Artikel #908 Pucung di cinta – Aruan tiba



Kedai Masakan Betawi “Bang Peang

Masakan Betawi tentu bukan hanya nasi uduk atau sop kambing betawi atau soto Betawi. Masih seabreg-bujeg banyaknya. Tetapi beberapa diantaranya mulai langka karena selain bahan baku yang mulai berkurang, teknik memasaknya tak kalah ribet sehingga banyak yang gagal.

Salah satunya sayur pucung.

Sayur Pucung merupakan semacam gulai ikan aruan (gabus) yang dimasak dengan hamburan bumbu rujak, lalu dikombinasikan dengan pemberian keluwak sehingga kuah sayuran berwarna dawat geseng persis kuah rawon masakan jawa timur. Bedanya rasa masakan mirip rujak, asin, asam dan sedikit pedas dengan bahan baku ikan gabus yang tebal daging dan protein.

Universitas Brawijaya pernah mengasongkan hasil penelitian bahwa jenis ikan ini kaya akan protein Albumin, yang sangat berguna bagi pasien pasca-bedah.

Keluwak dalam bahasa Jawa atau Buah Kepayang (Pangium edule) yang sudah tua berwarna hitam dan menerbitkan rasa asam manis dan pedas. Dibalik kulitnya yang keras terdapat daging berwarna kehitaman. Daging keluwak inilah merupakan bumbu utama yang menimbulkan aroma khusus mirip rawon, dan warna kuah yang berkilau keemasan.

Untuk melengkapi masakan maka ditambahkan cabe, bawang, kunyit, sereh yang digongseng terlebih dahulu. Yang tidak boleh dilupakan, nasi yang dihidangkan lebih afdol bila telah di “akel” sehingga wangi Pandan Wangi semakin tajam dan pulen dan sedikit liat saat memasuki kerongkongan.

Kendati bumbunya nampak sederhana, tetapi lazimnya masakan tradisional, harum pula akan cerita esoteris – pasalnya banyak pakar pucung yang menyoba mengajarkan ilmu kepayang ini kepada generasi dibawahnya. Namun banyak pula sudah mabuk kepayang lantaran mencobai rasa daging keluwak, ilmu belum juga nyantel alias gagal.

Belum lagi buah keluak sendiri memang tergolong “angot-angotan” – kadang panen tanaman liar ini menghasilkan buah yang mengecoh. Dari luar nampak segar namun tak jarang pahit. Akibatnya setiap butir “kudu dicoba” kalau pahit dibuang. Tak jarang “ade lima puluh biji pait semue, ya dibuang.” Kata seorang pakar kuliner Betawi sambil merenges humor. Mereka jauh dari virus jargon “paradigma, kendali mutu atau QC.” – kalau sudah berase pait masih di terjang, kite selempang (kuatir) langganan pada mabur.

Saya ketemukan sebuah kedai sederhana yang setia menyediakan masakan yaitu berbalut kuah hitam dengan aroma menurunkan jakun adalah kedai bang Peang. Bang Peang sendiri sudah lama meninggal dunia sehingga warisan warungnya diteruskan oleh sang isteri dibantu oleh anak dan mantunya.

Lokasinya di jalan Kampung Sawah sering disebut jalan Puri Gading, sekitar 300 meter arah utara Gereja Kampung Sawah. Jangan tanya kapan mereka buka kedai ini sebab anda akan mendapatkan jawaban pseudo-ngarang lantaran ibu, mantu, anak sepakat mendeklarasikan pernyataan “sejek bujek ngegelar warung, kite orang aseli sinih (h) kagak perna pinda kemane-mane” – pernyataan mengambang yang sekaligus stempel autentik mereka memang aseli lho.

Yang unik mereka menyediakan bale-bale bambu sebagai pengganti kursi. Mungkin maksudnya kalau perut sudah nendang akibat kekenyangan kuah pucung, maka bale-bale bisa dipakai sekaligus buat kongko menunggu nasik (k) turun ke bawah sebelum melanjutkan aktivitas sehari-hari.

Sejalan dengan waktu dipergelangan tangan menunjukkan sekitar satu setengah jam lagi memasuki waktu lohor, kegiatan warung ini meningkat. Suara jepretan karet gelang beradu dengan kertas kopi coklat berbalut lilin pertanda seporsi nasi bungkus telah selesai menyusul bungkusan yang lainnya.

Kita perlu merogoh kocek ebesar Rp. 15 ribu untuk sepotong ikan gabus. Sekilo gabus menghasilkan enam potong. Rata-rata tiga ekor ikan gabus memiliki bobot sekilo.

Bagi anda yang ingin menyoba pepes ikan mas, tenggiri dan peyek udang, jangan kuatir, masakan disini nampaknya belum mengenal “nget-ngetan” alias sudah kelewat (h)ari. Terbukti rasa dagingnya masih kenyal sementara peyek udangnya begitu renyah.

Siapa bilang masakan Betawi cuma “berani santen?”

Advertisements

Pintoe Besar mana pintoenya


Seabad lalu gubernemen Belanda mengundang para pahlawan tanpa tanda jasa yaitu goeroe dari Solo dan Yogya untuk berkunjung ke Batavia. Mereka dibawa ke Stadhuis (Gedung Bicara), pabrik gas, percetakan uang kertas, dan (astaga) juga pabrik Candu. Soal candu ternyata orang Olanda pikirannya cerdik, daripada penjualan jenis psikotropi jatuh ke pengedar liar, mendingan merekai mengorganisasikan perdagangan ini melalui para pacht (dealer). Maksudnya selain legal juga menguntungkan pundi negara. Alasan lain entoch para penyeret (pecandu) itu bakalan masuk keluar panti rehabilitasi seperti kerbau dengan lumpur sawah. Dimandikan sampai tandas tidak lama akan kembali ke kubangan lagi. Mending mereka dicekoki opium “pahe” syukur bersedia mencuri start menemui Giam Loong alias dewa kematian versi buku silat KPH.

Ketika rombongan goeroe melalui jalan Pintoe Besar, ada (bapak) bertanya pada pengantar-nya, buat apa bersusah-susah melihat Pintu Besar zonder (tanpa) melihat pintunya

Ditanya menohok begini, sang pengantar cuma garuk-garuk ia punya kepala tak gatal, lantaran ia tiada punya moeslihat untuk memberiken jawaban. Paling memberikan jawaban” tauk tuh selipun (sekalipun) engkong sampai bercucu disini emang sudah begitu panggilannye..

Untuk mengetahui sejarah Pintu Besar, kita moesti melihat kilas balik ke tahun 1632.

[suara tambur dipukul perlahan, sedikit cepat lalu keras dan diahiri dengan kencreng … jreng!..]

Setelah pengepungan oleh bala tentara Mataram yang sukses menewaskan Gubernur Jendral Jan Pieter Zoen Koen akibat Kolera tapi, maka penggantinya segera kasi prentah agar sekeliling Kastil dibangun kanal-kanal atau parit air yang lebar sehingga diharapkan bisa mencegah ancaman anasir luar yang berniat menghancurkan integritas bangsa Wolanda.

Untuk keperluan keluar masuk kastil lalu dibuatkan pintu yang besar disebut NIEUWPOORT. Dan jalan menuju pintu inilah yang disebut sebagai jalan Pintoe Besar alias NieuwPoort Straat.

Pintoe Besar ini ini bercabang jalan ke kota satelit sebelah selatan yang disebut Zuidervoorstad yang sekarang menjadi jalan Pinangsia, tempat pedagang material candak kulak bahan bangunan seperti kunci, kaca jendela, washtafel dsb. Juga (kalau misih ada) VCD Porno bersandi Unyil (dulu).

Kawasan Zuidervoorstad tadinya dibangun untuk perkampungan Cina, tetapi penggawe Kumpeni ikutan menanam saham membuat rumah menginap yang sekarang sering disebut apartemen. Dengan alasan pintu Kastil sudah tertutup, sering terjadi para pembesar menginap di luar kastil tentunya ditemani para Amoy berkulit pualam dan ayu. Mungkin ada cerita mirip pembesar Kumpeni “kegep” jam 3 dinihari dirumah seorang amoy Pontianak, dan bersumpah demi ini dan itu sekedar mencari dokumen tertinggal. Tapi itu cerita ratusan tahun kemudian.

Dari pintu besar tadi dibuat jalan tembus Buitenniewpoortstraat alias Jalan di luar pintu gerbang baru.

Ketika Daendels memerintah Betawi ia mempunyai gagasan baru, kastil-kastil tadi dibongkar demikian juga pintu gerbangnya. Tidak heran anak cucunya keturunan Daendels ratusan tahun kemudian juga memiliki nafsu membongkar. Tiada Kastil, boleh juga gedung Biskop, tiada bioskop, bolehlah stadion olah raga, tiada stadion Pohon Beringin-pun jadilah. Seperti kata Iwan Fals, “bongkar! ya bongkar”

Tapi ada alasan Daendels yang rada masuk akal, kanal-kanal tersebut kalau musim kemarau kering dan celakanya rumah sakit kastil membuang perban, kapas, kotoran dan potongan daging serta tulang manusia ke kanal sehingga membusuk dan mengundang lalat dan malaria membuka Posko sekaligus Posyandu. Parit-parit itu lalu dioeroeg (timbun) dan dibuat “trem way” plus stasiunnya untuk jurusan Tanjung Priok – Tangerang. Sejak itu Pintoe Besar tinggal sebuah nama besar.

Jalan Pintu Besar merupakan jalan ramai di Betawi, di jalan yang terletak kota lama terdapat toko-toko dan kantor dagang. Kadang ada trem uap melintas dari Kota Inten ke Harmoni, tak heran sering terjadi kecelakaan antara trem dengan dos-a-dos (sado).

Tabrakan haibat (ai) pernah terjadi antara sebuah pedati dengan dos-a-dos (sado) seperti diberitakan harian Bintang Betawi 21 Mei 1903. Konon penumpang dos-a-dos sampai terpental dan tiada inget sakeliling (semapoet) dan perlu digotong ke rumah tukang besi sekitar toko Ang Sioe Tjiang & Co untuk dibikin mendusin agar ia ingat sekeliling termasuk kenyataan bahwa sekarang Pintoe Besar tak memiliki pintoe.

Anzac – Peringatan Perang tanpa Pekik Kemenangan


Kita merayakan hari besar biasanya diambil peristiwa yang besar, penuh heroik dan kemenangan. Misalnya hari pahlawan 14 November.

Di Australia, dikenal sebagai Hari Veteran Australia atau ANZAC yang jatuh pada 25 April, namun menurut catatan beberapa pelakunya (yang umumnya sudah meninggal dunia), peringatan tersebut jauh dari sebuah kemenangan gilang gemilang, atau keheroikan seseorang. Sekalipun demikian, uniknya hari Anzac justru dijadikan hari libur dan dimeriahkan oleh parade para aktor perang waktu itu mulai dari PD1, PD2, Borneo, Vietnam, Korea, Afrika, Timor Timur. Ternyata sejarah pertahanan Australia sudah berjalan cukup lama dan diasah oleh medan pertempuran yang beraneka ragam.

Melihat antusias warga atas para veteran perang, saya jadi iri pasalnya boleh jadi tidak semua warga negeri ini tahu bahwa 10 Agustus adalah hari Veteran Indonesia.

Sebut saja Kyle pada bulan juni 1915 usianya baru 17, namun ia mengaku 19 agar bisa diterima sebagai tentara dalam PD1. Divisi pertama dari Australian Imperial Forces (AIF) mendarat di Gallipoli Cove pada 25 April 1915 sebagai pasukan pemukul dalam operasi Dardanella menghantam Turki. Akibat salah perhitungan mereka mendarat di kantong tentara Turki sehingga bagai ular mendekati penggebuk, pasukan ANZAC banyak yang menjadi korban.

 

 

 

Divisi kedua dikirimkan lagi setelah menjalani latihan di Mesir untuk menyesuaikan diri dengan medan Turki. Mereka mendarat di Gallipoli pada 2 September 1915. Keadaan sami mawon, tentara Turki dan Jerman masih terlalu kuat bagi mereka. Saat mereka melakukan evakuasi, misalnya, agar terkesan masih tetap berperang mereka mengakali senjata yang sedemikan rupa sehingga mampu menembak secara otomatis. Padahal sebetulnya tetesan kaleng corned beef yang dilubangi sehingga air yang menetes akan mengurangi berat kaleng yang akhirnya akan menggeser pelatuk senjata agar Jerman menyangka masih ada orang diparit persembunyian.

Usai operasi Dardanella, divisi ini ditugaskan ke Perancis. Disini Kyle mengalami sabung nyawa dalam arti sesungguhnya. Pasalnya tentara sekutu dengan cerdik mengumpankan tentara Australia sebagai pasukan pemukul terdepan, yang tentunya banyak memakan korban.

Ia masih ingat dalam peperangan di Somme. Sebuah rencana penyerangan dadakan dilakukan melalui sebuah jalan dalam peta ternyata tidak ditemukan di lapangan. Akibatnya gerakan pasukan terhenti untuk beberapa minggu.

Namun bukan kekalahan atau kekacauan yang dilihat sebagai pengalaman pahit sebab sejak itu muncullah identitas baru yaitu ANZAC sebagai ganti dari dominasi Kerajaan Inggris Raya. Bahkan tanggal penyerangan 25 April ditetapkan sebagai hari Veteran nasional atau lebih terkenal sebagai ANZAC.

 

 

Hari Rabu 25 April 2007, di halaman tengah koran The West Australian memuat satu halaman penuh yang dihitamkan. Lalu ditengah-tengah ada tulisan besar “Satu Menit Saja..” pesannya untuk mengingat selama satu menit bahwa Australia yang berdiri sekarang ini tidak lepas dari pengorbanan Satu Setengah Juta tentara yang dikirim ke 13 perang.

Sebanyak 225 ribu diantaranya terluka, seratus ribu bahkan tidak bisa kembali ke tanah airnya. Dengan pengorbanan tersebut, beruntung kita yang masih bisa membaca pesan ini. Di jalanan banyak dijumpai para senior berjas biru kehitaman, sebagian mengenakan baret hijau, dengan lencana bertaburan didadanya. Inilah hari Veteran Australia.

 

Parade di lapangan Canberra dilakukan tanpa pameran peluru kendali atau demonstrasi keahlian pasukan tempurnya. Justru yang disaksikan dunia adalah para veteran perang dunia I yang masih tersisa berbaris dengan pataka (lambang pasukannya) masing-masing.

 

Sebagian divisi tersisa kurang dari sepuluh karena sudah banyak yang meninggal dunia karena usia. Ada divisi yang menamakan “Tikus Tobruk,” yang pernah difilemkan ketika mereka melawan Jerman yang lebih banyak dan kuat.

 

Kemudian divisi kapal selam yang membawa slogan, “kami datang tanpa diketahui.” Pataka tersebut disulamkan nama kawasan yang pernah dimasuki oleh kapal selam ini termasuk Laut Jawa, Borneo (selalu Kalimantan disebut Borneo).

 

Beberapa diantaranya memperingati Anzac dengan menapak tilasi bekas perang misal ke Turki, ke Papua Niugini, atau Kalimantan.

 

Seorang Pejabat Perth, mendatangi Sandakan di Kalimantan sebab ketika masih kecil ia ingat 2700 tawanan perang tewas dalam perang dunia melawan Jepang. Sebuah foto yang sangat mengesankan adalah ketika foto kakeknya bersama seorang dayak yang menyelamatkannya dari usaha dibantai oleh tentara Jepang. Diantara para penapak tilas ke Sandakan, nampak seorang senior wanita, 85 tahun, sekalipun sudah dikursi roda, namun semangatnya masih begitu hebat. Wanita ini menampung para serdadu yang pulang dari medan perang merana lantaran kehilangan harta, anggota badan dan keluarga. Ia tahu persis rasanya orang beruntung selamat dari maut peperangan, tetapi celaka di kehidupan masa-damai.

 

Mungkin masih ingat cerita Rambo yang mengamuk sejadi-jadinya lantaran sepulangnya dari tugas di Vietnam orang-orang dikotanya mengejek sebagai pahlawan yang membunuhi bangsa Vietnam yang tak berdaya padahal, begitu banyak teman-temannya yang tewas di sana.

 

Hebatnya, ibu Patterson, sang pelindung veteran perang, tidak pernah merengek donor dari pemerintah, badan agama atau siapapun. Baginya tidak perlu mengedar list untuk mengajak orang berbuat baik. Sanggup kerjakan, kalau tidak mampu, lepaskan mimpi.

 

Pekerjaan utamanya disiang hari adalah seorang perawat, dan sampingan lainnya adalah menjadi supir truk pengantar roti. Dengan kerja bak rodi itulah ia menghidupi para veteran cacat dan terlantar yang membawa trauma bathin kehilangan teman yang meregang nyawa di medan kombatan (ikutan bahasa petingga GAM). Beban Ibu Patterson berkurang ketika seorang cacat veteran PDI asuhannya meninggal pada 2002. Saat itu ia berusia 80tahun.

 

Perempuan ini hidup melajang. Tunangannya tewas dalam sebuah kecelakaan tambang pada tahun 1950, sejak itu ia tidak bisa menemukan pria penggantinya dan mentransformasi cintanya dengan merawat orang terlantar perang.

 

Syd “hydrolik” adalah salah seorang Veteran yang kembali selamat dalam perang dunia II. Oleh-olehnya adalah kedukaan mendalam. Apalagi ia membawa secarik bendera Union Jack yang ditandatangani oleh 150 teman-temannya. Setiap melihat bendera tersebut ia menjadi emosional dan uring-uringan sehingga istrinya mengancam meninggalkannya jika ia masih menyimpan bendera tersebut. Ia dipanggil hidrolik sebab tubuhnya kuat sehingga mampu mengangkat benda berat.

 

Saat ia meninggal dunia, anaknya menemukan bendera yang disembunyikan disuatu tempat. Sekarang carikan bendera bertanda tangan diserahkan kepada musium militer di Perth. Salah satu tanda tangan yang ditulis spidol hitam (heran hanya warna ini yang tahan cuaca dan waktu) tertulis WX13249 “Bomber” Coombe dari Dalkieth. Norman Bomber termasuk orang yang selamat pulang ke rumah. Anaknya menjadi pemrakarsa meneliti identitas pahlawan yang hilang dalam perang.

 

Perang, dengan mengatas namakan perjuangan apa saja, sebetulnya hanya membawa kepedihan terutama kepada pelaku dan keluarganya, bukan kepada para provokator ataupun penganjurnya.

 

Untuk itu Kyle menulis “selama empat tahun lebih kita berusaha melenyapkan nyawa satu sama lain, korban perang ada 27.530.700 nyawa terbuang sia-sia, cacat, hilang, belum lagi jutaan penduduk sipil yang menderita nasib serupa. Ini adalah tindakan gegabah yang hanya mengandalkan kebanggaan Nasional dan ambisi pemimpin dari kedua belah pihak.

 

 

 

Artikel # 905 Lee Kuan Yew


Pemimpin kelahiran 1923 di Semarang ini memang unik. Beberapa tahun lalu ia geram dikritik Australia sebagai “diktator yang sukses secara cerdas menguasai Singapore.” lalu ia menjawab “kalian Australia adalah sampah putih. Stop mengevaluasi kami.” Ia memang tajam lidahnya. Maka ketika Australia mau macam-macam dengannya, langsung di serang balik. Kalian orang Australia mau mengaku Asia bukan, mengaku Putih jauh. Paling juga sampah orang Kulit Putih. Pikirnya orang bisa seenaknya mengecam kebijaksanaan politiknya, mengapa tidak di kecam balik? – soal tindakan pelanggaran HAM, bagi Lee, urusan negara kok “coba-coba” menerapkan ilmu demokrasi dari buku keluaran barat yang tebal-tebal, belum tentu cocock diaplikan di tanah airnya – emang iklan minyak gosok.

Bagi Lee, negara bukan pusdiklat untuk coba-coba jadi Presiden. Kalau tidak cocok diganti dengan yang lain sebab korbannya akan banyak dan sekali rusak tatanan negara, sulit direstorasi. Ia persetankan istilah yang sakral orang barat seperti HAM atau Demokrasi.

Saya pikir hubungan kedua negara pasti renggang. Apalagi belum lama ini Nguyen Van Tuong baru habis digantung gara-gara kedapatan membawa narkoba.

Lho kok 28 Maret 2007, di ANU, Australian National University ia mendapat gelar doktor honoris dalam bidang hukum. Seperti biasa protes marak dikalangan kampus ANU. Maka kampus ANU penuh dengan spanduk “Lee, ANU not for Dictator,” seperti kebiasaan para demonstran, termasuk “Dont sell ANU for Dollar”

Di protes begitu keras, orang kuat Singapore ini malahan cuma berkomentar, “saya berterimakasih, kalau tidak ada para demonstran, mungkin dunia tidak tahu saya berada disini.” – Bahkan ketika mengucapkan pidato pengukuhannya ia sempat mengingatkan hadirin dan hadirot peristiwa beberapa ucapannya beberapa tahun lalu.

Dalam kata sambutannya promotor mengatakan bahwa pria yang berani memerdekakan diri dari Malaysia dan memimpin sejak 1965 sampai 1990 adalah satu dari sedikit pemimpin Asia yang berani mengecam Australia jika tetangganya melakukan suatu kesalahan.

Hal yang jarang dilakukan oleh pemimpin Asia lainnya.

Memang banyak pihak menyayangkan bahwa pemberian gelar kehormatan ini kurang disosialisasikan di Kampus sehingga membuat orang terhenyak. Lalu publik mulai rasan-rasan. Sebetulnya ada apa sih antara ANU Australia dengan NUS Singapore. Mereka memang menjaga hubungan dengan amat manis.

Maka seperti kata pepatah, tidak ada musuh atau teman abadi kecuali kepentingan.

Australia Undercover


Saya pikir setiap lelaki pasti menyukai sex. Saya bertemu dengan pengacara, dokter, polisi, wartawan, politikus, tokoh agama, atlit, selebritis dan masih banyak lagi. Sehari-hari mereka adalah manusia berpenampilan “setengah dewa” yang mungkin didambakan sebagai ayah, saudara, teman kerja, atau orang yang ingin kita nikahi seumur hidup. Usia mereka antara 35 sampai 75, umumnya sudah menikah. Namun mereka juga memiliki “kerangka dalam lemari” yaitu gemar mencari sensasi sex di luar rumah tanpa berniat “selingkuh” terhadap pasangannya.

Kalau anda seorang polisi susila dan dalam kehidupan sehari-hari suka menyiksa orang menaruh puntung rokok menyala di payudara, salah-salah bisa jadi perkara kriminal tindak kekerasan dalam keluarga, kalau sampai dilaporkan oleh pasangan anda. Tetapi bagi kami itu adalah romantika hidup sehari-hari. Suatu kebahagian manakala pelanggan “kembali ke laptop masing-masing“dengan perasaan lebih santai ketimbang ketika mereka baru datang. Kami menjadikan mimpi menjadi kenyataan. Di depan “laptop” mereka tetap menjadi ayah dan suami yang sayang keluarga dan yang penting, bebas rasa salah.

Yang bicara ini Roxy, jelas bukan nama sesungguhnya, tetapi karena tidak dalam tayangan mirip “fenomena” di TV maka mukanya tidak perlu ditutupi dan suaranya tidak perlu dibuat seperti suara Dessy Duck dalam kaset kusut.

Roxy adalah salah satu wanita panggilan yang kartu namanya bisa dijumpai di halaman iklan koran-koran Australia. Hidangan andalannya multidimensi mulai dari B&D, fantasi, jeruk makan jeruk, hidangan ala perancisan, sampai pelayanan secara habis-habisan. Kalau ada istilah “three in one“, Roxy malahan berani melintas jalur three for one. Kadang ia melayani pasangan di hotel yang minta disaksikan pihak ketiga.

Perempuan berdarah Brazilia ini tingginya sekita 170cm, berambut merah, bergaya rambut bak Cleopatra ini menyebut sebagai “Pekerja sosial yang berniat memperbaiki kehidupan pribadi bukan cuma pelanggannya akan tetapi anak dan istri sang pelanggan….

Pendapatnya yang mengobrak abrik “tatanan masyarakat” inilah yang menarik Roberta Perkin seorang gurubesar Universitas Sydney menurunkan laporan mengenai dunia remang-remang Australia. Perkin berpendapat bahwa berbeda dengan yang digambarkan dalam layar kaca, para perempuan panggilan ini umumnya berasal dari kalangan menengah, dari orang yang didik ketat beragama, dan memiliki penampilan atraktip. Rata-rata mereka berusia 26, umur yang dalam urusan “ah uh grusak” dianggap kadaluwarsa untuk memajang diri. Akibatnya mereka banting stir ganti perseneling ke jalur “dial up services.”

Yang menarik, para pekerja esek-esek ini kebanyakan justru ditawarkan oleh ibu mereka sendiri. Kalau soal beginian, melihat berita infotainmen, ternyata Indonesia tidak kalah bersaing.
Roxy yang sekarang berusia 30 tahun, mula-mula beroperasi diwilayah remang-remang kawasan Victoria, Perth. Penghasilan mula-mula cuma 70 dollar, kadang ia bisa mendapatkan 500 dollar permalam. Lalu seseorang menjadikannya ia “cinta bawah tanah” dan menyiksanya setiap hendak berhubungan. Ternyata B&D yang ia dapat sampai khatam sangat bermanfaat setelah ia putus dengan pacarnya. Pasalnya ia langsung menjadi profesional yang menarik “uang lemas” – sebesar 150 dollar per jam kencan.

Kadang ia harus mengikuti fantasi pelanggannya yang ingin dianggap terdampar di Amazon penuh dengan perempuan sexi dan horni. Maka ia memerankan tonil singkat “lihat diujung sana ada 100 wanita Amazon pakai perahu kemari. Mungkin saat masa subur mereka untuk dibuahi.” – eh kok pelanggannya menjawab “oh iya ada seratus, mudah-mudahan mereka baik-baik semuanya ya.

Coba kalau kelakuan ini diterapkan di rumah, jangan-jangan para ibu buru-buru menilpun HerSuharto nama RS Jiwa di Grogol lantaran menyangka suami tercinta kurang satu strip dari normal.

Mengingat sebagian pekerja SK adalah orang yang terikat ikatan perkawinan, memiliki anak, bahkan ada seorang presenter terkenal yang bersuamikan wartawan kondang, pertanyaannya relakah jika anaknya memergoki ibunya berprofesi ganda sebagai “dial up services” – ternyata tidak. Beberapa diantaranya berpakaian seperti jururawat, keluar rumah sambil mengatakan “mami akan ke rumah sakit bekerja.

Selalu ada pertanyaan klasikal “apakah mereka menikmati permainan yang disuguhkannya?,” sebab terlanjur beredar dikalangan penggemar “cakar elang” luar pagar bahwa dengus-asmarawati tersebut adalah hasil sinetron. Danielle salah satu responden malahan menambahkan “kalau sehari tidak orgasme dengan pelanggan,” ia tidak bisa menjalankan profesiya dengan baik lagian buat apa semua pengorbanan yang ia lakukan selama ini kalau tidak ikut menikmatinya sekalian. “Saya membayar pajak, saya juga banyak menjadi donatur pada rumah miskin, rumah peribadatan. Yang kami inginkan masyarakat menganggap kami seperti halnya melihat profesi jururawat, ibu rumah tangga…

Kisah perempuan-perempuan penyedia jasa sex di Australia, yang beralih dari mejeng di hotel maupun rumah bordil menjadi wanita penghibur diungkapkannya dalam buku “Call Girl.” tulisan Roberta Perkins.

Sejak diberlakukannya undang-undang yang mencabut perlakuan kriminal terhadap pekerja malam ini maka mencuatlah para klandestein memperkenalkan diri secara terang-terangan. Pasalnya selama ini mereka diburu-buru seakan menyewakan barang bajakan, padahal aseli lho.

Artikel #903 Boleh Marah Menjelang Imlek


Perasaan hari masih terlalu muda di Singapore untuk sebuah aktivitas kegiatan bernama marah-marah. Sekitar jam 06:00 kami mendengar suara pintu diseberang sana digedor (tapi pak RT tidak nongol).

Seorang ibu sudah melewat setengah baya dengan suara keras menagih janji kepada tetangga kami yang sedikitpun tidak berusaha keluar dari kamarnya. Belum cukup dengan cara yang rada “urakan” pelepas uang ini menempelkan kertas berbentuk pita kuning beraksara hurup pisau kepintu tetangga sekitar.

Kalau saja ada adegan tersebut dalam filem hantu Hongkong, saya kuatirkan begitu ditempeli kertas bermantra sakti, pintu akan segera melakukan lancang depan lalu berjalan dengan cara melompat-lompat bak mayat hidup yang menor berpupur tebal.

Tulisan mandarin kira-kira berbunyi “wahai para tetangga, temanmu ini belum bayar hutang..” – celakanya dalam komunitas mereka masih dikenal pula kalau ada orang berhutang maka tetangga sekitar bakalan dilibas sial. Efek yang diharapkan agar para tetangga membujuk sang pengutang agar melunasi tunggakannya. Tentu kita bakalan bertanya, waktu akad kredit dilakukan secara gerilya dan suka sama suka, mengapa giliran ada “getah nangka” pihak ketiga dilibatkan. Seperti waktu dapat minyak dan gas banyak, diam-diam saja, giliran perut bumi meleduk, semua orang diminta membantu. Herannya lagi, pengemplang hutang yang merat bertemperasan sembunyi ke negeri Singa ini malahan membawa kemakmuran Singapura.

Berhubung di apartemen tidak ada yang namanya Hansip, Keamanan, mungkin untuk menghemat biaya iuran bulanan, biaya seragam hansip, ongkos reparasi sepeda dan baterey hansip, iuran lebaran dan sejenisnya maka reaksi penghuni adalah mengintip melalui jeruji besi pintu rumah yang terkunci. Paling anjing peliharaan penghuni apartemen yang menyalak sebagai reaksi atas kegaduhan tersebut.

Setengah jam berlalu, “mak-loncer” asal kata (loan, pinjam), pun berlalu tanpa drama berarti meninggalkan kami yang kebingungan mengapa dihari baik menjelang Imlek justru muncul kegaduhan.Rupanya inilah caranya sebagian besar masyarakat Singapore melakukan ritual menjelang tahun baru Imlek. Prinsipnya, semua pekerjaan yang belum selesai harus dirampungkan malam itu juga menjelang pukul nol nol teng. Tidak heran banyak orang masih lembur di kantor, pabrik sampai menjelang tahun baru tiba.

Para perajin industri rumah tangga mengangguk-angguk menahan kantuk asalkan pekerjaan hari ini tak tertunda. Konon Para dewa langit, bumi dan dunia arwah gentayangan tidak suka melihat manusia menunda pekerjaan padahal tahun sudah berganti.

Begitu tahun baru tiba, mereka juga merayakan secara tidak tanggung-tanggung. Piyama, celana dalampun harus baru termasuk memompa semangat dan harapan baru.

Artikel #902 Perang Penggorok Leher


Manusia purba konon sekalipun jarang mandi, tetapi soal mencukur jenggot dan kumis mereka tidak pernah alpa. Pasalnya jenggot terlalu panjang bisa berakibat fatal jika sempat dipegang lawan bertarungnya dalam merebutkan pasangan atau tempat tinggal. Alasan lain jenggot dan cambang yang panjang biasanya disukai pasukan kutu dan sekutu-nya.

Para ahli purbakala menemukan bukti bahwa selain mencabuti bulu-bulu dengan cara menjepit helai-demi helai rambut dengan bantuan dua keping batu pipih yang dijepitkan, manusia gua lambat laut mereka menemukan cara lebih mudah yaitu memotong rambut dengan sisi tajam batuan “chert” atau sering disebut “flint stone.”

Chert adalah batu ubahan dari fossil binatang renik purba yang membatu sehingga ideal untuk dipotong-potong menjadi material bangunan. Batuan ini banyak ditemui pada daerah bergunung kapur. Orang-orang Inggris menggunakan batuan chert (flint stone) ini untuk rumah-rumah mereka.

Ribuan tahun kemudian, masih dijumpai manusia modern mencabuti kumis dan jenggot dengan menggunakan dua keping mata uang yang dijepitkan pada ibu jari mereka.

Dari jaman batu, bangsa Mesir dikenal mulai membuat pisau dari lempeng tembaga. Sementara orang Persia menggunakan pecahan batu kali (obsidian). Semua hanya dipergunakan bagi keperluan pribadi. Baru orang Romawi yang menggunakan besi untk membuat pisau cukur dan melihat peluang bahwa usaha cukur bisa menjadi mata pencaharian mereka. Alexander Agung termasuk salah satu penikmat berat ritual bercukur, sekalipun dalam perang ia menyempatkan diri berpenampilan klimis.
Akhir tahun 1700-an Perret seorang Perancis membuat alat yang mirip dengan generasi awal pisau cukur. Ia masih menggunakan kayu untuk membatasi mata pisau agar tidak mengiris kulit. Pada 1845 dari Inggris muncul nama Henson yang menciptakan mata cukur pipih dengan bentuk persegi mirip biskuit (tapi bukan). Tahun 1880 Kamfe bersaudara di Amerika mulai meyempurnakan ciptaan pendahulunya dengan menempelkan kawat pada sisi mata pisau.

Namun persoalan yang masih mengganjal adalah bagaimana mengasah mata cukur yang terlanjur majal?

Persoalan ini dijawab oleh King Camp Gillette yang cerdik memanfaatkan isu pisau tumpul dengan menawarkan pisau yang sangat tipis, tajam, (terpercaya) murah dan tidak perlu diasah sehingga tidak merepotkan pemakainya. Selama dunia dipenuhi manusia berjanggut, maka penawaran silet sekali pakai buang akan menciptakan bisnis yang berkesinambungan. King belajar watak dagang ini dari bosnya saat ia menjadi seorang salesman. Untuk menjaga hak ciptanya, pada 1901, ia mendaftarkan hak paten ciptaannya. Empat tahun kemudian ia bahkan membuka usaha silet di Boston sebelum akhirnya berkembang keseluruh dunia.

Namun ada perusahaan lain yang merecoki monopoli Gillette. Salah satunya adalah “Bic” yang mengendus peluang lain, mereka mengeluarkan pisau cukur yang gagangnya ataupun kepalanya kalau sudah tumpul langsung masuk tong sampah atau didaur ulang. Kepraktisan dan harga ekonomis membuat produk ini langsung diterima tanpa reserve dan merebut setengah dari pasar Gillette.

Yang direbut tentu saja kelenger sebab selama 12 tahun dunia seperti dicekoki alat cukur disposable ini. Daripada jatuh bangkrut, mending mereka jatuh bangun mengikuti jejak pesaingnya dengan menggelar dagangan serupa.

Pisau cukur “Bic” memang murah, tetapi penikmat upacara cukur jenggot dan kumis di pagi hari, merasakan bahwa “habis cukur terasa pedih dan panas…” padahal di iklan, wajah para bintang macam Henry Thiery, Tiger Wood seperti kucing garong baru menelan ikan peda lantas dijawil telunjuk lentik Titi Kamal di dagu sambil bilang “biar bisa henpon aku!.” Di papan atas mereka menawarkan teknik bercukur dengan bilah yang bisa berputar (pivot). Sayangnya pemakai mengeluh pisau hanya bisa berputar searah.

Kelemahan ini segera diisi oleh Gillette dengan mengeluarkan rancangan pisau berbilah empat Schick Quattro pada 2004. Tujuannya mampu memotong rambut tanpa ampun tanpa harus mengerok jangat wajah sehingga. Rahasianya, bahan karet diantara bilah pisau berfungsi sebagai penarik kulit wajah sehingga tidak menimbulkan trauma kulit.
Sebetulnya model ini produk gagal pada tahun 1933, lantaran saking banyaknya mata pisau dipasang, selain menyulitkan pembersihan bulu yang terselip diantara bilah pisau, kulit pemakaipun ikutan teriris. Untung mereka menemukan cara yang rumit dengan menciptakan pisau yang hanya tajam untuk membabat rambut namun tidak cukup tajam mengiris kulit.
Tentunya dengan memasang pisau dengan sudut tertentu sehingga membuat nyaman pemakainya.
Daripada repot memperbaiki sistem pivot Gillette mengeluarkan model Fussion sebagai pengganti Mach 3 yang tidak kalah populernya. Bedanya pada model Fussion mereka menempatkan sebilah pisau tambahan disisi pisau lain sehingga mampu memotong pada sudut yang sulit, menipiskan cambang dan mengerok rambut di bawah hidung sekalipun.
Sekarang Gillette bisa berkipas dalam bisnis “potong leher” ini, bahkan mengklaim dipakai seratus juta orang, walaupun baru sepertiga pasar di tangan mereka. Bahkan produksi mereka kalau disambung mampu mengelilingi katulistiwa sebanyak 20 kali.

Di kantor pusat Boston, para petinggi perusahaan Gillette sangat alergi terhadap para wartawan.

Perusahaan yang pada 2005 dibeli oleh grup Procter&Gamble sebesar 74 triliun dollar sebagai pembelian terbesar di abad ini, menerapkan peraturan ketat terhadap karyawannya.
Karyawan cuma perlu tahu, bagaimana berproduksi secara garis besar. Ini adalah bisnis penuh persaingan,” kata seorang pejabat di Boston. Maklum intip mengintip teknologi lawan sudah merupakan rahasia umum.

Yang perlu diingat, seperti kata iklan, apapun jenis pisau cukurnya, maka untuk urusan mencukur jenggot dan kumis ada aturan “fore play” yang perlu diikuti. Pertama mencuci muka dengan air hangat agar mengangkat semua lemak dan debu, dan membiarkan agar jenggot dan kumis tetap lembab dan lembut dengan mengoleskan busa cukur.

Banyak orang berpendapat asal janggut sudah basah dan menggunakan sedikit sabun, maka mereka sudah siap mencukur. Padahal air dan sabun mudah kering sehingga diperlukan busa khusus untuk bercukur,” kata Dan Lazarchik dari Gillette.

Dan yang lebih penting lagi, bercukurlah di saat hari masih pagi.
Sayang Alexander Agung sudah tidak sempat menyaksikan rasanya bercukur pakai alat model vibrator.