan penumpang umum senilai US $0. 20 cent.

Departemen Transportasi juga menerima informasi dari para supir dan pemilik kendaraan mengatakan selama ini tarif itu tidak dijalankan karena kondisi ekonomi masyarakat negeri ini sangat memprihatinkan. Basilio juga mengkatakan bahwa pihak sudah mengadakan pertemuan dengan para supir angkot dan para pemilik angkot guna membicarakan masalah yang ada hubungan dengan kenaikan harga BBM di negeri ini.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 – TEXT PLEASE

Hercules Anak TL Jadi Raja Preman di Jakarta


SETELAH Komandan Polisi Militer (PM) Mayor Alfredo Alves Reinado muncul di Metro TV dalam program Kick Andy pada 24 dan 27 Mei lalu, Minggu (10/6) lalu, dalam program yang sama muncul Hercules Rosario de Marshal.

Dua-duanya adalah putra kelahiran Timor Leste (TL), yang menjadi TBO (Tenaga Bantuan Operasi) TNI di Timor Timur (Timtim) saat pergolakan dulu. Bedanya, Alfredo menjadi tentara, Hercules menjadi raja preman di Jakarta, ibu kota negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Barangkali bagi warga TL yang sempat menonton tayangan Hercules dalam program Kick Andy, Minggu (10/6) lalu, mengenal lebih jauh sepak terjang seorang Hercules. Rasanya tidak percaya Hercules preman yang paling ditakuti, setidaknya di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta. Tubuhnya tidak begitu tinggi. Badannya kurus. Hanya tangan kirinya yang berfungsi dengan baik. Sedangkan tangan kananya sebatas siku menggunakan tangan palsu. Sementara bola mata kanannya sudah digantikan dengan bola mata buatan.

Tapi setiap kali nama Hercules disebut, yang terbayang adalah kengerian. Banyak sudah cerita tentang sepak terjang Hercules dan kelompoknya. Sebut saja kasus penyerbuan Harian Indopos gara-gara Hercules merasa pemberitaan di suratkabar itu merugikan dia. Juga tentang pendudukan tanah di beberapa kawasan Jakarta yang menyebabkan terjadi bentrokan antar-preman.

Belum lagi sejumlah tawuran antar-geng yang merenggut korban jiwa atau luka-luka. Sejak pertengahan 80-an kelompok Hercules malang melintang di kawasan perdagangan Tanah Abang. Tak heran jika bagi warga Jakarta dan sekitarnya, nama Hercules identik dengan Tanah Abang.

Meski tubuhnya kecil, nyali pemuda kelahiran Timtim (kini Timor Leste) 45 tahun lalu ini diakui sangat besar. Dalam tawuran antar-kelompok Hercules sering memimpin langsung. Pernah suatu kali dia dijebak dan dibacok 16 bacokan hingga harus masuk ICU, tapi ternyata tak kunjung tewas. Bahkan suatu ketika, dalam suatu perkelahian, sebuah peluru menembus matanya hingga ke bagian belakang kepala tapi tak juga membuat nyawa pemuda berambut keriting ini tamat. Ada isu dia memang punya ilmu kebal yang diperolehnya dari seorang pendekar di Badui Dalam.

Boleh percaya, boleh tidak. Di Kick Andy Hercules mengungkapkan awal mula dia masuk ke Tanah Abang, salah satu wilayah paling keras di Jakarta. Untuk mendapat pengakuan, waktu itu dia harus mengalahkan kelompok-kelompok penguasa di sana.

Hampir setiap malam pertarungan demi pertarungan harus dia hadapi. “Waktu itu saya masih tidur di kolong-kolong jembatan. Tidur ngak bisa tenang. Pedang selalu menempel di badan. Mandi juga selalu bawa pedang. Sebab setiap saat musuh bisa menyerang,” ungkapnya.

Ternyata, di balik sosok yang menyeramkan ini, ada sisi lain yang belum banyak diketahui orang. Dalam banyak peristiwa kebakaran, ternyata Hercules menyumbang berton-ton beras kepada para korban. Termasuk buku-buku tulis dan buku pelajaran bagi anak-anak korban kebakaran. Begitu juga ketika terjadi bencana tsunami di beberapa wilayah, Hercules memberi sumbangan beras dan pakaian. Soal beras, memang tidak menjadi soal baginya karena Hercules memiliki tujuh hektar sawah di daerah Indramayu, Jawa Barat. Bahkan juga bantuan bahan bangunan dan semen untuk pembangunan masjid-masjid. Sisi lain yang menarik dari Hercules adalah kepeduliannya pada pendidikan. “Saya memang tidak tamat SMA. Tapi saya menyadari pendidikan itu penting,” ujar ayah tiga anak ini.

Maka jangan kaget jika Hercules menyekolahkan ketiga anaknya di sebuah sekolah internasional yang relatif uang sekolahnya mahal. Bukan Cuma itu, ketika Lembaga Pendidikan Kesekretarisan Saint Mary menghadapi masalah, Hercules ikut andil menyelesaikannya, termasuk menyuntikan modal agar lembaga pendidikan itu bisa terus berjalan dan berkembang.
Hercules pun aktif duduk sebagai salah satu pimpinan di situ. Di Kick Andy, misteri tentang tokoh yang selama ini lebih dikenal namanya ini terkuak. Termasuk masa kecilnya ketika menjadi TBO TNI di Timtim saat pergolakan dulu.

Walau bertahun-tahun mengembara di negeri orang, tapi sosok Hercules tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya TL. Hal ini terlihat jelas saat sejumlah armada Koran ini bertandang ke kediamannya yang terletak daerah Kebun Jeruk, Jakarta, pada medio Juni 2004. Kedatangan armada STL yang dikomandoi Godinho Barros, yang tidak lain adalah saudara sepupu Hercules diterima dengan penuh kekeluargaan.

Dalam kesempatan itu, Hercules menceritakan pengalamannya kepada armada STL dan berjanji suatu ketika akan berkunjung ke tanah kelahirannya. Kapan Hercules berkunjung ke negara baru TL? Kita tunggu jawaban dari Hercules. */ale/sel/vam

Dikutip dari Harian Suara Timor Lorosae….