Mengenal Jajaran Pekerja Pengeboran


Kalau anda melihat video mengenai pengeboran maka wajah yang ditampilkan umumnya pekerja berpeluh ria dengan muka kotor akibat cipratan minyak, otot yang sekeras baja karena setiap hari tak kurang 12 jam melakukan olah ragawi. Orang ini disebut “floorman” – karena pekerjaannya selalu melantai di panggung bor. Dalam satu ploeg terdiri dari tiga orang, misalnya Dan, Karl, Paul bekerja pada tengah hari sampai tengah malam sementara Simon, Tane, Mark bekerja pada tengah malam sampai tengah hari. Setelah berpengalaman mereka naik pangkat menjadi “derrickman,” seperti Jamie, lantaran pekerjaan utamanya naik menara bor untuk memasang dan membongkar pipa. Ia harus naik ke satu platform yang disebut “monkeyboard” mengingat panjang pipa bor rata-rata 30meter.

Setelah Jamie, sang derrickman berpengalaman cukup banyak, ia akan naik pangkat menjadi “lead derrickman.” seperti John. Seterusnya ia akan dipromosikan sebagai Asisten Juru Bor atau Assistant Driller seperti posisi yang digeluti oleh Darren. Sementara Dareen harus menunjukkan kemampuannya agar ia bisa naik pangkat menjadi Juru Bor (driller) seperti seniornya Ben.

Menjadi juru bor seperti Ben adalah mirip pilot dalam penerbangan. Ia harus siaga dan berdiri selama 12 jam tangannya selalu pada tuas rem yang cukup berat untuk digerakkan. Belumn lagi panil-panil peralatan yang rumit harus mampu ia manipulasi pada saat gawat. Kalau anda mendengar istilah “blowout” atau semburan gas, maka orang seperti Ben yang akan diinvestigasi terlebih dahulu.

Sampai posisi juru bor, karier mulai lambat jalannya karena mereka harus bersaing dengan senior seperti yang berpangkat pengawas (tool pusher) macam Jerry. Jerry sendiri sudah lama berangan-angan menjadi Superintenden seperti George. Padahal George juga lama mengidamkan posisi Rig Manager.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 – TEXT PLEASE

Advertisements

Visa 2


Jumat 20 Agustus 2004 Jam 8:00

Saya sudah jadi anak nongkrong di ruang tunggu kedutaan DownUnder. Saya lihat ada sekitar 5 orang sudah hadir disana. Kursi yang berkapasitas memuat 60 orang nampak seperti lengang. Tapi mendekati jam 9.00 suasana sudah berubah agak riuh. Saya perkirakan 60 orang sudah menanti nasib dengan pasrah. Seorang anak muda tinggi besar menunggu sambil membaca Quran Stambul (kecil), sementara saya sudah seperti lurah travel biro lantaran duduk paling pinggir, jadi kalau ada orang masuk menenteng map sambil kepalanya celingukan seperti kobra, pasti baru pertama kali urus visa. Saya jual murah informasi kesulitan urus visa sambil menunggu umpan disambar berupa ikan berupa feedback urus Visa. Biasa bahan milis. Ini sukanya urus milis, setiap peristiwa yang rada melas, nestapa malahan jadi bahan menertawakan dirisendiri.Jam 9:30, dua counter (5 dan 6) dibuka, bapak didepan saya menunggu didepanloket sambil menjawab ape (hape) ha ha hi hi, kontan gadis muda belia penunggu counter menegur keras. “Bapak ini kantor, dan matikan tilpun..

Saya berada diurutan ke 10, sambil mengetrapkan aji-aji “pasrah bongkok” alias kalau belon rizkinya mo diapain lagi.Belia mulai memasukkan nama saya dan membaca layar monitor, dia lalu berbalik memunggungi saya. Tubuhnya tinggi namun sedikit membungkuk. Tangannya menggapai tumpukan passport di cek sebentar lalu dia berkata, paling indah dan merdu melebihi suara Joy di Indonesian Idol. “Selamat meneruskan perjalanan ke Australia.”

Spontan saya ber SMS ke Perth agak bercanda dikit “this is the end of Single Entry Visa’s Saga. I got the Visa, may welcome to winter at downunder

E-Ticket.Lha sekarang persoalan tiket masih belum tuntas. Saya menerima pdf file berisikan pembelian tiket secara elektronik. Lalu SMS lagi, gimana caranya koleksi tiket, dimana?, nomor tilpunnya berapa. Sudah tahu sih Qantas di Wisma BDN, di jalan Thamrin. Tapi jangan sampai kebobolan lagi gara-gara sok yakin. SMS menjawab, ini era electronic. Tunjukkan saja passportmu dan kode booking di Qantas Desk di airport.

No paper ticket required. Kalau begitu saya sudah harus mengaku hidup diera dinosaurus. Tiket kok nggak ada kertasnya, bagaimana nanti dengan pak Satpam di Bandara, apa cukup puas dengan bukti book melalui internet. Akhirnya saya tilpun perwakilan Qantas, dan ternyata mbak Maya sang officer tidak bisa menemukan nama saya.

Setelah berkutat sekian lama saya ulangi lagi nama saya dan tujuan Perth. Rupanya dia cari Jakarta – Sidney (amin kata saya dalam hati), pantas tulalit salah sambung. Small problem lah. Cuma dasarnya orang kuper, kok rasanya kurang mantap gitu pergi tanpa pegang beberapa helai kertas yang disebut tiket.

Ah yang penting sekarang siapkan baju winter sebab pernah dengar di radio Nuim Hayat bilang di Melbourne suhu 5-10 derajat disana. Untung baju yang dulu sekalipun apek terkubur selama 7 tahun masih belum digigiti tikus.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 – TEXT PLEASE

Jangan Bilang Aku Jadi Pekerja Rig, Temanku Mengira Aku Direktur (2)


Pensiun tanpa sepengetahuan keluarga.
Kata orang bijak bekerja itu seperti masuk warung Nasi Kapau. Di meja sendiri terhampar rendang sapi berwarna coklat kehitaman entoh tergoda daging cincang dipiring teman. Selalu ada tawaran lebih menarik untuk pindah juragan. Supaya jangan bingung, panteng saja rendang-ditangan. Akibat peribahasa tersebut setiap ada tawaran kerja yang lebih menarik (tentu dengan resiko dan tanggung jawab lebih besar), saya cenderung bergeming. Apalagi kalau meminta pendapat keluarga. Bisa dipastikan mereka bakalan keukeuh tetap setia dengan perusahaan lama dengan harapan siapa tahun tahun mendatang terjadi perubahan lebih baik.

Tentu mereka tidak paham saat boss dengan muka ditekuk macam kerah baju kurang kanji memanggil saya ke ruangnya. Setelah menutup pintu lalu meminta sekretaris agar tidak mengganggu atau menghubunginya.

Sudah seperti “rumus” – boss umumnya memanggil karyawan untuk urusan yang “tidak enak” bisa berupa kesalahan pegawai, keluhan pelanggan. Sementara pujian dari pelanggan bisanya berupa surat atau fax, selalu disembunyikan dengan maksud pegawai tidak besar kepala lalu minta promosi. Orang bilang bekerja di Rig harus menghadapi pemeo “Jika berbuat kelalaian sukar dilupakan, berprestasi sukar diingat.” – Seorang “mat sale” malahan extrim mengatakan, bekerja bagus di perusahaan ibarat seperti kencing di celana, hanya kita yang merasakan hangatnya

Setelah berbasa basi sebentar keluarlah kalimat “gaji kamu bisa membayar dua orang setara kamu.” Beliau mungkin lupa pepatah “you pay peanut, you buy monkey” – anda memberi umpan kacang yang dapat kera, dan bisnis anda menjadi “monkey business.” Bos juga lupa kalau dulu pernah menyebut “pegawai adalah aset perusahaan paling penting” sekarang didepan bos saya menjadi sekrup kecil yang berkarat serta “dol” – longgar. Bisa diganti kapan saja.

Kalau teman lain langsung shok bahkan ada yang menangis “Bombay” dan menjual cerita sedih seperti cicilan rumah belum lunas, anak masih kuliah, isteri sakit, tabungan belum ada. Sebaliknya saya memilih diam, lalu dengan alasan meminta waktu untuk menentramkan fikiran yang gundah gulana (ecek-ecek) mengajukan cuti tahunan dan bermaksud berlibur bersama keluarga menengok anak di Singapura.

Tidak seorangpun mengetahui bahwa dalam beberapa minggu mendatang akan ada akrobatik hidup. Masih terngiang kata Mama Terate, ” soal cari makan elu kagak bakalan ketemu perkara. Gampang aja..”

Sekembali dari liburan saya hubungi pihak kantor saya dan kami bertemu di sebuah kafe di gedung Arkadia. Ada empat utusan perusahaan yang “mengeroyok” – lantaran mereka kuatir saya membawa “pengawal” dan mengamuk.

Pembicaraan pertama agak alot sebab kalau saya mengundurkan diri maka saya tidak akan terima kompensasi sedikitpun sehingga episode yang dimainkan adalah “saya tua, kinerja kurang fit untuk perusahaan,” tidak lupa tanggal kami bertemu bos dan beberapa sitiran pertemuan.

Dengan episode yang terakhir, kunci kendaraan saya serahkan, laptop, handphone dan sehelai cek saya terima. Kami bersalaman dan berpisah lalu memanggil taxi ke rumah.

Keesokan hari, pakBon bertanya tidak melihat mobil untuk dicuci. Saya bilang sudah dikembalikan ke kantor. Barulah pecah “gonjang ganjing” di rumah kami. Orang rumah melihat saya seperti Mr Bean baru jatuh dari lampu sorot. Menjadi pemandangan ganjil. Yang lebih hebat lagi orang tua dan mertua yang menangis sesenggukan. Kata PHK (pemutusan Hubungan Kerja), seperti vonis mati bagi mereka.

Percuma saja saya bilang PHK jangan selalu dianggap kekalahan, anggap satu ujian menuju perbaikan. Kadang saya ngedumel gara-gara sebuah hasil penelitian mengenai suku Jawa “orang Jawa, kalau berbisnis harus untung terus. Buka warung laba harus ditangan. Kalau rugi, menjadi aib dan penyakit lepra yang harus dijauhi keluarga. Kalau bekerja harus sampai pensiun jangan pindah perusahaan.

Penyakit yang harus dihindari saat menerima pesangon PHK adalah ajakan mendepositkan uang agar uang bekerja untuk anda, ikutan Agri Bisnis dan segala macam yang saya sudah pelajari dari teman-teman yang pernah di PHK, bingung mau lari kemana, lalu uang dititipkan pada sebangsa QSAR atau Agribisnis lain, buntutnya jeblok. Jelas jelas flu burung sedang merebak bulan itu, seorang teman menilpun berkali-kali bahwa produksi telur ayamnya kewalahan menerima order sehingga perlu modal segar untuk melayani konsumen.

Sebelum saya terpengaruh ajakan dengan iming-iming indah dan mudah, langsung tanah di Pondok Gede dirundingkan untuk dibangun. Pemilik toko material sampai kaget ketika belum-belum kami sudah menaruh uang, saat pembangun rumah belum dimulai. Padahal baru kenal.

Olah Raga Jalan Kaki malahan dibilang nelangsa.

Olah raga saya adalah berjalan kaki dan ini sudah puluhan tahun dikerjakan, namun menjadi lain kita di PHK sebab mengundang interpretasi. Pikiran boleh kisruh, namun tubuh perlu sehat sehingga fitnes harus digenjot, tetapi lagi-lagi keluarga dan tetangga melihatnya sebagai iba “sudah PHK, mobil diambil, sekarang jalan kaki lagi” – belum lagi ada yang langsung menyukurkan atau menarik dalil bak seorang wali sakti “kurang taqwa dan kurang sedekah..

Memang semasa masih aktif di perusahaan lama saya selalu disediakan mobil perusahaan sehingga tidak memikirkan memiliki mobil sendiri. Alasan lain mobil yang “nongkrong” di garasi sering menerbitkan liur untuk dipinjam arisan, antar anak sekolah kadang sampai berbulan-bulan. Sementara biaya perawatan keluar terus dan apesnya saat kendaraan dikembalikan sudah dalam keadaan penyok kecil atau cat tergores.

Kalau sudah demikian, maka terasa bahwa pasangan hidup adalah supporter yang membuat mental tetap terjaga. Saya bilang kepada mereka bahwa sedang dalam proses pembuatan kontrak dari Australia dan menunggu instruksi selanjutnya untuk mengurus visa.

Bersambung..

Artikel # 928 Punkasila


Malam itu di hotel Perth saya rada malas menyaksikan TV Australia soalnya kebiasaan di tanah air melihat belatung, mutilasi, tiba-tiba beralih ke acara yang lebih menyentuh perasaan manusia sekalipun kadang mengejek politik negara lain. Saslah satu TV Australia tahun lalu pernah menayangkan betapa wajah para pemimpin kita dibalik muka disetel sedih, mengutuk keras atas kejadian teror bom yang terjadi dipelbagai negara dan Indonesia ternyata, berhasil merekam wajah sumringah para wakil rakyat di Senayan. Mereka bercerita mengenai berkah hujan keras kucuran dana dari Amerika, Belanda dan negara-negara lainnya.

Tak heran acara dibuka dengan sebuah pertanyaan, “dibalik tragedi teror, kematian, kesedihan, kutukan,” apakah anda tahu bahwa wajah sebenarnya para pemimpin dan politikus tidak seperti yang kita kenal selama ini.”

Tetapi Indonesia yang diceritakan pada Selasa Malam 22/5/07 jam 21:30 di stasiun ABC agak lain. Mula-mula mereka bercerita tentang pendudukan Ramadi. Lalu rakyat setempat bercerita bahwa pintu rumah mereka hampir tidak bisa dikunci sebab tiap hari ditendangi oleh pasukan Amerika sampai engsel pintu pada copot semua. Apalagi kalau daerah sekitar mereka baru ada serangan bom. Belum lagi menu sehari-hari adalah pengeras suara : ‘Penduduk Ramadi, aparat sedang melakukan latihan menangkap teroris, jangan keluar rumah, jangan menonton dari atap rumah. Kami menggunakan peluru tajam. Lalu dar, der, dor, bum. Senjata menyalak, mesiu terhambur.

Kemudian acara pindah ke Kenya, sekelompok anak belasan tahun mulutnya tak lepas dari botol berisikan lem. Mata mereka merah dan gaya bicaranya seperti lelet sekali untuk merangkia kata. Lagi-lagi koresponden berkomentar “tak kurang-kurangnya kucuran dana dari PBB dan negara lain mengguyuri bumi Kenya, namun kemiskinan malahan semakin meruyak…”

Giliran acara Indonesia, Geoff Thomson koresponden ABC Australia memberikan narasi didepan monumen Lubang Buaya mengenai Pancasila. Saya pikir dia akan bercerita kesaktian Pancasila.

Lalu saat kamera diarahkan ke suatu mesjid kecil di Yogya kalau tidak salah namanya “Hikmah,” dan dibelakang mesjid terdapat sebuah bangunan berdinding batako tergelar peralatan band yang unik bentuknya. Lalu ada ada yang ompong mirip Kaka Slank sedang menenggak bir langsung dari botol berwarna hijau dan perbuatannya ini diikuti oleh teman-temannya. Tidak lama musik cadas dimainkan sambil melompat kesana kemari bak kesetanan. Tak jarang habis melompat, mereka terhuyung jatuh. Maklum separuh teler.

Diantara pemuda yang “ngerok” habis-habisan agar mirip musikus rok bule, terselip juga “Mat Salle” beneran. Dia adalah Danius Kesminas sang dedengkot band.

Kelompok yang diawaki sebagian besar anak ASRI sekarang ISI bermarkas di Jalan Tirtodipuran ini menamakan dirinya Punkasila (plesetan dari Punk dan Pancasila). Judul album perdananya “Acronyms War” yang sudah dirilis sejak 2006 ini malahan sudah beredar di Sidney.

Cuma kalau lihat judulnya memang seram seperti TNI, KOPASSUS, UNJEM/UNJEMBUT, BIN sehingga para personalnya pun maklum, kalau mereka mengadakan pentas di tanah air, pasti mengandung resiko. Persis seperti yang dikatakan salah satu personelnya dalam “bisa mati aku di Indo, kalau mementaskan musik yang mengejek BIN, KOPASSUS, TNI, JIHAD, TURBA,JIL yang seharusnya Jaringan Islam Liberal diplesetkan Jaringan Kapir Liberal dsb. Ada bebrapa singkatan yang maaf tak sampai hati menuliskannya disini.

Selain berpakaian loreng, ala militer kadang dicampur surjan. Bahkan ada yang berpakaian mayat berdarah-darah, gitar yang dimainkanpun aneh sebab dibuat khusus dengan kerangkanya seperti AK47, M16 dan beberapa senjata militer.Bagi anak yang dibesarkan di Yogya, plesetan dan pisuhan group yang konon CD-nya dibeli oleh Sultan Hamengkubuwono X memang “mbeling”.

Namun tak kurang pihak lain menggeram mengasah taring.

Dalang dibelakang group ini adalah Danius Kesminas, berambut gondrong, dan warga negara Australia. Dia heran kenapa Indonesia dan Australia seperti minyak dengan air. Lalu ia mengajak Hahan, Atjeh, Iyok, Janu, Moky, Gde dan Ambala untuk menghasilkan musik yang menusuk “core value dan core cultural,” dengan konsumsi luar negeri.

Acronym Wars adalah album perdananya yang lempar pada 2006. Jangan heran kalau group keras FPI sudah ancang-ancang bakalan merangseknya. Maklum saja lambang yang diusung adalah Garuda Pancasila yang sedang menengok kekanan. Tetapi kata-kata diatasnya diganti menjadi “Punkasila” – lalu cakar burung yang biasa membawa slogan Bhineka Tunggal Ika diganti sebuah AK47.

Pada 31 May 2007, grup Punkasila yang provokativ dan berani ambil resiko ini akan menggelar musiknya di Melbourne.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar saputro gmail com
0811806549 TEXT PLEASE

Jangan Bilang Aku Jadi Pekerja Rig, Temanku Mengira Aku Direktur (1)


Aha saya sudah dapat email beserta lampiran tiket elektronik dari Perth bahwa Senin malam 21 Mei 2007 saya naik Garuda GA730 yang berangkat dari bandara Sukarno Hatta pada jam 9:30 malam. Berarti tidak terasa sudah 4 minggu aku habiskan leyeh-leyeh menjadi pengangguran bergaji di rumah. Kebetulan anakku sudah selesai liburan dan harus kembali ke Singapura. Jadi malam ini kami berangkat bersama-sama. Cuma kami harus berpisah lantaran anakku Lia masuk gerbang D sedangkan saya di E.

Agak mengherankan biasanya (Australia) bersikeras menggunakan Qantas.  Kalau berurusan tiket elektronik dengan pihak Garuda Indonesia, terbayang sudah dipelupuk mata reaksi petugas ketika saya mengasongkan cetakan-itinerary di loket check-in. Yang sudah sudah pihak Garuda mempersilahkan saya menuju loket lain yang diseberang pojok sana untuk dibuatkan tiket yang berlapis-lapis warna warni dan memakan waktu cukup lama. Sehingga maksud utama dari E-tiket, layu sebelum berkembang.

Namun ajaib, kali ini mereka langsung menanyakan passport saya dan pas masuk langsung diberikan tanpa meminta sepeserpun airport tax (Rp 100.000), karuan saja saya bilang “mbak kok saya tidak diminta airport tax?.”

Pesawat ternyata tertunda satu jam. Hal yang membuat kinerja BUMN dianggap kurang memenuhi syarat. Di dalam pesawat, Koran Sinar Harapan yang ditawarkan Pramugari saya comot, lalu ia menawarkan lagi “Suara Pembaruan pak sekalian, perjalanannya kan lama.”

Koran Suara Pembaruan pun saya ambil. Jangan heran saya hitung ada lima pramugari berbanding 10 penumpang. Yang mengganggu dari stewardes ini mereka mengecrotkan parfum sesuai selera masing masing, terkadang dengan aroma tajam, sehingga kelabakanlah hidung saya yang lumayan sensitif mengendus bau campur aduk. Padahal aroma eaude toilet yang ringan segar sudah lebih dari cukup.

Halaman depan Suara Pembaruan menulis maskapai SIA Singapore Airline menangguk keuntungan berlipat ganda triliunan rupiah. Lalu saya toleh sana sini ke bangku yang sepi. Terus bagaimana Garuda akan mendapat keuntungan, dengan harga Ticket sekitar $700 dolar Australia (return). Plus pajak $225 berarti $ 925 ternyata belum menarik minat pemakai untuk pindah ke Garuda. Padahal maskapai Qantas ($ 990) selalu penuh akan penumpang.

Jam 3:30 pagi waktu Perth setelah 4 jam penerbangan ditambah satu jam delay, mendarat juga akhirnya di Bandara International Perth, segenap pihak immigrasi berceloteh “busy flight eh,” setelah saya beritahu hanya berjumlah 10 penumpang.

Begitu keluar terminal, saya langsung menggigil kedinginan diterpa suhu udara sekitar 5 derajat selsius. Langsung menuju taxi yang disambut dengan senyum kegirangan sebab berjam-jam menunggu akhirnya ada juga seorang penumpang.

Langsung saya menuju hotel yang tarip resminya $200 (1.4 juta rupiah) dan bukan kelas bintang lima lho, namun karena langganan perusahaan, kami mendapatkan potongan 50% dengan catatan tanpa makan. Ongkos taxi sekitar $40 (Rp 300 000), untuk perjalanan selama 20 menit langsam.

Romeo sang petugas asal Philipina menyambut saya sambil bercanda “mengapa telat sekali datangnya,” sekaligus pertanda bahwa begitu kaki menginjak, maka saya dikenai biaya denda satu malam yang kemarin di pesan. Dan seperti biasa tidak ada doorman atau bellboy disini. Hotelpun isinya beberapa bungkus teh dan kopi celup, peralatan masak seperti ketel, penggorengan, toaster dan microwave. Saya sempat kelaparan, tetapi ingat peristiwa bawa “Indomie” langsung di”belek” oleh petugas sebab mengandung “daging.”   Untungnya saya sempat melaporkan bawaan saya, kalau tidak bisa kena denda tinggi. Mungkin salah satu menghilangkan permainan “pat gulipat dan kong kalingkong” adalah “anda jujur, anda selamat.” Hal yang teramat langka di tanah air.

Ada satu hari saya relax makan tidur di hotel, ini memang kebiasaan ala Australia bahwa sehari menjelang bekerja, pekerja dianjurkan dalam keadaan relax.

Berapa lama seseorang bekerja di Pertambangan Minyak?

Pertanyaan ini selalu menggoda teman-teman setelah mengetahui saya adalah pekerja minyak, sekalipun gelar resminya berbau cemooh, TKI. Dalam pekerjaan di lepas laut ataupun darat bagi tenaga kerja dari Indonesia, maka kami dikenakan rotasi selama 4 minggu di di laut dengan 4 minggu cuti di Indonesia. Ditambah dalam setahun mendapat kesempatan cuti lagi selama sebulan, maka praktis dalam setahun kami bekerja hanya lima bulan. Itupun masih menerima gaji bulanan dalam dollar.

Rotasi 4 banding 4 bukan harga mati, sebab bagi pekerja katering yang berdomisili di Australia mereka terkena rotasi 3 minggu kerja dan 3 minggu cuti, sementara teman warga Australia yang satu perusahaan, mendapat keringanan bekerja dua minggu dan cuti dua minggu.

Tetapi, masalahnya, ada banyakkah orang bersedia bekerja penuh tekanan selama 12 jam sehari? – ternyata beberapa teman saya berguguran, bahkan ada yang memilih jalur menjadi pelukis, bank sekalipun pendidikan keahliannya adalah Teknik Perminyakan atau Geologi.

Bahkan ketika saya memutuskan untuk ambil pensiun dini tiga tahun lalu, teman-teman pada bilang “sudah tua ngapain kerja jauh-jauh, disini saja banyak pekerjaan..

Yang mereka tidak tahu, sejak mulai bekerja pada tahun 1981 di Perminyakan saya sudah ancang-ancang pensiun dengan mencoba berbagai bisnis, hasilnya jeblok. Alih-alih mau kaya seperti kata buku macam Kiyosaki, ber-agro-bisnis kagak ada matinya, kata Trubus, eh buntutnya, mobil, tanah, rumah, perhiasan ikut melayang. Saya stop menbaca buku ala Kiyosaki, sayapun tidak berlangganan majalah pertanian secara teratur. Meracuni pikiran saja.

Seperti mengiyakan kata ahli Feng Shui, Mama Terate, “elu punya shio Ular cari makan, kagak bakat dagang, banyak ditipu punya.” – padahal anjuran pakai kacamata hitam, jangan ada gigi yang ompong, sudah saya lakoni rejeki tetap jadi pekerja.

Ramalan lain yang perlu saya koreksi adalah dari orang tua, “bekerja yang jujur, rajin, nanti pimpinan akan mempercayaimu..” – kenyataannya perusahaan yang dibela mati-matian lantas dicaplok perusahaan lain yang lebih besar tetapi ajaib dan biadapnya menggaji karyawannya jauh lebih kecil.

Kalau mau protes, silahkan angkat kaki dengan kata manis “pensiun dini.” atau “golden shakehand

Beruntung saya memang doyan cenderung penyandu internet dan email, begitu ada “ontran-ontran bin gonjang ganjing,” di perusahaan, cepat-cepat beremail ria dengan jaringan teman di luar negeri, dan jawabannya “are you serious?” – dan tidak lama kemudian surat sponsor dibuatkan untuk membuat Visa ke Australia.

Padahal teman lama di kantor termasuk Direktur pada sinis “sudah tua mau kerja dimana?, HRD sekarang cari lulusan yang muda, IP setinggi-tingginya, upah seminim-minimnya.” – maksudnya agar saya “cicing wae” alias duduk manis-manis tinggal di perusahaan dengan tanggung jawab berat.

Kadang saya bercanda “Tanggung Jawab Direktur, Penghasilan Kondektur.”

Celakanya saya malahan tertantang untuk membuktikan “Old roughneck never die, just fade out.”

roughneck adalah sebutan pekerja kasar pengeboran.

Kekuatan Doa atau Doit


Usai meletakkan barang kabin di rak atas, saya langsung menuju tempat duduk saya yang mengambil tempat di dekat jendela pesawat Value Air. Seseorang sudah duduk terlebih dahulu dalam barisan bangku saya profilnya mengingatkan saya akan seseorang selebritis. Sepintas mirip dengan potongan pemilik Jamu Jago yang sering memberikan ceramah, hanya teman saya duduk ini potongannya lebih kekar dan tinggi.

Lantaran “miripan Jaya Suprana” ini duduk dipinggir gang, maka tentu saja saya harus permisi untuk lewat didepannya. Saya lirik ia mengenakan baju putih lengan panjang dengan celana gelap dilengkapi suspender dengan rambut tumbuh pendek seperti orang habis di gunduli.

Matanya yang sipit tertutup dan bibirnya komat-kamit. Lalu saya tunggu ia selesai berdoa, pikir punya pikir seberapa lama sih orang berdoa, sekalipun penumpang dan di belakang saya sudah mulai mendorong tak sabar untuk mencari tempat duduk mereka masing-masing. Karena terlalu lama menunggu selsai berdoa, akhirnya bahunya saya tepuk sampai ia “badar” alias membubarkan meditasinya lalu berdiri memberikan ruang kepada saya untuk lewat saat itu baru terlihat ditangan kirinya memutar buah tasbih.

Walau beda “stir” rasanya adem ayem bepergian menggunakan Value Air Singapura – Jakarta bersebelahan dengan orang-orang yang selalu menyebut nama Tuhan. Sekalipun pemberitaan media masa belakangan ini mengenai keterlibatan tokoh kunci agama dengan kematian artis muda membuat saya menerbitkan liur prasangka jangan-jangan pengedar psikotropika pula.

Nampaknya bapak ini rada terganggu (atau tidak mau mengganggu saya dengan aktivitasnya) sebentar saja ia lepaskan pengikat pinggang lalu beranjak dari duduknya dan pindah ke bangku belakang bersamaan dengan barang tentengan sekilas mirip minuman dibeli di toko “bebas pajak“.

Pengamatan saya mulai “on” kembali kepada bapak ini saat pesawat mendarat di Sukarno Hatta, seorang wanita sekita 35-an berpostur tegak, cantik, kulit cerah, potongan rambut pendek, berhak tinggi sudah menungguinya di pintu kedatangan bersama pengemudi yang juga berambut cepak dan seragam gelapnya mirip pengawal presiden kalau berpakaian sipil. Yang saya tahu gaya penyambutan ini biasanya diperlihatkan oleh pejabat kelas tertentu kalau dijemput stafnya. Sekalipun saya tahu, ia bukan pejabat.

Memasuki ruang pemeriksaan dokumen imigrasi, lagi-lagi bapak ini membuat kejutan dengan melalui jalur paling kanan khusus diplomatik sehingga passport tidak diperiksa sama sekali bahkan membuat wajah para petugas khusus diplomat tertawa lebar dan sumringah seperti baru tembus “4D” – ini doa para pejudi Singapura berharap tembus lotere empat digital.

Sementara menunggu kedatangan bagasi saya mencoba memutar tustel namun wajahnya selalu tertutup oleh orang yang berlalu lalang disekitarnya.

Memasuki pemeriksaan bea-cukai lagi-lagi bawaan pria ini lancar saja tanpa X-ray sama sekali. Padahal saya yang menguntit tepat dibelakangnya langsung distop oleh petugas douane yang hari itu seragam menggunakan rompi hitam bertuliskan CUSTOM berwarna kuning cerah. Alasannya saya membawa sosis.

Baru koper akan dibuka, dibelakang saya sudah berdiri seorang petugas dengan wajah mirip Jaksa Agung baru kita. Bawaan saya berupa Sosis yang tak seberapa jumlahnya (saya tak kuasa menolak permohonan keponakan) menurutnya sosis harus memasuki karantina sebelum masuk ke Indonesia.

Memang tidak ada drama yang terjadi, sosis sayapun lolos setelah diberi nasihat lain agar lain kali masuk karantina.

Lalu kepikiran mengapa beliau yang mirip encek-encek di Glodok begitu kuasanya di Bandara bertahap International. Apakah beliau tadi berdoa terus sampai mampu memperoleh pelayanan sekelas diplomatik atau pejabat, atau karena berdoit (duit) sehingga mampu membeli pelayanan kusus. Lebih bingung lagi, kalau ia berdoit, mengapa memilih ValueAir murah meriah seperti saya?. Kepikiran kalau sudah bertasbih siang malam maka orang menjadi pribadi yang taat kepada aturan agama, patuh kepada aturan negara. Kalau harus antri, jangan menggunakan kekuatan lain seperti kekuasaan atau uang untuk tidak antri agar tidak menginjak perasaan rakyat biasa yang sudah antri. Ternyata patuhnya masih setengah-setengah.

Mengapa hukum dan aturan selalu tebang pilih apa salahnya memeriksa dokumen didepan halayak lain agar wibawa instansi yang terkait tidak menjadi cemoohan orang di luar.

Haruskah Aku Bunuh Diri


Haruskah Aku Bunuh Diri?!

Seiring hembusan sepoi angin sore,aku duduk termenung sendirian di bawah blok apartemen rumah majikanku, sementara itu bau bunga kamboja yang tumbuh tegar, tidak jauh dari kursi besi yang kududuki menyengat kuat kedalam lubang hidungku, dan seketika itu juga aku hanyut terbawa oleh arus lamunanku yang berkecamuk tidak menentu.Betapa nikmatnya jika setiap hari aku dapat mencium bau harum seperti ini, mungkin…. aku merasa lebih tenang, karena bau wangi ini sepertinya meredekan masalah pribadi yang saat ini benar-benar serius kuhadapi- ‘dihianati oleh kekasih yang sangat kucintai yang akibatnya aku tidak punya semangat untuk bekerja di Negeri Singa ini’.

“Haruskah aku mengakhiri hidupku alias bunuh diri dengan caraku sendiri, agar setiap hari aku dapat merasakan bau harum sebegini?” pertanyaan ini tak henti-henti kutanyakan kepada diriku sendiri…agar akhirnya aku bisa terbaring selamanya dibawah pohon-pohon kamboja yang tumbuh dengan rimbunnya di tanah perkuburan kampungku nan jauh disana.

Judul cerpen diatas saya ambil dari blogger para Pembantu Rumah Tangga kita yang diantara kesibukan sehari-hari, dan bekerja dibawah tekanan majikan mereka masih sempat menuangkan isi hatinya. Dengan judul-judul seperti diatas maka tak heran kadang kita mendengar PRT kita yang melakuan “jatuh diri” – atau dipenjara tanpa pernah mampu membela dirinya sebab pers memang sudah bias dan biasa mendengar berita semacam ini.

Uniknya, semua unek-unek para PRT kita ditulis tanpa diedit sehingga kesalahan tulis, koma semua dibiarkan seperti aselinya.

http://buatmereka.blogspot.com/

Mimbar Bambang Saputro
mimbarsaputrogmailcom
0811806549