Perang melawan Mujair


Akhirnya gerah juga Kementrian Perikanan Australia lantaran kelakuan ikan mujair van Amerika Selatan yang sering disebut Lohan atau cichlids. Ikan yang di Indonesia juga “sedikit” dimusuhi para peternak ikan semacam Gurami, ternyata di Australia sudah menjadi monster yang nomor satu yang amat menakutkan sehingga perangpun diberlakukan. Padahal di Indonesia nama Mujair menjadi sohor lantaran petani sederhana ini suatu ketika melihat ikan yang aneh, tahan hidup, rakus dan belum masuk katalog para ikanawan dan ikanawati.

Bermula dari diketemukannya ikan ini di kawasan Benneth Brook dan Beechboro serta Ballajura maka para ahli menjadi semakin heran ketika mereka menemukan kenyataan di kali-kali Australia ada Tenaga Kerja Ikan sudah beranan pinak dan yang menjadi biang Lohan gemuk sepanjang 28 cm. Untuk mencapai ukuran sedemikian jelas para “klandestein” ini menggerpol di perairan Australia beberapa tahun lalu.

Sekalipun bentuknya cantik cerdas lantaran bisa mengendus kedatangan pemiliknya sambil buntutnya megal megol dan kepalanya naik turun ditepian kaca akuarium kita, namun sisi buruknya adalah perilakunya yang sangat teritorial. Waktu baru datang “ndepipis” ngemper. lam-lama mulai bikin lapak. kadang galakan dari Tramtib para ikan serta rakus akan makanan. Yang heboh lagi instink License to Kill mereka nggegirisi alias hebat.

Tak kurang Ford, MenteriPerikanan turun fatwa, “dihalalkan daging dan darah” pendatang haram ini ini untuk diledakkan dan disusul dengan serangan racun berbisa. Kalau saja pak Ford ada di Indonesia, dia akan menyewa para santetiwan dan santetiawati untuk membunuh tanpa jerat hukum.

Resikonya lantaran bom tak bermata maka ikan-tak berdosa bisa turut menjadi korban. Namun jalan lain tidak bisa ditemukan kecuali tumpas habis sekalipun bak Revolusi yang memakan anaknya sendiri.

Dalam sejarah Australia, baru sekali ini mereka serius mengganyang ikan mujair bahkan menyatakan perang Jihad halala wal tayiban.

Australia Barat sangat trauma menjadi bagian dari sejarah katak “ToadKane” dari Amerika Selatan yang dibawa-bawa jauh-jauh karena imut, apalagi makannya gampang ternyata sampai di Australia kodok buduk ini berbiak secara “orang jalan kereta” – maksudnya punya keturunanan tanpa perlu KB  dan berani-beraninya menghabisi nyawa para katak bule tapi pribumi.

Explosive yang dipakai akan berupa gelombang kejut intensitas rendah. Hanya ikan yang memiliki insang akan mati bila mendengar ledakan ini. Namun manusia yang mendengarkannya dari jauh tidak akan berpengaruh buruk. Sekalipun demikian untuk tindakan berjaga-jaga, akan dipasang sirine sebelum eksekusi dilaksanakan.

Oleh sebab itu pemerintah buru-buru mengeluarkan pengumuman bahwa dalam beberapa hari kalau melihat ikan predator atau ikan lainnya mengapung, jangan didekati sebab selain mati akibat gelombang kejut, ikan tadi juga di racun. Setelah periode genocide dilakukan, air sungai akan diberi obat penawar agar kadar racunnya berkurang.

Tuesday, June 20, 2006
Mimbar Bambang Saputro

Advertisements

2 thoughts on “Perang melawan Mujair

  1. Hoho akhirnya ada yang kasih komentar hehe terimakasiah Rera (kalau saya kasih sdr/sdri sering salah sambung)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s