Artikel #892 – Aturan bepergian sekarang berubah banyak


Disadari atau tidak melakukan perjalanan udara dalam dasawarsa belakangan berubah cepat. Dulu, begitu lepas landas, mata para perokok, hanya mantheng tertuju lampu tanda No Smoking.

Begitu suara “tung” menandai pemadaman larangan merokok, maka sebentar saja terdengar suara jras-jres-jros orang menyalakan rokok disertai hembusan napas lega digelontor asap rokok. Kabin pesawat, sebentar saja penuh asap bagaikan kepulan kemenyan mengiringi pagelaran tarian sakral “Dirada Meta” alias Gajah Ngamuk. Yang tidak merokok boleh pindah tempat ke depan atau terbatuk-batuk dicekik asap nikotin.

Lalu saat seluruh penerbangan memberlakukan Anti Merokok didalam pesawat. Hawa pesawat memang menjadi nyaman. Parfum yang dipakai penumpang bisa tercium aromanya. Bahkan saat pramugrari memanaskan hidangan, bau kuah daging, atau aroma kopi instan mengalir ke hidung.

Yang memanfaatkan kesempatan ini adalah negara cerdik macam Singapore. Mereka memperketat masuknya rokok luar ke negeri mereka. Seorang kerabat kedapatan mengantongi dua bungkus (bukan dua pak) rokok Kediri, terpaksa gigit jari mengeluarkan sekitar 300 dollar akibat didenda (ia tidak mengaku persisnya jumlah denda). Kalau masih keukeuh ingin membawa rokoknya, tambahan cukai 75 dollar per bungkus harus dibayar. Saya pernah diprotes pembaca yang mengaku membawa satu pak besar rokok Kretek, dan aman-aman saja.

Pop-Mie disita petugas

Gara-gara meramal bahwa tiba di Apartemen, Perth sekitar jam lima dinihari, dan tidak akan menemukan abang penjual boti, bubur ayam, lontong sayur, nasi uduk yang mengider ke kampung, maka saya nekad membawa empat bungkus mie instant yang tinggal dikucuri air panas. Barang tersebut saya “declare” dalam formulir keimigrasian. Petugas imigrasi lalu memberi lingkaran merah pada formulir isian. Tidak lama dia meminta temannya memeriksa passport saya. Entah mengapa “beagle brigade” – brigade anjing yang biasa ikut sibuk mengendusi tas penumpang, tidak nampak. Petugas karatina mendatangi saya dan membongkar isi tas. Mie instant yang terbebat dalam stereoform dilihat dibawah lampu khusus. Daftar isi dibaca (untung ada bahasa Inggrisnya).

Cewek Australia ini berbalik sambil bilang “maaf kamu tidak diijinkan membawa makanan ini ke Australia.” – biang resehnya adalah potongan bakso kecil dan suwiran ayam kecil hanya cukup buat slilit gigi. Sambil merelakan barang disita, saya kepikiran kalau tadi barang tersebut tidak di declare, entah berapa ratus dollar saya akan didenda. Rupanya jujur membawa mujur. Lalu ingat beberapa waktu lalu ada teman ke Australia dengan membawa camilan kacang bawang yang ia makan selama dalam pesawat. Lantaran tinggal sedikit, kacang bawang ikut dimasukkan tas dan tidak diberitahukan petugas karantina. Untung ia sempat berkelit. Kalau tidak 250 dollar bakalan lewat.

Memasuki babad teroris perubahan cukup signifikan terjadi, misalnya, peniti, pemotong kuku, obeng kecil dilarang masuk kedalam kabin. Pernah sekali saya ditilpun teman. Rupanya ia membawa pemotong kuku, pinset serba mini hadiah saya kedalam kabin. Padahal cuma setebal kartu PCMCIA, toh barang tersebut disita petugas saat ia memasuki Christmas Island.

Maka matskapai (pakai t) macam SIA sampai “diniatin” menempelkan sepucuk kertas kecil pada baki makanan, sebagai permohonan maaf terpaksa menggunakan sendok dan garpu terbuat dari plastik. Giliran para kleptomania sendok dan garpu pesawat terpaksa gigit jari tidak bisa bawa oleh-oleh untuk dibanggakan didepan keluarganya (mencuri).

Polisi anti “barang” bajakan.

Seorang Australia bercerita, ketika tiba di bandara Charles de Gaulle, Paris baru-baru ini dengan anaknya dia heran mengapa tidak diberi formulir isian imigrasi, bahkan passportpun cuma sepintas dilihat. Maka mereka betapa leganya setelah enam tas besar berhasil lolos pemeriksaan. Tidak disangka diujung sana seorang polisi “mode” menyetopnya dan menginterogasi apakah pakaian yang dikenakan anaknya berasal dari Thailand – yang dikenal jago meniru merek dari Paris semacam Louis Vuitton atau Chanel. Rupanya bagi bangsa yang sering diolok “pangeran Kodok”, soal isu melindungi hak cipta mereka jauh lebih penting dari isu presiden Bush.

Tetapi, polisi “mode” juga kecolongan. Seorang anak muda yang berpakaian keluaran rumah mode Diesel tapi aspal dari ujung rambut sampai ujung kaki, ternyata malah lolos dari radar dan sensor pengamatan mereka.

Dari Paris mereka merencanakan liburan ke Bangkok. Untuk meyakinkan bahwa tidak ada larangan bepergian ke Bali, ia mendatangi Konsulat Australia di Bangkok. Pihak konsulat mengatakan, tidak tahu, sebab mereka tidak memiliki akses untuk itu. Akhirnya setelah berdebat cukup lama, cewek konsulat mencari tahu melalui internet. Ia kembali dengan jawaban, “anda tidak boleh ke Bangkok sebab ada bom meledak di Bali!,” katanya setegas menyanyikan lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut.”

Tapi Bali bukan Bangkok!. Dan pelajaran ilmu bumi ini memerlukan waktu lama untuk ditransfer ke cewek konsulat Australia bahwa sekalipun sama-sama ‘BA’ pada awal nama kota, tapi sejarahnya lain. Sampai di Bangkok anaknya minta belanja ke MBK (Mah Boon Krong). Padahal dia baru saja stress diiterogasi soal barang aspal. Setengah teriakia menolak: “jangan pernah berfikiran beli barang tiruan, sekalipun di Bangkok.”

Ceritanya, usai berlibur di Bangkok, yang herannya ‘hare geneh ’ ada supir taxinya hanya kenal aksara pisau (maksudnya mirip pisau disusun) sehingga terpaksa harus minta tolong petugas hotel untuk menuliskan alamat yang dituju. Mereka berniat pulang ke Australia.

Di Bandara Bangkok, sudah dalam pesawat, tiba-tiba awak kabin melalui pengeras suara mengumumkan “bagi yang bernama Al Aziz…., mohon menemui awak penerbangan..

Setelah setengah jam berlalu, dua kali dipanggil, tak seorangpun mengaku nama “Al…Aziz..” Penumpang saling toleh kiri kanan, cemas. Jangan..jangan merupakan komplotan teroris.
Pikiran buruk mulai menghinggapi mereka.

Akhirnya pilot menyatakan keberangkatan pesawat tertunda untuk membongkar muatan yang menyurigakan. Pada saat yang kritis, seseorang muncul mengaku itu nama panggilannya, dan ternyata ia membawa barang bebas pajak untuk 10 orang.

Gara-gara plot bom di London, memasuki tahun 2007, bukan benda tajam dan benda gas yang dilarang masuk kabin. Benda cairpun mulai diharami. Buktinya ada peraturan mengatakan bahwa membawa air aqua sekalipun hanya boleh 100 cc, itupun harus masuk kantong transparan spesial yang bisa di zip. Tak heran para wanita mulai repot melihat volume eyeliner, maskara, parfum. Jangan-jangan selama ini melebihi ketentuan 100 ml.

Sebatang lipstik tumpul yang katanya tidak diujikan kepada binatang, bebas merkuri, masih dianggap sama berbahaya dengan ujung pisau belati?

Bepergian sekarang sudah berubah. Tapi itulah romantika hidup

Mimbar Bambang Saputro

Advertisements

Laba-laba buta mengancam proyek 12triliun dollar


Karikatur dalam harian The Austalian menunjukan serombongan pekerja sambil membawa keluarganya berdemo. Mereka membawa spanduk. Seperti layaknya sebuah unjuk rasa. Tapi ada yang ‘nyempil’ membawa semacam kaleng aerosol pembunuh nyamuk? – Yang didemo ini seekor laba-laba kecil bahkan tak bermata yang bersembunyi di balik batu cadas kecoklatan sambil mengepalkan tinju tidak kalah garangnya bak rombongan FPI siap melabrak rumah judi.

Duduk perkaranya demikian. Cadangan biji besi di kawasan Mesa J yang dimiliki perusahaan raksasa Rio Tinto Australia bakalan habis dalam tahun 2010. Pasalnya tanah disini sudah dikeruk selama lebih dari tiga puluh tahun.

Sudah barang tentu Rio melalui anak perusahaannya Robe River bermaksud menggali lagi dari cadangan di Mesa A dan Warramboo sekitar 43 km barat lokasi lama.

Celakanya Badan Lingkungan Hidup menolak mentah-mentah usulan ini sebab mereka mengkhawatirkan ada lima spesies labah-labah langka yang hidup di tanah, bakalan punah oleh kegiatan penambangan. Mereka menamakan daerah yang bakal dikeruk adalah habitat ‘troglobitic’ – alias labah-labah tak bermata.

Tentu saja hal ini meresahkan pihak Rio Tinto dan juga 700 kepala keluarga (semua orang tambang) yang bermukim disana. Mereka mengkuatirkan, seperti cerita ‘gold rush’ maka tidak lama lagi kawasan Pannawonica akan menjadi kota hantu, lantaran ditinggalkan penghuninya. Siapa yang sudi tinggal di kawasan gersang macam kota kecil Pannawonica, kecuali para Aborigin sanggup hidup diudara panas berbatu cadas. Kota Pannawonica dinyatakan kota tertutup. Maksudnya umum tidak bisa mengakses kota ini sebab tidak mudah mendapatkan pompa bensin yang menjual untuk umum. Bahkan penginapan dan tempat hiburan sudah dipesan jauh-jauh hari khusus pekerja tambang.

Pihak kotapraja Ashburton Shire dan Departemen Mineral Australia juga menyayangkan keputusan Lingkungan Hidup yang dianggapnya gegabah. Dalam bidang investasi, kalau ada hal yang kurang kondusif, kaki para investor bakalan gatal untuk mencari tempat lain.

Mereka sangat berkepentingan dengan pajak dan lowongan pekerjaan yang selama ini mengalir dari Rio Tinto. Tidak heran, proyek ini bernilai 12 triliyun dollar dengan kemampuan produksi sampai 200 juta ton bijih besi.

Sebetulnya bukan sekali ini saja lingkungan hidup berhadapan dengan kepentingan industri. Tahun lalu proyek gas alam perusahaan Chevron senilai 15 triliun dollar di pulau Barrow sempat ditolak. Namun akhirnya melalui lobby ketat proyek tersebut tembus juga. Entah bagaimana kelangsungan proyek bijih besi ini nantinya.

Rio Tinto adalah pemilik sepenuhnya Hamersley Iron dengan daerah konsesi utama di Asutralia Barat. Mereka menjalin kerjasama dengan pelbagai perusahaan termasuk para investor dari Cina. Lebih dari separuh saham perusahaan Robe River dimiliki oleh Rio Tinto. Mereka mendukung 18% pemasukan negara pada 2003 dan tercatat sebagai penghasil besi terbaik kedua di dunia.

Sebelum tambang ini diexploitasi, daerah ini dihuni oleh dua kelompok suku Anailya dan Boogada. Mereka memperebutkan pulau yang berbukitan bernama Pannawonica yang terjemahan bebasnya adalah bukit yang terletak dipinggir laut. Ini gara-gara para mahluk halus selalu mendatangi mereka dan menanyakan dimana letak bukit Pannawonica?

Petunjuk alam gaib ini dipergunakan sebagai suatu pembenaran oleh suku Boogada yang pada saat para pemuda suku Anailya peri melaut, diam-diam mereka ‘hap ‘ menarik bukit dari pinggir laut ke daratan. Konon jejak bekas gesekan saat memindahkan bukit masih bisa terlihat seperti sungai (sungai Robe) yang mengering. Dengan memiliki bukit ini, maka mudah bagi suku Boogada mematahkan musuh sebelum mendekat perkampungan mereka. Sejak itu daerah ini mendapatkan landmark baru Pannawonica.

gambar dipinjam dari http://www.kisser.net.au/ashburton/towns/pannatown.htm

Mimbar Bambang Saputro
http://www.mimbarsaputro.wordpress.com

Artikel #890 Menukar penjepit kertas dengan rumah


Dari paper clip terbitlah rumah bertingkat.
Kalau anda berusia di atas limapuluhan bisa jadi masih ingat peran Kabayan yang dimainkan oleh pelawak Us-Us dengan Peniti Raksasanya, atau pemusik Benny Panjaitan dari Group Band Panbers pernah memakai peniti serupa dalam satu shownya.

Seorang anak muda Kyle MacDonald,24, dari Kanada, membuat paperclip raksasa diberi warna merah. Di sebuah mailing list bernama craiglist ia menawarkan barter dengan barang.

Cita-cita anak muda ini gila-gilaan. Di blognya ia ingin menukar paperclip buatannya dengan Rumah. Secara gratis..tis.

Hopo Tumon!

Dua minggu kemudian, dua gadis vegetarian dari Kanada membalas email dengan menukarkan sebuah pen yang bentuknya seperti ikan. Lalu dari pen berpindah tangan menjadi sebuah knop lemari.

Mula-mula tukar menukar berjalan sederhana. Mulai dari kompor gas, liburan disuatu tempat. Lama kelamaan barang yang dibarter makin berharga. Dari menukar dengan sebuah mobil kamping sampai sehari makan siang dengan bintang rock Alice Cooper. Bahkan ada yang menawarkan peran dalam sebuah filem, dibayar lagi.

Ada 14 kali ia melakukan barter. Akhirnya seseorang menawarkan peran filem ini dengan sebuah rumah kota Kipling, beralamatkan di 503 Main Street, Kanada. Mirip komplek perumahan ChinaTown Cibubur.

Bangunan seluas 100 meter persegi dengan dua lantai ini, terdiri dari tiga buah kamar tidur. Diperkirakan berharga 45.000 dollar. Semula berasal dari iseng-iseng sebuah paperclip.

blogernya http://www.oneredpaperclip.blogspot.com

Mimbar Bambang Saputro

Artikel #889 Panen Rumput


Melihat padang rumput yang maha luas serta ijo royo-royo di Australia Selatan, kadang timbul pertanyaan, apa ya semua rumput ini akan dihabiskan oleh sapi-sapi Ausie? padahal di samping rumput mereka juga mendapatkan menu makanan pabrik dalam bentuk butiran besar yang disimpan dalam lumbung (silo) pak/bu petani.

Suatu pagi yang cerah, saya melihat bu Notman dengan bercelana jean dan berbaju flannel kotak-kotak lengan panjang, bersepatu “gumboat” karet yang setinggi lutut, bertopi cricket warna merah dengan lincah mengemudikan traktor. Sejenak ia melihat kearah camp kami. Lalu saya lambaikan tangan dan segera dibalasnya.

Tak lama kemudian ia mulai bekerja menyabit rumput bak alang-alang ini (hay). Saya pikir akan di bakar dijadikan pupuk seperti layaknya petani tradisional kita.

Setelah beberapa hari rumput dibiarkan dijemur di bawah matahari agar mengering, tidak lama kemudian mereka menebar semacam jaring-jaring plastik. Rumput yang berceceran tadi di gulung rapi seperti nampak pada gambar. Pembebatan rumput kencang-kencang selain memperkecil volume juga bertujuan mengurangi kadar air dalam rumput agar bila disimpan nanti tidak mudah terserang bakteri yang mengakibatkan ternak akan sakit. Bahaya lain, seperti gunungan sampah di Bandung, para bakteri bisa merakit bom yang berdaya ledak menggugurkan gunungan jerami (hay).

Selang beberapa hari kemudian, rumput kering tadi dibebat dalam terpal plastik hitam, lalu disimpan untuk tandon (cadangan) makan di musim kering. Di latar belakang nampak traktor-traktor yang biasanya menarik alat untuk menggulung dan membebat rumput.

Memanen (kalau boleh disebut demikian), tidak boleh sembarangan. Pasalnya bila musim terlalu kering, maka hasil yang diperoleh terlalu banyak serat namun rendah kadar nutrisinya disamping beberapa hewan kurang menyukainya.

Sementara bila musim hujan, rumput memang hijau royo-royo tetapi tidak pas untuk dipanen sebab batang dan daun mudah rusak. Dengan kadar air yang tinggi, maka kemungkinan hay terkena jamur akan lebih tinggi.

Lalu saya ingat di kampung, sapi dan kambing hanya doyan rumput hijau royo-royo. Begitu rumput pernah jatuh ke tanah. Kambing dan Sapi sudah emoh menyentuhnya.

Mimbar Bambang Saputro

Artikel #888 Ganti Rugi ala Australia


Kidung-kidung kesedihan tentang ganti rugi atau kompensasi korban serangan Lusi (Lumpur Sidoarjo) yang desanya tenggelam oleh lumpur gunungapi terus menerus kita dengarkan dan lihat di media.

Barangkali kita bisa belajar dari petani Australia bagaimana mereka memperoleh ganti rugi dari perusahaan pengeboran gas batubara secara transparan.

Pada tahun 2004, perusahaan Karoon Gas Pty berniat mengebor sebuah sumur taruhan di kawasan Gippsland. Sumur ini dinamakan Megascolides-1.

Nama sumur diambil dari binatang Wormzilla yaitu cacing tanah raksasa yang diberi nama Megascolide australiae.

Bagi saya ini adalah pengalaman pertama mengebor batubara untuk mendapatkan gas metana “Coal Bed Methane” – sebab gas metana di negeri kita masih dimubazirkan dengan dibakar habis ke udara.

Untuk keperluan unit pengeboran “rig” dan pendukungnya dibutuhkan sedikitnya tanah seluas 250 meter persegi. Nama rignya Hunt Energy-2

Persil yang dipilih semula adalah padang rumput dengan sapi Ostrali yang menghasilkan “tontonan” susu sapi yang montok-montok dan bisa diremas-remas setiap harinya. Mangkanya ada yang bilang mengapa sapi sering gila, sebab sudah diremas-remas tiap hari, tetapi tidak dikawini.

Untuk mencegah sapi nyelonong melihat sumur pengeboran maka sekitar rig dipasang pagar kawat berduri dan dan beberapa diantaranya diberi aliran listrik. Kalau anda melihat kawat polos seperti jemuran para binatu tempo dulu. Hati-hati ia bisa menjemur kita sampai kering lantaran sengatan listriknya.
Pemilik tanah pertanian adalah keluarga Notman tiga bersaudara. Ada suara sumbang mengatakan bahwa mereka kawin sedarah guna menjaga kemurnian darah pemerah susu. Orang bule ternyata doyan bikin horor infotainment juga.

Keluarga Notman mendapatkan ganti rugi sebesar A$ 2000 atau setara dengan Rp. 14 juta per bulan. Jumlah terlalu kecil untuk ukuran hidup di Australia. Namun itu baru sebagian.

Misalnya. Akan disimpan dimana puing atau tanah yang didoser. Sebab aturannya kalau proyek selesai, semua lubang bekas galian harus ditimbun dan dikembalikan seperti sebelum ada proyek pengeboran. Dan pak Notman “bersedia” menampung tanah urugan dipekarangannya yang amat luas.

Untuk itu ia masih mendapatkan AUS 25 (Rp. 150.000) per 100 meter perseginya. Tanah urugan ini harus dikembalikan dan lingkungan harus direstorasi seperti sediakala, setelah pengeboran selesai.

Karena Rig Pengeboran selalu diasosiasi dengan kebisingan mengingat kegiatan selama 24 jam berisik, maka pak Notman masih mendapatkan AUS 200 (Rp. 1,4 juta) per hari sebagai kompensasi kebisingan. Ini baru terasa Asoooinya.

Masih ada lagi yang hampir ketinggalan, lantaran Rig masih perlu air tawar guna keperluan pembuatan lumpur, cuci baju, dan cuci peralatan lainnya yang kebetulan sekali danau-danau tempat minum dan mandi para Sapi milik pak Notman bisa diexploitasi airnya, dan untuk ini ia menerima AUS 100 (Rp. 700 ribu) perharinya untuk penjualan air danaunya. Tambah Asooi – Tenaan.

Salinan kontrak penggunaan tanah dipasang didinding ruang makan sehingga setiap orang tahu hak dan kewajiban masing-masing. Dan yang paling penting tidak terjadi jegal menjegal karena satu pihak merasa belum dibayar, pihak lain sudah membayar.

Hanya sayangnya danau ini lama kelamaan menurun level airnya sehingga dikuatirkan mengganggu habitat cacing MegasColides, sehingga jatah air didatangkan dari tangki air tawar dari tempat lain. Kadang air drop-dropan ini tercemar karet, atau benda asing sehingga mengganggu sistem pompa rig. Sehingga perlu waktu untuk mereparasi pompa bor.

Demi alasan keselamatan kerja, maka base camp para pekerja rig letaknya sengaja dibuat berjauhan. Ini berarti harus ada sebidang tanah yang disewa untuk keperluan mendirikan portable camp tersebut. Berarti ada tambahan aliran dana mengalir ke kocek keluarga Notman.

Kalau satu proyek berjalan enam bulan mulai dari persiapan sampai tutup warung (kadang sumur yang menghasilkan ditutup sementara sampai ditemukan sumur lain baru serempak diproduksikan.). Maka matematika menghitung harta orang lain, saya serahkan kepada anda.

Yang jelas bagi pak Notman beternak Tanah Garapan akan lebih menguntungkan daripada sapi perah. Dan (barangkali) sapi pak Notman tidak perlu gila.

Mimbar Bambang Saputro

Soto Betawi Roxy – H. Darwasa


Soto Betawi – Legendaris

Di Jakarta, tak terhitung kedai penyaji makanan khas Betawi ini yang terdiri santan gurih ditambahkan potongan daging sandung lamur, paru, babat, usus sapi lalu dihidangkan dalam keadaan kuah kebul-kebul berhias potongan tomat kemerahan, daun bawang dan sledri, masih harus digoda dengan gorengan emping yang renyah-renyah sedikit pahit.

Bagi masakan betawi terkenal pemeo berani santen” sekalipun pada kenyataan mereka bisik-bisik bahwa menambahkan sedikit susu akan membuat santan tidak pecah ketika dipanaskan. Belum lagi ada lawan klasik soto yaitu berupa nasi akel bertubuh tinggi langsing, beraroma beras Rajalele bertabur bawang goreng.

Kalau sudah begini iman bakalan jeblok? – belum lagi sepiring kecil, acar, sambal cabe rawit hijau dihidangkan secara terpisah ada disisinya. Bagi saya pribadi, lebih afdol kalau dikecroti kecap benteng bergambar burung sedih.

Yang bikin keder, rata-rata masakan Soto Betawi rasanya hampir standar. Mirip dengan image yang diberikan oleh masakan Padang. Perlu parameter tambahan lainnya seperti pengalaman mereka berdagang dan klasemen pembelinya.

Diantara deretan penyaji makan kelas super harga bemper, maka jajan jalan Biak memang sudah kesohor. Sebut saja Soto Madura “Ngatijo”, Sup Kambing “Sudi Makmur”, Bakmi “Roxi”, martabak kubang ARH. Tapi ini untuk cerita lain kali.

Saya ajak anda mengunjungi salah satu cabang jalan Biak yaitu jalan Tidore.

Maka pas di belakang bekas bioskop Roxy yang kini sudah berubah menjadi pertokoan. Saya mengarahkan kendaraan menuju langganan Soto Roxy milik Haji Darwasa. Tepatnya di jalan Tidore no 2, Jakarta Pusat. Saya mengenalnya baru 1978-an.

Ketika sekitar jam 9 pagi saya mendatanginya. Kendaraan baru nongol dari kejauhan salah satu tukang parkir berkaus kutang merah, berambut dicat ala bule, menenteng dua handphone di pinggangnya. Nampak memberi isyarat tempat parkir.

Di pojok kedai sudah duduk serombongan warga Hokian nampaknya baru merampungkan olah raga tenis, terlihat dari pakaian dan raket yang mereka jinjing. Indikasi lain bahwa sebuah kedai jajan itu masuk “okey zone,” adalah jika warga keturunan banyak hadir. Mereka terkenal cerewet dan selektip. Jadi makanan yang sudah lulus uji lidah mereka biasanya tidak perlu dipertanyakan rasanya.

Suasana kedai masih seperti puluhan tahun lalu. Empat puluh kursi plastik bakso merah tersedia buat melayani pembeli pada jam makan siang. Dua pria berumur mengenakan kaos oblong dan celemek merah. Lalu ada istri pak haji dan pak Haji Darwasa sendiri nampak siap melayani para pembeli.

Di bawah meja dagang, tergeletak lima dandang aluminium besar (50liter) sebagian berisikan kuah soto yang masih panas. Setiap sebentar santan dari bawah meja dipindahkan ke atas pertanda satu dandang kuah soto sudah mulai menipis. Sementara di atas meja dagangan tergolek menantang rebusan dan gorengan daging dalam kotak kaca, hidup berdampingan dengan susunan piring beling warna putih polos.

Hitung-hitung menurut pemiliknya, Darwasa, “ade kali barang sekitar anem pulu kilo, semue, sehari ludes,

Dengan menghabiskan sekitar 60 kilogram daging (campuran daging, usus, paru, babat, sandung lamur), maka warung yang buka sejak jam 7 pagi akan ladas (tandas Palembang) pada sekitar jam 16:00 an. Pasalnya setelah jam tersebut jalanan Tidore praktis dikuasai para pemilik lapak.

Darwasa membuka kedai ini sejak 1951, ia masih ingat kawasan Roxy dulu masih banyak kebon singkong, belum ada jalan beraspal. Bioskop Roxy sebagai landmark tempat ini (dulu) baru dibangun pada 1953-an.

Maaf sekarang dua puluh ribu, maksudnya untuk harga sepiring soto, saya sebut sepiring karena disini soto Betawi disajikan dalam piring, bukan mangkok. Ditambah sepiring nasi Rajalele bertabur bawang goreng, “ maklum semua serba mahal”, kata pak Haji tersenyum sambil memberikan kembalian. Saat itu saya langsung memotretnya dengan HP – ceklek, cepat namun hasilnya kurang tajam.

Mungkin pak haji ingin menjelaskan bahwa hukum gravitasi Newton tidak pernah berlaku di Indonesia. Pasalnya pernyataan Newton bahwa benda yang dilemparkan ke atas akan mengalami gaya tarik. Uniknya di negeri ini sekali harga barang terlempar keatas, tidak akan pernah turun lagi.

Oh ya tentang tukang parkir, rupanya satu dari dua kotak HP dipinggangnya adalah sarana uang kembalian parkir.

Mimbar Bambang Saputro

Tutup mulut rapat-rapat, buka mata lebar-lebar, nasehat Al Capone


Dalam buku saduran dari The Mafia Manager: a guide to the corporate machiavelli, penulis seorang mentor Mafia yang masih aktif, pada dasarnya resep tim sukses Mafia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu mempersiapkan dan mengelola diri sendiri agar terampil menjalankan tugas dan saat mengelola atau mempekerjakan orang lain.

Ada setumpuk buku yang menjelaskan teknik-teknik manajemen dari para eksekutif perusahaan raksasa bisnis yang sukses. Tetapi kebanyakan buku-buku tersebut hanya mengulang-ulang teori yang dipercaya masyarakat luas dan para akademisi sebagai bagian dari kurikulum MBA.

Tetapi yang tidak pernah dibicarakan dalam buku-buku teks adalah endapan kebijaksanaan dari orang yang pernah mengelola salah satu kartel besar di dunia, paling menguntungkan, paling panjang dalam sejarah kapitalisme dan kejahatan terorganisasi yang dijuluki Mafia, La Cosa Nostra, The Syndicate, The Mob, The Outfit dan setengah lusin julukan lainnya.

Yang berbeda dalam sistem pengelolaan usaha ala mafia, mereka tidak mengobral kata-kata. Semua berdasarkan pragmatisme dan irit kata sehingga sering dijuluki Kekaisaran Bisu.

Seorang anggota Mafia kawakan biasa disebut “capo” yang artinya mentor – menyoba menuliskan seluk beluk manajemen dalam organisasi Mafia. Ia hanya dikenal dengan nama samaran Mr “V” bahkan lokasi kediamannyapun dirahasiakan.

Kedudukan mentor dalam organisasi Mafia sangat dihargai sebab nasihatnya sekalipun kadang bertentangan dengan cara pemikiran yang konvensional, namun sejujurnya mereka adalah sumber ilmu dan pengetahuan hidup organisasi sehingga dipercaya melebihi teman dekat atau bahkan pasangan hidup sekalipun.

Kehidupan Mafioso sebutan anggota Mafia umumnya sangat tertutup bagi orang luar sehingga merupakan masukan berharga tatkala salah satu pentolan mereka memberanikan diri mengungkapkan seluk beluk organisasi rahasia asal Sisilia yang terkenal sangat disegani para lawan maupun hamba wet sendiri.

Mr “V mengutip salah satu tulisan Machiavelly dalam buku Il Principe. Dikatakan bahwa kadang manusia baik akan menjadi kecewa ketika mereka berada di tengah orang tidak baik. Oleh sebab itu, perlu belajar menjadi orang tidak baik sehingga pada saatnya kita dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan kemampuan kita.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kecewa mengapa tokoh penjahat Mafia selain selalu dilukiskan kaya raya hidup bergelimang harta juga organisasi mereka bisa besar, mampu berekspansi namun tangan hukum seperti kesulitan untuk menyentuhnya. Sementara usaha dagang yang “lurus” lebih banyak yang setengah jalan lantaran lebih banyak dibumbui intrik perebutan kekuasaan, penghianatan dan korupsi.

Selanjutnya V menulis bahwa orang yang sukses menuju puncak kepemimpinan dalam Mafia biasanya orang yang mampu mengelola orang lain. Tak salah ia menyitir pepatah bahwa hawa dipuncak gunung kadang memang lebih hangat daripada di lembah. Sayangnya di puncak gunung tidak tersedia banyak ruang lapang sehingga harus diperebutkan.

Sejarah Mafia

Mafia berasal dari bahasa Sisilia kuno, Mafiusu, yang diduga mengambil kata Arab mahyusu yang artinya tempat perlindungan atau pertapaan.

Setelah revolusi pada 1848, keadaan pulau Sisilia morat-marit sehingga mereka perlu membentuk ikatan suci yang melindungi mereka dari serangan bangsa lain dalam hal ini bangsa Spanyol. Nama mafia mulai terkenal setelah sandiwara dimainkan pada 1863 dengan judul I mafiusi di la Vicaria “Cantiknya rakyat Vicaria), yang menceritakan tentang kehidupan pada gang penjahat di penjara Palermo.

Sekalipun tidak jelas siapa yang mendirikannya, namun pendirian organisasi ini mula-mula berdasarkan ikatan persaudaraan diantara sesama warga keturunan pulau Sisilia. Dalam perjalanan sejarah, kelompok yang semula kecil menjadi besar dan membutuhkan dukungan keuangan yang lebih banyak sehingga misi pendirian organisasi mulai bergeser menjadi mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan tidak mengindahkan tata aturan masyarakat yang lain. Yang mengherankan para anggotanya merasa tidak melakukan tindakan kriminal sebab di mata mereka, apa yang dilakukannya adalah sekedar memberikan proteksi atau perlindungan terhadap kelompok lain yang mengalami tekanan atau pemerasan. Sehingga pelaku merasa bangga dan terhormat dapat “menolong” seseorang dari kesusahan. Sejak itulah kata Mafiusu berubah arti menjadi orang atau organisasi “terhormat.”

Nama lain dari Mafia adalah Cosa Nostra, anggotanya selalu menulis kata ini dengan penuh hormat yaitu ditulis dengan awal huruf besar. Pengertian Cosa Nostra sendiri adalah “our thing” atau sama-sama satu bangsa, satu pemikiran atau “orang kita.” Namun dalam buku terjemahan Mafia Manager oleh Bern Hidayat disebut bahwa terjemahan Cosa Nostra adalah “urusan kita.”

Ketika beberapa pentolan Mafia seperti Johnny “si rubah” Torrio berimigrasi ke lahan yang lebih menjanjikan yaitu Amerika sekitar 1930, maka dunia kejahatan Amerika mulai diwarnai darah yang dihasilkan oleh orang berdarah Italia. Apalagi Johnny merasa perlu membawa seorang tangan kanannya yang dikenal licin dan kejam terhadap musuh-musuhnya yang kelak akan merepotkan pemerintah Amerika, Al Capone.

Penyaringan menjadi anggota Mafia.

Untuk menjadi anggota Mafia secara turun temurun dibutuhkan seseorang yang memang berdarah Sicilia. Bila syarat ini dipenuhi, maka ujian lainnya adalah apakah masih merupakan pimpinan kelompok gang tangguh diwilayah anda. Proses selanjutnya adalah melampirkan daftar referensi dari gembong Mafia yang menyatakan mereka mengenal calon anggota tersebut dan lampu hijau baginya untuk diterima.

Bila seseorang telah resmi diterima, maka para plonco ini akan berada dibawah pengawasan seorang mentor yang mereka sebut “capo”– pelajaran pertama tentunya selain taat pada perintah sang Capo, para plonco harus menjaga mulut rapat-rapat, namun membuka mata dan otak lebar-lebar. Kalau para Capo tertawa, maka anak didikannya harus tertawa. Kalau Capo membentak, maka diwajibkan bagi anak didiknya untuk terbungkuk-bungkuk seakan baru dilanda angin puting beliung. Tidak ada perintah yang bersifat kelewat bengis atau tidak manusiawi, semua harus diterima sebagai perintah yang masuk akal. Perintah Capo adalah perintah Dewa dalam arti tidak boleh ditolak, dan harus dikerjakan serta diselesaikan dengan sempurna, rapi dan jangan meninggalkan jejak.

Ada pepatah dikalangan para siswa yaitu “bergaulah dengan orang diatasmu, dan lunasilah semua ongkosnya.”– menjelaskan bagaimana hubungan siswa dengan pelatih.

Namun jangan coba menjilat mentor ini secara berlebihan sebab bukan tidak mungkin para penjilat diberi ciuman kematian oleh sang Capo. Bilamana Capo memberi tugas, maka anggota wajib melakukan dengan benar sehingga diperlukan seni bertanya kepada para Capo yang tentunya tidak mudah.

Beberapa anggota baru sering mengalami kesulitan akan “seni bertanya” kepada mentor mereka, namun hal ini sangat penting dilakukan. Sebab apa jadinya kalau gara-gara tidak paham perintah, seseorang menyikat anggota mafia lain yang memang ditanam dalam organisasi lain, atau menaruh bom di tempat yang salah.

Resep lain jangan pernah bermain cinta dengan kenalannya, atau orang-orang yang berada di bawah perlindungan sang Capo.

Jangan cepat tergoda jika gundik-gundiknya, sekretarisnya, isterinya, keponakan, anak, bahkan babu sekalipun menggoda anda dengan lirikannya. Pendeknya apapun miliknya jangan sekali-sekali disentuh. Kalaupun kelak ada yang dijadikan menantu oleh sang Capo, tentu saja atas ijinnya, maka sebutlah ini sebagai “karunia Tuhan atas manusia pilihan.”

Mereka menyebut larangan ini dengan “jangan ambil daging ditempat Capo mengambil roti.” Hukuman bagi pelanggar komitmen hanya satu yaitu mati.

Kalau ada yang memiliki bakat wartawan, para Capo akan tidak mengendurkan pengawasan terhadap mahluk aneh satu ini. Pasalnya mereka tidak suka pada kegiatan menulis termasuk menulis nama pelanggan, alamat-alamat, jumlah hutang, persetujuan rahasia. Dokumen ini nantinya akan menjadi kendaraan yang cepat menjebloskan penulisnya kedalam penjara.

Lalu bagaimana setelah bertahun-tahun berada dalam organisasi tetapi sang Capo masih ingin duduk di karier tersebut?.

Tidak ada larangan tertulis bahwa bawahan boleh menyingkirkan sang Capo tua. Bukankah mereka sudah lama menikmati kenyamanan kariernya.

Setelah siswa dinyatakan lulus dalam pendidikan, maka pendidikan selanjutnya adalah memasuki dunia nyata yaitu dunia politik para anggota Mafia. Nasehat singkat jangan selalu mengikuti nasehat teman, sebab bukan tidak mungkin mulut manis menyembunyikan maksud ingin melihat kita jeblok.

Bisnis dalam mafia bukanlah sekedar mencungkil mata, mematahkan jempol atau meremukkan tulang tempurung.

Berbisnis dengan Mafia berarti memberikan uang berlebihan kepada para pelanggan. Jika pelanggan paham dengan cara berbisnis Mafia, maka terjadilah win-win-solution, namun apabila mencoba bermain-main dengan mafia, maka tidak akan ada obatnya kelak di pengadilan, polisi, anggota DPR maupun MPR.

Mungkin anak-anak suka sekali akan toko besar Toys “R” Us, sementara para mafioso lebih suka memelesetkan istilah Government “R” Us.

Betul anggota Mafia atau paling tidak suporter Mafia ada dimana-mana. Kalaupun ada pertanyaan bagaimana mungkin suap bisa menembus sisi pemerintahan, maka jawabannya sederhana. Dengan metode kuno yang sudah dipahami oleh setiap orang, namun masih terbukti ampuh.

Orang bekerja dengan dan untuk suatu nilai yang mapan terus menerus. Maka sifat manusia bila mereka ingin sesuatu yang lebih. Maka mafia akan memberikan iming-iming dan insentif sehingga bila umpan ini ditelan, nilai kemapanan suporter kami adalah keserakahan namun sekaligus ketakutan bilamana rahasianya dibocorkan.

Kesulitan dalam berbisnis adalah bilamana pihak keluarga ikut terlibat?. Maka nasihat para mentor yang patut didengarkan adalah, berbisnislah dengan orang lain seperti dengan saudaramu sendiri, namun berbisnislah dengan saudaramu sendiri seperti pada orang lain.

Kecerdikan mafia dalam berbisnis mudah dipelajari. Orang berkuasa adalah pemilik peraturan dan emas. Bilamana ketelnya mendidih dan menggelegak, gunakan sendok panjang untuk mengambil buburnya. Namun jika rumahnya terbakar, hangatkan dirimu sendiri.

Jika pernah mendengar aquisisi perusahaan, bisa jadi Mafia bermain dibelakang semua ini. Pencuri besar menggantung pencuri teri, mereka menyebutnya demikian.

Layaknya orang berbisnis, akan menemui kendala. Sebelum mengurai kendala, perlu memahami watak manusia.

Di dunia ini Mafia hanya mengenal dua kelompok, pemberi sogokan dan yang menerima sogok. Pilih salah satu yaitu pemberi. Maka akan mudah mendapat teman, sekutu, serdadu dan letnan. Sementara musuh akan didapatkan dengan gratis dan berlimpah.

Namun masih banyak kekeliruan dilakukan para pendiri dan bos-bos mafia, yaitu bilamana menyangkut harga diri, orang menjadi tersandung batu, bukan gunung.

Orang berbisnis harus mewaspadai tetangga yang bangun pagi sebab kita harus bangun lebih pagi lagi. Pepatah Jepang mengatakan, mustahil mengalahkan kekuatan ekonomi orang Barat jika orang Jepang hanya bekerja keras. Mereka harus bekerja lebih keras lagi dan lebih cerdik.

Tukang pukul Mafia lebih suka duduk mengobrol sambil main catur, kartu, membual tentang cewek-cewek, tentang hasil memalak. Padahal jika waktu menunggu diisi oleh membaca sesuatu yang berguna, bukannya memelototi teka-teki silang. Bekerja dengan lebih cerdik, bukan asal bekerja keras. Untuk itu mulai menjadualkan tugas-tugas. Pilih melakukan tugas berat pada saat enerji sedang mencapai puncaknya. Delegasikan tugas kalau perlu kepada bawahan. Delegasikan lebih banyak lagi sehingga ada waktu terluang untuk mempelajari sesuatu yang baru

Mengelola orang lain

Setelah semua pendidikan dilalui, saat tanggung jawab mulai menumpuk maka sesuai nasehat para mentor diperlukan pendelegasian tugas. Makin banyak yang didelegasikan makin baik. Maka perlahan mafioso harus mempekerjakan orang lain.

Dan ini berarti mulai berhadapan pada kenyataan bahwa kebanyakan orang tidak berkompeten daripada yang kita harapkan, setidak-tidaknya dari surat lamaran ataupun wawancara dengan mereka.

Sebelum Bill Gates dari Microsoft mencanangkan kampanye seorang cerdas lebih baik daripada seratus orang dungu, maka para bos Mafia sudah melakukannya terlebih dahulu lima abad lalu. Terlalu banyak karyawan dungu selain akan melahirkan pengkhianat, juga overhead yang tinggi.

Calon karyawan lulusan segar dari universitas, setinggi apapun nilai dalam diplomanya, tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan yang bersifat kritis. Lebih baik berikan pekerjaan penting kepada seseorang yang sudah terbukti mampu memperlihatkan kemampuannya dalam memimpin dan bekerja sama dalam sebuah tim. Sebaliknya bilamana pekerjaan sangat teramat vital, maka jangan mempercayakan penuh kepada pakar yang bersemangat tinggi, seperti halnya dalam militer, orang bersemangat dengan jajaran tanda penghargaan di pundaknya akan berbahaya.

Orang semacam ini lebih mementingkan tanda jasa di atas segalanya. Jangan ada lebih dari dua kakak beradik, jangan mempekerjakan kekasih, suami atau istri dalam organisasi.

Saat melakukan wawancara dianjurkan untuk duduk berdampingan sehingga reaksi-reaksi pelamar dapat diketahui dengan pasti. Ajukan pertanyaan secara spesifik, lalu susul dengan pertanyaan “mengapa?” dan “bagaimana?” Karyawan yang diterima tentu harus memiliki loyalitas, para Capo mengatakan orang yang sangat loyal hanyalah dirimu sendiri.

Tempat kedua setelah loyalitas adalah kemampuan, ketrampilan dan kompetensi. Promosikan orang yang handal dan kadang badut. Ujilah mereka lalu perkuat tulang belulangnya dengan menangani pekerjaan kasar seperti juru masak, tukang kebun.

Bilamana karyawan ini lulus dalam ujian, mereka siap dengan tugas berat selanjutnya.

Orang lain yang perlu diperhitungkan adalah sekretaris. Dia mengetahui hampir semua rahasia, memiliki kemampuan juru runding, penjaga pintu. Sering-sering beri hadiah menarik bagi sekretaris, namun jangan sekali-sekali bercinta dengannya.

Berbeda dengan usaha lainnya, dalam organisasi Mafia tidak dikenal direktur Sumber Daya Manusia. Semua keputusan penerimaan atau penolakan pegawai langsung ditangani bos dalam hal ini anda sendiri. Organisasi Mafia dilarang memasang iklan di media massa soal penerimaan pegawai baru. Sebaliknya seorang akuntan yang handal adalah Dewa di dunia nyata para mafioso. Disadari para mafioso adalah orang yang cerdik dalam melakukan tugas bersifat pragmatis dan memerlukan insting, namun menjadi badut tatkala berbicara mengenai pembukuan sehingga memerlukan
bantuan orang yang handal dalam mengelola keuangan.

Maka tidaklah mengherankan jika para mafioso kerap memberikan hadiah, dan kemewahan lain kepada para akuntan mereka.

Untuk memperkuat rasa solidaritas dan kebanggaan akan organisasi, para mafioso gemar mengobral gelar dan kepangkatan. Mereka akan menamakan tukang pembersih WC sebagai “Staf Ahli Janitor,” sehingga penyandang gelar tidak merasa direndahkan.

Alasan lainnya, dalam bisnis pelanggan biasanya hanya ingin dilayani oleh pihak yang “memiliki otoritas,” bukan dengan kroco atau bawahan. Untuk itu gelar semacam “vice presiden,” akan diobral agar menyenangkan pelanggan. Namun ini tidak berarti bahwa ada pangkat Bos segala Bos, sebab ini hanya akan menimbulkan bibit dengki dan bibit perpecahan. Karena itu para bos dari masing keluarga diberi pangkat sederajat.

Setiap tahunnya dengan bantuan akuntan dilakukan evaluasi untuk kenaikan gaji. Inilah satu-satunya cara meningkatkan spirit para karyawan. Karyawan yang menonjol prestasinya diberikan insentif berupa kenaikan gaji yang lebih dari sewajarnya, namun jangan lupa untuk memanggilnya empat mata dalam ruang tertutup dan katakan kepada mereka betapa pimpinan harus melanggar norma penggajian demi untuk memberikan apresiasi terhadap karyawan khusus. Sementara kepada karyawan yang selalu mengeluh kekurangan uang, berikan kesempatan untuk menjalankan usaha sampingan di luar usaha resmi. Tentunya setelah melalui persetujuan dari atasan.

Berapa banyak kebijakan pemerintahan yang seharusnya dilakukan secara rahasia ternyata malahan menjadi barang edaran di kalangan para pemburu berita.

Para mafioso pun menyadari pentingnya kerahasiaan tersebut.  Rahasia pasti bocor, orang bicara di kafe, di tempat tidur, warung, saat dalam pesawat, menunggu giliran panggilan di dokter, di arisan. Kadang tanpa disadari rahasia justru dibuka blak-blakan di papan pengumuman, kertas fotocopy yang tidak terpakai di tong-tong sampah.

Resep cespleng menekan rahasia bocor adalah jangan bicara kepada isteri atau suamimu lebih dari yang mereka perlu. Dalam kehidupan keluarga mafia, satu dari tiga perkawinan mafia berakhir dengan perceraian. Bukan tidak mungkin rahasia yang semula dipendam akan dikupas habis sebagai usaha balas dendam.

Juga berhati-hati terhadap mulut anak-anak. Singkatnya harus mencurigai semua orang termasuk pengantar susu, koran atau tukang ledeng. Jika rahasia masih bocor juga, sebarkan informasi palsu namun jangan lupa sewa detektif untuk memastikan bahwa si pembocor rahasia cepat ketangkap basah.

Tokoh panutan dalam mafia adalah Johnny Torio yang kerap dipanggil si rubah sebab ia adalah perwujudan master mind langka yang pernah dihasilkan oleh organisasi.

Johnny memiliki “doktrin uomo di panza” manusia perut, yang arti luasnya menyimpan semua rahasia hanya di perutnya. Doktrin kedua adalah “uomo segreto” alias manusia penuh rahasia, susah ditebak. Tetapi diatas segalanya si rubah terkenal akan kesabarannya “uomo di pazienza.” Manusia sabar di sini adalah mampu memegang kendali dalam segala situasi. Dia tegas, tidak bergeming dalam segala hal, menjaga jarak dengan dunia luar.

Konon dia memiliki kekuatan batin yang mampu membuat kedatangannya selalu diperhitungkan. Johnny mampu menunggu, merencanakan dan menyerang persis rubah pada saat yang diperhitungkan dan sukses.

Membayangkan seorang bocah usia tujuh tahun masih memandikan babi buta milik ayah tirinya di Brooklyn, Amerika. Masih sulit dipercaya bahwa setengah abad kemudian menjadi orang kaya dan paling diperhitungkan di jaringan kejahatan skala besar Mafia Amerika. Dalam hingar bingar pemberitaan media nama si Rubah tidak setenar tokoh flamboyan Al Capone, padahal sebagai seorang manager, Johnny lebih efektif dan sukses.

Memecat karyawan

Di manapun juga ada masanya seorang karyawan tidak dibutuhkan lagi. Sebelum memecat mereka, dokumentasikan beberapa kegagalan karyawan lalu buat memo ke berbagai bagian. Kemudian lakukan tindakan skorsing sehingga memperkuat catatan keburukannya sehingga jika karyawan melakukan banding di pengadilan, data kelemahan mereka sudah dimiliki disertai bukti penguat bahwa tindakan peringatan berupa skorsing telah dijatuhkan.

Kesimpulan:

Banyak orang mengira bahwa semua yang berbau mafia adalah kejahatan. Apalagi kalau mengutip kata mutiara keajahatan Al Capone “untuk mendapatkan keuntungan banyak, selain dengan kata manis, juga perlu senjata yang menyalak.”

Mungkin itulah sebabnya jarang orang berusaha menggali rahasia dibalik manajemen mafia. Apalagi novel dan filem lebih banyak mendramatisir tinju, asap mesiu dan darah muncrat.

Pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar sebab pada kenyataannya membangun sebuah organisasi besar sejak lima abad dan masih berdiri kuat sampai sekarang, sekalipun tidak terang-terangan, adalah bukti bahwa organsisasi Mafia dikelola secara profesional. Kenyataan bahwa para mafioso, cosa nostra, the Mob, dan sederet panjang nama lainnya lebih memilih tutup mulut dan membenci sesuatu yang bersifat dokumentasi, maka buku “The Mafia Manager: a guide to the corporate
machiavelli.” merupakan sumber untuk mengetahui seluk beluk kehidupan para mafia dan organisasinya.

Memang buku ini berbau kriminal murni, namun dalam kehidupan sehari-hari, kita hampir selalu bersentuhan dengan para kriminal baik yang berleher kasar (rough neck) maupun berkerah putih (white collar).

Kalaupun ada yang dirasa kurang dari buku ini adalah bagaimana para mafioso yang begitu taat beragama sehingga sering dijuluki “kongregasi Bunda Teresa,” namun begitu enteng menarik pelatuk saat menembak mati musuhnya lalu mencium salib yang dipercayai mereka ajaran pembawa kedamaian tanpa kekerasan. Tetapi sekali lagi, betapa banyaknya dewasa ini pemboman, pembunuhan dengan mengatas namakan Tuhan. Maka secara keseluruhan mr “V” menulis cara mengelola perusahaan ala Machiavelli yang pragmatis.

Buku: Manager Mafia: Bimbingan Machiavellis untuk Dunia Usaha
oleh “V”
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, cetakan ke tujuh, Maret 2005.
Alih Bahasa Bern Hidayat Jumlah halaman 192 halaman, 18,5cm