Layangan


Jendral Han Sin dari Dinasti Han memang jago strategi perang. Tak heran ketika anak cucu keturunannya berhasil menerapkan strategi dalam alam lain yaitu niaga, maka segenap benteng pertahanan lawan dagang biasanya disergap secara cepat dan lambat lalu dikuasainya. Sampai-sampai keluar daratan Cina.

Alkisah 200 tahun sebelum Masehi, Jendral ini mengalami kesulitan menyerang musuhnya. Lalu ia berfikir untuk membuat terowongan memasuki benteng pertahanan musuh, dan menyergap saat musuh lengah. Untuk tujuan ini, mereka berpura-pura menerbangkan layang-layang sampai menyuruk ke daerah musuh yang sebetulnya mengukur panjang terowongan yang harus ia buat, sekaligus azimuth dan inklinasinya. Kelihatannya sejarah layang-layang bermula dari kepiawaian sang jendral.

Maka betapa saya tidak merasa jadi Jendral ketika ketika berhasil meraut buluh sebatang, dipotong sama panjang, ditimbang lantas kujadikan rangka layang-layang. Maka langkah bahagianya ketika layangan mampu melesat ke udara dengan keseimbangan yang prima.

Apalagi kalau mampu membalut benang “cap gajah” – dengan bubukan halus “amril” alias beling porselin yang jaman dulu adalah barang pecah yang wah, setelah dibubuk halus, diayak dan dicelup dalam “kak” atau lem kayu yang baunya bacin nan mblengeri, dan diadu di udara. Lalu sambil bersenandung lagu pernah perduli bahwa lagu tersebut bajakan dari lagu Padang “Kampuang nun jauh dimato..

Bermain layangan selalu harus gembira dan bernyanyi, minimal bersiul sebab kalau angin sedang ogah-ogahan, lalu dewa angin dipanggil seperti siulan memanggil “kirik” atau anak anjing agar membantu anak anak bermain dengan hembusan bayunya. Seperti mendengar, pelan-pelan angin berhembus meniup layangan. Soal mengapa dirumah tidak boleh bersingsot (siul, jawa) ria, saya tidak jelas.

Kalaupun ada pengalaman nggak enak, adalah saat kepala saya dijitak sang penguasa lantaran pisau cukur lipat milik ayah “cap kupu” made in China menjadi ompong dipakai memotong layangan. Paginya ketika bapak mau mencukur kumis, terperanjat pisaunya ompong dan majal. Terang saja pisau lempar handuk ketika dipakai untuk memotong “brengos”. Dulu saya anggap perbuatan ayah adalah “facist bin nazi” tetapi ketika merasakan sendiri cukur pakai silet “ralandhep” – kejengkelan ayah bisa dimaklumi.

Layang-layang juga yang “menyambut” kedatangan saya di bandara Cengkareng. Lalu terbayang pelajaran di SD, alkisah pada saat musim panen raya tiba para petani bergembira, remaja bersuka sambil bernyanyi gembira. Sementara menunggu musim tanam tiba sawah dijadikan ajang permainan layang-layang. Cerita memang berubah nada ketika panen raya tiba maka harga padi melorot diluar yang diinginkan. Tapi soal layangan tetap naik gembira.

Hanya kali ini rada ketar-ketir tatkala beberapa layangan menyeruak hampir setinggi pesawat. Bagaimana seandainya salah satu dari layang-layang yang bergelut tadi putus, lalu “mumbul” dan masuk ke “turbo” pesawat.

Apakah tidak jadi berabe. Kalau burung-burung nakal bisa diusir dengan “suara-suara” yang dipancarkan pada gelombang tertentu. Tapi bagaimana dengan layangan apakah kegembiraan anak-anak bermain yang relatip murah juga harus dikorbankan demi keamanan pesawat.

Wednesday, August 30, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Advertisements

Jangan ambil sepatuku


Nasehat kebanyakan orang (amit-amit) kalau sampai apes ditodong dijalan oleh kawanan penjahat apalagi bersenjata, maka sebaiknya serahkan semua barang, seperti cincin, jam, asal jangan sampai terluka. Namun ada rada “nyentrik” jam mahal, uang, berlian, kalung boleh diambil tapi, “please” jangan ambil Sepatuku.

Sepatu apaan sampai segitu serunya?

Sepatu “perempuan” buatan tangan Blahnik. Nama lengkapnya Manolo Blahnik. Keistimewaannya sepatu ini buatan tangan. Dan Blahnik adalah empu sepatu jaman sekarang. Bak seorang empu yang beproses dalam membuat keris yang digdaya, begitulah empu Blahnik, pria kelahiran Santa Cruz 1942 ini mengejawantahkan keciamikannya membuat sepatu yang umumnya bertumit tinggi, lancip, dengan ujung runcing sehingga kalau dipakai perempuan berkaki cangcorang, berbetis padi IR, membuat pemakainya menjadi seksi.

Konon Blahnik yang membuat sendiri sepatunya tanpa bantuan siapapun. Dan karyanya selalu monumental. Tidak heran dari Lady Day, Jerry Hall, Bianca Jagger, Kylie Minogue menjadi pelanggan fanatiknya. Kylie sampai-sampai mempertontonkan sepatu tersebut dalam album keluaran tahun 2001.

Sepatu yang sama dipakai oleh pemain seri Sex and City. Dalam satu adegan Carrie Bradshae seorang maniac sepatu mengatakan “ambilah semua olehmu (pencuri) tapi jangan sepatu Manolo Blahnikku.”

Dasar filem, kok ya yang dirampok justru sepatunya sehingga yang senang adalah Blahnik karena produksi Toko jalan Gereja Tua, London makin moncer.

Sepatu ini dilepas paling murah empat ratus dolar. Entoch masih harus antri berbulan untuk mengindennya. Anda harus mendatangi London untuk melakukan pengepasan.

Dikalangan para jetsetter, barang mahal selalu diexpresikan dengan gaya banci menutup mulut sambil melambai “Manolo deh yiiiy” – maksudnya kok mahal.

Tapi semua bukan datang dari langit, ia semula dibesarkan diperkebunan pisang, disekolahkan agar bisa jadi diplomat bisa tahu apa tentang sepatu “avant garde.” – kalaupun ada nspiratornya adalah sang ibu yang memang seleranya adibusana kelas “seleb” – yang dibela-belain membeli sepatu dari Paris dan mencoba mengupahkan tukang sepatu dikotanya agar menambahkan pita dan beberapa hiasan lainnya. Rupanya saat tangannya meraba sepatu ibunya ia seperti merasakan sensasi luar biasa.

Keinginan ayahnya agar ia jadi diplomat terpaksa dipendam dalam-dalam. Diam-diam ia pindah fakultas sastra yang dinegara lain dianggap sekolah “buangan” tak berprospek. Ketika dikursuskan bahasa Inggris agar kemampuan berbahasanya terasah, Ia malahan menghabiskan waktu menonton filem lama, sekalian mengamati sepatu-sepatu dalam filem tersebut.

Sambil mengisi waktu ia bekerja pada sebuah industri perfileman. Lantas saat mencoret-coret design sepatu seperti yang dilihatnya dalam filem. Seorang produser melihatnya dan mengatakan bahwa designya bagus sekali. Dari situ ia mencoba membuat sepatu yang ternyata tidak mudah, design cantik, tapi kalau diapakai seperti melayang berjalan diatas pantai pasir yang tebal. Bakal jadi tertawaan.

Kedua dia belajar bahwa pria umumnya kurang suka model sepatu yang aneh. Pernah dia merancang sepatu pria merah bak cherry, namun lupa memperkuat sol sepatunya sehingga disindir majalah Vogue, siapkan mental humor bila memakai sepatu Blahnik.

Inilah yang membuatnya mempelajari teknik membuat sepatu perempuan yang langsing, umumnya memakai ikatan tali tipis sehingga memperlihatkan sederet jari yang terawat, dan dibarengi teknologi setangguh pesawat Boeing. Untuk itu ia harus belajar pada sebuah perusahaan sepatu di London. Sepatu keluaran London memang sampai kesohor enak dipakai dan classy.

Herannya ia tidak pernah sekolah khusus tentang persepatuan. Mungkin pendapatnya jebolan sekolah musik umumnya piawai mengecam musik orang lain ketimbang menciptakan lagu sendiri.

Sunday, 27 August 2006

Insiden Potomac I, 175 tahun lalu


Kejadiannya Februari 1831.

Lepas dari pelabuhan Salem, setelah mengarungi badai ke selatan dunia melewati ganasnya “Laut Selatan” yang oleh pelaut sekarang disebut Samudra Pacific, terombang ambing diantara ketinggian gelombang, maka sampailah kapal dagang mereka ke “Sumatra Dwipa.”

Kapten Charles Endicott memerintahkan anakbuahnya untuk berlabuh di Blang Pidie – Kuala Batu yang ditulis dalam logbook sebagai QuAllah Battoo-“Kuala Bette“.

Hare geneh, tidak plesiran didarat pasti rugi. Maka ketika seorang kapiten dan empat anak buahnya penasaran membuktikan kabar bahwa para wanitanya dikenal memiliki ilmu bathin mampu memblokir “bunga Mawarnya” mengatup “mulut rapat”, sampai kebisaan merabat torpedo. Rupa-rupanya kepergian mereka dengan pakaian rapi, sekujur badan disemprot pompa tangan dokelonyo” tanpa disadari sepasang mata tajam mengikuti gerak Kapten seperti tak berkedip. Raga nama tokoh kita kali ini, lalu mengatur siasat.

Saat kapten sedang sibuk dengan urusannya. Kapal mereka “Friendship” di satroni Raga dan pada konconya yang sebagian adalah Budak Malay (anak Malaka atau Malaysia), dengan berpura-pura “delivery barang” namun alih-alih malahan menguasai kapal. Selain menurunkan kargo, mereka sempat mengambil dana segar sebesar US$ 8000. Sementara untuk menutup jejak, ABK-nya dipenggal satu persatu sebagai ciri khas sepak terjangnya.

Bukan main terkejutnya Kapten Charles saat kembali melihat TKP rusak berat, isi kamar berantakan dan mayat bergelimpangan tanpa kepala, serentak ia minta perlindungan ke kapal Amerika lainnya dan mengirim telegram agar mengirimkan nota protes dan meminta ganti rugi kepada kepala Sultan Kuala Batu. Friendship sendiri ditarik ke Salem Massachusetts untuk diperbaiki.

Kawat diterima di Washington. Bahkan presiden Amerika Serikat mengambil langkah tegas. Dalam pidato didepan senat, presiden Andrew Jackson mengatakan bahwa telah terjadi tindakan menginjak-injak martabat Amerika di Hindia Timur oleh bangsa Sumatra I sehingga perlu dilakukan aksi militer untuk memberi pembelajaran “Dont Mess With US“. “Perang terhadap teroris pengancam ketentraman dunia harus digalang!” –

Tidak jelas mengapa Aceh digolongkan sebagai daerah Sumatra Satu.

28 Agustus 1831, kapal Frigat keluaran Dok Washington nampak membelah perairan Sandy Hook di New York. Tujuannya pasti bernego dengan perompak selat Malaka sekalipun beberapa pihak tidak yakin masih ada tempat untuk berunding. Sebetulnya Potomac I ini belum selesai secara keseluruhannya, namun panggilan perang mengalahkan segalanya.

Potomac baru sampai pelabuhan Aceh pada 5 Februari 1833, 5 mil dari perairan Pedi, mereka melego jangkar. Cuma kali ini mereka menyamar sebagai kapal perang Denmark agar tak dikenali oleh para Achinese.

Aksi militer ini dikomandani Komodor Downes. Rencana pertama, sesuai perintah presiden Jackson adalah mengadakan negosiasi dengan SultanKuala Batu. Namun atas bisikan spion melayu bernama Poh Adam,”Mereka(Aceh), cuma mau berunding dengan pedang terhunus…” – sebab orang Aceh juga sudah khatam akan cerita kalau sampai perundingan dengan melucuti senjata, bakalan digelar fragmen Diponegoro jilid dua, yaitu nyawapun dilucuti. Masalahnya Amerika tetap keukeuh kalau Sultan melindungi boron Raga.

Geram karena jawabannya tidak digubris Amerika sebagai Sultan ia merasa tersinggung berat atas ancaman tauke sahang (lada, Palembang). Apalagi duta Potomac membuat surat yang isinya seperti memberikan peringatan keras, arogan dan berbau mengancam. Akhirnya ia malahan antian jual beli arogansi “kepala (kapten) Endicott saja bisa saya eli kalau dijual…” –

Endicott adalah nama Kapten Kapal Friendshipyang lolos dalam ambush tadi. Sepertinya Sultan Aceh ini memiliki visi ratusan tahun kedepan, dimana pemerintah yang sama mengobrak-abrikkepala negara dan seisi kota lantaran didakwa menyimpan senjata berbahaya. Soal tak terbukti, jangan kuatir siapkan tuduhan lain.

Hari masih subuh, saat embun menyelinapi pantai Kuala Batu, namun dari kejauhan nampak kapal-kapal menurunkan muatannya berupa “mesin perang” – Satu detasemen marinir dibantu tiga detasemen pelaut menyebar ke tiga penjuru pantai. Tak terelakkan lagi para kombatan Aceh dan Malaysia bertempur gigih sehingga selama 5 jam bertarung barulah pasukan Aceh kewalahan karena harus berhadapan dengan lawan yang menggunakan peluru berjarak tembak jauh.

Peristiwa ini diabadikan dalam bentuk lukisan perang “campuh” dimana tentara reguler “kaukasian” berbadan lebih tinggi besar, bercelana putih ber jas biru, menggunakan senpi panjang berhunus bayonet, melawan perompak yang bertelanjang dada dan hanya menggulung sarung menutupi aurat, dan bermodal pedang melengkung. Perlawanan sengit ini memang membuat serangan Amerika kandas.

Merasa kewalahan, 42 kanon kaliber 30pound diturunkan beserta senjata mimis (mesiu). Terang saja menang berani belum tentu menang betulan. Perlahan tentara rencong-pun dilibas dan tercatat 150 orang termasuk sultan Mahmud, tewas . Belum lagi benteng dan rumah yang dijadikan karang abang.

Tanggal 9 Februari 1833. Para marinir kembali ke kapal, bukan untuk pulang melainkan membombardir benteng Aceh sehingga rata tanah. Total diperkirakan 300 korban tewas akibat bom. Perbuatan ini memang menyebabkan sang Komodor John Downes sebagai pimpinan kapal diajukan ke meja peradilan dengan tuduhan melakukan operasi diluar BKO. Namun presiden justru Jackson membela dibelakangnya dengan mengatakan bahwa demi “meningkatkan hormat dan memberi pelajaran berharga kepada bendera Amerika dan memberikan perasaan aman pada jalur perdagangan kita…”

Nama John Downes masukdalam “Hall of Fame” dalam jajaran kemaritiman Amerika. Soal ratusan nyawa meregang termasuk perempuan atau balita, Amnesti Internationalseperti biasa, mlengos. Mungkin nilai jualnya kurang greget.

Namun kekalahan tersebut tidak membuat perompak selat Malaka jera sebab 7 tahun kemudian, sebuah kapal Amerika Eclipse dirampok oleh 24orang bajak laut.
Sunday, 20 August 2006

https://mimbarsaputro.wordpress.com/

Ternyata Keprucut berbahasa Indonesia


Selama menjadi TKI di Australia, kadang saya kepingin ketemu orang Indonesia, lalu tukar menukar informasi, mungkin tempat makan murah, atau tempat belanja barang seken. Atau tip-tip lainnya. Di keramaian kota seperti mal-mal, orang Indo bisa dilihat dari cara berjalan yang umumnya melenggang santai sambil menikmati suasana sekitar. Namun untuk memastikannya yang sukar pasalnya para pemegang paspor hijau bertulisan emas ini kerap kali berbicara dalam bahasa moyang, sehingga saya sering ragu untuk menegurnya, jangan-jangan mereka dari Taiwan, Hongkong atau tempat lainnya. Suatu ketika saya melihat rombongan di kota Perth. Sempat saya berjalan di belakangnya. Dari yang Kakek sampai ke cucunya semua
berbahasa Mandarin. Perasaan sih kalau lihat cara jalannya Hongkong masih jauh. Lalu saya ikuti rasa ingin tahu. Kebetulan yang salah satu senior mereka kepingin ke toilet. Kok pas dengan saya yang sudah kebelet juga. Sampai saat di Toilet umum, tiba-tiba sang nenek keluar lagi dan bicara kepada anaknya “WC yang ini gak isa pakeknya…” – nah ketahuan, dia dari Indonesia van Semarang, minimal Lasem ini. Batin saya berkata.

Di Bandarapun serupa, rata-rata para turis asal Indonesia ini kalau yang keturunan. Jarang menggunakan bahasa Indonesia. Merdeka 61 tahun, rasanya rindu mendengar para kaum peranakan ini mbok yao jangan pakai bahasa negeri.

 

Kepikiran Lebanon


Ini perang baru, ini baru perang. Seperti slogan minuman memabukkan. Dunia memang mabuk perang. Mewujudkan kecintaan kepada Tuhan (dan agamanya), dengan pergi perang, melukai, membunuh, kalau perlu bersama dirinya. Korbannya adalah para pendamba damai. Dulu perang adalah seperti dunia anak-anak adu gambar “Amerika lawan Jerman, menang mana?” –

Gambar yang dibuat dari karton tebal ditumpuk lalu disebarkan melayang, yang tertelungkup dianggap kalah dan pemenang berhak mengambil sesuai dengan taruhan yang disetujui bersama. Yang berbakat licik melapisi belakang gambar dengan sabun sehingga gambar miliknya menang terus. Ada tank Jerman terjungkal lawan pistol Serdadu Amerika.

Musuhnya jelas, seragamnya kentara. Seperti juga permainan gambar wayang, antara pihak Astina dengan Pandawa karakternya jelas. Perang sekarang, memasuki era baru, polanya baru yang belum ada di buku sejarah. Pasalnya Hisbulah menyekap tentara Israel, sambil meroketi Israel, Israel terprovokasi lantaran beberapa pasukan cadangannya menjadi korban, sudah itu yang paling aneh menteri Pertaniannya yang berteriak paling keras, “mata ganti mata”. Ujung-ujungnya balita di Libanon digasak rudal. Eh sudah itu Iran dan Siria dituding penyandang dana. Sementara pasukan Hisbulah sudah tentu tidak berada di permukiman ramai.

Bagaimana tidak kepikiran, guru sejarah SMP di Lampung kalau mendongeng keindahan jazirah Arab termasuk kota Beirut (Lebanon), beliau sampai bilang “jangan mati sebelum melihat Beirut…” – alasannya negeri ini sekular, kaya, demokrat dan Arab tapi barat. Ada Paris van Mediterania, ya itulah Lebanon. Sampai disini, biasanya para murid SMP (1965-an) pada senyum penuh arti, sebab konotasi Beirut di Lampung adalah komplek pelacuran kelas
kandang kambing daerah pantai Panjang. 24 September 1982, saat Beirut masih menjadi kota impian, seorang Kolonel Israel dan pasukannya berisitirahat melepas penat sebuah kafe bernama Wimpy Movenpick. Tiba-tiba Khalid Alwan, seorang anggota sayap kiri Lebanon, mendekatinya sambil memberondongkan senjata otomatisnya. Kolonel mati seketika dan dua lainnya terluka parah. Monumen peringatan serangan di kafe jelas ditulis “Monumen Khalid Alwan” dan yang bikin kening berkerut, emblemnya Partai Nasionalis Syria.

Dengan keadaan carut marut begini tak salah mencuat pemeo “Mau mati? datang saja ke Beirut”

Lalu 12 Juli 2006 mass media memberitakan penculikan pasukan Israel untuk ditukar dengan tawanan Lebanon. Barisan Hisbulah melepaskan rudal rata-rata 100 roket perhari, negara lain sudah pasti megap-megap membuangi peluru yang harganya entah berapa, yang pasti sangat mahal. Bayangkan Marinir yang notabene pasukan elit kita yang saat hari ABRI setiap 5 Juli melakukan defile dengan Tank, dijalan nampak sekali betapa rantai-rantai tank begitu renta.

Bahkan ada yang putus di jalan Mampang Prapatan. Sementara yang lain mogok karena kurang pemeliharaan. Ini kita bicara tentara reguler bung! – tidak cukup dengan menutupi kelemahan sambil mengatakan “orang lain sudah masuk museum, kita masih bisa menjalankannya” – terang tidak optimal.

Rudal seperti perlengkapan militer lainnya makin hari makin canggih, paradoxnya, makin “user friendly” sehingga siapapun bisa menggunakannya, asal punya uang. Namun lokasi asal rudal juga mudah dideteksi musuh. Dalam hal ini Israel, lalu gantian mereka menghantam posisi tempat rudal dilepaskan, sementara para Hisbulah tentu saja sudah “merat” dari situ meninggalkan wanita dan anak-anak yang sekalipun tahu ada perang tetapi mau lari lagi kemana?

Yang mengherankan, negara lain seperti Indonesia mengutuk keras dan sangat sekerasnya bahkan memobilisasi pasukan berani mati segala. Tetapi mengapa negara Arab lainnya yang lebih sodara beneran, istilah betawi, malahan seperti berbasa-basi kekiri tidak ke kanan bukan.

Diduga kelompok Suni Arab yang memang rada gerah kepada tindak tanduk Siah ala Iran sehingga mereka terkesan lipat tangan. Soal slogan satu dicubit yang lain sakit, sepertinya hanya berlaku untuk kelompoknya belaka.

Beirut dikenal negara kuat dan kaya, namun sekaligus lemah. Partai politik leluasa memiliki senjata dengan bantuan asing tentunya. Maka tidak heran ketika Hisbulah yang bersengketa, rakyat Lebanon terkena rudalnya. Bagaimana mungkin sebuah partai politik, mampu menyeret peperangan. Memang partai bentukan Iran pada 1984 ini kurang mendapat hati di negara lain. Namun di Libanon, bukan main. Mulai pengemudi Taxi, pelayan Hotel, Guide, jaringan radio, televisi “Al Manara”, travel biro semua dikuasai partai Hisbulah.

Orang bilang, terantuk batu dijalan, bisa dipastikan, aset Hisbulah. Dengan demikian sekalipun hanya 14 kursi dalam parlemen dari 128 kursi tersedia, kekuatan mereka memang menakjubkan. Pemerintah Lebanon sendiri tidak mengautorisasi perang. Namun karena lemahnya, tidak bisa berbuat banyak paling menawarkan diri, kalau Hisbulah terdepak dari sarangnya mereka akan menggantikannya dengan pasukan reguler.

Indonesia, juga hampir-hampir serupa. Kalau pemerintah tidak bersikap keras sejak dini akan ada negara dalam negara. Tandanya ada kelompok milisi bersenjata pentungan, bambu runcing, golok, tombak meningkat senpi. Mula-mula memang masih dalam koridor pengawal moral, namun bukan tidak mungkin faksi-faksi demikian akan berkembang jauh dan menyeret negaranya kedalam peperangan dengan negara lain. Sekarang renungan ini mirip paranoia, namun bukan tidak menjadi kenyataan.

Perang Libanon adalah sebuah pembelajaran bagi kita.

**************

Hisbulah adalah contoh negara dalam negara. Semula ia didirikan olehIran pada 1984 hanya sebagai cabang sebuah kegiatan di 20 negara.Namun hanya cabang Lebanon yang menuai sukses dan lebih moncerdaripada negara Lebanon itu sendiri. Dana Iran pada mengucur padaorganisasi ini semula cuma 32 juta dollar, namun beberapa pihakmeperkirakan paling tidak 78 sampai 131 juta dollar mengucur mengurusi aset mereka di Lebanon. Apalagi dengan kegiatan tambahan berupa sarana pelatihan para milisia, paling tidak dalam dua dekade Iran sudah merogoh 3 triliun dollar. Semula organisasi ini bergerak dibidang bank, perusahaan asuransi,hotel, supermarket, taxi dan bus dengan pusat di Lebanon Selatan.Konon kalau anda berada Libanon, anda tidak mungkin tidak menginjak aset Hisbulah. Mulai hotel kita check in, restoran tempat kita makan,taxi yang membawa kita bepergian, guide yang menemani kita, tokocindera mata, semua dikelola oleh kelompok pebisnis handal dari Hisbulah.
Namun perkembangannya memang luar biasa. seperempat bagian dariLibanon berada dalam kendali mereka. Anggotanya ditaksir mencapai 400.000 warga Lebanon. Memungut pajak, menjalankan sekolah, klinik,rumah sakit. Akibatnya keberadaan pemimpin Hisbulah seakan duta besardari negeri lain yang “kebetulan” menetap di Lebanon. Hisbulah juga memiliki televisi digital “Al Manara” – empat stasiun radio, penerbitan koran. Mereka menjalankan sistem hukum Syariah,memiliki polisi sendiri, team sepak bola. Tidak heran 14 kursi parleman disikat habis dari 128 kursi yang tersedia. Negara dalam negara ini, bisa begitu hebat tentunya karena dukungan dari negeri lain. Para 8000 milisia dilatih dan dipersenjatai oleh Iran dan Siria. Dimana 2000 diantaranya memang sudah menjadi satuanelit. Sekalipun demikian diperkirakan mereka mencapai jumlah sekitar 30.000 anggota. Namun mengapa negara Arab lain kurang mendukung gerakan ini disebabkan, Hisbulah lebih banyak mewakili suara Iran, yang dalam hal ini kekuatan Siah, sementara Arab lebih condong ke aliran Suni sehingga kedua kelompok ini memang sudah saling “plerok en menjeb”sejak ratusan tahun lalu. Jadi kalau Amerika dan sekutunya sepertinya adem ayem melihat jabang bayi terkubur direruntuhan akibat serangan Israel. Mereka seakan melihat anak pemimpin Iran dan Siria disitu.

Perth 12-8-06
Mimbar Seputro

Renungan nekad, seorang mudlogger disela mengayak lumpur.

782-Ketika tangan kiri mengintip perbuatan kanan


Kami harus bersyukur melihat betapa warga sekitar kami masih banyak yang tertatih empot-empotan dalam memenuhi hajat hidupnya. Ada anak yang menangis dipulangkan dari sekolah gara-gara tak mampu beli seragam.

Sebut saja keluarga Kwek Kwek. Ayah dengan tiga anak ini sehari hari berjualan penganan murah meriah yang diantar setiap dinihari dengan sepeda. Maka bisa dibayangkan bagaimana ia menghidupi keluarganya. Memasakpun mereka masih mencari ranting kayu yang saya yakin lama kelamaan akan semangkin langka. 

Atau ibu Bejo yang istri seorang (kapiten betulan) yang sudah pensiunan mencoba menambal kebutuhan rumah tangga dengan  memasakkan untuk para kuli bangunan demi mempertebal kebutuhan asap dapur. Terkadang kuli bangunan pada kabur dengan meninggalkan bon belum lunas.

Dari beberapa episode diatas, maka pimpinan Kabinet Dapur rasan-rasan kepingin menularkan kepandaian memasaknya minimal membuat penganan, seperti kue kering. Tempatnya dipilih rumah kami yang tidak di(ge)recoki suara mewek anak bertengkar.

Keponakan saya setiap akan datang ke rumah sudah diwanti-wanti oleh ibunya, ditempat pakde Miem pasti sudah disediakan makan lengkap. Akibatnya kalau mau datang mereka cukup ber SMS “kami datang, kami belum makan“. Karena memasak bkan bagian saya maka iseng saya timbul. Setiap sepuluh menit keponakan saya kirimi SMS, “sudah sampai dimana? mengapa belum sampai juga.” – lalu mereka menjawab “Pakdeku kami sedang dijalan sabar dong, kan macet.”

Kami memang sudah terbiasa menjadi katering, membuka warung makan. Bahkan beberapa keluarga mempercayakan kami sebagai wedding organizer.

Persoalannya bagaimana kalau para target operasi yang akan diajar memasak ini malahan tersinggung dianggap ekonomi rendah, atau merasa direndahkan kemampuan memasaknya. Maksud baik bisa diterima lain oleh yang bersangkutan.

Lantas akal pertama adalah kami menurunkan umpan. Kepada tetangga terdekat kami mengirimkan Capcai. Minggu selanjutnya bakwan jagung, lain waktu gudeg kumplit. Belum lagi nasi goreng, lalu kue-kue, peyek dan entah jenis penganan apa lagi.

Umumnya mereka berterimakasih. Tetapi tidak semua lho. Sebuah keluarga antiq ketika rantang diangsong didepan seorang bapaknya malahan sang bapak memanggil istri, lalu istri memanggil anak, anak tertua menyuruh adik, ketika adik menolak juga maka terjadilah pertengkaran mulut. Sampai kepikiran apa sih beratnya menerima sebuah rantang makanan?. Gratis lagi.

Untung hanya sebuah keluarga yang demikian. Singkat kata maka terlaksanalah demo memasak yang alatnya dari kami, bahannya dari kami, pengajarnya dari kami.  Pokoknya mereka datang, duduk, membantu, hasilnya silahkan  dibawa pulang.

Setelah pelajaran masak termasuk membuat kue kering dianggap selesai. Ibarat praktikum harus ada responsi. Seminggu dua minggu ditunggu kok adem ayem saja – alias dirumah mereka tidak mempraktekkan pengetahuannya. Padahal katanya ingin menjual kue kering dalam toples saat puasa menjelang lebaran nanti.

Ternyata ada kesalahan teknis di luar skenario, di rumah kami, menggunakan mixer tinggal “zwiiing” – mau pakai oven tinggal “zeklek” – sementara dirumahnya dengan penerangan kontrakan 450 watt, hasil praktikum mustahil dipraktekkan.

Kelihatannya yang dibutuhkan oleh mereka adalah membuat kue tanpa mixer, mengadon tanpa “romboter” – pendek kata bagaimana bikin kue kampung, tapi enak.

Kami sempat kebingungan, namun sandungan kecil ini dapat diatasi.

Keluarga Kwek Kwek ternyata alumnus paling siap untuk menjual tempe mendoan, dan kue-kue lainnya sayangnya tidak memiliki jejaring pemasaran.  Akhirnya istri melakukan pendekatan di tempat senamnya.

Keluarga KwekKwek diperbolehkan berdagang. Namun dasar orangnya pendiam, terpaksa istri lagi yang halo-halo agar dagangan dibeli. Ketika pembeli ramai berdagang, mereka bingung akan kecepatan menggoreng dan membungkus. Masih pakai baju senam, lagi-lagi istri srebat-srebet menggoreng, membungkus sekaligus promosi.

Lama-lama orang akan kepikiran yang dagang ini siapa?

Dari Koantas ke Qantas


Kebiasaan di tanah air kalau hendak bepergian paling tidak 2 jam sebelumnya sudah harus di bandara. Pertama mengatisipasi kemacetan dijalan raya, apalagi kalau tersiar kabar ada “delmon” alias demonstrasi, kedua antisipasi mbludaknya penumpang, serta kemungkinan pindah pintu gerbang dan yang paling penting karena pelayanan publik kita terbiasa lelet.

Kebiasaan ini terbawa bawa sekalipun situasi Australia tentunya berbeda. Tapi pernah sekali darah-putih “naik ke kepala” – lantaran teman bepergian baru bangun pada jam 12 siang, mandi, memasak “sarapan”, baru bersiap membereskan barang-barangnya padahal pesawat boarding pada jam dua petang. Akhirnya daripada sport jantung, saya “nggeblas” saja meninggalkannya. Eh kok ya ternyata dia betul. Tidak berapa lama teman tadi muncul”eglek-eglek” masih sempat “nyengenges” sambil bibirnya menyedoti jus buah dalam cangkir kertas dan baca novel. Ampuuun.

Pengalaman menjadi TKI non-terminal III selama dua tahun belakangan ini, dalam catatan saya adalah efisiensi dalam pengaturan “pergantian crew.” Semua daftar personel dicatat dalam spreadsheet yang didistribusi melalui email kesetiap personil lapangan maupun kantor, berikut nomor tilpun, dan tiket dikirim berupa lampiran (attachment) transaksi pembelian tiket secara elektronik (e-ticket). Berlalu sudah era kertas carbonless, apalagi instruksi embel-embel “ambil tiket dikantor pagi-pagi ya” – padahal yang paling sering terjadi menjelang tutup kantorpun, kurir pengantar tiket belum juga datang.

Di Australia perusahaan tinggal kirim email kepada pegawainya yang sebagian tinggal di Jakarta dan Yogya eh Bekasi juga, lalu saat lapor, tunjukkan passport di airport untuk bukti diri, dan tanpa banyak cingcong, boarding pass lalu diberikan. Hemat waktu, hemat uang! kata iklan centil pengharum pakaian. Jadi tidak ada alasan tidak pernah buka email. Sebab perkakas ini sudah menjadi kebutuhan pokok. Apalagi handphone murah meriahpun dilengkapi fasilitas baca internet. Atau mengakses internet dari warnet yang tersedia dimana-mana.

Naik Qantas (jam 01 pagi) di bandara Sukarno Hatta lalu saya terkaget lantaran ada bule ikut melayani penumpang di Bandara, mengawasi jalannya screening penumpang sehingga mau tidak mau, sepatu, ikat pinggang ikut dilolosi sebab peraturannya memang demikian. Ini pasti sesuai dengan ekskalasi perang Lebanon, sehingga keamanan diperketat.

Lalu saya lihat seorang ibu yang waktu masuk ruang tunggu sangat anggun percaya diri, namun sesaat berubah menjadi panik tatkala barang kabinnya ternyata melebihi ukuran yang ditetapkan. Ini memang sudah menjadi ciri kita kalau naik pesawat barang ditenteng sampai “geloyotan.” Ibu cantik bercat rambut merah ini, kebingungan sebab dia sudah tidak membawa uang cash banyak sehingga bertanya “bagaimana kalau kelebihan bagasi dibayar dengan kartu kredit” – Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan drama ini.

Dua jam penerbangan saya masih menyempatkan menonton Setinel-nya Michael Douglas. Ada nilai yang saya ambil. Menjadi tua ternyata belum kehilangan “sungu” alias tanduk. Justru plot pembunuhan presiden yang begitu rapi, hanya dideteksi oleh “gut feeling” Douglas berdasarkan pengalamannya. Kalaupun saya terganggu kelenjar, saat adegan Mrs Prez Kim Basinger mencopot sepatu dengan cara menyentak kakinya untuk memamerkan betis yang aduhai.

Sampai di bandara Perth, hari masih pagi benar, seperti biasa cuaca dingin Perth langsung menerpa muka. Cuma “teman” berkaki empat dari brigade satwa (beagle brigade) tidak muncul mengendusi bawaan penumpang. Mungkin masih ketiduran.

Taxipun harus menyalakan pemanas agar kami tak beku kedinginan.

Di pelataran “klim bagasi” saya lihat beberapa orang Indonesia yang semula berkicau meriah di ruang tunggu di Jakarta dan didalam pesawat mulai “lemah batere”. Apalagi ketika petugas pabean menanyakan “Speak English” – herannya seperti seragam seluruh rombongan berubah menjadi “cucakrawa pendek buntutnya”. Pertanyaan petugas selalu dibalas godeg-godeg. Tidak heran orang India, Pakistan yang terkenal murah namun mampu berbahasa Inggris seperti bandang ke negeri Kangguru ini.

Dan ibu bercat rambut pirang, saat di Perth, ternyata mengambil jalur “Australian Citizen”

Ketika keesokan harinya saya ke terminal Domestik (Perth mengenal terminal internasional, dan terminal lokal yang jaraknya sangat berjauhan). Ada yang berubah dibeberapa tempat saya biasa check in ini. Banyak benda mirip dispenser uang alias “ATM-ATM” bercat merah sebagaimana warna kesayangan perusahaan Australia Qantas, dan beberapa loket tempat saya bisa checkin nampak sepi. Di atas loket, layar monitor menunjukkan “baggage-drop only.” –

Sepertinya saya melihat kedatangan Dewa Panicmulai menjamah bagian puser sehingga terasa darah mengalir lebih cepat, tetapi usus besar mulai mendorong-dorong. Sebuah kebiasaan kalau terlanda stress adalah sakit perut.

Harap maklum di tanah air biasa menunggang KOANTAS van Kampung Rambutan, jadi rada “gugak-guguk binti nunak nunuk” untuk mencoba mesin dispenser Qantas sampai seorang petugas membaca aura saya yang bruwet lalu dengan ramah menanyakan, “akan kemana?”

“Karratha,” jawab saya singkat. Ini penerbangan lokal selama 2 jam dari Perth ke Karratha, untuk kemudian disambung dengan Helikop terperusahaan Bristow selama 45 menit ke Rig Pengeboran “Ocean Bounty” dengan singgah di FPSO (Fasilitas Produksi Terapung) MV11 milik perusahaan Woodside.

Karratha adalah pesisir Australia, daerah gersang namun diperkaya oleh tambang pasir besi, tambang garam dari Maatschapij Rio Tinto, tambang asbes dan belakangan tambang minyak.

Ia lalu meminta saya memasukkan nama, kode penerbangan sesuai dengan yang tertera didalam Electronic Ticket. Lalu setelah melakukan semuanya melalui layar sentuh, voila “mak jeglek” – keluar Boarding Pass, bahkan kalau anda memasukkan data “Frequent Flyer” – di pass sudah ditulisi bahwa anda adalah langganan tetap perusahaan tersebut.

Kelar dengan per-dispenseran, kalau anda mempunyai bagasi, baru dilaporkan kepada petugas check-in untuk diberikan tanda terimanya, dan dengan cara ini maka antrean panjang yang biasa kita saksikan ditanah air, sudah tidak terlihat. Jadi kepikiran kalau cara ini diterapkan juga di perkantoran tanah air, bakalan banyak orang keberatan. Sebab bukan rahasia, para biro perjalanan berhubungan bisnis tapi mesra dengan bagian tiket. Akibatnya mereka berlomba-lomba memberikan bonus kepada perusahaan yang menggunakan jasanya demi mendongkrak omzet.

Sunday, 6 August 2006http://mimbar2006.blogspot.com

Mimbar Bambang Saputro