Ada Polisi Lumpur di kabinku….


Ini tentunya bukan gara-gara LuSi (Lumpur Sidoarjo) dari Indonesia yang membuat Australia “gedandhapan” buru-buru mengirmkan beberapa polisi lumpur (mud cop) ke Rig saya.

Mereka tidak datang dengan seragam kepolisian, melainkan hanya menggunakan coverall merah merek “Yakka” – lalu menyerbu kedalam mudlogging unit saya sambil bertanya ini bertanya itu, dan mencatat ginu-githu. Tugas orang ini adalah mengawasi perpindahan lumpur minyak sintetik (SBM) dari kapal suplai ke rig, pengeboran berjalan tanpa menumpahkan lumpur (cutting overboard), memeriksa sistem pengontrolan padatan lumpur (solid control equipment), sampai ke penggerusan kembali limbah serpih pengeboran sebelum dikirim ke darat sebagai bubuk limbah.

Pendeknya tugas mereka berdua (terakhir bertiga) adalah memastikan tak setetespun minyak (sintetis) tumpah apalagi ruah ke perairan Australia.

Mustinya ia melakukan investigasi ke sistem instrumentasi Rig, lantaran kita tahu persis alat rig sana kebanyakan pajangan belaka. Sebagian sudah tidur pules, sebagian tidur kadang jaga alias tidak 100% berfungsi sehingga para pekerja seperti Pump-Man dan Derrick Man mengandalkan perhitungan volume lumper berdasarkan jumlah anak tangga yang memang dipasang untuk sarana pekerja masuk ke dalam tangki lumpur.

Misalnya satu jarak anak tangga ditera dengan 50 barrel, maka kalau ketinggian lumpur sudah mencapai 8 anak tangga, mereka melaporkan jumlah sebagai delapan dikalikan limapuluh barrel alias empat ratus barrel.

Lama-lama karena tiap hari orang ini datang, bertanya dengan gaya polisi, saya mulai merasa gerah. Saya mulai komplin dengan alasan, apakah saya perlu memberikan informasi berharga kepada mereka, mengingat di Mudlogging kami disumpah untuk tidak pernah memberikan data perusahaan satu kepada lainnya. Saat itu tidak tahu kalau mereka polisi khusus lumpur pengeboran sebab menggunakan badge KMC dan celakanya keburu dipanggil orang rig sebagai anggota FMC sebuah perusahaan yang bergerak di urusan kepala sumur. Untung tidak dipanggil KFC, bisa-bisa nama John diganti Sanders.

Seperti juga polisi beneran, gaya mereka bertanya lebih menyerupai interogasi (apalagi dilihatnya cuma seorang Indo, yang sangat kooperatif). Sampai suatu saat tiba-tiba dia keceplos “kenapa pemboran berhenti, apa alasannya..”

Saya seperti melihat peluang “kick balik”. Saya ajak dia melihat layar monitor saya. Lalu saya tunjukkan, kita sudah mengebor selama 30 jam non stop, ada data menunjukkan mode “drilling” dan dipasang di layar dimana-mana, ada suara gemenclang besi beradu besi, juru bor menekan pedal rem sampai suaranya mencicit tajam. Bagaimana dia bisa berpendapat bahwa kita sedang setop pengeboran.

Di-nyunyuk-i data secara telak, dia agak gelagapan (semula saya kira hanya mau interogasi), nampaknya orang ini memang tidak tahu operasi pengeboran. Tapi dasar polisi (lumpur), dia menunjuk sebuah monitor yang gambarnya cuma semut beriringan. Lalu dia bertanya mengapa monitor ini rusak.

Lagi-lagi dia kecele, sebab saya bilang, monitor ini adalah kamera dari RigFloor yang dipasang di lantai bor agar kami para mudlogger tahu apa kejadian di lantai bor tanpa kami harus naik ke rig. Monitor ini juga dihubungkan dengan robot penyelam sehingga kami tahu keadaan bawah permukaan laut. Lalu dia tanya “kenapa rusak..” – saya bilang bukan rusak, tetapi kalau kameranya sedang dibersihkan oleh petugas kusus pembersih kamera jelas kami tidak menerima gambar di layar monitor kami.

Dia terdiam. Lalu gantian saya tunjukkan suatu kejadian dimana sebuah unit pengolahan limbah lumpur pengeboran sedang dibongkar sehingga “synthetic oil base mud” kececeran kemana-mana sekalipun dipasang tanggul besi. “Itu tuh ada kebocoran disana, berapa barrel yang terbuang ya…”, kata saya menguji kemata elangannya

“Yang mana,” tanyanya…

Ternyata yang yang didepan matapun dia tidak ngeh. Malahan lebih suka tanya ini dan itu di unit mudlogging kami yang memang lebih nyaman dan tidak berisik bila dibandingkan dengan suasana unit pengolahan limbah yang berisik dengan suhu permukaan tak kurang dari 75 derajat selsius, ada pengayak lumpur mirip vibrator raksasa yang bisa-bisa bikin orgasme kalau kelamaan berdiri didepannya. (Mungkin itu alasan saya bertahan mudlogger sampai sekarang). Membayangkan lumpur minyak diesel keluar dari lubang bor dengan 75 derajat karena tidak boleh ditambah air, membuat kadar oksigen sekelilingnya sudah disunat oleh uap solar.

Ternyata kalau jeli, ada saja peluang bisnis didepan mata. Pengeboran tidak selalu drilling crew, catering, mud engineer, Geologist, Cementer, Mudlogger, MWD. Namun bisa mengisi celah-celah kosong seperti menjadi polisi Lumpur.

Mudah-mudahan Indonesia ketularan ada yang berniat membuat detasemen Polisi Lumpur. Apalagi kalau meningkat menjadi “Polisi Mudlogging” – bisa juga melamar kesana.

Thursday, 26 October 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Advertisements

821- Nasi Kucing di Yogya, Mobil Kucing di Perth


Teman saya sebut saja Budi, tapi dikalangan temannya lebih populer Bambang Kasur mengeluh “Sego Kucing” alias nasi kucing di Yogya ikutan naik harganya. Kita bicara nasi kucing bukan berarti daging kucing melainkan masakan dengan porsi nasi dan lauk yang sangat minimalis, namun rasanya dahsyat maximalis. Bayangkan, menurut para ahli, untuk mengukur kadar protein yang kita perlukan tubuh. Tidak perlu alat kalori meter. Cukup selebar telapak tangan (delamakan) tanpa jari. Namun nasi kucing takarannya lebih sedikit dari yang ditentukan. Dan bagi mahasiswa yang lagi “sedeng-sedengnya” – tiga bungkus nasi kucing baru terasa “nendang” di perut. Lauk ini biasanya Teri, kering tempe sambel goreng, nasi 3-4 emplokan. Harganya 500 rupiah, yang sekarang mendekati 1500 rupiah per bungkus . Mahasiswa koskosan. senang bukan main dengan kehadiran nasi ini. Murah meriah yang penting tidak kelaparan. Herannya pak Suradi misalnya sang penjual angkringan, disebut-sebut sebagai warung dhemit (hantu, lelembut), lantaran berjualan di tengah malam.

Nasi murmer ini mula-mula dipopulerkan di Medan namun dengan mempertahankan nama nasi kucing.

Lain di Yogya, lain di Perth, Australia Barat. Disini banyak kucing merah, kucing biru dan kucing kuning. Ketiga jenis kucing ini banyak berkeliaran selama di sekeliling kawasan dagang, dan sibuk di Perth sehingga banyak disayangi penduduk maupun para pendatang (yang duduk juga kadang-kadang). Di Perth, anda akan melihat mobil bis, terawat, tidak ugal-ugalan, silih berganti melayani jalur sibuk seputar Perth. Dan mobil berlogo kucing merah atau kuning ini, ternyata bis prodeo. Alias gratis. Gratis bukan berarti anda diperlakukan tidak manusiawi.

Kucing besi ini menghilang setelah jam 6 sore.

Sementara untuk daerah yang non Kawasan Bisnis perusahaan jasa semacam TransPerth menyediakan bis komersial dengan biaya satu setengah dollar. Itupun kalau anda masih dalam ambang batas 2 jam, tiket lama anda masih bisa dipergunakan kembali.

Friday, 27 October 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Lebaran di Rig Pengeboran Australia Lagi….


Ada yang tanya bagaimana lebaran di Rig Australia. Saya terpaksa bilang “prihatin” – apalagi di rig yang bercokol “sak-thil” satu-satunya mudlogger dari Asia.

Padahal, biasanya pagi-pagi begini (lebaran) saya sudah sibuk di Lampung bersama ayah dan adik-adik ke lapangan (bank) Mandiri, ketemu pensiunan Polisi dan tak lupa anak-anaknya, memandang wajah remaja putri bersiap salat dibalik telekung alias mukena serasa mendapatkan samudra kedamaian. Ternyata memang ada benarnya orang bilang, kecantikan terpancar dari lubuk jiwa.

Lalu saya ngelangut (memandang kosong kedepan). Membalik jam waktu.

Puluhan tahun lalu di Teluk Betung Bandar Lampung, kampung NagaMas, dalam suasana sembahyang Ied versi Pemerintah kerap saya lihat di saf terdepan ada beberapa tempat ompong, padahal jamaah sampai luber ke jalanan. Ternyata ruang itu adalah jatah bagi pejabat yang begitu sibuknya “mengabdi negeri” sampai sembahyang yang cuma setahun sekali membuatnya telat datangnya. Maka bagusnya lebaran adalah cuci gudang dosa, dasar “ember”, sempat-sempatnya kami membahas soal Quota yang tak “pener” tetapi lazim di negeri ini.

Di satu tempat di Hotel Purosani Yogya, (dulu), saya pernah ditugaskan menyeponsori suatu pertandingan sport yang paling tidak disukai bekas Menteri Daud Yusuf. Malamnya masih menyeponsori acara ramah tamah makan makan.

Merasa tugas sudah dilaksanakan, saya dekati salah satu panitia yang notabene teman tapi mudlogger, lantas menjadi birokrat di perusahaan minyak. Teman tadi menjadi tidak mesra. “Jangan duduk disitu , itu untuk bos…” – padahal ada beberapa bangku kosong disana. Lalu saya berdiri dan meninggalkannya sambil saya perhatikan bahwa acara ramah tamah sudah berlalu lebih setengah jam, satu jam sampai hampir selesai, sang bos tak kunjung tiba. Bak siang dengan malam ketika dia eh beliau menilpun saya di kantor (dulu) memohon agar membantunya dengan menjadi sponsor even olahraga dan resepsi yang ditanganinya. Maksudnya ingin laporan gitu, namun nampaknya tindakan tadi dianggap menyalahi tata krama kalangan birokrat.

****

Kemudian saat menjadi mudlogger bekerja di perusahaan yang warna dan napasnya berslogan pemilik aseli Negeri Adiluhung Bernorma Ketimuran Kental, bermental pekerja kelas Dunia, saat makan tiba biasanya mudlogger selalu datang lebih awal. Bagaimana tidak kaget ketika sang Chief Steward, sempat berbisik “makannya nanti menunggu bapak anu selesai (dahar, santap)….” – akibatnya kalau sempat ya ditangsel Mie Cepat Saji, atau jajan ke kampung-kampung.

Senior saya bercerita, dalam acara Halal Bihalal Iedhul Fitri seorang merasa dilecehkan karena disilakan duduk dibarisan bukan terdepan. Ia tidak perduli lantaran datang terlambat, barisan depan telah penuh.

Ini semuanya tidak terlepas pendidikan masa kecil kalau mau makan, harus tunggu Ayah datang. Sementara sang anak yang memang boros BBM lantaran untuk pertumbuhan badan dan otak harus menekan lapar. Bisa jadi sang ayah yang ditunggu sebetulnya sudah makan kecil di kantor dan berpura-pura makan di rumah demi menyenangkan sang Istri.

****

Saat pertemuan pagi, atau tengah malam atau mingguan di Rig Australia misalnya, peserta kelas krocuk boleh saja datang duluan dan duduk di kursi yang biasanya untuk pemimpin rapat. Sekalipun bos, kalau datang terlambat konsuensinya harus berdiri, atau nggelesot disebelah mudlogger “die hard”. Pernah sekali darah “timur adiluhung” saya bangun. Saya berdiri memberikan tempat kepada sang Company Man. Ini sih rela-rela saja, mengingat saya bukan pembicara. Lho kok Marty, 28tahun, bilang you sit there, I am here (berdiri). Mungkin itu juga asalnya istilah SID (Standing Instruction to Driller). Yaitu rencana kerja yang disosialkan sambil berdiri sesaat sebelum pekerjaan sesungguhnya dimulai.

Begitu saat makan tiba. Seorang petugas Janitor, habis keringatan merapikan kamar mandi kami misalnya, enak saja ambil piring, pisau dan garpu. Enteng saja duduk di depan Company Man, dan makan sambil ngobrol. Tidak ada urusan dengan “jaim” atau tuduhan keladuk-laduk – bersikap terlalu bebas dan berani.

Seperti juga di pemberhentian bis. Kalau sudah waktunya bis nomor 32 yang melewati jalan MillPoint datang jam 15:38, maka anda yang datang saat 15:39 atau lebih sedikit, jangan mencoba berlari didepan supir sambil menebar iba agar dibukakan pintu sebab akan ditolak, dan menunggu bis nomor 32 selanjutnya yang akan datang satu jam lagi. Di Jakarta bus kota, angkot begitu memanjakan penumpang sehingga mereka mau berhenti, mengangkat dan menurunkan penumpang sesuai perintah penumpang.

Meminjam istilah para dietician “kamu adalah yang kamu makan“, maka di Australia berlaku istilah kamu adalah bagaimana kamu mengatur waktu. Bangsa mau maju, jangan mau terlambat. Kalau terlambat, konsekuensinya jangan minta dispensasi diprioritaskan.

Nampaknya, kita memang ompong di soal yang satu ini.

Be prepare, or be behind.

Tuesday, 24 October 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

819-Generasi X,Y atau Baby Boomer kah anda


Harian The Australian menyisipkan lembaran komplemen berupa ajakan masuk anggota Australian Defence Force (ADF). Intinya wahai para generasi “Y” kalau anda suka dengan urusan di luar rumah, doyan travelling, membantu bangsa lain yang tertimpa musibah seperti Tsunami di Indonesia, maka ADF adalah tempat yang cocok untuk karier Generasi Y. Caranya gampang, asal sudah memiliki permanent residen, dan lulus test fisik dan wawancara.

Apa pula yang dimaksud dengan Generasi “Y” ini ?. Rupa-rupanya istilah ini dipakai Australia untuk pemuda kelahiran setelah 1977. Mereka ini bisa disebut generasi digital, kemana-mana menggembol Ipod. Seakan tidak bisa hidup tanpa Ipod.

Lalu bagaimana dengan generasi lain? Sebut saja kelahiran 1965 sampai 1976. Mereka disebut generasi “X” – cirinya doyan belanja, ngedugem berat. Filosofi hidup Kerja Untuk Hidup bukan Hidup untuk bekerja. Kalau travelling mencari sensasi alias tantangan. Ini orang yang tidak bisa hidup tanpa Pashmina, trainer and book. Syal, sepatu ked dan Novel. Perangainya tidak sabaran.  Celakanya generasi ini selain sering dianggap apatis, sinis terhadap kehidupan, mempunyai nilai moral kedodoran, namun dari generasi ini juga muncul sikap enterprener dan Technical Friendly semisa internet mulai dikenal para era ini.

Golongan Baby Boomer. Agak berbau merek mobil. Ini diperuntukkan bagi kelahiran 1945 sampai 1964.  Kata Baby Boomer nampaknya diambil setelah perang dunia, orang  Australia, Kanada, Inggris dan Amerika seperti berlomba membuat anak sehingga angka kelahiran “ngeboom.”

Orang golongan ini, kalau travel seperti melihat perpus. Alias seperti mempelajari buku. Pegangannya passport, dan kalau tamasya lebih suka mengendarai mobil sendiri apalagi yang dobel gardan. Ditasnya selalu terselip brosur travel, peta-peta dan kadang PDA.

Adalagi kelompok terakhir Senior atau (Grey Nomad). Lahir sebelum 1945. Tentengannya kacamata silau, dan potret. Mereka biasanya tinggal dihotel mewah. Hobbi mendatangi tempat bersejarah seperti museum atau pabrik-pabrik penyulingan anggur. Biasanya perangainya lebih sabar. Bepergian kesatu tempat bisa dilakukan berulang-ulang. Pasalnya tidak ada satu tempat yang cukup didatangi dengan satu kali kunjungan. Pasti masih ada sisi tersembunyi yang tidak kalah menarik dari kunjungan pertama.

Tentu tidak disebutkan penggolongan yang lintas generasi, seperti orang dengan klasifikasi generasi Y tapi merasa lebih sreg “gaul” dengan Grey Nomad, atau sebaliknya. Atau Grey Nomad tentengannya Ipod kemana-mana sehingga mengundang gunjingan “nggak lihat KTP tuh…

Tuesday, 17 October 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Raksasa sakit kaki….


Layar laptop berkedip. Sebuah email datang katanya saya belum diperlukan ke Rig Pengeboran karena kapal sedang melakukan uji-produksi dan pemasangan fasilitas produksi bawah laut.

Biasanya orang seperti kami yang spesialisasinya di bidang mengebor atau membuat lubang bor, segera dipersilakan meninggalkan kapal karena tidak terkait dengan pekerjaan saat itu. Laut Australia yang tampak membiru dari kejauhan sebetulnya didasar laut sana, “pating-sliweran” pipa baja bergaris tengah 15 inci untuk menyalurkan minyak dan gas ke kapal-kapal tongkang. Saat laut “cerah” dan tenang, kadang kami melihat keadaan dasar laut dengan bantuan robot ROV (Remote Operating Vehicle), pada kedalaman 150 meter seperti benua Atlantis baru tenggelam, banyak bangunan, namun tak nampak penghuninya. Kecuali ikan tentunya.

Tetapi intuisi berkata lain, saya tetap memasukkan pakaian kedalam tas. Lho kok sehari kemudian 25 September (tentu 2006), email datang lagi dengan lampiran E-Ticket, berangkat pada hari ini juga jam 4 petang tanggal 25 September 2006, pakai Garuda ke Bali, lalu ke Perth.

Belum selesai Itinerary naik cetak dengan tinta suntikan, “mak kring” saya ditilpun separuh menegur “mengapa tidak menilpun kami” – Oalah, ampiun(pakai ir), jadi pegawai memang serba kagok. Keseringan tanya dibilang mau mengatur atasan, diam saja dibilang “kurang pro-aktip“.

Begitu saya lihat pesawatnya Garuda, saya membayangkan cerita klasik dari episode “E-ticket Linglung” – plus bonus proses yang lelet. Hal lain saya sedang kejar setoran Frequent Flyer dari Qantas.

Betul saja. Di counter Garuda saya ditanya, mana tiket? – saya bilang saya kemari karena mau meniketkan e-tiket ke Bali lalu Perth. Dia tercenung menatap tulisan tanpa kop surat dan berbentuk fotokopi datar. Roman wajahnya terbiasa dengan surat berkop Warna Warmi, harus ada tanda tangan, dan cap setempel basah, kalau perlu foto copy kelakuan baik dari RT dan RW setempat. Saya rogoh kantong memberikan Pasport.

Kamar dalam rig. Nomor pada ranjang (41) harus dihapal siang malam sebab menentukan alokasi setasiun penyelamatan bilamana terjadi kebakaran atau letusan gas. Biasanya yang lebih senior dapat tempat paling bawah, jadi tidak perlu “kethekeran” – kerepotan memanjat tangga. Kalau anda peka soal keselamatan, ada titik lemah “pinchpont” yaitu ranjang atas tidak diberi pagar untuk mencegah orang terjatuh. Namun demi sebuah foto, pagar kami cabut.

Ada yang tidak beres nampaknya, sebab tidak lama ia meninggalkan stasiunnya dan passport saya “gemeletak” begitu saja di mejanya. Rupanya petugas berkonsultasi dengan atasannya. Saya dipanggil oleh orang lain lagi agar mengikutinya ke counter lain untuk pembuatan tiket. Terang saja saya “mbegegek” – ada passport lengkap dengan visa diatas mejanya. Bagaimana kalau hilang? Saya dengar sekalipun di Kementrian Kehakiman, atau di dalam lemari para petugas Imigrasi, ada Passport dengan Visa Amerika hilang, karena akan diambil Visanya guna dimanfaatkan pihak lain.

Passport saya raih. Sempat dihalangi namun saya bilang ini Passport saya. Lha rak tenaaan, dia hanya diam saja. Bagaimana kalau orang lain berbuat serupa…

Jreng!!!, tiket selesai dengan expres, kalau 20 menit termasuk jalur layanan cepat. Ini prestasi, sebab ada bule lelaki, sebelum saya datang sudah “ngejogrok” di depan loket, toh urusan saya lebih cepat selesai daripadanya. Sebentar-sebentar ia bilang “I call my boss,” lalu merogoh henfonnya.

Petugas menulis kedalam buku Expedisi (sebuah cara kuno namun masih efektip sampai pengunjung tahun 2006), nama saya dicatat termasuk alamat, nomor passport, dan terakhir saya diasongkan balpoint untuk tanda tangan bahasa (saya lupa dialek mana mengubah kata bahwa menjadi bahasa) saya telah menerima tiket tersebut. Sebagai tambahan, di bawah tanda tangan saya tulis nama lengkap dan henfon, jam dan hari. Seorang guru saya yang Lawyer sering memberitahukan kebiasaan menulis jam, tanggal pada satu peristiwa. Dan jangan percaya komputer. Berkas dalam komputerpun harus dicetak.

Saya tidak tahu apakah petugas Garuda ini pernah mengenal boss saya tersebut (joking). Namun yang jelas, ada seorang pembaca, dokter Garuda, selalu merasa gerah kalau saya mulai membicarakan kesatuannya. Dia juga sering menulis di majalah Garuda. Maklum dia adik saya sendiri. Adik paling bontot, waktu SD pernah memasukkan artikel ke majalah anak-anak (Kuncung), namun sekarang ia ribet dengan memasukkan anak-anaknya yang “ndrindil” ke sekolah.

Masih ada waktu. Perasaan mulai tidak kemrungsung. Saya keluar terminal. Dari kejauhan saya lihat keluarga sedang mengobrol dengan “teman barunya”. Soal mencari teman, dia memang jago nya (emang SMS). Seandai ada antrian ATM empat orang didepannya, empat orang dibelakangnya. Maka dalam hitungan ke lima (menit), dia sudah mendapat teman ngobrol. Dimulai kata pembuka “panas cuaca, panjang antriannya, atau “kenapa sih nggak dibuka dua ATM”,” dijamin sudah dapat sparring partner. Padahal dia ndak pernah baca buku “how to pickup girl or man,” atau “how to be a effective salesgirl” Saya pernah mengalahkan prestasinya, disebuah ATM seorang ibu senyum-senyum “papanya Satrio ?” – kami terlibat pembicaraan ringan, sampai akhirnya dia mulai menohok “kok Satrio nakal sih kata anak saya” “kok Satrio bisa di teknik Geologi, kapan dia nakal” – Walau kucoba bertahan tersenyum tapi balon diatas kepala saya menulis “sampeyan belum bernah diseseli munthu.”

Betul saja keluarga sudah berhaha-hihi dengan keluarga yang ditilik dari mata dan kulitnya berasal dari tanah daratan, berbudaya lebih kuno, dan pintar dagang. Melihat saya mendatangi mereka, kontan obral senyum. Ini Jakarta, biasanya di tegur saja mereka sudah kecurigaan kok sekarang balik menegur duluan. Ternyata, bapak ini punya anak diwisuda di Perth dan belum pernah kesana sejak anaknya sekolah 4 tahun lalu. Anaknya protes, empat tahun sekolah sampai wisuda, papa tidak pernah tengok. Sibuk dagang melulu.

Lalu saya tanya bawa makanan apa, dan sebaiknya di deklarasikan agar tidak jadi masalah. Sayang menggunakan pesawat terakhir sehingga kami berpisah namun akan bertemu dalam satu pesawat di Bali, tiga jam kemudian. Saya lihat bule berhenfon masih didepan loket untuk mencairkan E-Ticketnya, padahal saya bersiap boarding. Ciaaan deh eluh…

Ada dua ruang tunggu untuk nomor penerbangan yang sama ke Bali…
Pintu F2 dan Pintu E5, saya tidak bisa membagi tubuh menjadi dua, akhirnya membagi kebodohan. “Bapak masuk pintu F2 karena akan ke luar negeri.” Lalu saya tanya, bagaimana dengan Fiskal yang satu jeti ? – bayar di Bali atau di Jakarta.

Jakarta, kata petugas singkat…

Di bagian pemeriksaan imigrasi, petugas rada bingung. Mengapa saya menyodorkan boarding pas untuk perjalanan ke Bali. Lalu harus ada permainan kata-kata sampai dia mengerti.

Di pintu F2, hanya ada dua penumpang seorang ibu Cina Totok Medan, dan saya. Nyonya ini bercerita bahwa “saya ala ana sekola di Pet, ambil menejemen gitu, ada sakit usus buntu, dotol sula opelasi, sulah ambil lia punya usus wuntu, sula sembuh, tapi dia olang banyak angkat balang belat sekalang ada lala keluar, kompelikasi, masuk lumah saki. Saya mau tengok..” – biar tidak rebyek, terjemahannya, dia punya anak sekolah Manajemen, usus buntu sudah dioperasi, masih angkat barang berat, akhirnya harus dioperasi lantaran perdarahan. Ibu ini ternyata nekad. Dia beli tiket pada hari yang sama dengan dia urus visa. Sampai-sampai petugas Kedutaan bingung, belum dapat Visa sudah beli tiket. Lalu dia bilang, kalo gitu tolong kasih visa ini hari bisa saya bisa tengok anak sakit. Dan mujarobat bis mustajab, dia berhasil.

Dia bilang sering ke Cina, ke Jepang pokoknya plesiran. “Saya tak bisa tulis Jepang, tapi ada liat milip mandalin, saya bisa kasi baca. Olang Jepang suka itu.”

Agak sulit juga mengerti semua pembicaraanya. Saya yakin diapun sulit mengerti bahasa saya. Lalu saya keluarkan koran pura-pura membaca. Dia sepertinya tertarik, bisa dirasakan pandangan matanya menerpa koran. Lantas koran saya sodorkan kepadanya. Koran Tempo habis dibacanya dalam tempo yang singkat. Saya sodorkan Majalah Tempo. Tiga jam menunggu sampai juga akhirnya kami dipanggil. Tapi dia masih baca majalah saya. Lalu saya berdiri siap-siap masuk, lho beliaw “masi ada baca. SapaW tauk kaga dengel.”

Suasana gang menuju tempat ganti baju merangkap toilet. Anda lihat lampu emergency, lalu bel yang merah sebagai tanda bahaya, pemadam kebakaran. Seperti halnya rumah sakit, suara harus ditekan seminimum mungkin sebab ada orang lain yang sedang beristirahat.


Ayo masuk, ajak saya.

Betul rupanya dia nggak ngeh kalau sudah dipanggil dalam bahasa Indonesia aroma Bali yang sangat teramat jelas pengucapannya. Sejelas pembacaan naskah Pancasila. Sekalipun saya ramah, namun menyetel ayat “curiga itu perlu, jangan terima pemberian atau titipan dalam bentuk apapun, sekalipun apapun…” – habis orang begini biasanya nekad kalau soal narkotik, bisa awak mengikuti serial Diary of Brigitte Jones. Rasanya kalau ada pemilihan baju terapih di dalam Qantas, saya menjadi pemenangnya. Lha pesawat isinya para Surfer degan gaya hippie, pakai sandal, kaos kutang, baju pantai, model hawaai, rambut di kuncir
kemana-mana. Ada yang jalan oleng bak Mariane Faithull, penyanyi rok overdose 60-an, limbung akibat “nenggak” – dipesawat dia duduk dikursi terdepan, saat beranjak ke toilet, kepalanya nyundul pesawat TV didepannya. Dan sepertinya dia tidak merasakan sakit. Namun tersembul kebanggaan ketika beberapa kaos bertuliskan “BIR BINTANG” – inilah satu-satu produk andalan yang diakui bule sambil bertekuk lutut. Soalnya kalau anda menjelaskan Indonesia dia bilang “Bier Bintheng, Good, bitter but good…”

Teh botol rupanya kurang diminati.

Lho kapan sakit kakinya???

Jam 2 pagi kami mendarat di Perth Internasional, sementara jam 6 pagi saya sudah harus laporan di Perth Domestik. Jarak ditempuh 30 menit, pergi pulang 60 menit. Akhirnya saya batalkan checkin di hotel, daripada kemrungsung cari taxi, lagian hanya dua jam di hotel harus cabut lagi .

Setiap kamar diberi alat penyelamatan seperti pelampung, jaket anti hipotermia, senter, masker. Paling tidak seminggu sekali diadakan latihan penyelamatan.

Waktu pemeriksaan imigrasi ibu Medan masuk barisan “Warga Australia” – waduh nekad juga. Semua penumpang sudah keluar gedung. Namun ibu tadi belum keluar juga. Lalu saya lihat beberapa anak perempuan Cina seperti menunggu sesuatu dengan cemas. Saat ibu keluar digelandang dengan seorang petugas. Penjemputnya kelihatan ketakutan ketika melihat ibu tadi bersama petugas. Untung petugas bilang “its Okay, not a big thing I just need help the explanation..”

Jam 3 Pagi saya cabut dari International, dan menuju Swan Taxi ke Airport Domestik. Supir menyambut “Are you from Jakarta, so early to the Airport.” Lalu dia menyetel radio yang membawakan lagu 60-an. Lantas saya bilang tumben hare geneh ada yang nyetelin saya lagu 60-an. Supir Taxi bilang, ini acara non-profit Universitas. Kalau tengah malam sampai pagi mereka tidak punya disc jockey, jadinya lagu disetel secara otomatis. Enak sih dengarnya, kadang saja kita tidak tahu judulnya atau nama penyanyinya. Lalu dia menambahkan “Mike Jagger hebat ya sudah 60-an masih hidup dan sukses, padahal ngobatan begitu….”

Di suatu tikungan di jalan Great Eastern Highway, matanya celingukan sebentar lalu lampu merah diserobotnya. “Pagi begini mana ada kendaraan, gumannya” – jangan heran dia dulu anak “ngeRock.. metaal Man!” – untung tidak keluar polantas yang nyaru jadi pohon dan berkata “taat kalau ada yang liat, tanyak kenapak?”

Ongkos taxi sekitar 26 koma sekian dolaran, tapi sejak demen dengan Sinetron DTK, maka kepada taxi saya teruskan pembayaran tanpa koma. “Lempengin 30 dollar Cak!” – tentu dalam bahsa sono yang keluar adalah terjemahan “make it 30” – cara pengucapan yang kalau di kursus LIA, sudah pasti dicoret merah oleh instruktur.

Jam 3 malam, airport mana juga sepi. Bahkan dikunci. Padahal diluar suhu Perth membuat sendi tulang pada lepas. Saya tetap mencoba memasuki pintu satu persatu, menarik perhatian Video Surveillance. Berhasil… Sekuriti keluar dan saya bilang “I catch early flight..” – lalu dia mengijinkan saya masuk dengan catatan, jangan meninggalkan barang di Airport. Kalau ke toilet bawa bawaan, ke toilet…”

Lalu saya mendekati mesin ATM-Quantas (Automated Check In), saya masukkan nama saya, flight detail. Dan jam 3 pagi lebih sedikit “mak jeglek” boarding pass sudah ditangan dengan tempat duduk yang saya inginkan.

Jam 5 pagi, pintu sudah mulai dibuka begitu juga Toko Buku, Minuman mulai memperlihatkan kesibukan sehari-hari. Bagi yang puasa, mencium bau kopi segar dengan aroma roti bakar. Wah ya bikin kluruk isi perut.

Waktu checkin, tiket tinggal dimasukkan kedalam Ticket Reader sehingga kalau jumlahnya masih kurang segera ketahuan nama yang lelet. Tak lebih 5 menit, pintu ditutup dan malang bagi yang harus ketinggalan. Penerbangan begitu padat sehingga tidak ada ruangan bagi menunggu. Jam 7 Pagi, saya sudah mengudara dengan Quantas menuju Karratha. Kota legenda “Red Dog,” – sebuah kota gersang mendadak kaya akan bahan tambang besi, garam, dan sekarang Boom Minyak.

Dua jam perjalanan tiba di Airport. Saya harus mengoleksi bagasi dan berjalan 50 meteran menuju counter Bristow, sebuah maskapai penerbangan yang menyewakan Helikopter untuk kegiatan Pengeboran Lepas Pantai. Barang saya masuk X-ray – laptop dibuka, barang diperiksa secara visual. Lalu kita digeledah. Penggeledahnya Nona Alex, gadis Australia berbadan langsing, dengan tindik perak ada 5 di telinga kirinya, berambut hitam pendek. Kalau ada filem Top Gun jilid II, mungkin dia bisa memerankan tokoh Kelley, instruktur merangkap kekasih “Pedhopilia” dengan Tom Cruise. Rumor miring mengatakan Alex ini jeruk makan jeruk. Mudlogger juga manusia, doyan dengar berita miring.

Video cara penyelamatan diputarkan, kecuali novel (bukan koran atau majalah), tidak ada barang lain boleh ditenteng. Termasuk laptop sekalipun. Dan tak lama kami sudah mengudara dengan Super Puma yang diawaki dua pilot Australia mengudara menuju rig setelah sebelumnya menurunkan penumpang di MODEC 11 (Ini nama fasilitas produksi terapung milik Woodside). Dari kejauhan nampak platform Rankin A, dan Rig Ocean Bounty…

Disela-sela awan lembut, sambil memandang pulau-pulau kecil di bawah sana pikiran saya mereka-reka sedang apa ya aktivitas di Bounty…

Sebetulnya ada alunan musik di headphone Heli, tapi apalah nikmatnya anda naik Bajaj Udara, dengan raungannya dikombinasikan dengan dengan ipod ditelinga. Paling sambil diguncang-guncang kami menikmati tidur aam mengobati stress dan kurang tidur semalaman.

Ketika helikopter Puma mendarat di landasan besi kapal. Sesaat pesawat harus menyesuaikan diri dengan arah angin dan tentunya ruang yang terbatas mengingat disisi landasan tengah berdiri menara pengeboran. Sekilas lantai menara bor sepi-sepi saja, bahkan alat katrol pemboran yang disebut Top Drive System nampak menggantung tidak bergerak. Ternyata Kumbakarna sedang menyelesaikan kontraknya dengan perusahaan SANTOS (ingat Santos, ingat LUSI – Lumpur Sidoardjo), sebelum ditarik dengan kapal tunda ke lokasi baru perusahaan Woodside.

RAKSASA SAKIT

Bagaimana tidak saya sebut raksasa. Lebar badannya 100 meter, tingginya mencapai 100 meter, memiliki 8 kaki PONTON yang besar, kemampuan minum sampai 5000 barrel cairan, perutnya berisi “anak-kapal” sebanyak 100 orang. Kapal yang mampu merobek perut bumi sampai 5000 meter, tetapi masih bisa bilang “kami sangat paham soal lingkungan hidup” – hanya karena sepotong kertas tidak boleh dilempar ke laut.

Rig buatan Mitsubisi tahun 1982 ini mampu memproses air laut menjadi air tawar untuk keperluan sehari-hari seperti mandi maupun cuci.Kecuali air minum yang masih harus didatangkan dari darat. Kalaupun ada perubahan, sistem propeler sudah lama tidak diaktipkan, Rig harus berjalan dengan diseret dua buah kapal tunda.

Yang ingin mencari bak mandi dan siwur bakalan kecewa sebab disini hanya ada pancuran (shower), toilet duduk (bukan jongkok) yang dilengkapi deo spray sehingga setiap yang duduk diwajibkan menyemprot ruangan sebelum ditinggalkan, agar pemakai berikutnya tidak merasakan “sambutan hangat dan tajam” dari sisa pemakai sebelumnya. Dan tidak akan tercium bau rokok. Pasalnya sangat dilarang merokok didalam ruangan. Kecuali tempat khusus merokok. Dan luar biasa, hal tersebut sangat dipatuhi. Rig semi terapung (semi-submersible), milik Diamond Offshore GlobalMarine disingkat DOG, ini memang sibuk melayani pelanggan.

Hampir 3-4 bulan sekali kami pindah pelanggan semisal Coogee Resources, Hardman Resources, Santos, ENI, Theo, ROC, dan belakangan Woodside Energy Limited. Setiap ganti perusahaan, maka ganti cara penanganannya. Biasanya kami-kami pekerja bayaran ini yang di “propaganda plus cuci-otak” – bahwa perusahaan tempat kerja sekarang ini adalah terbaik sistemnya dan ter-ter lainnya.

Sebagian pakaian sehari-hari biasanya sepasang coverall, kaos dan celana pendek di taruh dalam lemari besi ini. Masih ada satu locker di luar ruangan utnuk menyimpan alat mandi, sandal, sepatu dsb.

Paling repot lagi kalau semua Internet Backbone yang sudah ada, dianggap kuno dan diganti dengan sistem keselamatan mereka yang lebih “JOSS” – dan berakhir setiap orang harus cari kemana saja kabel networknya nyasar. Sistem wireless belum dipakai di rig karena badan baja yang umumnya susah ditembus dengan wireless.

Akibat sibuknya mengebor sana sini, suatu saat kaki baja terapung milik Ocean Bounty (OB), ini terkilir pada mata-kakinya. Kami menyebutnya “fair-led” – dokter spesialis kaki didatangkan dengan peralatan semacam X-ray, lalu ahli bedah tulang yang disini bergelar welder alias tukang las mulai sibuk berdatangan. Karena sebagian kaki tenggelam dalam air laut, mau tidak mau kaki tersebut harus berada diatas permukaan. Maka beberapa isi perut harus dipindahkan kekapal suplai, dan rig perlahan mengapung lebih tinggi “de-ballast.
Saat kaki mengapung, nampak binatang laut sejenis siput saling menempel dikaki rig, bau amis laut dan binatang yang mulai membusuk karena kekeringan mulai tajam menyengat.

Karena mengapung tanpa pemberat, jadilah raksasa besi ini seperti sabut ditengah laut, terhempas kesana kemari. Dan lagi-lagi sistem internet yang katanya sudah dilengkapi dengan dynamic positioning agar manteng terus ke satelit yang dituju, sempat bergeser. Internet kehilangan kontak, tilpun terputus, acara TV sami mawon. Tapi setidaknya kami seperti liburan dihotel mewah. Satu dua hari memang seperti di surga, memasuki hari ketiga kebosanan mulai melanda.

Rapat mulai berisi laporan rutin “stand by and ready to go“. Untuk mengisi waktu, di kapal diadakan perlombaan mendayung dalam waktu 5 menit, harus minimal mencapai 1400 meter. Di bawah itu akan didiskualifikasi dengan kehilangan biaya pendaftaran 2 dollar. Tod, si bule tukang las sempat-sempatnya menyempitkan badan ikutan kompetisi. Lho kok 1495m dia tempuh dalam 5 menit. Jadilah ia pemenangnya. Yang unik kompetisi ini dilakukan di ruang senam alias menarik alat simulasi mendayung. Tapi boleh coba 5 menit, rasanya ambegan sudah sampai kerongkongan plus full gemrobyos.

Mudah-mudahan kaki OB (OceanBounty) yang sakit segera sembuh. Dan ternyata pemulihan ini memakan waktu tak kurang 7 hari kerja 24jam.

Fairlead inilah yang rusak sehingga membutuhkan waktu berminggu untuk memperbaikinya.

Habis ya…
Keburu bada (lebaran)…

817 – Menangkap teroris dengan SIM Card


Kita kerap menyaksikan filem mengenai spionasi, dimana mereka saling berhubungan melalui tilpun umum demi menghindari kemungkinan disadap. Atau masih ingat perburuan putra Mahkota keluarga pernah berpengaruh di Indonesia yang juga melibatkan pelacakan kepolisian dengan menyadap tilpun genggam pemiliknya.

Bau asap dan kematian masih memeluk Bali. Di pagi 12 Oktober 2002, diantara kesibukan detektip seantero jagad grudugan ke Bali untuk mengumpulkan keping demi keping barang-barang yang bisa dijadikan bahan penyidikan, terseliplah dua teknisi dari Telstra (semacam
TelkomSel) di Australia. Raksasa komunikasi Australia ini bukan mau jualan TalkTime murah apalagi teknologi G3, mereka justru datang dengan tujuan mengoleksi nomor tilpun seluruh Indonesia lengkap dengan rekaman pembicaraan, data sms. Untuk urusan sepai-menyepai (spionase), maka rekaman pembicaraan dan nomor tilpun adalah ladang emas yang kaya
informasi. Di Bali mereka bekerjasama dengan Telkomsel.

Ini jelas tidak main-main. Urusan raksasa yang tidak sakit kakinya.

Kalau rakyat Indonesia berjumlah 250 juta masing-masing pegang apek (HP= Cina Glodok), satu saja bisa dibayangkan betapa besarnya database ini. Apalagi meliputi rekaman suara segala. Data lalu dipasok kedalam super komputer, diidentifikasi masing-masing suara di Indonesia sampai akhirnya muncul beberapa pola yang mulai mengarah ke pembicaraan yang bernada teror. Karena keterbatasan waktu, juru nguping ini sampai bekerja siang-malam-pagi-sore. Dan tak lupa mampir ke toko Seven Eleven.

Tertuduh Muklas, misalnya, dikenal sebagai tukang gonta-ganti SIM Card, minimal dua hari sekali dia ganti SIM card dengan cara bicara yang sangat irit. Tapi dinas sandi Australia langsung menengarai bahwa sang empunya suara irit ini adalah Mukhlas. Lalu pelacakan mulai mengarah kesana.

Sementara yang rada “ember” adalah Imam Samudra, ia sangat kecanduan internet. Ada beberapa situs yang dia datangi kadang ia tukangi pemunculannya. Namun yakin dia tidak pernah mendatangi situs queerjihad.org – karena yang ini urusan jihad para “Eunuch” Ciri khas Imam, ia tak pernah alpa dalam emailnya selalu menyelipkan pesan kepada Penguasa bahwa serangan balas dendam. “Eluh juwal, kita belih…disinih

Email yang bernada “pingin kawin,” seperti “Para Sabili, saya sudah wisuda S2, akan segera dikawinkan. Mohon tunggu kabar selanjutnya..” ternyata De Bomber Code, untuk berikrar mati demi tanah air, tapi bersama bom di rompinya dan ajak-ajak pihak lain. Bau Malaysia dalam email tersebut pekat sekali sebab orang Andonesi (Arab=Indonesia), tidak pernah pakai sapaan Sabili.

Saat pemboman Bali II, keberadaan Dr. Azahari mulai dilacak. Ada tiga nomor tilpun yang mencurigakan saat mereka berhubungan dengan Nurdin Top. Lalu dari ketika nomor tadi di peras menjadi satu nomor, muncullah satu nomor saat itu sedang dalam sebuah bus di Jawa Timur. Ketika Bus digeledah, ternyata si penilpun ria adalah Antoni Yahya, seorang kurir Azhari dan Nurdin Top. Dari Yahya bernyanyi, maka lokasi Azhari di Batu dilacak sampai terjadi penyerbuan yang berakibat kematian Azhari.

Pekerjaan tukang “nguping” omongan orang ini, memang pekerjaan bagian pemecah sandi Australia. Sayangnya jasa orang semacam ini sedikit diketahui orang. Padahal untuk menuduh seseorang, anda tidak bisa sekedar pakai paranormal. Harus ada bukti, kalau tidak rupa, ya suara.

Apalagi pejabat kita doyan bilang “hasil olah TKP dan swadaya masyarakat, maka kita berhasil membuka jaringan bla bla bla..” – seakan kerja para IT tidak direken sama sekali.

Pepatah: Hati-hati bicara, nanti terdengar setan lewat. Ternyata mengandung arti lain.

SAS – ternyata pasukan komando Australia juga


SAS

Adakah nama-nama anggota satuan tempur elit Australia, berapa jumlah persisnya anggota Special Air Force (SAS) Australia ini serta kawasan mana mereka diterjunkan?.
Semua serba rahasia sehingga banyak dari kalangan luar berpendapat bahwa pasukan Australia (Digger), hanya pelengkap penderita dalam pasukan Koalisi. Terbukti banyak yang mengira SAS adalah hanyalah pasukan Inggris.
Harian The Australian bulan September 2006 lalu memberitakan dua puluh anggota SAS meradang lantaran mereka merasa dianak tirikan oleh pimpinannya. Sama-sama bertugas sabung nyawa di Iraq, giliran dapat medali penghargaan, nama mereka seakan dianggap angin. Beberapa anggota SAS bahkan mengundurkan diri. Namun diluar urusan dalam negeri, tindak tanduk pasukan ini memang profesional.
Dalam tayangan TV, nampak saat mereka mengatasi berkecamuknya anarkis di Timor Timur misalnya. Bahkan ketika bencana Tsunami silam, saat terjadi rebutan jatah bantuan pasukan ini malah membiarkan pengungsi berebut, sementara pembela dalam negeri gatal sekali membentak dan mengokang senjata melepas peluru ke udara.

Medali VC (Victorian Cross) yang membuat sebagian pasukan iri, akhirnya mengundurkan diri dari kesatuanDibentuk di barak Campbell – Perth pada April 1957, semula hanya menjaring 160 orang. Tahun 1964, pasukan kecil ini berkembang menjadi satu resimen terdiri dari empat batalion khusus (4RAR) yang difungsikan penuh.

Tugas “keluar wilayah” ketika menghadapi konfrontasi dengan tentara Indonesia yang melakukan infiltrasi untuk menggagalkan negara Malaysia yang baru dibentuk. Lalu mereka diterjunkan kedalam perang Vietnam. Selama 6 tahun disana pasukan ini terlibat dalam ratusan pertempuran. Terhitung 1200 patroli yang mereka lakukan, dan selalu ditingkahi dengan baku tembak sehingga tak kurang 492 gerilyawan Vietnam meregang nyawa dibuatnya. Usai perang Vietnam, anggaran belanja pasukan khusus dengan moto “Who Dares Wins” ini sempat dipotong. namun tidak lama kemudian isue teroris fundamentalis menyebabkan anggaran yang dipotong dikembalikan seperti semula.

100.000 Dollar Pertahun… Seorang spesialis menerima tak kurang seratus ribu dollar pertahunnya. Tapi saat perang Iraq berkecamuk, banyak diantara mereka mengundurkan diri dan membuat bisnis pengawalan kepada orang-orang kaya di Iraq. Orang Iraq sangat percaya kepada keandalan bekas SAS mengingat satuan ini cepat medan. Banyak yang akhirnya jadi pengusaha sekuriti yang sukses.Mereka merekrut pemuda yang usianya tidak termasuk remaja yaitu umur diatas 20-tahunan. Mereka dididik menjadi ahli paramedik untuk orang lain dan dirinya sendiri, ahli pemecah sandi, ahli bom dan ahli bahasa. Gambaran “Rambo” memang melekat pada diri mereka. Hampir semua anggota pasukan yang diterjunkan di Afganistan memahami bahasa Pashtun, yang menjadi bahasa sehari-hari kaum Taliban.Ciri khas dari pasukan yang kondang dengan keahlian “surveillance” alias pengamatan ini dilihat dari para anggota yang sedikit bicara. Mereka hanya boleh berbisik, dan harus mengenal perangai (mood) anggota team lainnya sehingga mampu mengidentifikasi mood temannya.
Saat terjadi baku tembakpun mereka irit teriakan. Semua dilancarkan dengan kode kode tangan. Salah satu senjata yang diandalkan adalah kemampuan menembak berbelok, terutama dalam operasi ruang-ruang sempit.

Senjata dengan kemampuan menembak berbelok

Sejak September 2005, ada 100 orang bertugas di daerah yang angka kesulitannya tinggi yaitu propinsi Oruzgan di Afghanistan. Daerah yang berlereng terjal ini merupakan surga bagi gerilyawan Taliban. Penguasaan bahasa Pashtun yang fasih menolong banyak. Selama setahun
bertugas tak kurang 139 perang pernah dilakoninya.

369 hari bertugas, saatnya pasukan ditarik ke pangkalan. Namun kepergian mereka minggu lalu mengundang kekuatiran termasuk tentara Amerika dan Inggris sebab dengan kehadiran pasukan SAS, tentara koalisi lainnya merasa aman terlindungi. Terbukti baru kloter pertama dipulangkan, 400 Taliban dengan senjata modern sudah merangsek pangkalan mereka.

Era peperangan baru yang tidak konventional menuntut keahlian penuh ereka. Mereka harus mampu duberangkatkan dalam pemberitaan yang singkat. Contohnya saat terjadinya keributan Timor Timor, dalam beberapa hari saja pasukan berseragam loreng tersamar coklat, biasanya berkacamata hitam (memang ini aturan pakai keselamatan di siang hari), irit bicara sudah bermunculan di Lorosae. Itulah ciri pasukan khusus SAS Australia yang sekarang sudah setara kemampuannya dengan elit sejenis milik Amerika dan Inggris. Bush menyatakan hal tersebut didepan Alexander Downer sesaat sebelum deklarasi perang terhadap IraqKehilangan terbesar terjadi saat 15 orang tewas saat latihan terbang malam. Pesawat Black Hawk bertabrakan diudara. Yang perlu dicatat, pasukan ini memang banyak yang tewas dimedan latihan daripada dalam perang sesungguhnya.Burma merupakan negara luar pertama yang memanfaatkan jasa pasukan elit, dalam upaya memerangi teroris.


7/10/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO